Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 69 Sedih


__ADS_3

Happy reading guys


......................


Bunda Aini, Mikaela dan Annisa tersentak mendengar apa yang dikatakan oleh Alin.


"Akhirnya kau sadar juga! Atau kau pura-pura gila? Biar orang tidak menyalahkan kau ," kata Alin.


"Jika benar... Kau sungguh licik!"


"Sudah tidak waras otak adik Raffi ini." batin Annisa.


Mikaela bingung dengan apa yang dikatakan oleh Alin. Biasanya Alin memanggilnya kakak ipar, kini tidak terdengar panggilan itu dari mulut Alin.


"El, tenang ya." bunda Aini menggenggam jemari tangan Mikaela.


"Apa maksudmu Alin? Apa salahku?" kata Mikaela.


"Bunda, apa maksud Alin? Apa bunda tahu ?" Mikaela menoleh sedikit menatap sang bunda. Aini hanya bisa menenangkan Mikaela.


"Ha... Ha... Ha !" Alin tertawa melihat Mikaela.


"Mana Nak Aldo, Nak Alin?" tanya bunda Aini dengan suara yang lembut, dia tidak ingin terpancing dengan kemarahan Alin.


"Apa kalian tidak lihat ini semua?" Alin menunjuk perabotan rumah yang sudah sedikit dan hanya tersisa kursi dan beberapa lemari hias dan yang lainnya yang biasanya ada di ruang tamu sudah tidak ada.


"Kalian mau pindah?" tanya Annisa.


"Iya... Rumah ini sudah tidak nyaman untuk ditinggali, setelah dua orang penghuninya pergi untuk selamanya," kata Alin.


"Apa yang kau katakan Alin? Katakan sejelas-jelasnya!" kata Mikaela.


"Di mana sekarang Raffi, katanya tidak berada di rumah sakit di inggris ?" tanya Annisa.


Mikaela melihat Annisa, apa yang dikatakan oleh Annisa baru diketahuinya.


"Kak Raffi tidak berada di rumah sakit di inggris ? mbak tahu ?" tanya Mikaela.


"Mas Damar yang bilang, temannya yang bekerja di Kedubes Indonesia di inggris yang mengatakan. Tapi dia tidak tahu kemana Raffi di pindahkan."


"Bunda tahu?" tanya Mikaela.


Bunda Aini mengangguk. "Kami tidak ingin El sedih dan sakit lagi."


"Kak Raffi sudah tenang bersama Mama! Kau yang membuat mamaku meninggal! Dan kak Raffi juga menyusul Mama! Karena kak Raffi juga yang menyebabkan mamaku meninggal. Jika kak Raffi tidak khawatir istrinya pergi ke Inggris sendirian, Mama tidak mungkin pergi ke Inggris untuk menemanimu, dan meninggal. Meninggalnya Mama karena kesalahan kau dan kak Raffi!" kata Alin dengan menggebu-gebu.


"Bersama Mama? Maksudnya?" tanya Mikaela.


"Meninggal! Kak Raffi sudah meninggal!" seru Alin dengan berteriak.


"Kau puas! Kau masuk kedalam keluarga kami, dan membuat aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi!"


Bunda Aini memegang dadanya yang berdetak kencang, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Alin dengan berteriak pada mereka.


"Tidak... ! Kau bohong... ! Kak Raffi tidak meninggal!" balas Mikaela.

__ADS_1


"Kau jahat ! Tega sekali kau mengatakan saudaramu sendiri meninggal," kata Annisa yang tidak percepat dengan apa yang dikatakan oleh Alin.


"Aku kalian bilang jahat? Tidak salah kah... itu ? Keluarga kalian yang jahat ... ! Adikmu itu penyebab Mamaku meninggal!"


"Jika benar Nak Raffi meninggal, katakan di mana makamnya?" tanya bunda Aini setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Tidak Bunda... Kak Raffi masih hidup! Alin bohong!" kata Mikaela.


"Kau bohong kan ? karena marah pada El kau mengatakan Raffi meninggal," kata Annisa.


"Aku tidak bohong! Kak Raffi telah meninggal seminggu yang lalu dan di makamkan di kampung, di samping makam papaku."


Alin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan makam Raffi kepada Mikaela.


"Lihatlah!" Alin menunjukkan ponselnya.


"Kau lihat kan ! Nama siapa yang tertulis di nisan makam itu ! Raffi... Raffi... !"


"Tidak... Tidak... kau bohong!" Mikaela menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh Alin.


”Apa nama kampungnya?" tanya bunda Aini.


