Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 70 TMM


__ADS_3

Happy reading guys.


Jangan terlalu mencintai seseorang, jika kehilangan tidak akan terasa.


......................


"El... Tenang dulu." bunda Aini menangkup wajah Mikaela.


"Bagaimana bisa tenang bunda! Bagaimana bisa aku tenang! Aku tidak tahu apa yang terjadi pada suamiku bunda! Istri seperti apa aku ini, bunda? katakan bunda? Istri seperti apa aku ini, yang tidak tahu apa yang menimpa suaminya." Mikaela menangis sampai sesenggukan.


"El... Nanti biar Mas Damar mencari tahu mengenai Raffi, sekarang tenang dulu."


Di luar kamar, ayah Aiman yang sudah menguping lama mundur. Dia membatalkan niatnya untuk masuk.


"Meninggal? Tidak mungkin. Raffi tidak mungkin meninggal."


Ayah Aiman masuk ke dalam kamarnya dan meraih ponselnya, lalu menghubungi nomor ponsel paman Raffi, Hanafi.


"Kenapa tidak bisa dihubungi?" Aiman menekan nomor paman Raffi sekali lagi, dan tetap tidak berhasil.


"Apa nomornya sudah ganti." Aiman keluar dari kamar dan mengambil kunci motor dan kemudian pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai motornya.


***


Faiz menemui Lila yang sedang makan di kantin bersama dengan teman-temannya yang satu divisi dengannya, yaitu para SPG. Perusahaan tempat Faiz dan Inara, juga Aira memiliki SPG sendiri untuk mengenalkan produk yang mereka pasarkan.


"Lila, Pak Faiz tuh... ," kata temanya yang melihat kedatangan Faiz.


"Bukannya Pak Faiz cuti ?" tanya rekannya yang lain.


"Dia rindu denganku, lihatlah... dia mau menemui ," kata Lila dengan percaya diri sekali.


"Tapi wajahnya kenapa terlihat marah Lila?"


"Koq seram wajahnya ya ?" batin Lila.


Langkah panjang Faiz menuju Lila duduk, lalu .... Prakk...


Tangan Faiz memukul-mukul meja di depan Lila seraya membentak Lila dengan suara yang menggelegar.


"Kau manusia terjahat yang pernah aku kenal .... !" kata Faiz dengan keras, sampai orang yang masih berada di kantin kaget mendengar suara keras Faiz.


Lila kaget.


"Mas Faiz ." mata Lila membesar dengan mulut membola mendongak menatap wajah Faiz yang berdiri di sampingnya meja yang dipukul Faiz. Bukan Lila saja yang tersentak dengan apa yang dilakukan oleh Faiz, teman-teman Lila dan orang yang berada di kantin juga. Suara Faiz saja sudah membuat mereka cukup terkejut, apalagi pukulan tangan Faiz yang menerpa meja.

__ADS_1


"Faiz, ada apa?" seorang pria yang mengenal Faiz menghampirinya.


"Wanita ini telah membuat kekasihku salah paham padaku," kata Faiz dengan suara yang datar dan tatapan yang tajam menatap Lila yang menunduk.


Lila mendongak menatap Faiz, saat mendengar apa yang membuat Faiz marah padanya.


"Apa salah saya, mas?" tanya Lila memberanikan diri.


"Aku tidak melakukan apa-apa pada kekasih Mas Faiz." tambah Lila.


Temannya yang duduk didekatnya menyikut Lila, lalu berbisik. "Lila, ingat! Ini kantor, jangan kau panggil mas, Pak Faiz." temannya mengingatkan Lila, di mana dia saat ini.


"Kau tanya apa salahmu? pesan apa yang kau kirim pada kekasihku, Inara?" tanya Faiz.


"Tidak ada Pak," jawab Inara.


"Kau tidak mengakui pesan yang kau kirim pada Inara? Apa kau kira aku tidak tahu pesan itu dari nomor ponselmu! Kau punya dua nomor ponsel kan?"


"Bushett... Kenapa aku lupa." batin Lila.


Lila diam, tidak membantah .


