Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 51 Gombalan romantis


__ADS_3

Happy reading guys.


...****************...


Annisa tidak sadar, Damar sudah berada dihadapannya. Dua masih larut dalam lamunan.


Damar memicingkan matanya melihat sang istri yang tak menyadari kehadirannya.


"Apa dia marah ?" batin Damar.


"Nisa !"


"A..a !" Annisa mendongak dan melihat keberadaan sang suami menjulang dihadapannya yang sedang melamun.


"Eh... Mas Damar," ujar Annisa.


"Ada apa?" Damar mendudukkan dirinya di samping Annisa.


"Ada apa? Aku ? Tidak ada apa-apa mas."


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa tidak sadar kalau aku sudah hampir satu jam berdiri disini," kata Damar .


"Capek nunggu!" Annisa memainkan bola matanya melirik sang suami di sisinya.


"Maaf, tadi ada klien yang minta bertemu. Biasanya asisten saja sudah bisa. Entah kenapa, kali ini dia mau bertemu dengan mas sendiri. Maaf ya," kata Damar.


"Maaf di terima, tapi jangan diulangi sekali lagi. Mas serius nggak sih ?"


"Serius ? Maksudnya?" Damar tidak ngeh dengan apa yang ditanyakan oleh sang istri.


"Program mas... Program!" kata Annisa dengan suara yang pelan dan bibirnya mengetat menatap wajah Damar.


"Seriuslah ! Setelah mas pikirkan sekali lagi, tidak ada salahnya kita melakukan program bayi tabung. Mungkin saja mas yang bermasalah, di sini."


"Sadar juga." batin Annisa.


Perawat keluar memanggil Annisa dan Damar, didalam ruangan dokter, keduanya di beri arahan mengenai program bayi tabung dan apa-apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.


Dokter menjelaskan kenapa orang sering mengambil keputusan untuk melakukan program bayi tabung. Karena orang sering mengalami gangguan kesuburan. Gangguan kesuburan sendiri adalah ketidakmampuan satu pasangan untuk mendapatkan buah hati setelah berbulan atau bertahun-tahun menikah dan melakukan hubungan hubungan suami secara teratur, tanpa pengaman. Dan Rata-rata dari puluhan pasangan yang menikah, dalam rentang satu tahun setelah menikah banyak yang berhasil hamil, dan ada terkendala untuk memiliki keturunan sesegera mungkin. Dan sering terjadi, gagalnya Memiliki momongan, yang disalahkan pihak istri. Padahal, memiliki keturunan bukan saja merupakan tugas seorang perempuan saja. Para laki-laki juga ikut andil besar untuk hamilnya seorang istri. kualitas ****** laki-laki turut menentukan untuk sang istri untuk cepat hamil. Dokter juga menerangkan, untuk mendapatkan kualitas ****** yang baik, dipengaruhi oleh gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, kebiasaan menggunakan pakaian dalam sangat ketat, mandi sauna atau berendam air panas serta riwayat pekerjaan yang berdekatan dengan temperatur tinggi, dapat membuat kualitas ****** tidak baik.


"Apa yang diterangkan oleh dokter menjadi beban pikiran Damar. Dulu dia sering mengkonsumsi minuman beralkohol, saat tinggal di luar negeri. Tapi dilakukannya untuk mengurangi rasa dingin pada tubuhnya, karena negara yang pernah ditinggalinya lebih dingin.


Apa yang menjadi beban pikirannya, ditanyakan langsung oleh Damar.


Annisa terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Damar.

__ADS_1


"Tapi bapak tidak sampai ketergantungan pada minuman beralkohol kan, Pak ?" tanya dokter Rizal.


"Tidak dokter, itu juga saya minum jika tubuh saya sudah tidak sanggup menahan dingin," kata Damar.


"Kita periksa saja dulu pak," kata dokter Rizal.


"Nanti terlihat kualitas ****** bapak, bagaimana." tambah dokter Rizal.


