Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 101 Ending


__ADS_3

Happy reading guys.


................


Amelia dan Damar pindah lokasi untuk mengintai Bu Aini dan Yanti. Kini posisi keduanya berada di samping dalam lantai dua.


"Dam, kau harus mendapatkan maaf El. Mama tidak mau tahu, bagaimana caranya untuk kau mendapatkan anak dan istrimu kembali. Kau lakukan Dam," kata Amelia.


"Mama jangan sampai melakukan hal-hal yang gila seperti dulu. Cukup sekali itu Mama melakukannya."


"Apa yang mama lakukan demi kebaikanmu, Dam. Lihatlah, itu hasil yang mama lakukan dulu."


"Kau seharusnya mengucapkan terimakasih pada mama, Dam. Lihat pruduk hasil yang mama lakukan. Anak yang sangat ganteng! Dam... Mama ingin secepatnya memeluk anak itu, cucuku .... !" seru Amelia dengan raut gemas melihat Danish yang kini berjalan sendiri, dan berlari masuk kedalam rumah. Sedangkan Bu Aini meneriaki sang cucu untuk tidak berlari-lari.


"Danish.... !" pekik Bu Aini, karena tiba-tiba Danish jatuh telungkup.


Bukannya menangis, Danish tertawa sembari bangkit dan kembali berlari menuju dalam rumah.


Damar dan Amelia melihatnya tersentak. Keduanya tegang melihat Danish jatuh, tapi begitu melihat Danish bangkit seraya tertawa dan kembali melanjutkan larinya, wajahnya panik keduanya sirna.


Mama Damar mengelus dadanya. "Aduh... Mama takut sekali tadi ," kata Mama Damar.


"Anak Damar hebat ya, ma. Jatuh, dan tidak menangis."


"Keturunan Mikaela, wanita tangguh. Kenapa kau tidak bertemu terlebih dahulu dengan wanita Kuat seperti Mikaela. Kau bertemu dengan wanita yang semaunya sendiri."


"Mama, sudahlah. Itu sudah masa lalu," kata Damar.


"Masa lalu, iya masa lalu ! Tapi masa lalumu itu menghambat kebahagiaanmu, Dam. Dulu mama sudah mewanti-wanti kau untuk berpikir lagi menikah dengan Annisa, kau tidak dengar apa yang mama katakan. Lihatlah sekarang, kau tidak bisa mendampingi Mikaela saat hamil. Kau malah mendampingi Annisa halusinasi hamil."


"Sudah gembar-gembor hamil kemana-mana, ternyata tidak hamil. Mama tidak masalah jika dia tidak bisa melahirkan, tapi jangan menyakiti wanita yang sudah dipilihnya untuk menjadi madunya."


"Ma, sudah ya. Damar minta maaf atas nama Annisa," kata Damar.


"Sudahlah, ngomel juga tidak berguna. Sudah terjadi." Amelia meninggalkan Damar.


Sepeninggal mamanya, Damar kembali menatap ke arah rumah Mikaela.


"Tunggu papa menjemput Nak," gumam Damar.


***


"Bu, ada tamu ." Yanti, pengasuh Danish mendatangi Mikaela yang sedang bicara dengan Mita yang mengelola tokonya. Sejak dia meninggalkan Jakarta, pindah ke Bandung, pengelolaan toko diserahkannya kepada Mita dan Mira. Dua tahun kemudian, kedua tokonya di Jakarta ditutup dan memindahkannya ke Bandung.


"Siapa?" tanya Mikaela.


"Katanya tetangga sebelah, Bu."


"Oo... suguhkan minuman dan cemilan, sebentar saya datang. Bunda belum pulang dari membawa Danish bermain?" tanya Mikaela.

__ADS_1


"Belum, Bu."


Mikaela mengakhiri sambungan virtual dengan keduanya karyawannya dan keluar dari kamar.


Mikaela terdiam, begitu melihat tamunya. Orang-orang yang ingi dihindarinya, mungkin seumur hidup. Tapi baru berjalan empat tahun, dia sudah bertemu dengan orang-orang tersebut.


"Mikaela !" Amelia, mama Damar berdiri dan melangkah cepat menghampiri Mikaela dan memeluk Mikaela yang terpaku.


Amelia mengurai pelukannya. "Akhirnya, kita bertemu. Kenapa pergi meninggalkan kami, El?"


"Tante ," gumam Mikaela.


"Begitu bencinya kau pada kami, El. Sehingga kau mengganti panggilan, dari Mama ke Tante," kata Amelia.


Amelia membawa Mikaela mendekati Aryan, Papa Damar. Lalu Mikaela menyalami Aryan tanpa berkata apa-apa.


"Apa kabar Nak ?" tanya Aryan dengan suara yang lembut.


