
Sudah memiliki, jangan ingin yang lain lagi.
...****************...
"Di mana mama bertemu dengannya?"
Begitu Antoni pulang, sang mama menceritakan pertemuannya dengan Annisa.
"Di rumah sakit. Mama kan menjenguk Geya yang melahirkan, mama mau pulang, mama dipanggil seseorang, awalnya sih... mama lupa dengannya."
"Sakit dia ma?" tanya Antoni.
Mama Antoni, Arum menatap wajah sang putra dengan lekat.
Antoni heran mendapatkan pandangan mata sang mama.
"Ada apa ma?"
"Mama ingatkan! jangan kembali ke masa lalu. Ingat Aira! mama tidak mau melihat kau kembali terpesona dengan wajah cantik wanita itu !" ancam Arum.
"Mama ! Mama kira aku mau kembali kepada orang yang telah meninggalkan aku, demi pria yang lebih mapan! Aku sudah sangat bersyukur, mendapatkan Aira ma. Aku tidak akan menyia-nyiakan Aira. Aira masa depanku. Annisa masa lalu yang tidak mungkin akan menjadi masa depan!"
"Baguslah! Mama tidak ingin kau mengingat Annisa lagi!"
"Percaya pada anak mama ini, ma... Cukup sekali aku dibodohi oleh cinta buta, tidak ada yang kedua kali."
"Mama pegang janjimu," ucap mama Antoni.
"Mama belum jawab pertanyaanku tadi, kenapa dia ke rumah sakit? Jangan mama sangka aku mau kembali padanya, karena aku aku bertanya," kata Antoni, yang melihat raut wajah sang mama berubah, begitu Antoni bertanya mengenai Annisa.
"Untuk apa tanya ?" tanya Arum.
"Nanya saja masa nggak boleh ma ? apa Annisa ke rumah sakit karena ada yang sakit anggota keluarganya, karena aku khawatirkan Mikaela. Aku dengan Mikaela masih menjalin hubungan baik, apalagi Raffi, suaminya menyuruh aku untuk mengawasi El."
"Mikaela, adik Annisa sudah menikah?"
"Sudah ma, baru seminggu. Suaminya Raffi sedang tugas keluar negeri."
"Soal Annisa kerumah sakit, tidak Mama tanyakan. Sepertinya, dia hanya cek up kesehatan. Karena dia berada di lorong praktek dokter. Dia belum punya anak, mungkin saja dia sedang konsultasi dengan dokter kandungan. Sudah ah... Males mama bicara orang yang tidak urusan dengan kita, sekarang mama mau membahas hubunganmu dengan Aira. Bagaimana, kapan mama datang ke rumah Aira?"
"Nanti ku tanyakan pada Aira ya ma. Bulan depan mungkin bisa ma. Bulan ini sibuk."
"Bulan depan tinggal seminggu lagi, Toni. Cepat tentukan, bulan depan itu tanggal berapa."
"Biar aku diskusikan dengan Aira ma."
"Cepat bicarakan dengan Aira, mama sudah ingin cepat-cepat mengendong cucu."
"Mama jangan tekan kami untuk memberikan mama cucu, begitu menikah. Semua itu atas ridho Allah, jika Allah belum berkehendak, manusia tidak bisa bilang apa-apa."
"Iya... Mama tidak akan memaksa."
***
__ADS_1
Sudah seminggu Raffi meninggalkan Indonesia, Mikaela juga sudah berhasil mendapatkan visa dan tinggal seminggu lagi Mikaela berada di Indonesia dan hari ini, hari terakhir dia bekerja.
"Tinggal kami berdua di sini. Ih... Kenapa kak Raffi merenggut teman kami sih.... !" Inara duduk di kursi kerja miliknya dan melihat Mikaela yang sedang memasukkan barang-barangnya kedalam kotak.
"Iya... Kak Raffi memisahkan kita," timpal Aira.
"Jangan sedih, hanya dua tahun," kata Mikaela sambil mengacungkan dua jari tangannya.
"Dua tahun lama tuh... Kau merasa tidak lama, karena bersama dengan kak suami. Kami merasa seperti berabad-abad lamanya kita berpisah," kata Aira.
"Lebay ! Kalian datang, kau Aira, bulan madu mengunjungi aku, jangan khawatir, aku tidak akan menganggu kalian bulan madu."
"Hua...a...a !" tangis pura-pura meluncur dari mulutnya Aira.
"Kau tidak datang saat aku menikah! Sahabat yang tidak setia!" raut wajah merenggut ditunjukkan Aira.
"Maaf, tapi aku akan minta izin kak Raffi untuk pulang, saat kau dan Inara menikah."
"Betul ya ? Jangan bohong!" kata Aira.
