Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 34 Penolakan


__ADS_3

Happy reading guys


...----------------...


Aiman membawa keluarganya untuk bicara, setelah Raffi pulang.


"Ada apa Yah?' tanya Annisa yang tidak sabar menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh ayahnya.


"Nisa, sabar ! biar ayah menelan dulu air yang ada dalam mulut ayah," kata Aini.


Annisa menekuk wajahnya. Damar hanya dapat menahan diri untuk tidak menegur sang istri, yang belakangan hari ini sifatnya berubah. Annisa sekarang ini suka bepergian dengan teman-teman yang baru dikenalkannya disalah satu tempat spa milik temannya.


"Ayah mau bilang, tadi Raffi sudah bicara pada ayah. Dia ingin melamar Mikaela."


"Melamar? orang itu ingin melamar El ?" tanya Annisa.


Sedangkan Aini dan Mikaela tidak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aiman. Karena Raffi sudah mengatakan niatnya untuk melamar Mikaela terlebih dahulu. Dan Mikaela menceritakannya pada sang bunda.


"Orang itu punya nama Annisa! namanya Raffi!" Aiman berkata sedikit keras kepada Annisa.


"Ayah tolak saja! jangan beri izin. Orang itu tidak cocok dengan Mikaela ! Hanya seorang dosen, Yah ! Mikaela akan sengsara!" kata Annisa.


Semua mata menatap Annisa. "Ada apa?" Annisa sadar dirinya menjadi pusat perhatian.


"Apa aku salah bicara?"


"Nisa. Biarkan Ela menentukan dengan siapa dia mau membina rumah tangga. Kita cukup mendoakan kebahagiaannya," kata Aiman.


"Kita tidak bisa menyerahkan hidup Ela pada orang itu Yah... Orang itu tidak pantas menjadi pendamping El.... !" Annisa tetap kekeuh penolakan terhadap Raffi. Sampai Damar menariknya untuk pulang.


"Kenapa mas membawaku pulang! aku mau bicara empat mata dengan El! dia pasti sudah dibutuhkan oleh cinta pada pria itu," kata Annisa.


"Nisa! El adikmu, tapi tidak seharusnya kau ikut menentukan masa depannya! dia sudah dewasa, Nisa!" Damar berkata dengan sedikit keras, karena sudah kesal mendengar Annisa terus ngedumel sepanjang jalan mereka pulang.


"Sudah dewasa, tapi dia belum matang untuk menentukan masa depannya," kata Annisa.


"Apa yang dilihatnya pada pria itu, selain wajah gantengnya." tambah Nisa.


"Aku lihat Raffi pemuda yang baik dan cukup mapan."


"Mapan? dia hanya dosen mas! berapa gaji dosen? universitasnya saja, universitas kelas dua." ejek Annisa.

__ADS_1


"Ayah saja suka dengannya, kau saja yang tidak suka." ungkap Damar dalam hati. Dia tidak mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, karena tidak ingin Annisa semakin meradang.


"Aku tidak suka! aku akan mencarikan pria yang kaya. Apa dia kira hidup hanya bermodalkan cinta sudah bisa? begitu punya anak dan kebutuhan untuk anak tidak tercukupi, baru dia rasakan, menikah bermodalkan cinta."


"Mereka baru akan bertunangan Nisa! untuk apa kau sudah ribut? biarkan adikmu itu menentukan pilihannya sendiri. Dia merasa Raffi bisa membahagiakannya, kau harus terima... !"


"Karena dia adikku, mas ! aku tidak ingin hidupnya menderita nanti dalam berumah tangga. Hidup pas-pasan! mau apa harus hitung keuangan."


"Kita tidak usah pikirkan hidup orang lain, kita pikirkan kehidupan kita sendiri," kata Damar akhirnya.


Annisa diam mendengar perkataan Damar.


"Mas. Kita melakukan bayi tabung, mau ?" tanya Annisa.


Apa yang dikatakan oleh Damar bisa mengalihkan pembicaraan Annisa. Kini Annisa bicara mengenai anak.


"Kenapa tidak kita tunggu kehamilan secara normal saja," kata Damar.


"Aku tidak sabar mas. Usiaku sudah 33 tahun, mas juga sudah 37 tahun. Menunggu hamil normal.... " Annisa menggelengkan kepalanya.


"Banyak orang yang punya anak tergolong tua, tidak ada masalah," kata Damar.


