
Happy reading guys.
...****************...
Annisa menunggu kedatangan Damar di rumah sakit, sudah hampir satu jam dia menunggu dan sosok yang ditunggu belum terlihat batang hidungnya.
"Kemana Mas Damar ?" Annisa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang suami.
"Mas ! Kenapa belum datang? aku sudah menunggu lama, nanti dokternya pulang!" cerca Annisa, begitu Damar mengangkat panggilan telepon dari Annisa.
"Cepat!" Annisa memutuskan sambungan telpon.
"Huh... Tahu begini tadi, aku samperin saja Mas Damar di kantor, biar sama-sama bertemu dokter. Tidak seperti ini, menunggu tidak pasti."
Annisa terus ngedumel dalam hati, karena Damar yang belum datang dengan alasan bertemu dengan klien.
"Mas Damar ini, niat nggak sih program bayi tabung. Apa dikiranya karena aku keguguran, aku yang bermasalah! Bisa saja benihnya yang tidak unggul."
Tiba-tiba Annisa melihat seseorang yang sangat dikenalkannya dan sudah lama tidak bertemu.
"Tante Arum," ujar Annisa.
Annisa bangkit dan bergegas mengejar wanita yang bernama Arum. Sepatu high heels tidak menghambat dirinya untuk berjalan cepat mengejar wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Tante Arum.
"Tante Arum, tunggu!" panggil Annisa pada wanita yang ingin masuk kedalam lift.
Wanita tersebut tidak mendengar panggilan Annisa dan Annisa kembali memanggil wanita tersebut.
"Tan... ! Tante Arum!" panggil Annisa dengan suara yang sedikit nyaring.
Wanita yang dipanggil Tante Arum mendengar namanya dipanggil dan mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam lift dan menoleh melihat Annisa yang berjalan cepat.
"Tante apa kabar?" Annisa menyalami Arum, begitu dia tiba dihadapan wanita yang bernama Tante Arum.
Wanita yang dipanggil Tante Arum oleh Annisa sedikit bingung, sepertinya dia lupa dengan Annisa. Terlihat dari raut wajahnya berusaha untuk mengingat Annisa.
"Saya Annisa Tan... Teman Toni." Annisa menyebutkan namanya dan sebagai teman Toni, untuk membuat Tante Arum mengingat dirinya.
Wanita yang dipanggil Tante Arum oleh Annisa adalah Mama Toni. Sejak dirinya tidak bersama dengan Toni lagi, Annisa sudah lama tidak bersua dengan Mama Toni. Dulu dia sering mengunjungi Mama Toni di rumah makan. Rumah makan tersebut milik Mama Toni, dengan hasil rumah makan tersebut, Mama Toni yang seorang janda telah berhasil menghantarkan kedua anaknya Toni dan adik perempuan meraih gelar sarjana.
"Annisa! Maaf... Tante lupa, maklumlah, factor usia," kata Arum.
__ADS_1
"Sudah lama tidak bertemu dengan Tante, sudah tentu, Tante pasti lupa denganku."
"Aku tidak lupa denganmu, kau gadis yang telah membuat anakku terpuruk."
Ternyata, Arum tidak pernah melupakan Annisa. Dia hanya pura-pura lupa dengan Annisa, karena dia kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh Annisa pada putranya.
...Flashback...
"Toni, sudahlah... ! wanita bukan hanya dia saja di muka bumi ini!" Arum kesal dengan sang putra, Antoni yang patah hati karena diputuskan oleh Annisa, sempat terpuruk dan hampir dipecat dari tempat dia bekerja.
"Banyak wanita ma... Tapi bukan wanita yang bisa membuat aku jatuh cinta! Hanya Annisa yang bisa membuat hati ini bergetar ma," kata Antoni.
"Hanya Annisa... Hanya Annisa! Sadarlah Toni ! Mau sampai kapan kau begini? Wanita bukan dia satu-satunya yang bisa membuat hatimu bergetar! buka matamu, itu. Lihat di sekelilingmu, banyak gadis-gadis bertebaran. Jangan fokus matamu pada satu gadis!"
Mama Antoni, Arum menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang sang putra. Sedangkan Antoni bergulung di bawah selimut seperti orang kedinginan dan tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi.