"Itu bukan Raffi ! Makam itu seperti sudah lama," kata Annisa tidak percaya dengan gambar yang diperlihatkan oleh Alin.


"Sudah lama? Lihat ini !" Alin menunjukkan makam yang masih terlihat baru.


"Ini... Sebelum makan ditanami rumput," kata Alin.


"Tidak!" teriak Mikaela dan kemudian pingsan.


"Hei... Jangan mati di rumahku !" seru Alin begitu melihat Mikaela pingsan.


"Kau .... !"


Pa...akk...


Annisa melayangkan tangannya menerpa pipi Alin.


"Nisa ! Apa yang kau lakukan ?" bunda Aini terkejut melihat Annisa menampar Alin.


"Mulutnya harus diberi pelajaran bunda... Biar bisa jaga bicara, dia !"


Alin memegang pipinya yang merah, dengan mata yang tajam menatap wajah Annisa.


"Pergi kalian!"


"Jangan buat keributan dirumahku...! Bawa pergi wanita pembunuh itu ! Pergi kalian!" usir Alin dengan kata-kata kasar meluncur dari mulutnya.


"Diam mulutmu itu... ! Kami juga tidak ingin berlama-lama di dekat orang tidak waras sepertimu !"


"Nisa, sudahlah," kata bunda Aini yang sedang berusaha untuk membuat Mikaela sadar.


Annisa memanggil sopirnya. Dan dengan dibantu sang sopir, Annisa dan bunda Aini membawa Mikaela pergi meninggalkan rumah Alin. Kepergian mobil yang membawa Mikaela diiringi dengan tatapan mata yang berair kepuasan melihat orang yang dibencinya tidak berdaya dihadapannya.


"Itu baru permulaan! Aku akan menghancurkan kalian satu persatu... Mbakmu itu juga akan aku hancurkan, karena sudah berani melayangkan tangannya pada pipiku." Alin mengusap pipinya yang sempat menjadi sasaran tangan Annisa.

__ADS_1


***


"Pergilah! Kita tidak ada hubungan lagi." usir Inara pada Faiz, yang untuk kesekian kalinya datang ke rumah Inara dan selalu mendapatkan pengusiran dari sang pemilik rumah, Inara.


"Sayang... "


"Cukup! Jangan panggil aku sayang." potong Inara, sehingga Faiz tidak melanjutkan perkataannya.


"Pergilah... ! Hubungan kita sudah berakhir. Dulu aku masih ... Kau bisa pergi dengan gadis lain. Sekarang... ." Inara menunjukkan kakinya dan saat ini ada satu kruk untuk membantunya berjalan.


"Apa yang terjadi padamu, walaupun kaki tidak bisa berjalan dengan normal, aku tetap mencintaimu, Inara," kata Faiz dengan mata yang berkaca-kaca.


Terdengar tawa kecil dari mulut Inara, dan kemudian Inara menghela napasnya dengan lambat.


"Cinta? Aku tidak percaya lagi dengan kata cinta. Bagiku kata cinta itu sangat memuakkan... !"


"Nara, aku tidak ada hubungan apapun dengan Lila. Percayalah... Aku tidak mengkhianati cinta kita."


"Oh... Ya ! Lihat ini."


Inara mengambil ponselnya yang diletakkannya di meja samping tempat dia duduk.


"Gadis itu mengirim pesan ini." Inara menunjukkan pesan yang diterima.


Mata Faiz terbelalak membaca pesan yang diterima oleh Inara.


"Aku tidak tahu, darimana dia mendapatkan nomor ponselku."


"Dia meminta aku untuk menjauhimu. Eh.... " tawa sinis terlihat dibibir Inara.


"Aku tidak ada hubungan dengan dia. Sumpah!"


"Tidak usah sumpah," kata Inara.


"Aku akan membuktikan, aku tidak ada hubungan dengan Lila!" Faiz meninggalkan rumah Inara.


"Mana Faiz?" Mama Inara.


"Pulang," jawab Inara.


"Masih tidak baikan ?"


Inara tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia bangkit, tanpa berkata apa-apa, Inara meninggalkan sang mama.


"Anak muda." Mama Inara menggelengkan kepalanya menatap Inara yang berjalan menggunakan kruk.


***


"Kak Raffi tidak meninggal kan, bunda? Alin bohong kan bunda?" tanya Mikaela ketidak sadar.


"Bunda tidak tahu El ," jawab bunda Aini.


"Mbak... Itu tidak benarkan, kak Raffi tidak meninggal ! Alin bohong kan ?" tanya Mikaela pada Annisa.


Annisa bingung, apa yang harus dikatakan.

__ADS_1


Next


__ADS_2