
Happy reading guys
...****************...
Tiba di rumah, Aini melihat Annisa sudah berada di teras menunggu kedatangan mereka dari mengantar Mikaela.
Bunda Aini melihat Annisa terkejut, karena tadi Annisa mengatakan dirinya kurang sehat. Karena itu tidak ikut mengantarkan Mikaela berangkat.
"Tadi katanya tidak sehat ?" tanya bunda Aini sembari mendudukkan dirinya di kursi dekat Annisa, sedangkan ayah Aiman sedang memarkir mobilnya ke samping rumah.
"Bete di rumah Bun," sahut Annisa.
"Damar keluar kota lagi ?" tanya bunda Aini.
"Tidak bunda."
"Bunda, apa kita harus merawat anak kita sendiri? Apa tidak boleh kita menyerahkan anak kita pada baby sitter untuk menjaganya?" tanya Annisa.
"Apa .... " Annisa tidak melanjutkan apa yang ingin dikatakannya lagi, karena sang bunda menatapnya dengan tatapan mata yang penuh selidik.
Aini, bundanya menatap Annisa dengan lekat. Dia mencurigai ada masalah antara Annisa dan Damar.
Annisa menundukkan kepalanya, karena tatapan mata sang bunda yang tajam membuat dia ragu untuk melanjutkan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Katakan!" titah sang bunda.
"Ada apa Bu?" ayah Aiman melihat sang istri melihat Annisa dengan kedua tangannya berada di atas kedua pahanya yang menyilang.
"Tidak ada apa-apa Yah," kata Annisa. Dia tidak ingin sang ayah turut menyumbang kata menceramahinya, sudah cukup sang suami dan sudah pasti sang bunda juga akan mulai menceramahinya mengenai menjadi seorang ibu.
"Ayah istirahat saja, ibu lihat ayah terus menguap sejak dari bandara," kata Aini pada sang suami.
"Ayah heran ini, nggak biasanya ayah mengantuk begini," kata Aiman.
"Apa gula ayah tinggi? Jangan terlalu letih Yah! Bilang pada El Yah, biar dia mencari orang untuk mengantikan ayah mengurus tokonya. Dia enak-enakan di inggris, ayah capek di sini mengurus tokonya."
"Ayah tidak capek, untuk apa mengeluarkan dana lagi untuk mengaji orang, ayah masih produktif! Tenaga ayah masih ada hanya mengawasi toko. Lagi pula ada ibu turut membantu."
"Tenaga tua kami masih berguna, kami bangga Nisa. Tandanya kami masih dibutuhkan, otak kami tidak cepat pikun jika terus di bawa untuk berpikir," kata Aini menimpali perkataan sang suami.
"Ayah istirahat saja, atau ayah mau sarapan? biar ibu masakan."
"Tidak Bu, perut ayah sudah full ini makan di bandara tadi."
__ADS_1
Aiman masuk ke dalam rumah, meninggalkan Annisa dan sang istri.
"Nisa, katakan pada bunda. Apa kau ribut dengan Damar?"
"Tidak ribut bunda, hanya membahas masalah anak saja. Mas Damar bilang, karena aku ingin saat ada anak nanti, aku ingin pengasuh yang menjaga anak dan aku masih ingin ikut kegiatan dengan teman-teman. Mas Damar tidak suka, dan mengatakan tugas seorang istri itu mengasuh anak di rumah."
"Apa yang dikatakan oleh Damar benar, tugas istri itu bukan hanya mengandung dan melahirkan seorang anak saja! Tapi mengasuh dan mendidik anak menjadi anak yang berguna bagi orang tua dan bangsa itu adalah tugas istri juga," kata Aini.
"Memakai pengasuh boleh, tapi hanya membantu kita. Jangan menyerahkan pengasuhan seratus persen pada sang pengasuh saja. Kita harus mengawasi anak kita, apalagi sering terjadi seorang pengasuh yang mencelakai bayi asuhnya."
"Bunda, ini jaman sudah modern. Walaupun kita menyerahkan pengasuhan anak pada seorang pengasuh, kita masih bisa mengawasi anak kita selama 24 jam. Ada cctv yang akan membantu kita dalam mengawasi anak kita di rumah."
Bunda Aini menggelengkan kepalanya melihat Annisa.
"Gara-gara masalah pengasuh anak marahan dengan Damar?"