"Ton... Begini juga kau, dia tidak akan kembali. Kau menyiksa diri, membuat Mama dan Lana kepikiran terus dengan apa yang kau lakukan."
Arum, Mama Toni terus berbicara dengan sang putra, agar sang putra keluar dari dalam kamar dan kembali beraktivitas.
"Mama kecewa denganmu, jika papa masih ada, pasti juga kecewa. Papa pasti kecewa, karena kau telah membuat kami sedih dengan apa yang kau lakukan, hanya karena wanita!"
Antoni tersentak, begitu mendengar sang mama menyebut Papanya yang telah pergi menghadap sang khalik.
Antoni bangkit dan menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Antoni meraih tangan sang mama. "Maaf ma."
Arum, mama Antoni mengangkat kepalanya dan melihat wajah lusuh sang putra yang sepertinya sudah berhari-hari tidak tersentuh oleh air. Wajah lusuh dan tubuh kurus Antoni membuat sang Mama miris melihat apa yang telah dibuat oleh Annisa, pacar Antoni yang hampir empat tahun bersama dengan sang putra dan memutuskan sang putra karena sang putra hanya pekerja biasa.
Sejak hari itu, Antoni mulai bangkit dan dirinya terpacu untuk berkembang.
Antoni bersama dengan beberapa temannya berinisiatif untuk mendirikan usaha konveksi. Konveksi yang berdiri disamping rumah Antoni, kini semakin berkembang dan sudah bisa memiliki bangunan tersendiri.
...Flashback end...
"Annisa... Oh.... Tante ingat. Apa kabar ?"
"Baik Tante . Tante apa kabar?"
"Alhamdulillah... Tante sehat," sahut Arum.
__ADS_1
"Tante ngapain ke sini ?"
"Ada teman yang baru saja mendapatkan cucu, Tante baru saja menjenguknya. Anak sudah ada berapa?" tanya Arum.
"Belum rezeki Tante," sahut Annisa.
"Oh... Sabar ya. Setiap orang beda-beda rezeki soal anak, ada yang cepat dapat, ada yang butuh belasan tahun, baru diberi rezeki momongan oleh Gusti Allah."
"Iya Tante "
"Lana apa kabar Tante?" Annisa menanyakan kabar Lana, adik Antoni.
"Lana baik, anaknya satu. Sekarang sedang kuliah mengambil spesialis kandungan."
"Lana dokter Tante?"
"Iya... hasil dari berpanas-panasan di dapur, kena minyak panas, bisa menyekolahkannya."
"Kalau Toni bagaimana Tante?" tanya Annisa.
"Toni begitulah, sibuk bisnis. Dia lupa untuk menikah, pasangan sudah ada, itu tadi, lupa menghalalkan pasangannya." Mama Antoni tertawa menceritakan sang putra.
"Bisnis yang dirintis Toni semakin maju, sehingga lupa berumah tangga." tambah Arum.
"Apalagi, dia selalu melakukan perjalanan ke luar negeri untuk bertemu klien." tambah Arum menyombongkan sang putra.
"Ternyata benar, Toni menjalin hubungan dengan Aira." batin Annisa.
"Tante tidak bisa lama-lama, Toni sudah menyuruh sopir menjemput Tante. Toni menganggap Tante anak kecil yang tidak bisa pergi ke mana-mana sendiri."
Arum masuk kedalam lift dan Annisa tinggal menatap mama Antoni sampai lift menutup, membawa mama Antoni turun dari lantai 15.
Dalam lift, mama Antoni tersenyum bahagia. Karena mengatakan kesuksesan sang putra, walaupun dia sadar, tidak boleh menunjukkan kesombongan dengan keberhasilan sang putra. Tetapi entah kenapa, hari ini Arum ingin sedikit sombong didepan mantan sang putra.
"Ya Allah... Maafkan hamba yang sombong tadi." Mama Antoni mengusap dadanya mohon ampun pada Allah, karena telah menyombongkan diri didepan Annisa.
Annisa kembali ketempat dia tadi duduk, di depan spesialis kandungan.
Ada perasaan aneh didalam dadanya, saat mendengar Antoni sukses dan sudah memiliki pasangan. Tadinya dia tidak yakin dengan hubungan Antoni dan Aira. Kini dia percaya, Antoni dan Aira menjalin hubungan percintaan.
Next
__ADS_1