Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 26 Terciduk


__ADS_3

Happy reading guys.....


****


"Awas kalau ingkar... tinggal pulang.... !" ancam Annisa lagi.


Damar mengangkat tubuhnya dan kini dia berlutut didepan Annisa. Damar melekatkan kepalanya ke perut Annisa yang sudah mulai terlihat besar.


"Ancaman mama baby koq sangat kejam, tolong bilang sama mama ya, jangan marah-marah," kata Damar berbicara seolah berbicara dengan baby dalam perut Annisa.


"Kejam mas bilang! Kejam mana yang PHP in kita ya baby. Baby ingin makan martabak manis, tapi papa tidak pulang-pulang. Begitu pulang dengan tangan kosong," ucap Annisa.


"Maaf baby, martabak manisnya tutup. Nanti papa belikan yang lebih enak dari yang mama makan," kata Damar.


"Ini martabak manis terenak mas. Pak Zul membelikannya dengan sepenuh hati, Baby suka kan?" Annisa mengelus perutnya.


"Martabak manis yang dibeli Pak Zul tidak enak kan baby. Besok papa akan belikan martabak manis yang paling enak dan mahal. Baby Damar Wiratama tidak boleh mengkonsumsi makanan murahan," kata Damar.


"Mas ini! Jangan kotori pikiran baby dengan perkataan yang tidak-tidak..!" Annisa mendorong kepala Damar dari perutnya dan kemudian Annisa bangkit.


"Sayang mau kemana?"


"Tidur," sahut Annisa seraya melangkah meninggalkan Damar yang duduk di karpet.


"Marah ! kenapa aku lupa."


*


*


Aira dan Inara memandang Mikaela dengan tatapan mata yang tajam. Keduanya datang ke toko Mikaela dan melihat Raffi datang dan membawakan Mikaela makanan yang di masak oleh mamanya. Membuat keduanya menaruh curiga Mikaela dan Raffi ada hubungan yang spesial.


"Sepertinya ada yang hutang penjelasan pada kita ," kata Inara.


"Betul. Teman kita ini merahasiakan sesuatu pada kita." Aira menimpali ucapan Inara .


"Tidak ada rahasia ! Kalian yang berahasia. Kau nona menjalin hubungan dengan Mas Toni dan kau juga, diam-diam menjalin hubungan dengan Mas Faiz ." Mikaela menuduh kedua temannya yang menjalin hubungan diam-diam tanpa sepengetahuannya dengan perasaan yang kesal.


Aira dan Inara bangkit dari duduknya, kedua mendekati Mikaela, keduanya merangkul pundak Mikaela.


"Teman kita ini banyak menyimpan rahasia pada kita. Dulu dia berkata tidak pernah tertarik dengan Pak Raffi. Sekarang... Hem... Dia secara senyap dekat dengan Pak Raffi," kata Aira.


"Siapa bilang aku dekat dengan Pak Raffi?" tanya Mikaela.


"Aku !" ujar Aira.


"Aku juga." timpal Inara.


"Katakan!" titah Inara.

__ADS_1


"Loh... koq aku yang kalian interogasi? aku yang menginterogasi kalian, belum kalian jawab! terutama kau Inara!"


"Aku tidak bilang, Karena kami masih berteman. Belum ada kata cinta yang diucap Faiz," kata Inara.


"Aku kan kau sudah tahu, El," kata Aira.


"Sejak kapan kau dekat dengan Pak Raffi?" tanya Inara kembali.


"Beberapa minggu ini,tapi aku tidak menjalin hubungan percintaan dengan Kak Raffi," kata Mikaela.


"No ! tidak ada hubungan apa-apa antara aku dengan kak Raffi!" kata Mikaela dan memberikan tanda silang dengan kedua tangannya didepan dadanya.


"Kak... ! Kak Raffi?!" seru Aira heboh.


"Wow... Kita ketinggalan berita terbaru ini. Kak Raffi? Kau memanggilnya kak Raffi?" Inara benar-benar kaget mendengar Mikaela memanggil Raffi, kakak.


"Wow.... !" Aira bertepuk tangan, begitu juga dengan Inara. Keduanya heboh, seperti ada pertunjukkan musik yang perlu diberi tepukan dan suitan bibir.


"Sejak kapan apanya?" Mikaela balik bertanya pada Aira.


"Sok tidak tahu apa yang aku tanyakan. Jangan bohong lagi! Sejak kapan kau dekat dengan pak Raffi? Kapan kau bertemu dengan Pak Raffi?" tanya Aira dengan mata bulat sempurna menatap wajah Mikaela, menunggu pertanyaannya yang banyak dijawab oleh Mikaela.


"Kapan mulai cinta kau dengan pak Raffi bersemi?" Inara menambah pertanyaan.


