Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 87 TMM


__ADS_3

Ikhlas menerima yang digariskan Allah, hidup akan bahagia.


......................


Amelia masuk kedalam kamar Damar, walaupun Damar berusaha untuk mencegah, tetapi Amelia tetap memaksa masuk kedalam kamar sang putra.


Amelia melihat Annisa tidur. "Kenapa Annisa?"


Amelia melihat tangan Annisa dibalut kain kasa putih.


"Ma, kita keluar. Nanti Damar ceritakan," kata Damar.


Keduanya keluar dan Damar membawa sang mama menuju ruang kerjanya.


"Katakan, Dam. Kenapa Annisa? tangannya itu kenapa?"


Damar menceritakan apa yang dilakukan oleh Annisa.


"Istrimu itu sudah kehilangan akal sehat, Dam. Bisa-bisanya dia ingin mengakhiri hidupnya, hanya karena masalah itu."


"Lalu apa keputusanmu, Dam ?" tanya Amelia.


"Bingung, ma."


"Apa Mikaela setuju dengan keinginan Annisa itu ?"


"Aku tidak tahu, ma."


"Mama sebenarnya ingin melihat kau memberikan mama cucu, Dam. Apalagi kau itu cucu pertama keluarga Wiratama. Tapi mama tidak ingin memaksakan kehendak. Apalagi lagi rahim Annisa."


"Tapi Dam, Indonesia itu tidak memperbolehkan ibu pengganti. Apa Annisa tidak tahu?"


"Apa betul, ma ?"


"Betul, ada teman arisan Mama yang ingin mendapatkan anak melalui ibu pengganti, tapi tidak bisa dilakukan di Indonesia."


"Baguslah, jika di Indonesia tidak diizinkan ibu pengganti. Biar Annisa tahu, keinginannya itu tidak bisa terjadi."


"Dam, bagaimana jika kau mencari istri lagi?"


"Mama !" Damar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Amelia.


"Dam, Wiratama butuh penerus," kata Amelia.


"Tidak, ma ! Aku tidak akan mengikuti keinginan gila Mama itu. Istriku hanya Annisa, tidak akan ada wanita lain."


"Apa kau mau melihat Annisa melakukan tindakan gila lagi ? jika tadi tindakan Annisa sampai membahayakan jiwanya, kau yang akan disalahkan orang, Dam. Orang mana perduli apa yang membuat Annisa melakukan itu, orang pasti menuduh kau yang menganiaya. Dan itu akan berpengaruh pada keluarga kita dan perusahaan."


"Damar tidak akan menikah lagi untuk mendapatkan anak."


"Apa yang mama katakan ini, kau pikirkan Dam. Papa diam, Dam. Tapi dia pasti inginkan darah dagingnya meneruskan perusahaan."


"Ada Dania ma, dia menikah kan akan melahirkan cucu penerus untuk keluarga kita."


"Anak Dania memang cucu Wiratama, tapi dia tidak membawa nama keluarga Wiratama," kata Amelia.


"Apapun yang mama katakan, aku tidak akan pernah menduakan Annisa."

__ADS_1


"Terserahlah, jangan sampai kau menyesal. Annisa itu nekad orangnya."


***


"Kenapa melamun ?" Mikaela tidak mendengar suara kursi roda Aini mendekati tempat dia duduk.


"Bunda." Mikaela memutar duduknya.


"Bunda butuh apa?"


"Tidak apa-apa, kenapa melamun?" Aini mengulang pertanyaannya yang belum dijawab Mikaela tadi.


"Kangen ayah bunda. Lihat awan biru itu bunda, sangat indah." telunjuk Mikaela terarah ke langit yang cerah. Warna biru mendominasi langit di waktu sore.


"Bunda Juga kangen ayah."


"Apa surga berada dibalik langit itu bunda?"


"Mungkin," jawab Aini.


"Jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh Annisa itu, El."


"Kasihan mbak Nisa bunda."


"Bunda juga sedih dengan apa yang terjadi padanya, tapi masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan anak. Jangan minta orang untuk menjadi ibu pengganti."


"Bunda, kalau aku mau membantu mbak Nisa. Apa bunda izinkan?"


"Tidak! Bunda tidak setuju!" kata Aini dengan tegas.


"Apa kau mau dipisahkan dari anak yang kau kandung selama sembilan bulan? Walaupun itu anak Damar dan Annisa. Tapi kau yang mengandungnya, El. Darahmu ada didalam bayi tersebut. Kalian berdua menjalin ikatan sebagai ibu dan anak, El."


