
Happy reading guys.
...**************...
Annisa menunggu Antoni keluar dari dalam kamar mandi. Dia mengamati sekitar kamar mandi dan tidak terlihat seorangpun berasa didekat kamar mandi, sehingga Annisa tidak takut ada orang yang memergokinya bicara dengan Antoni.
Dia berdiri di samping kamar mandi seolah-olah dia ingin masuk kedalam kamar mandi dan menunggu orang yang didalam keluar.
Pintu kamar mandi terbuka, Antoni keluar tanpa menyadari ada orang yang berdiri disamping pintu.
"Apa kabar Toni ." sapa Annisa dengan suara yang pelan dan lembut.
Toni tersentak dan memutar tumitnya, melihat ke asal suara yang sangat familiar di gendang telinganya.
"Kau !" Toni kaget dan kakinya mundur selangkah dari tempat dia berdiri.
Annisa melangkah mendekati Antoni, sedangkan Antoni mundur selangkah lagi. Dia tidak ingin berdekatan dengan Annisa, sepertinya Annisa wabah yang harus dijauhi.
Annisa mengeryit menatap Antoni yang mundur menjauhinya.
"Toni! aku bukan virus yang harus kau jauhi." Annisa kesal melihat Antoni tidak ingin dekat dengannya.
Ingatan Antoni kembali, di mana Annisa memutuskannya karena dia yang masih menjadi pegawai di satu perusahaan yang kecil. Sedangkan Annisa sudah menjadi pegawai perusahaan besar.
Satu kalimat Annisa yang tidak akan bisa dilupakannya, mungkin seumur hidupnya.
"Aku tidak ingin hidup serba kekurangan, jika menikah denganmu, pasti itu akan aku alami. Aku ingin kita putus !" kalimat itu yang membuat Antoni bermotivasi untuk mendirikan usaha konveksi bersama dengan beberapa temannya dan konveksi yang didirikannya sudah berkembang dan menjalin hubungan kerja sama dengan Mikaela dan beberapa butik internasional.
"Toni !" panggil Annisa dengan suara yang sedikit keras. Antoni yang sedang melamun kembali ke ingatan masa lalu , tersadar.
"Ada apa?" tanya Antoni dengan suara yang datar.
"Kau tidak menanyakan kabarku?"
"Untuk apa aku tanyakan! Kau pasti sudah bahagia kan? Suamimu orang yang berada. Bukannya itu yang kau inginkan, menikah dengan orang kaya." Antoni menyindir Annisa.
Antoni ingin pergi, tapi tangan Annisa mencekal lengan Antoni, agar dia tidak pergi.
Antoni mengibaskan tangan Annisa yang memegang tangannya.
"Apa maumu? Apa kau ingin orang salah paham dengan keberadaan kita di sini ?" mata Antoni memicing menatap Annisa.
"Siapa yang akan salah paham? Kita kan tidak melakukan apa-apa?"
"Berduaan di belakang rumah di dekat kamar mandi, orang pasti akan mengira kita ada hubungan. Hargai pasangan kita masingmasing Nisa!" ketus Antoni.
"Toni tunggu!" cegah Annisa, begitu melihat Antoni ini ingin berlalu meninggalkannya.
"Ada apa? Apa kau mulai bosan dengan kehidupan mewah yang kau idam-idamkan dulu? Sekarang ingin ingin main api dengan kehidupan yang pas-pasan!" sindir Antoni.
__ADS_1
"Jika kau ingin bermain api! salah orang nyonya!" sambung Antoni.
Raut wajah Annisa berubah. Dia merasa tersindir dengan apa yang dikatakan oleh Antoni.
Bibir Antoni tersenyum sinis memandang Annisa. Antoni meninggalkan Annisa yang terdiam mendengar perkataan Antoni.
Annisa sadar dari termangu, dan melihat punggung Antoni sudah menjauh meninggalkan dirinya.
Keduanya tidak sadar, ada sepasang mata yang melihat keduanya dari kejauhan. Mata siapakah?
"Ternyata di sini" kata Antoni pada Aira yang sedang serius melihat menu yang tertata rapi dihadapannya.
"Mas Toni, makanan ini semua sangat enak. Bisa-bisa timbangan tubuhku akan naik." tutur Annisa dengan suara yang sangat pelan.
"Makan sedikit-sedikit setiap menu, jika suka," kata Antoni.
"Good.... !" Aira mengacungkan jempolnya.
"Aira." Aira menoleh dan melihat Annisa berdiri dibelakang dia dan Antoni.
"Mbak Nisa mau ?" Aira menunjuk kue-kue dan buahan yang diambilnya.
