
Happy reading guys
......................
"Maaf Bu."
"Maaf ? maaf apa Dok?" tanya Mikaela.
"Katakan dokter ! Jangan minta maaf ," kata Damar yang berdiri dibelakang bunda Aini. Dia juga tidak sabar menunggu apa yang mau dikatakan oleh dokter.
Perasaan Aini tidak enak, tanpa menunggu apa yang dikatakan oleh dokter, Aini menyibakkan tirai yang tertutup. Feeling Aini menunjukkan di mana keberadaan sang suami. Betul... ! Sang suami terbaring di ranjang yang berada di balik tirai tersebut.
"Bunda!" Mikaela melihat sang bunda yang beranjak mendekati ranjang di mana sang suami dalam kondisi tidur nyenyak. Sang suami yang tidak akan pernah mendengar suara lembut sang istri yang membangunkannya, atau memanggilnya untuk makan dan menyambut kepulangannya.
"Ayah ... ! Apa yang terjadi pada ayah saya dokter?" Mikaela yang belum sadar dengan kondisi sang Ayah, bertanya pada dokter.
"Sampai sini, pasien sudah tidak ada," kata dokter pada Mikaela.
"Pasien sudah meninggal." tambah dokter.
"Apa... ! meninggal?" tanya Damar yang takut salah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter.
Degh....
"Tidak mungkin ! Dokter salah! Tolong periksa lagi dokter!" kata Damar yang berharap dokter salah memberitahu diagnosa kondisi ayah Aiman.
Lutut Mikaela seperti tidak bertenaga, dia jatuh terduduk. Dia terdiam dengan mata membola, tidak terdengar suara apapun dari mulutnya. Mikaela tersadar saat mendengar suara lolongan kesedihan yang panjang dari mulut sang bunda.
"Ayah.... !!!!" pekik bunda Aini.
Brukk...
Bunda Aini jatuh pingsan.
"Bunda!" Mikaela sadar dari diamnya. Dia kaget mendengar suara jatuh dan melihat sang bunda sudah telentang dilantai di bawah ranjang tempat ayah Aiman terbaring tak bernapas.
Damar dan dokter dengan sigap mengangkat bunda Aini dan meletakkannya di atas ranjang sebelah ayah Aiman terbaring.
"Bunda.... !"
"Bangun bunda!" Mikaela menggoyang-goyangkan badan bunda Aini dan berteriak agar sang bunda bangun.
"Bunda ... ! Jangan tinggalkan aku bunda ! Ayah.... !" Mikaela beralih ke tubuh ayah Aiman yang sudah dingin, dan memukul dada sang ayah untuk membuka matanya.
"Ayah ! Buka mata ayah ! Jangan tinggalkan aku ayah ! jangan tinggalkan aku !" pekik Mikaela.
"El... Sadarlah!" Damar menarik tubuh El dan memeluknya untuk menenangkan Mikaela yang sudah seperti orang kesurupan, berteriak memanggil-manggil ayah Aiman dan bunda Aini.
"Ayah... bunda, meninggalkan aku dan mbak Nisa, mas !"
"Pergi ! Ayah pergi!"
"Mbak Nisa... Mbak Nisa... Mana mbak Nisa!" Mikaela panik, mengingat Nisa.
"Tenang ! Tarik napas," kata Damar kepada Mikaela yang tiba-tiba terserang panik dan mengalami sesak napas.
Damar mengurai pelukannya dan mengarahkan kepala Mikaela ke sosok tubuh yang tengah diperiksa oleh dokter. "Lihat... Bunda pingsan... Bunda pingsan," kata Damar pada Mikaela.
__ADS_1
"Bunda!" Mikaela menghamburkan tubuhnya memeluk bunda Aini yang menggeliat di ranjang.
"Ayah El... ayah meninggalkan kita ," kata bunda Aini dengan suara yang lirih. Air mata kembali membasahi pipinya.
"Nisa... Hubungi Nisa," kata Aini.
Aini turun dari ranjang menghampiri Aiman dan memeluk tubuh yang sudah sudah dingin tersebut. Aini meratap dan memanggil nama sang suami untuk bangun.
"Mas sudah menghubungi mbak Nisa?"
"Sudah, tapi teleponnya tidak bisa di hubungi."
Mikaela mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Annisa. Seperti Damar, panggilan Mikaela juga diabaikan oleh Annisa.
"Angkat mbak... Angkat !" seru Mikaela.
Telepon keempat kalinya, baru Annisa menjawabnya.
"Ada apa El?" kata Annisa dari seberang telepon.