"Bagaimana dengan mbak Nisa, Bun?"


"Masalah mereka, biar mereka pikirkan sendiri," kata Aini.


"Bagaimana jika mbak Nisa marah, bunda ?"


"Bukan sekali ini Annisa marah, El. Ah... Biarkan sajalah."


"Bel tu El," kata Aini.


Mikaela bangkit dan melangkah menuju depan dan tidak lama kemudian dia kembali dengan diikuti oleh Amelia.


"Bu Amel, apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik Bu. Ibu sehatkan?" tanya balik Amelia.


"Alhamdulillah juga Bu Amel, sudah bisa sedikit-sedikit berjalan, tapi masih menggunakan tongkat."


"Ayo kita masuk, masa kita bicara diluar," kata Aini.


"Di sini juga tidak apa-apa, Bu Aini. Sehat mata melihat bunga-bunga," kata Amelia.


"El, ambil minuman dan roti yang kita buat tadi," kata bunda Aini.


"Jangan repot-repot, El," kata Amelia.

__ADS_1


"Tidak repot koq, Tan. Tinggal ambil saja."


Mikaela meninggalkan keduanya, dan tidak lama kemudian, Mikaela keluar kembali dengan membawa minuman dan cemilan.


"Silakan Tante."


"Terimakasih." Amelia mengambil gelas yang diletakkan Mikaela didepannya dan menyeruput sedikit dan kemudian meletakkannya ketempat semula. Lalu kemudian Amelia menghela napasnya dengan lembut, tapi walaupun lembut, Aini masih bisa mendengar dan melihat raut wajah Amelia yang gundah.


"Sepertinya ada yang ingin dibicarakan Bu Amel." batin Aini.


"Ibu sudah tahu ?" tanya Amelia.


"Tahu apa Bu?" tanya balik Aini. Dia melihat Mikaela yang duduk di sebelahnya.


"Itu... Bagaimana ya ? saya jadi bingung." Amelia menggaruk tengkuknya.


"Katakan saja, Tante," kata Mikaela.


"Iya Bu Amel, katakan saja. Kami sudah terlalu sering menerima kejutan, jantung kami sudah terbiasa," kata Aini dengan bergurau.


Amelia tertawa kecil mendengar gurauan Aini.


"Saya baru dari rumah Damar," kata Amelia.


"Apa Bu Amel ingin membicarakan apa yang dikatakan oleh Annisa?" batin Aini.


Dalam batin Mikaela juga sama dengan apa yang dipikirkan oleh Bunda Aini.


"Bu Aini pasti belum tahu, Nisa ingin melakukan percobaan bunuh diri."


"Apa !?" seru Aini.


"Mbak Nisa ingin melakukan.... ?"


Amelia mengangguk. "Dia memotong nadinya, untung Damar bergerak cepat, sehingga dia tidak banyak kehilangan darah."


"Nisa... Apalagi yang ingin kau tunjukkan?" kata Aini yang menyesalkan apa yang dilakukan oleh Annisa.


"Sekarang mbak Nisa berada di rumah sakit mana, Tante?"


"Di rumah, Damar memanggil dokter. Jika dibawa ke rumah sakit, akan banyak yang tahu dengan apa yang dilakukan oleh Annisa. Bisa-bisa nanti Damar di serang saingan bisnisnya dan akan berdampak efek negatif pada perusahaan."


"Kenapa Nisa melakukan itu ? Apa mereka bertengkar?" tanya Aini.


"Sedikit beda pendapat," kata Amelia.


"Apa masalah itu lagi, Tante?" tanya Mikaela.


Amelia yang tahu "ITU" yang dimaksud oleh Mikaela mengangguk, membenarkan apa yang dipikirkan oleh Mikaela.


"Masalah anak?" tanya Aini.


"Iya," sahut Amelia.


Aini memijat dahinya. "Saya bingung dengan Annisa, dia tidak sabar menunggu Allah yang beri. Apa Bu Amel tahu dengan apa yang diinginkan Annisa sekarang ini?" tanya Aini.


"Gara-gara itu, Damar dan Annisa berdebat. Dan Annisa mengancam Damar akan pergi meninggalkan Damar. Damar mengira Annisa hanya ingin pergi meninggalkan rumah, tidak tahunya Annisa ingin mengakhiri hidupnya."

__ADS_1


"Bagaimana menurut Bu Aini? Annisa itu nekad orangnya. Jika keinginannya tidak terpenuhi, bisa saja dia mengulangi perbuatannya itu lagi."


Next


__ADS_2