Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 98 Menuju


__ADS_3

Happy reading.


......................


"Bagaimana kondisi menantu saya Dok?" Tanya Amelia.


"Mana suaminya?"


"Dam ." Aryan menarik tubuh Damar yang berada dibelakangnya.


"Saya Dok," sahut Damar.


"Apa baru menikah?" tanya dokter.


"Baru dua hari Dok. Ada apa?" tanya Amelia cemas.


"Bisa kita bicara berdua?" dokter menatap Damar.


"Ada apa dokter? Kata saja di depan kami. Apa menantu saya sakit parah ?"


"Begini Bu.... " dokter ragu untuk berkata.


"Ma, biarkan dokter bicara dengan Damar.


"Tidak! Mama ingin tahu, apa yang membuat El sakit. Apa karena perbuatan anak kita ini."


"Damar tidak melakukan apapun pada Ela, ma ," kata Damar.


"Papa mau ke kantin." Aryan meninggalkan Damar dan Amelia.


"Katakan saja Dok!" perintah Amelia.


Dokter melihat Damar dan damar mengangguk, agar dokter bicara saja di depan sang Mama.


"Kenapa saya menanyakan baru menikah, karena pasien mengeluhkan area sensitifnya sakit dan setelah saya periksa tadi, terlihat bengkak dan merah."


"Damar !" Amelia melotot melihat sang putra.


Damar menggaruk lehernya, dia sangat malu dengan apa yang di ceritakan oleh dokter.


"Itu salah Mama." balas Damar dengan suara pelan.


"Koq mama yang salah? Kamu yang tidak bisa mengontrol diri, Mama yang disalahkan.


"Untuk pertama sekali melakukan hubungan suami istri, harus tahan diri ya pak," kata dokter Silvi pada Damar.


Amelia mengeryit menatap wajah Damar.


Begitu dokter meninggalkan Damar dan Amelia. Amelia menarik tangan Damar.


"Katakan Damar, apa yang dikatakan oleh dokter untuk pertama sekali. Mikaela kan seorang janda, sudah pasti bukan untuk pertama sekali," kata Amelia.


Damar menceritakan apa yang terjadi.


"Oh... Tuhan ! Mikaela ?" tanya Amelia.


Damar mengangguk. "Aku telah merusaknya, ma ," kata Damar dengan penuh penyesalan.


"Kau tidak merusaknya, Dam. Dia istrimu ."

__ADS_1


"Bagaimana jika Annisa tahu, aku telah melakukan itu dengan Mikaela. Annisa pasti akan sedih."


"Kau kan menikah dengan Mikaela untuk mendapatkan anak. Kenapa Annisa marah? Kalau kau tidak tidur dengan Mikaela, bagaimana bisa Mikaela bisa hamil? Aneh kalian." Amelia pura-pura tidak tahu dengan rencana Annisa dan Damar. Padahal dia sudah tahu rencana keduanya, berkat Bik Imah yang dijadikan mata-mata oleh Amelia.


***


Dua hari dirawat, kondisi Mikaela dinyatakan sehat untuk meninggalkan rumah sakit.


Pulang dari rumah sakit, Mikaela langsung dibawa Damar pulang ke rumahnya dan tinggal di paviliun belakang rumah yang dihuni Damar dan Annisa.


Kepulangan Damar dan Mikaela tidak disambut oleh Annisa.


"Bik, apa Nisa tidak pulang ke rumah?" tanya Damar.


"Sejak kepergian bapak, Bu Nisa tidak pulang," jawab Bik Imah.


"Mungkin dia masih di rumah bunda," gumam Damar.


"Bik, jangan sampai Mama dan Papa tahu, Mikaela tinggal di rumah belakang."


"Baik, Pak," sahut Bik Imah.


Damar meninggalkan Bik Imah.


Bik Imah kembali ke dapur dan kemudian keluar menuju rumah tempat Mikaela tinggal.


Tok... Tok...


Pintu terbuka. "Masuk Bik," kata Mikaela.


"Ini cemilan Bu." Bik Imah membawa masuk nampan dan meletakkannya di atas meja makan yang ada didalam kamar.


"Saya diperintahkan oleh Bu Amel untuk mengurus segala keperluan ibu," kata Bik Imah.


"Tidak perlu Bik, sini semua ada. Saya bisa masak. Dapur ada dan saya lihat dalam lemari pendingin, ada sayuran dan daging."


"Saya disuruh Bu Amel untuk mengisi lemari pendingin. Jika perlu apa-apa, panggil saya Bu."


Skip...