Semua orang yang mengenal Lila sebagai gadis yang cantik dan sek*si, mulai membicarakan Lila dengan mengatakan Lila cewek gampangan. Karena mereka sudah sering melihat dan mendengar Lila sering masuk kedalam hubungan seseorang, dan sering membuat pasangan tersebut renggang, bahkan ada yang sampai putus. Lila memang gadis yang tidak sulit untuk disukai lawan jenis, karena Lila ramah dan manja kepada lawan jenis.


Lila diam menunduk malu, dia tidak mengira Faiz marah dan menegurnya didepan teman-temannya.


"Sudahlah Faiz." temannya menepuk pundak Faiz untuk menyudahi kemarahannya pada Lila.


"Gara-gara dia Inara kecelakaan dan karena dia juga Inara marah. Untuk apa kau memposting gambar kita di media sosial? Kau yang mengajak aku mengambil gambar dan memeluk lenganku. Aku tidak suka padamu ! Aku baik karena kita sama-sama karyawan ," kata Faiz.


Teman-teman Lila satu persatu bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan Lila. Mereka tidak ingin mendapatkan masalah, karena Faiz termasuk orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan tempat mereka mencari nafkah.


"Aku mohon, jadilah wanita yang punya harga diri... ! Jangan jadi wanita yang yang ingin mengambil milik orang dengan cara yang licik.... !"


"Jangan sampai kau mengusik Inara! Jika kau lakukan lagi, aku tidak akan tinggal diam! Aku akan datang menemui orangtuamu dan melaporkan anaknya yang tidak tahu malunya mengusik hubungan orang lain."


Faiz pergi meninggalkan Lila yang tertunduk malu.


Mulut-mulut sumbang mulai berseliweran menghina mengejek Lila. "Cewek genit."


"Cewek obral murah "


"Seperti tidak ada cowok yang masih tidak punya pacar saja di dunia ini."


Mulut-mulut mencibir Lila, sehingga membuat Lila berlari meninggalkan kantin karena malu.

__ADS_1


***


Sepeda motor yang ditunggangi Ayah Aiman tiba didepan rumah Raffi. Dan terlihat beberapa orang keluar masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa barang-barang masuk kedalam mobil box.


Ayah Aiman terpaku disamping motornya. "Mas... mas " Aiman menyapa laki-laki yang melintas didekatnya.


"Iya pak."


"Ini barang mau di bawa kemana?" tanya Aiman, ayah Mikaela.


"Pindah Pak."


"Pindah! Kemana pindahnya mas ?"


"Saya tidak bisa bilang Pak. Masuk saja bapak, tanya di dalam."


"Oh... Iya mas, terimakasih."


Aiman masuk dan bertemu dengan asisten rumah tangga keluarga Raffi yang pernah bertemu dengan Aiman, pada saat pernikahan Mikaela. Dari orang tersebut diketahui oleh Aiman, bahwa Raffi telah meninggal seminggu yang lalu.


"Tidak... ! Tidak mungkin ... Raffi tidak mungkin secepat itu meninggalkan Mikaela."


Bugh..


Aiman jatuh begitu keluar dari rumah Raffi dan tergeletak di depan rumah Raffi.


Asisten rumah tangga Raffi yang bicara dengan Aiman tadi kaget melihat Aiman yang jatuh didepan matanya.


"Non Alin!" teriak asisten rumah tangga Raffi memanggil sang majikan yang berada didalam rumah melihat Aiman dan sang asisten rumah tangga bicara dengan Aiman.


"Pak... pak... Bangun ." laki-laki yang ditanyai Aiman tadi, berusaha untuk membuat Aiman sadar.


"Merepotkan saja, nggak anaknya, bapaknya sama saja!" kesal Alin seraya keluar dari tempat persembunyiannya.


"Bik, panggil ambulance." perintah Alin.


"Non... Jangan ambulance, kelamaan."


"Kalau tidak pakai ambulance, kita bawa pakai apa ke rumah sakit? Aku tidak mau dia mati di sini ya Bik."


"Non antar, ayo non... Jangan sampai Den Aldo dengar kejadian ini, Den Aldo marah pada bibik non."


"Ih... Menyusahkan! Mau mati saja menyusahkan !" batin Alin.


Next...

__ADS_1


__ADS_2