Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 77 Kehilangan


__ADS_3

Happy reading guys.


......................


Melihat isi amplop tersebut, Aiman merasakan sesak di dadanya. Dengan langkah terhuyung-huyung Aiman masuk kedalam kamarnya.


"Aku harus menyimpan ini, jangan sampai Aini melihatnya dan kecewa. Aiman memasukkan amplop tersebut ke sembarang tempat dalam lemari pakaiannya. Lalu Aiman menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke atas ranjang.


"Aku akan menanyakan pada Damar, mengenai kebenaran dalam gambar itu. Aku harus menghubungi Nisa."


Aiman meraih ponselnya yang terletak diatas meja kecil disamping ranjang, lalu dengan tangan yang gemetar Aiman menekan nomor Annisa dan tidak membutuhkan waktu yang lama, terdengar suara Annisa menyahut.


"Ada apa Yah? Apa ayah baik-baik saja." suara Annisa yang terdengar biasa-biasa saja membuat ayah Aiman lega.


"Ayah sehat, Nisa baik-baik saja kan ? Damar bagaimana? Apa kalian baik-baik saja?"


"Kami baik Yah, dan Mas Damar baik juga. Sekarang Mas Damar lagi keluar kota."


Degh....


Aiman teringat dengan gambar yang diterimanya.


"Ayah... Yah.... !" panggil Annisa, karena tidak terdengar suara Aiman.


"Ayah.... !" panggil Annisa yang khawatir, karena tidak ada sahutan dari sang ayah.


"Ayah tutup ya, ibu memanggil ayah."


"Ayah... buat aku khawatir saja," kata Annisa.


"Jangan khawatir, ayah baik-baik saja."


"Besok Nisa akan ke rumah Yah, bilang pada ibu agar jangan masak, nanti Nisa bawa makanan."


"Iya ," sahut Aiman.


"Suara ayah tidak seperti biasanya, apa ayah sakit dan tidak mau mengatakannya." batin Annisa.


Annisa lalu menghubungi bunda Aini dan merasa tenang, begitu mengatakan ayah Aiman baik-baik saja.


**


Mita membuka pintu ruang kerja Mikaela dan melihat Mikaela tertidur dalam posisi kepala menyandar.


"Tidur."


Mita menutup kembali pintu ruang kerja Mikaela dengan pelan, takut Mikaela terganggu dari tidurnya.


"Maaf Pak, boss sedang tidur," kata Mita pada orang yang ingin bertemu dengan Mikaela.


"Tidur? Apa boss kalian sakit ?"


"Iya, Pak," sahut karyawan yang sempat melihat Mikaela memijat dahinya.


"Kalau begitu, sampaikan pada boss kalian, besok saya akan ke sini lagi."


'Baik pak," sahut Mita.


"Sin, jangan ada yang masuk kedalam ruang kak El ya," kata Mita pada Sinta.


"Iya, kasihan lihat kak El ya ," kata Sinta.


"Ngenes banget nasibnya." tambah Sinta.

__ADS_1


"Suami tidak tahu di mana. Aku kira dulu kak El akan hidup bahagia bersama suami di inggris. Ternyata.... ." Sinta menaikkan kedua bahunya.


"Kita doakan saja, semoga permasalahannya cepat selesai," kata Mita.


"Itu yang bisa kita lakukan, mau ikut mencari keberadaan suami kak El, kita tidak ada kemampuan," kata Mita.


"Aku pun, lihat inggris saja aku dari televisi," kata Sinta dengan diiringi tawa kecil dari mulutnya.


"Aku sudah pernah sih ," kata Mita.


"Kau pernah ke inggris?" tanya Sinta.


"Iya... aku pijak peta inggris," jawab Mita sembari tertawa.


"Bushett.... !" umpat Sinta.


"He... he...he ." tawa Mita.


"Hei... bangun ." Mikaela merasa jemari tangan menyentuh pipinya.


Mikaela membuka matanya sedikit demi sedikit dan matanya terbelalak lebar, melihat wajah yang membungkuk didepannya.


"Kak Raffi!" pekik Mikaela sembari menubruk tubuh Raffi dan memeluknya dengan erat.


"Hus... Jangan nangis." usapan lembut dipunggung Mikaela untuk membuat Mikaela menghentikan tangisannya.


Mikaela mengurai pelukannya dan menatap wajah Raffi.


"Wajah kak Raffi pucat. Kakak sakit ? Bagaimana di inggris ? Apa udara inggris tidak sesuai dengan kakak ?" pertanyaan beruntun meluncur dari mulut Mikaela.