"Kalau aku sih, menunggu kau pulang saja, baru aku menikah," kata Inara.
"Baguslah. Aku tidak perlu mengeluarkan biaya pulang berjeti-jeti," kata Mikaela.
"Pelit nyonya boss," balas Inara.
"Bukan pelit, tapi menghemat! Kita tidak tahu kedepannya, apa yang akan kita hadapi," balas Mikaela.
"Selesai!" Mikaela menutup kotak tempat barang-barangnya.
"Baiklah, besok kita habiskan satu harian bersamaan."
"Besok kita nginab di rumah Aira bagaimana?" tanya Inara.
"Boleh," sahut Aira.
"Bagaimana El? Sebelum kau berangkat," tanya Aira.
"Baiklah."
**
"Beranikan berangkat sendiri, atau kakak suruh Aldo temani?" tanya Raffi, begitu Mikaela mengatakan bahwa Visa nya sudah keluar dan dia juga sudah resign dari kantor.
"Beranilah kak! Tinggal duduk di pesawat, di dalam pesawat kan tidak hanya aku sendiri,' kata Mikaela.
"He...he...he... Kak takut istri kakak di goda bule," kata Raffi sembari tertawa.
"Mana mau bule dengan cewek kinclong kak... bule itu suka dengan cewek yang berkulit eksotis, gelap-gelap menggoda gitu kak ," kata Mikaela.
"Baguslah! Kakak tidak ingin mata laki-laki jelalatan melihat istriku."
"Kayak istrinya cantik sekali," kata Mikaela.
__ADS_1
"Cantik Lah... Sudah cantik hati, cantik parasnya, komplit sudah... ! Semakin ingin cepat bertemu, ingin meluk dan seterusnya," ucap Raffi.
"Terus menggombal ! Sudah berapa cewek bule kakak buat berbunga-bunga?"
"Hem... Berapa ya ?" Raffi pura-pura berpikir sembari mengelus dagu.
"Ih... Awas ya ! sampai sana nanti, aku hukum ." ancam Mikaela.
"Aduh... Nggak sabar bertemu, kakak tunggu hukumnya ya. Kakak mau hukumannya yang enak-enak ya." goda Raffi.
"Mana ada hukuman yang enak," balas Mikaela.
"Ada Lo... hukuman berkeringat di atas ranjang, kakak menunggu itu. Jangan sampai kakak mati penasaran ya"
"Kakak!"
Mikaela marah mendengar Raffi mengucapkan kalimat yang sangat tidak disukai oleh Mikaela.
"Maaf." Raffi sadar dengan apa yang diucapkannya dan sangat tidak disukai oleh Mikaela.
"Jangan katakan lagi," kata Mikaela.
"Iya... Sorry."
"Kakak mau di bawakan apa?" tanya Mikaela.
"Minta bawakan sambel teri dan tempe ya. Di sini sangat sulit untuk mendapatkan tempe dan sambal teri."
"Hanya itu ?" tanya Mikaela.
"Bawakan kerupuk udang dan ikan, kakak tidak bisa makan jika tidak ada kerupuk."
Mikaela tertawa mendengar permintaan Raffi, dikiranya Raffi minta dibawakan berkas-berkas yang dibutuhkan. Ternyata yang dibutuhkan Raffi semua isi lambung."
***
Damar masuk kedalam kamar dan melihat Annisa sudah bergulung dibawah selimut. Sejak pulang dari rumah sakit, Anissa irit bicara.
"Tidur? Baru jam 10 malam." Damar membungkukkan tubuhnya dan tangannya menyentuh kening Annisa, karena dia takut Annisa sakit. Karena tidak biasanya Annisa tidur saat dia belum pulang. Jam berapapun Damar pulang, Annisa selalu menunggu.
"Tidak panas."
"Apa tadi dia keluar? Tidak mungkin dia keluar, dokter kan sudah menyuruh istirahat agar fit saat dilakukan program bayi tabung tubuh fit."
Setelah menghantarkan Annisa pulang, Damar terpaksa pergi ke kantor, karena papanya menghubunginya untuk kembali ke kantor. Walaupun Annisa merengek untuk Damar di rumah, Damar terpaksa pergi juga, karena papanya sendiri yang menyuruh dia untuk kembali kekantor.
Annisa membuka matanya, saat mendengar langkah kaki sang suami menjauhi ranjang.
"Suami tidak perhatian. Papanya manggil langsung melupakan istri. Katanya hanya sebentar, jam 10 baru pulang." Annisa ngedumel dalam hati.
"Jika aku menikah dengan Toni, pasti aku akan diistimewakannya." batin Annisa.
Annisa! Sudah ada suami yang tajir. Masih mengingat mantan.
__ADS_1
Next