'Tidak ! aku sudah terlalu banyak makan, bisa-bisa badanku penuh dengan lemak. Kau juga harus menjaga badanmu, jangan sampai orang melihat geli melihat badan kita yang penuh buntelan lemak," kata Annisa.
"Tubuh yang penuh lemak sangat dibenci kaum Adam, kau harus menjaga tubuh Aira. Bisa-bisa kau tidak laku nanti." tambah Annisa.
Antoni tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Annisa.
Antoni mengelus punggung Aira dan berkata dengan lembut.
"Ambil kue yang suka, aku sangat suka melihat tubuh wanita yang berisi, jika dipeluk terasa hangat. Dari pada meluk tubuh yang tidak ada lemak, tidak enak dipeluk. Seperti meluk tiang listrik."
Aira tersenyum, beda dengan Annisa yang kaget melihat apa yang dilakukan Antoni pada Aira.
"Kalian?" tanya Annisa penasaran.
"Aira kekasihku," kata Antoni.
Degh...
Raut wajah terkejut ditunjukkan Annisa. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Tidak mungkin!" batin Annisa.
"Aira... bisa tinggalkan kami, aku ingin bicara dengan Antoni," kata Annisa.
"Oh... Oke Mbak." Aira ingin berlalu, tapi lengannya dipegang oleh Antoni.
Aira memiringkan kepalanya sedikit, melihat Antoni.
__ADS_1
"Mau bicara, katakan saja didepan Aira. Aira orang terdekatku sekarang ini. Tidak ada rahasia di antara kami," kata Antoni.
"Oh.." ujar Annisa.
"Katakan, kami tidak bisa lama di sini," kata Antoni, karena Annisa belum membuka suaranya. Dia mengamati Antoni dan Aira.
"Serius... Kalian ada hubungan?" Annisa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Antoni.
"Itu yang ingin kau tanyakan, secara berdua saja tadi?" Antoni balik bertanya pada Annisa. Sedangkan Aira hanya sebagai pendengar saja. Mau pergi tidak mungkin dilakukan oleh Aira, karena tangan Antoni masih memegang lengannya. Dan kini tangannya menggenggam jemari tangan Aira.
Annisa tidak menanggapi perkataan Antoni. Kedua matanya lekat menatap tangan Antoni yang menggenggam jemari Aira.
"Bagaimana ini? Aku tidak nyaman berada diantara kedua mantan ini. Mbak Nisa juga, sudah punya suami. Tapi malah ngajak Mas Toni untuk bicara berdua. Aku sih tidak cemburu. Tapi, bagaimana dengan suaminya. Apa Mbak Nisa tidak memikirkan perasaan suaminya? atau suaminya tidak mengetahui Mas Toni sebagai mantan mbak Nisa." suara hati Aira yang tidak nyaman berada diantara Antoni dan Annisa.
"Aira kekasihku, apa kau meragukan hubungan kami ? Aku juga akan melamar Aira dalam waktu dekat ini," kata Antoni dengan suara yang tegas.
Degh
Jantung Aira berdetak kencang mendengar apa yang dikatakan oleh Antoni . Karena apa yang baru saja dikatakan oleh Antoni belum pernah menjadi pembicaraan mereka berdua.
"Ayo ." Antoni membawa Aira pergi meninggalkan Annisa.
Annisa termangu mendengar apa yang dikatakan oleh Antoni.
"Permisi mbak Nisa," ujar Aira sebelum pergi.
Annisa diam, tidak menjawab Aira. Sepertinya apa yang didengarnya membuat dia shock.
Aira mengikut saja dibawa pergi meninggalkan Annisa. Dia tidak membantah.
"Tunggu!" panggil Annisa.
"Mas." Aira menghentikan langkahnya, dan Antoni terpaksa berhenti melangkah.
"Ada apa?" tanya Antoni tanpa membalikkan badannya menghadap Annisa.
"Kau kalian berencana menikah?" tanya Annisa.
Antoni tidak menjawab pertanyaan Annisa, yang terdengar hanya suara tawa kecil Antoni Tanpa berkata apapun lagi, Antoni melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Annisa yang menunggu pertanyaannya di jawab oleh Antoni. Tapi nihil, Antoni tidak menanggapi pertanyaan Annisa tersebut. Dia menganggap pertanyaan Annisa tidak perlu ditanggapi.
"Mas, apa kita pulang sekarang?" tanya Aira.
Antoni menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Aira.
"Acaranya sudah siap kan? Apa masih mau di sini?" tanya Antoni.
"Pulang saja," sahut Aira.
Next
__ADS_1