Dua Minggu sudah Mikaela menikah dengan Damar. Dan Annisa baru dua kali menemuinya untuk membicarakan langkah selanjutnya, mengenai program surogasi. Sedangkan Damar tidak pernah mengunjungi Mikaela. Dia hanya diam-diam mengunjungi Mikaela, saat Mikaela sudah masuk kedalam mimpi, baru Damar pergi ke paviliun dan melihat Mikaela dari jendela. Dan dia selalu memberikan makanan dan menyuruh Bik Imah untuk memberikannya pada Mikaela. Karena dia tidak ingin Annisa melihat dia baik pada Mikaela.


Surogasi sendiri merupakan proses reproduksi bantuan bagi para pasangan atau seseorang yang ingin memiliki keturunan tapi tidak mampu untuk reproduksi atau pembuahan sendiri. Umumnya surogasi dapat dilakukan melalui dua metode, yakni bayi tabung dan ibu pengganti.


Setelah melakukan konsultasi dengan dokter yang bisa melakukan program surogasi, Annisa memilih untuk melakukan program ibu pengganti.


"Minggu depan kita menemui dokter. Minum vitamin ini, dan satu lagi, jangan sampai ada yang tahu mengenai apa yang kita lakukan ini. Jangan bilang pada kedua temanmu itu, El. Bilang saja, kau hamil alami."


Mikaela hanya mengangguk, tidak membantah apa yang dikatakan oleh Annisa. Dia sudah malas untuk membantah apa yang dikatakan oleh Annisa.


**


"Alin !" pintu kamarnya terbuka lebar. Aldo masuk dengan wajah terlihat marah.


Alin yang baring di ranjang, bangkit dan duduk.


"Ada apa kak ?"


"Kau betul-betul sudah sangat keterlaluan !"

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kakak datang dengan marah-marah ?"


"Jangan sok nggak tahu, kakak sudah tahu semua, Alin ! Kau menyuruh kedua temanmu untuk menggoda Damar, suami kakak Mikaela, kan ?"


"Bushett ! Mereka pasti mengadu pada kak Aldo. Pantesan mereka tidak membalas telepon dan pesanku. Ternyata mereka berdua berkhianat."


"Kakak ingatkan kau, Alin. Jangan ganggu mereka lagi. Keluarga Mikaela tidak bersalah dengan kematian kak Raffi dan mama ! Itu sudah azal, Alin! Jika kau mau mencari siapa yang salah! kau marah pada orang yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi itu !"


Alin diam, tidak berani dia membantah perkataan Aldo.


"Kakak ingatkan lagi, Lin. Jangan kau membuat masalah dengan Mikaela! Jika kau berani mengusik Mikaela dan keluarganya, kakak akan mengirim kau keluar negeri."


"Kak Aldo !"


"Tidak ada bantahan!" Aldo keluar meninggalkan Alin.


"Sialan kau berdua!" semprot Alin mengumpat kedua temannya Alisa dan Arini.


"Baiklah, aku akan melepaskanmu, Mikaela. Tuhan yang akan membalas pernuatanmu."


***


Sudah sejak pagi, Annisa merasa tubuhnya lemas dan seluruh tubuhnya malas beranjak dari tempat tidur.


"Kenapa denganku ini ? Apa aku ?" Annisa turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Dalam kamar mandi dia mengambil testpack yang selalu disimpannya di lemari gantung yang ada didalam kamar mandi.


"Alloh, semoga apa yang aku pikirkan terjadi." Annisa menunggu hasil testpack.


Lalu kemudian, Annisa mengambil testpack tersebut, dengan mata memicing dia melihat.


Dan..


"Apa benar ! Ini benar !" Annisa mengucek-ucek matanya, dia takut matanya salah melihat testpack tersebut.


"Benar ! Mas !" Annisa spontan berteriak sembari berlari keluar dari dalam kamar mandi mencari keberadaan suami.


Annisa mencari Damar keruang kerjanya dan melihat Damar sedang sibuk dengan laptopnya.


"Mas !" Annisa berdiri di depan pintu ruang kerja Damar.


"Ada apa ?" Damar bangkit dan melangkah lebar menghampiri Annisa.


"Aku... Mas... ." Annisa tidak bisa berucap, air matanya sudah meleleh keluar dari kedua bola matanya.


"Katakan Nisa !"


"Mas... Lihat !" Annisa memberikan testpack kepada Damar.


Mata Damar membulat. "Ini ?" tanya Damar.


"Hamil, aku hamil mas !" seru Annisa.


"Alhamdulillah !" Damar memeluk Annisa dan memberikan kecupan bertubi-tubi wajah Annisa.


"Kita akan bisa punya anak, mas . Kita tidak membutuhkan ibu pengganti, mas. Kita tidak membutuhkan Mikaela. Mas harus melepaskan Mikaela, kita tidak membutuhkannya!"


Deg...


Damar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Annisa.

__ADS_1


__ADS_2