"Akhirnya," gumam Mikaela.
"Mbak di mana ?"
"Di luar, ada apa?"
"Mbak... Mbak, ayah masuk rumah sakit."
"Apa lagi yang kau lakukan? Kau selalu membuat ayahku sakit El !" seru Annisa dengan suara yang emosional.
"Rumah sakit mana ayah ?"
Mikaela menyebutkan rumah sakit di mana mereka saat ini berada, dia tidak mengatakan kondisi ayah Aiman, karena khawatir kondisi Annisa.
"Apa kata Annisa?" tanya Damar.
"Tidak bilang apa-apa, mas. Mbak Nisa akan datang, mas tunggu di depan Mba Nisa, mas."
'Baik."
Di restoran Annisa buru-buru ingin pergi, tetapi Alex mencegah, karena Annisa terlihat panik.
"Nisa, tenangkan dirimu dulu. Jangan pergi dalam keadaan khawatir begini, Nisa."
Nisa mendudukkan dirinya dan mengambil air putih dan meneguknya tanpa tersisa.
"Aku harus pergi. Aku khawatir, Lex. Aku merasa ada yang disembunyikan El," kata Annisa.
"Kau boleh pergi, tapi jangan mengemudi mobil sendiri. Biar aku yang antar, nanti mobilmu biar orang aku suruh antar ke rumah," kata Alex.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Annisa duduk tidak tenang. Dia melihat ponselnya, menunggu telepon dari Mikaela atau bundanya.
"Nisa, do'akan Om tidak apa-apa," kata Alex.
"Aku merasa ada sesuatu yang terjadi, Lex. Ayah belakangan ini tidak sehat. Ayah memikirkan El terus."
"Oh iya, adikmu itu sudah menikah?"
__ADS_1
"Sudah menikah dan sudah menjadi janda juga, dia membuat ayah dan bunda tidak tenang dalam masa tuanya," kata Annisa.
"Janda? Semuda itu ! Kenapa? Apa suaminya seperti kebanyakan laki-laki di luar sana, yang sudah mapan, dan mulai bermain api."
"Tidak! Suaminya tidak seperti itu."
Annisa menceritakan apa yang menimpa Raffi, suami Mikaela.
"Oh... Aku mengikuti berita itu, ternyata adikmu salah satu korbannya."
"Kehidupanmu bagaimana, Lex. Sudah berapa anakmu ?" tanya Annisa.
"Aku punya satu anak, baru berumur satu tahun."
"Kau sungguh beruntung, aku belum di berikan rezeki," kata Annisa.
"Beruntung?" Alex tertawa, tanpa mengeluarkan suara.
"Itu rumah sakitnya, Lex."
Alex menghentikan mobilnya didepan pintu masuk rumah sakit. Annisa tanpa mengucapkan apapun pada Alex bergegas turun dan berlari masuk.
"Nisa !" panggil Damar yang menunggu Annisa di depan rumah sakit, Annisa tidak melihat keberadaan Damar, tapi Damar melihat Annisa keluar dari mobil seseorang yang tidak dikenal Damar.
"Mas ! Bagaimana ayah?"
"Ayo ," Damar meraih tangan dan membawanya menuju ruangan di mana sekarang Aiman ditempatkan, yaitu ruang jenazah.
"Mas !" Annisa mengehentikan langkah kakinya dan melihat nama yang ada didepan pintu masuk.
"Ruang jenazah." baca Annisa.
Jantung Annisa berdetak tak karuan, melihat ruang jenazah. "Kenapa kita ke sini mas ?"
"Ayo ." Damar tidak menjawab pertanyaan Annisa.
"Mas ! Katakan!"
Damar merangkul Annisa. "Ayah telah pergi," kata Damar akhirnya.
"Tidak ! Mas bohong kan ? Tidak lucu mas !"
"Aku tidak bohong! Tidak mungkin aku berbohong dengan umur seseorang, Nisa."
"Tidak ! ayahku hanya sakit, kau bohong!" marah Annisa.
Pintu kamar jenazah terbuka dan terlihat bunda Aini dan Mikaela berdiri di samping brankar yang tertutup kain putih.
Mata Annisa membesar dan yakin, bahwa dia sudah kehilangan sosok ayahnya. kemudian Annisa menangis keras.
"Nisa ." Damar memeluk Annisa dan mendaratkan kecupan di kening Annisa yang meraung-raung menangisi kepergian sang ayah.
Annisa melepaskan pelukan Damar dan berlari dan membuka kain putih yang menutupi tubuh sang ayah.
"Ayah !"
Next
__ADS_1