Akhirnya Mikaela menceritakan pertemuannya pertama sekali dengan Raffi sejak mereka tamat kuliah. Mikaela menceritakan juga kehadirannya pada ulang tahunnya Mama Raffi dan Mikaela juga menceritakan masalah surat yang diterimanya dahulu, ternyata dari Raffi. Dan pria yang memberikannya surat itu adiknya.


"Aku rasa, kau itu jodoh dengan Pak Raffi," kata Aira.


"Apa kalian tidak menyukai Pak Raffi lagi?" tanya Mikaela.


"Suka? Masih. Tapi suka karena kepintarannya saja," kata Aira.


"Sama... Aku sekarang sudah punya Mas Faiz sebagai gebetan. Mas Faiz segalanya untukku," kata Inara.


"Dasar bucin!" ledek Mikaela.


"Bucin pada Mas Faiz, tidak apa-apa. Mas Faiz masih singel," kata Inara.


"Dan kau Aira, bagaimana?" tanya Mikaela..


"Aku sama dengan Inara. Pak Raffi cinta-cintaku pada masa mahasiswa. Bukan cinta sih... Kagum, karena Pak Raffi dalam usia yang masih muda bisa menjadi dosen dan dekan. Siapa yang tidak kagum. Hanya kagum, tidak ada cinta. El, jika kau suka dengan Pak Raffi dan Pak Raffi juga menyukaimu. Patut kau perjuangkan Pak Raffi," kata Aira.


"Pak Raffi menyukaimu El. Aku tahu sejak kita bertemu dengan Pak Raffi dan Mamanya waktu itu. Mamanya juga menyukaimu," kata Inara.


"Betul tuh El." timpal Aira.


"Aku tidak merasa dia menyukaiku," kata Mikaela.


"Kau pura-pura tidak tahu. Lihat dari dia membawa makanan untukmu saja sudah bisa dipastikan, dosen kita itu ada hati padamu," kata Inara.

__ADS_1


"Sudah! jangan banyak pikir, embat.... !" seru Aira.


Mikaela mencebikkan bibirnya.


"Sepertinya kita sudah mendapatkan kekasih hati ya," ujar Aira.


Mikaela dan Inara menatap Aira.


"Mati aku." gumam Aira dalam hati, karena mulutnya yang keceplosan mengatakan mereka bertiga sudah menemukan kekasih hati.


"Baiklah! Aku dan Mas Toni sudah resmi jadian." Aira mengakui hubungannya dengan Toni sudah resmi menjadi sepasang kekasih.


"Selamat... !" seru Mikaela memeluk Aira. Begitu juga dengan Inara, ikutan memeluk Aira.


"Cukup... !" seru Aira yang sesak dipeluk Mikaela dan Inara dengan begitu eratnya.


Mikaela dan Inara melepaskan pelukannya.


"Kalian ingin membunuhku sebelum aku menikah," kata Aira.


"Kau sudah memikirkan pernikahan? Kapan.. ? kapan...?" tanya Inara.


"Kau dulu, baru aku ," balas Aira.


"Hem... begini ya... Kita kan sudah punya pasangan semua. Bagaimana kalau kita mengadakan kencan ganda," kata Inara.


"Hei .. aku belum punya pasangan! Aku dengan kak Raffi hanya berteman," kata Mikaela.


"Pertama berteman, nanti pasti lebih dari teman. Sudahlah El, terima saja KAK RAFFi," ucap Aira dengan menekan kata kak Raffi.


*


*


"Kenapa banyak sekali wanita hamil?" Damar tidak nyaman duduk bersama-sama dengan ibu hamil. Karena dia menjadi tatapan mata ibu-ibu hamil yang datang ada yang tidak ditemani oleh para suami, seperti saat Annisa datang cek up pertama sekali, hanya ditemani Mikaela.


"Semua wanita ini, korban para laki-laki. Kasihan ya ," kata Annisa.


"Korban? Korban apa? Apa mereka korban perkosaan?" tanya Damar dengan ekspresi wajah yang cukup terkejut mendengar ucapan Annisa.


"Iya," sahut Annisa.


"Gila! Kenapa bisa hamil? Apa mereka berkali-kali menjadi korban perkosaan?" Damar mengungkapkan keheranannya.


Annisa hampir tidak bisa menahan tawa, mendengar perkataan Damar. Annisa menutup mulutnya, agar Damar tidak melihat senyum menghiasi bibirnya.


"Mas Damar salah tangkap dengan apa yang aku katakan." batin Annisa.


"Apa pria yang melakukan kejahatan itu sudah tertangkap? Wanita yang sungguh mulia. Mereka mau merawat anak hasil perkosaan itu. Mereka sungguh hebat, karena tidak kepikiran untuk melenyapkan nyawa anak yang ada dalam kandungannya?" tutur Damar panjang lebar.

__ADS_1


Annisa melotot melihat Damar yang salah tangkap dengan apa yang dikatakannya.


Next....


__ADS_2