"Aku ada baca, mas. Saat wanita memasuki usia 30-an, wanita yang sudah siap memiliki anak disarankan untuk tidak menunda-nunda kehamilan. Soalnya, walaupun belum drastis, tetapi kesuburan wanita sudah mulai mengalami penurunan, lho. Penurunan drastis akan terjadi setelah wanita menginjak usia 35 tahun. Aku sudah 33 tahun mas. Apa mungkin karena itu aku keguguran ya mas ? ada aku baca, selain kesuburan yang menurun, wanita yang memutuskan untuk hamil pada usia di atas 35 tahun juga lebih berisiko mengalami gangguan kehamilan?" kata Annisa.


Annisa diam dan menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Damar membuat dia ingat dengan kecerobohannya, yang membuat bayi yang baru berusia tiga bulan dalam kandungannya meninggal.


Damar melirik Annisa yang diam, dan memalingkan wajahnya menatap luar jendela mobil.


"Terserahlah. Aku ingatkan ya, program bayi tabung sangat sulit," kata Damar mengingatkan Annisa mengenai program bayi tabung tidak mudah prosesnya.


Annisa menoleh melihat Damar. "Aku tahu mas, tapi jika dengan cara itu aku bisa secepatnya hamil. Aku sanggup menghadapi proses yang harus aku tanggung, asal mas mendukungku ," kata Annisa.


***


"Bagaimana, apa orangtuanya Mikaela setuju kita datang melamar dan diadakan pertunangan?" tanya Yuni, Mama Raffi.


"Setuju ma," sahut Raffi.


"Akhirnya, kak Raffi sudah ada yang miliki. Tidak akan jomblo lagi," kata Alin.


"Ada apa gembira ini ?" Aldo masuk keruang keluarga dan meletakan bokongnya di samping Yuni dan menyandarkan kepalanya di bahu sang Mama.

__ADS_1


"Baru pulang? kenapa jam segini baru pulang? nggak hari libur tidak ada di rumah." Yuni ngedumel.


"Kolokan.... !" ledek Alin, melihat Aldo bermacam-macam dengan sang Mama.


"Kenapa? gondok lu.... !" ucap Aldo yang bicara gaya anak now pada sang adik.


"Iri ? Alin tidak pernah iri ya ! week.... !" Alin menjulurkan lidahnya mengejek Aldo.


"Sudah selesai kalian saling ledek? kalau sudah selesai, kakak mau bicara serius denganmu Aldo," kata Raffi.


Keduanya yang masih ingin bersilat lidah, diam. Sebagai kakak tertua dan jarak umur tergolong sedikit jauh, Aldo dan Alin yang baru 24 tahun, membuat keduanya sangat menghormati Raffi sebagai kakak tertua dan kepala keluarga pengganti papa mereka yang meninggal ketiga keduanya masih high school.


"Silakan kak ," kata Aldo.


"Bulan depan kakak ada urusan ke luar negeri, utusan dari pihak universitas. Aldo, urusan perusahaan kau ambil alih ." titah Raffi.


"Aku ?" jari telunjuk Aldo menunjuk kearah wajahnya.


"Ya kau ! namamu Aldo kan? bukan Alin. Jika kau mau menjadi Alin, pergi masuk kamar Alin, pakai baju Alin."


"Ha...ha...ha...ha !" Alin tertawa terbahak-bahak, sampai tubuhnya terguncang-guncang. Dan kedua sudut bola matanya berair.


"Tawa... tawa... ! puas lu.... !" raut wajah Aldo mesem menatap Alin.


Yuni juga turut tertawa kecil.


"Ih... kak Raffi nggak asik ! kenapa harus aku ? aku tidak ngerti mengelola perusahaan yang bergerak pembangunan hotel hotel itu. Aku ini kuliah jurusan pertanian, masa mengurus pembangunan hotel, tempat wisata, mana sejalan dengan ilmu yang aku pelajari di universitas. Alin yang cocok, dia belajar ekonomi. Dia punya basic dalam mengelola perusahaan."


"Kalian berdua saling bantu, atau tutup saja perusahaan itu!" kata Raffi.


"Tutup ! sayang kak. Perusahaan itu peninggalan papa ," kata Alin.


"Bagaimana lagi, tidak ada yang mau menghandle ," kata Raffi.


"Biar aku yang handle kak," kata Alin akhirnya.


"Alin ! kau serius?" tanya Aldo.


"Aku serius, sayang perusahaan yang didirikan papa tutup," kata Alin.


"Ada Om Maxim yang akan membantumu, jangan khawatir," kata Raffi.

__ADS_1


"Om Maxim belum mau pensiunkan kak ?" tanya Alin.


"Dia akan pensiun, jika perusahaan papa sudah berada ditangan yang benar. Alin, kakak serahkan perusahaan papa padamu," kata Raffi.


__ADS_2