
Happy reading guys.
Raffi pulang dalam keadaan galau, baju sedikit berantakan, dengan kancing baju yang sudah sudah terbuka dan lengan panjang sudah bergulung sampai siku.
"Sudah pulang Raff ? bukannya katanya tadi pulang malam, ada pertemuan," kata Mama Raffi.
"Raffi tidak mengikuti pertemuan itu ma."
"Kenapa?" tanya Mamanya.
"Tidak apa-apa ma," sahut Raffi.
"Betul tidak apa-apa? lalu kenapa kusut ?" mamanya meletakkan tubuhnya di samping Raffi yang duduk bersandar dan memejamkan mata.
"Kenapa?"
"Pertemuan yang tidak penting!" ketus Raffi.
"Kenapa tidak penting? bukannya pertemuan ini dengan klien lama perusahaan kita?"
"Ma, sudah seharusnya perusahaan dipegang Aldo. Aku sudah tidak sanggup menghandle perusahaan dan mengajar. Mama tahu kan, aku tidak suka bisnis," kara Raffi akhirnya dia mengutarakan keinginan untuk melepaskan diri dari mengurus perusahaan milik keluarga.
"Apa Aldo mau ? Dia juga tidak suka bisnis."
"Usahanya sekarang kan bisnis juga, ma. Hanya beda jenis."
"Kalau dia tidak mau, tutup saja perusahaan itu." tambah Raffi.
"Sudah waktunya dia memegang tanggung jawab pada perusahaan ma, jika aku tidak ada, siapa yang akan menjadi kepala keluarga," kata Raffi.
"Hus... bicara apa itu! nggak ada. Mau kemana?" melotot Mama Raffi mendengar perkataan Raffi mengatakan jika dia tidak ada.
"Andai ma! umur kita tidak ada yang tahu," kata Raffi.
"Sudah... sudah ! Mama tidak mau mendengar yang tidak... tidak !" Mama Raffi, Yuni bangkit dari duduknya, lalu berlalu meninggalkan Raffi.
***
Di meja makan tidak ada yang bicara, semua larut dalam pikirannya masing-masing.
Annisa yang penasaran dengan pria yang duduk di sebelah Mikaela.
Raffi datang dan ayah Aiman langsung mengundang Raffi untuk makan malam bersama.
"Siapa pria itu? Apa dia orang terdekat El? Sepertinya dia sudah dekat dengan bunda dan ayah." Monolog dalam hati Annisa.
"Nisa makan ikannya," ucap Damar sembari mengambil sop ikan untuk Annisa.
"Mas... !" Annisa melotot melihat ikan yang ada di atas piringnya. Potongan ikan yang besar menurut Annisa, karena Annisa bukan maniak penyuka ikan.
"Mau cepat sehat, tidak?" tanya Damar.
__ADS_1
"Makan Nisa, biar kondisimu cepat pulih," kata ayah Aiman.
"Ayo Raffi, tambah nasinya," ujar Bunda Aini pada Raffi.
"Kenapa kak Raffi datang mendadak. Nggak bilang mau datang." Mikaela ngedumel dalam hati.
"El... !" panggil bundanya.
"Ya.a. a.. Bun?" Mikaela kaget, karena asik ngedumel dalam hati.
"Layani Raffi tuh .. !" titah bundanya.
"Hah... !" Mulut Mikaela membola mendengar perintah Bunda Aini, agar dia melayani Raffi.
"Belajar untuk menjadi istri yang baik," tambah bunda Aini.
"Bunda!" wajah Dinda langsung bersemburat merah. Dia benar-benar malu mendengar apa yang dikatakan oleh sang Bunda.
Raffi sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Bunda Aini. Kakinya dibawa meja menendang kaki Mikaela. Mendapatkan tendangan kaki dari Raffi, Mikaela menoleh kearah Raffi dan mengerucutkan bibirnya dan juga mendelik kan mata. Raffi mengedipkan matanya. Interaksi keduanya tidak luput dari tatapan mata Annisa.
"Apa pria itu mapan? Mikaela tidak boleh dekat dengan pria yang tidak mapan. Nanti hidupnya susah. Dan akan menjadi beban pikiran ayah dan bunda." gumam Annisa, yang hanya dia yang mendengar, karena dia mengucapkannya dalam hati.
Setelah selesai makan, mereka duduk di taman belakang yang begitu asri ditumbuhi dengan bunga-bunga dan sayuran hasil tanaman Bunda Aini. Lampu penerangan membuat suasana tidak seperti hari telah gelap. Bintang yang bertebaran di langit malam yang menandakan waktu sudah mulai merangkak malam, dan suara binatang malam mulai menunjukkan aksinya dengan bersuara saling saut-sautan.
Annisa duduk di gazebo bersama dengan Bunda Aini, sedangkan Mikaela sedang berada di dapur menyiapkan kopi hangat untuk menemani mereka.
"Bunda, siapa laki-laki itu?" tanya Annisa.
"Teman El, aku tahu bunda. Tapi siapa dia? Anak siapa? Kita harus lihat bobot dan bebet laki-laki itu, bunda... !"
Bunda Aini menarik kakinya yang menggantung dan bunda Aininmenyandarkan tubuhnya pada dinding gazebo.