"Nggak marahan bunda, kesal saja. Mas Damar bilang, karena pola pikirku begitu, Tuhan tidak percaya padaku, sehingga aku keguguran dan saat ingin melakukan program bayi tabung aku sakit."
"Kesal ." gerutu Annisa.
"Tidak mungkin Tuhan melakukan itu kan bunda? Masa Tuhan ikut campur dengan apa yang kita lakukan dalam mengurus anak kita."
Bunda Aini hanya diam. Dia tidak menanggapi perkataan Annisa, karena dia tahu, jika dia menanggapi apa yang dikatakannya dengan nasehat-nasehat sekarang ini, Annisa pasti tidak akan mendengarnya. Karena hatinya masih panas.
***
"Inara !" Faiz memukul-mukul stir mobil.
"Kau salah paham Inara!"
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Lila!" seru Faiz dengan mata fokus melihat Inara yang mengemudikan mobilnya dengan kencang. Jalan yang lenggang membuat mobil yang dikemudikan oleh Inara bisa melaju cepat tanpa halangan.
Tiba-tiba..
Faiz melihat mobil yang dikemudikan oleh Inara membanting setir, karena ada sepeda motor yang keluar dari gang dengan kencang. Inara kaget dan membanting stir dengan tiba-tiba dan mobil Inara berakhir menabrak truk sampah yang sedang memuat sampah.
"Oh... Tidak.... !" Faiz menghentikan mobil dan keluar dan berlari menuju mobil Inara yang kap mesin mobilnya mengeluarkan asap.
"Tolong.... ! Tolong!" Faiz berusaha untuk membuka pintu mobil, tetapi pintu mobil Inara macet karena tabrakan tersebut membuat posisi depan ringsek dan pintu menjadi penyok.
"Pinggir pak," kata seorang saksi mata yang melihat mobil Inara menabrak truk sampah.
"Apa yang mau bapak lakukan?" tanya Faiz.
__ADS_1
"Kita harus membuka paksa pintu mobil." pria tersebut membawa linggis dan dan mencongkel pintu mobil.
"Inara !" pintu terbuka dan terlihat tubuh Inara tergencet stir dan balon pengaman dan wajah Inara bersimbah darah.
"Jangan dibawa keluar pak," kata orang yang membuka pintu mobil Inara.
"Kenapa pak? Bagaimana jika mobil meledak?" tanya Faiz yang panik dan tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
"Tidak ada yang meledak pak. Lihat asap tadi sudah tidak ada."
Faiz melihat kearah depan dan kap mobil Inara yang penyok tidak mengeluarkan asap seperti awal kejadian.
"Inara.... !"
"Pingsan pak, ambulance datang sebentar lagi," tutur pria yang sempat memeriksa kondisi Inara.
"Inara !" Faiz meraih tangan Inara yang berdarah.
"Maafkan aku Inara. Aku tidak mengkhianatimu, Inara." suara hati Faiz.
***
Setelah menempuh belasan jam dari Indonesia dan transit di Dubai. Pesawat yang membawa Mikaela dan mama mertuanya, Yuni tiba di bandara internasional inggris. Bandar Udara Heathrow, juga dikenal sebagai London Heathrow adalah bandara utama yang melayani Kota London, Britania Raya dan merupakan bandara tersibuk di negara tersebut. Seperti Indonesia, bandara tersibuk adalah bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Dingin ya ma," kata Mikaela, begitu tubuhnya keluar dari dalam pesawat.
"Masih musim dingin. Desember, Januari, dan Februari adalah musim terdingin di Inggris. Dan ada jalanan yang masih di selimut salju," kata Yuni.
"El kira musim dingin hanya di bulan Desember saja."
"Bulan februari masih musim dingin, pakai jaket kita."
Mikaela dan Mama Yuni mengeluarkan jaket dari tas yang ditentengnya dan kemudian memakainya.
"Mana orang yang menjemput kita?" Mama Yuni celingukan mencari orang yang disuruh Raffi untuk menjemput, karena Raffi tidak bisa keluar dari tempat pertemuan.
"Untung Mama ikut, jika tidak tadi, aku bisa bingung di sini." suara hati Mikaela.
Tiba-tiba..
Sepasang tangan merengkuh tubuh Mikaela dari belakang.
Degh...
__ADS_1
Mikaela kaget dan meronta, tapi tangan tersebut semakin erat memeluknya.
Next...