"Pertanyaan klise ya, sudah pasti baik," kata Aryan, sebelum Mikaela menjawab pertanyaannya.


"Baik, Papa dan Mama bagaimana?" tanya Mikaela, dan dia memanggil keduanya dengan panggilan Mama dan Papa.


"Dibilang baik, tidak juga. Di bilang tidak baik, sampai sekarang kami masih bisa menghirup udara segar," kata Amelia.


"Mama tinggal di rumah sebelah?" tanya Mikaela.


Sedangkan Damar, hanya duduk diam mengamati wanita yang masih menjadi istrinya. Mikaela duduk dengan tidak tenang, karena diamati Damar dan juga takut sang bunda dan Danish pulang.


Tiba-tiba, suara mengucapkan salam. Apa yang ditakutkan Mikaela terjadi. Bunda dan Danish pulang.


"Assalamualaikum," ucap bunda Aini.


"Ikum.... !" suara kecil yang belum sempurna mengucapkan salam terdengar. Danish dengan berlari-lari, diikuti oleh sang nenek yang berteriak agar Danish tidak berlari-lari.


"Wa'alaikumussalam." balas dari dalam rumah.


Danish berhenti dan diikuti oleh bunda Aini. Keduanya menatap orang yang berada diruang tamu, dengan ekspresi wajah yang berbeda. Jika Danish dengan wajah malu-malu, sedangkan bunda Aini dengan ekspresi wajah terkejut.


"Ma !" Danish berlari memeluk Mikaela dan menyembunyikan wajahnya didada Mikaela.


"Bu Amel," ucap bunda Aini menyapa Mama Damar.


Amelia berdiri dan menyalami bunda Aini dan diikuti oleh Aryan dan juga Damar.


Damar, Amelia dan Aryan terus melihat Danish.


"Apa mereka tahu ." batin Mikaela.


Bunda Aini duduk disebelah Mikaela dan menepuk-nepuk punggung tangan Mikaela.

__ADS_1


"Mungkin ini saatnya El," kata bunda Aini.


Damar berdiri dan melangkah mendekati Mikaela, Amelia juga.


"Ela ?" kata Damar.


Mikaela tidak menjawab dengan membuka suaranya, dia mengangguk. Dia tahu apa yang ingin diketahui oleh Damar dan kedua orangtuanya.


Air mata Damar dan Amelia luruh. Amelia bergerak mendekati Mikaela dan memeluk tubuh Danish yang memeluk Mikaela. Sedangkan Damar berdiri sembari mengucurkan air mata.


"Kenapa? Kenapa kau menyembunyikannya dari kami, El ?" tanya Damar.


"Ma... !" Danish beringsut untuk menjauhi Amelia yang memeluknya.


"Nek !" Danish mengangkat kepalanya dan melirik Bunda Aini.


"Tidak apa-apa. nenek rindu Danish," kata bunda Aini pada Danish yang tidak nyaman dipeluk Amelia yang menangis.


"Ma ." Aryan bangkit dari duduknya dan menghampiri Amelia dan mengangkatnya.


"Kita bicarakan dengan tenang, ma. Jangan begini, lihat, cucu kita takut," kata Aryan.


"Dam, duduk !" kata Aryan pada Damar.


Damar duduk dan mengusap air mata yang membasahi pipinya. Matanya tidak lepas dari tubuh kecil yang memeluk Mikaela.


Mikaela memanggil Yanti untuk membawa Danish, karena dia tidak ingin Danish mendengar apa yang akan dibicarakan. Walaupun Danish belum mengerti apa yang mereka bicarakan, Mikaela tetap tidak ingin Danish mendengar apa yang belum boleh dia dengar putra kecilnya.


Perbincangan dimulai dan Damar langsung berkata, bahwa dia tidak pernah mengirimkan surat kepada Mikaela untuk menyuruhnya pergi, seperti yang disampaikan oleh Annisa dulu. Damar mengatakan, surat itu ditulis oleh Annisa sendiri.


Mikaela tetap ngotot ingin berpisah dan Damar juga tetap tidak ingin berpisah dengan Mikaela.


"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu, Ela. Kau istriku dan Danish putraku !" seru Damar dengan tegas dan kemudian meninggalkan rumah Mikaela.


...TAMAT...


Terpaksa Menjadi Madu ending dan kelanjutannya 👇👇



Menceritakan kegigihan Damar mengejar cinta Mikaela. Apapun dilakukan Damar, dari yang konyol, sampai melakukan tindakan ekstrim.


Apalagi, ada pria yang mendekati Mikaela. Damar semakin kesal dan melakukan tindakan yang sampai berurusan dengan pihak berwajib.


Cerita komedi ya ..


Author ingin rehat dulu, baru lanjut dengan cerita Mengejar Cinta, Ibu Anakku.


Bye... See you again 🥰

__ADS_1


__ADS_2