Raffi tidak menjawab pertanyaan Mikaela, matanya terus menatap wajah sang istri.


"Ih... Kak Raffi! Koq lihat El terus ?" Mikaela mencebikkan bibirnya.


"Kakak rindu. El rindu dengan kakak, nggak?"


"Sedihnya." Raffi menunjukan raut wajah yang sedih.


"He...he... he .... " Mikaela tertawa.


"Rindu nggak?"


"Rindu," sahut Mikaela.


Kedua tangan Raffi menangkup pipi Mikaela, dan kemudian menarik wajah Mikaela dan mendaratkan kecupan dibibir Mikaela.


Cup...


"Kak .... !"


"Kenapa? Tidak mau kakak kecup?"


"Kenapa bibir kakak dingin? Kakak baru minum es ya ?" tanya Mikaela yang merasakan bibir Raffi yang menempel dibibirnya terasa dingin.


"Karena kakak kan baru tiba dari inggris, di sana dingin karena sedang musim salju," kata Raffi.


"Oh ," sahut Mikaela.


"Dengarkan kakak bicara, jangan potong ya."


Mikaela mengangguk dan menatap wajah Raffi dengan lekat, sedangkan Raffi masih menangkup pipi Mikaela.


"Jika kakak pergi, jangan menangis ya. Kakak pergi bukan karena tidak sayang, tapi karena batas akhir kakak di sini sudah berakhir."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kan kakak bilang jangan dipotong. Dengarkan saja apa yang akan kakak katakan."


"Maaf."


"Kita itu seperti ngontrak di dunia ini, jika masa kontrak kita sudah berakhir, kita harus pindah."


Mikaela bingung dengan apa yang dikatakan oleh Raffi, tapi dia tidak bisa bertanya, karena Raffi tidak ingin bicaranya di potong.


"Kakak sangat... sangat mencintaimu! kakak harap, El akan bahagia selalu, jangan sedih. El harus menjadi wanita yang kuat ya." Raffi mendekatkan bibirnya ke kening Mikaela dan melekatkan bibir lama di kening Mikaela.


"Dingin." batin Mikaela.


"I love you, my wife."


"My heart stops beating, but I will never forget you." bisik Raffi.


Lalu Raffi mengecup ceruk leher Mikaela.


Lagi-lagi Mikaela merasakan bibir Raffi yang dingin menerpa kulitnya.


Raffi menarik kepalanya dan Mikaela melihat wajah Raffi yang pucat seperti tidak berdarah.


'Kakak sakit ? Ayo kita ke dokter."


"Tidak! Kakak baik-baik saja."


"Ingat pesan kakak, jangan sedih ya... ! Hidup terus berjalan ."


Raffi melepaskan tangannya yang memegang pipi Mikaela dan mundur.


Butiran cahaya putih keluar dari tubuh Raffi dan tubuh Raffi sedikit demi sedikit menghilang.


"Kak... Kak Raffi... Kakak mau kemana? Tunggu kak ! Kak Raffi.... !" kedua tangan Mikaela menjulur ke udara ingin menggapai cahaya putih yang keluar dari tubuh Raffi.


"Kak... kak El.... !" Mita mengguncang- guncang lengan Mikaela yang menjulur keatas, seperti ingin meraih sesuatu.


Mikaela terbangun.


"Mana kak Raffi? mana dia?" Mikaela bangkit dan berlari keluar.


Mita dan Sinta mengikutinya.


"Mana kak Raffi?" tanya Mikaela pada Sinta, lalu pada Mita.


Keduanya bingung dan saling bertukar pandang.


"Tidak ada kak Raffi, kak El," kata Mita.


"Kalian meninggalkan toko? Tadi ada kak Raffi. Dia datang!" kata Mikaela yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mita dan Sinta.


"Kami tidak pergi kemana-mana kak ," kata Sinta.


"Iya kak, baru saja aku melayani satu costumer," kata Mita.


"Kalau kakak tidak percaya dengan apa yang kami katakan, kita cek cctv saja kak." Sinta menyarankan untuk melihat cctv yang ada di luar dan dalam toko.


Mikaela terduduk lesu, setelah melihat cctv, tidak terlihat sosok Raffi masuk kedalam toko.


"Apa itu hanya mimpi? Itu mimpi." Mikaela mengusap wajahnya.


"Kenapa kakak hanya datang kedalam mimpi saja ? Kakak di mana sebenarnya?"

__ADS_1


Next


Tidak lama lagi akan ending...


__ADS_2