"Sejak kapan keluarga kita mempermasalahkan soal bebet bobot? Ingat Nisa, keluarga kita keluarga sederhana," kata Bunda Aini dengan suara yang tenang. Padahal, hati dan perasaan Bunda Aini kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Annisa. Dia tidak mengira mulut Annisa bisa mengeluarkan perkataan seperti yang baru dikatakannya, yaitu mengenai derajat seseorang.
"Karena keluarga kita yang sederhana, harus menikah dengan laki-laki yang kastanya lebih tinggi dari kita bunda," kata Annisa yang tetap kekeuh dengan prinsipnya, mencari suami harus dari keluarga yang mampu secara finansial.
"Astaghfirullah hal adzim," ucap Bunda Aini dalam benaknya spontan, begitu mulut Annisa mengucapkan perkataan yang membuatnya cukup syok sebagai seorang ibu yang telah melahirkannya.
"Maafkan hamba ya Allah... Hamba tidak bisa mendidik putri hamba." Bunda Aini mengusap dadanya.
"Kenapa Bunda?" Mikaela datang dan meletakkan dua gelas. Teh hijau kepada bunda Aini dan teh hangat untuk Annisa. Dia melihat Bunda Aini mengelus dada.
"Tidak apa-apa El. Banyak nyamuk," kata bunda Aini seraya mengipas-ngipaskan tangannya.
"Banyak nyamuk sejak kapan rumah kita banyak nyamuk Bunda, apalagi halaman belakang kita ini, tidak pernah melihat nyamuk berterbangan," kata Mikaela.
"Siapa bilang tidak ada El. Lihat... sudah berapa lama kita tidak pernah membersihkan rumput-rumput di halaman belakang ini, nyamuk-nyamuk pasti sudah banyak beranak pinak," kata Bunda Aini.
"Besok kan libur Bun, kita bersihkan," kata Mikaela.
Annisa hanya sebagai pendengar. Dia tidak ikut nimbrung dengan perbincangan keduanya.
__ADS_1
Dan...
Tiba-tiba Annisa mengajukan pertanyaan kepada Mikaela, dan membuat Mikaela sedikit terkejut.
"El, apa kau menjalin hubungan dengan laki-laki itu?" tanya Annisa langsung. Matanya tajam menatap Mikaela.
"Siapa dia? Apa orang berada?" sambung Annisa.
"Annisa..!" tegur Bunda Aini, yang tidak suka dengan pertanyaan yang diajukan Annisa pada Mikaela.
"Apa Bunda?" tanya Annisa.
"Untuk apa kau tanyakan itu? Mikaela berhak untuk dekat dengan Siapapun," kata Bunda Aini.
"Hak Mikaela benar, Bun. Tapi hak kita juga yang telah mengasuhnya, untuk melihat laki-laki yang dekat dengannya. Apa pria itu sesuai dengan keluarga kita," kata Annisa tidak merasa salah dengan apa yang dikatakannya.
"Jangan sampai nanti Mikaela menambah beban pikiran ayah dan bunda, jika Mikaela salah dalam memilih pasangan."
"Annisa... !" Bunda Aini takut apa yang dikatakan oleh Annisa didengar oleh tiga pria yang sedang ngobrol santai tidak jauh dari gazebo.
"Bunda, tidak apa-apa. Apa yang dikatakan oleh Mbak Nisa, itu karena mbak Nisa sayang denganku ," kata Mikaela pada Bunda Aini yang ingin marah pada Annisa , karena ucapan sangat tidak patut didengar.
"El... jangan ambil hati apa yang dikatakan oleh Annisa ya," kata Bunda Aini.
"Tidak apa-apa bunda," kata Mikaela.
"Raffi dosen Mbak," kata Mikaela.
"Dosen?! Berapa gaji dosen? Tidak boleh. Kau tidak boleh dengan pria itu. Jangan dekat-dekat dengannya lagi," kata Annisa.
"Ternyata... apa yang terjadi pada mbak Nisa, tidak mengubahnya." gumam Mikaela dalam hati.
"Annisa... !" wajah Bunda Aini terlihat merah mendengar Annisa melarang Mikaela untuk dekat-dekat dengan Raffi. Hanya karena Raffi hanya seorang dosen.
"Apa yang aku katakan itu untuk kebaikan El, bunda. Apa Bunda mau melihat Mikaela sengsara dalam pernikahannya," kata Annisa dengan suara yang pelan, karena melihat ketiga pria yang sedang berbicara menoleh kearah mereka yang duduk di gazebo.
"Apa kau kira menikah dengan orang berada sudah pasti bahagia?" tanya Bunda Aini.
"Pasti bunda. Sekarang ini hidup hanya mengandalkan Cinta, jelas tidak mungkin!" Kata Annisa.
Mikaela hanya mendengar saja. Dia tidak menimpali ucapan Annisa. Dia takut jika dia ikut menimpali perkataan Annisa, membuat Annisa bertambah tidak suka dengan hubungannya dengan Raffi.
Bunda Aini ingin membuka mulutnya, tetapi urung dilakukannya. Karena ayah Aiman datang menuju gazebo dan diikuti oleh Raffi dan juga Damar.
"Bu." Ayah Aiman memanggil sang istri.
"Ada apa Yah? Apa mau tambah kopi?" tanya Mikaela.
"Tidak! banyak minum kopi, nanti ayah terpaksa begadang. Dan terpaksa Raffi menemani ayah main catur," ucap ayah Aiman.
Next....
__ADS_1