Dokter Rizal lalu menerangkan bagaimana proses bayi tabung tersebut terjadi, pada Damar dan Annisa.


"Nanti akan dilakukan proses bayi tabung, dengan dilakukan pertemuan sel telur dan ****** serta dilanjutkan dengan mengembangkan embrio di luar tubuh." tenang dokter Rizal.


Damar dan Annisa manggut-manggut mendengar penjelasan dokter Rizal.


"Butuh berapa lama, baru bisa di masukkan kedalam rahim Dok?" tanya Damar.


"Proses bayi tabung memerlukan waktu kurang lebih selama 14 hari sampai kita melakukan transfer embrio ke dalam rahim," jawab dokter Rizal.


Dua jam melakukan cek up kesehatan, Damar dan Annisa meninggalkan ruang dokter Rizal.


Dalam perjalanan pulang, Damar dan Annisa satu mobil, karena Damar tidak kembali ke kantor dan mobil Annisa di suruh pulang oleh Damar.


"Kenapa mas baru bilang suka minuman keras?" tanya Annisa, setelah sepuluh menit meninggalkan rumah sakit.


"Nggak ada bedanya, suka dengan minum karena hawa dingin." batin Annisa.


"Itu juga sepuluh tahun yang lalu, sekarang tidak pernah lagi." tambah Damar.


Annisa tidak menanyakan apapun lagi, dia tidak ingin mengintrogasi Damar mengenai kehidupannya di luar negeri.


***


Mikaela duduk di atas ranjang, menunggu panggilan video dari Raffi. Karena Raffi mengirimkan pesan, malam dia akan menghubungi Mikaela.


Ponsel Mikaela berdering dan Mikaela langsung mengangkat dan melihat wajah sang suami yang terlihat kuyu dipandangnya.


"Assalamu'alaikum istriku !" sapa Raffi, begitu melihat wajah Mikaela dalam ponselnya.


"Wa'alaikumussalam kak ," sahut Mikaela malu, karena Raffi memanggilnya dengan sebutan istri.


"Cantiknya wajah istriku, ingin pulang rasanya meninggalkan tugas di sini," kata Raffi.


"Ih... Kakak mau di pecat?"


"Jangan takut istriku, walaupun suamimu ini dipecat, masih bisa memberi makan istri dan sembilan anak." gurau Raffi.

__ADS_1


"Jam berapa sampai tadi kak ?" tanya Mikaela.


"Baru saja, begitu sampai istirahat sebentar dan kemudian menghubungi istri yang sangat aku rindukan. Rindu rasanya, ingin cepat-cepat rasanya istri untuk datang ke sini. Di sini sangat dingin, tidur dengan berpelukan, pasti hangat. Tidak butuh penghangat ruangan."


"Gombal terus ," ujar Mikaela.


Sejak mereka saling bertatap melalui sambungan virtual, Raffi terus meluncur rayuan gombal.


"Istriku sayang, suamimu ini tidak gombal. Ini isi lubuk hati suamimu yang sangat merindukanmu, sayang."


"Ah... biasa saja bicaranya kak." Mikaela jengah mendengar perkataan Raffi yang memanggilnya istri dan menyebut dirinya suami.


"Loh... Kakak biasa saja bicaranya. Tidak ada yang aneh-aneh."


"Tuh... nyebut istri dan suami."


"Kan memang El istriku, aku suami El. He... Hehehe.... !" kata Raffi diakhiri dengan tawa .


"Terserahlah ." Mikaela memanyunkan bibirnya.


"Jangan buat bibir begitu, kakak ingin mengecupnya, tapi amat disayangkan sekali, jarak yang memisahkan membuat hanya bisa dilakukan seperti ini."


Raffi mendekatkan ponselnya dan . Cup... cup ." Raffi mengecup ponselnya, dengan dua kali kecupan.


Mikaela kaget dan menjauhkan ponsel dari hadapannya. Seakan-akan, apa yang dilakukan oleh Raffi sampai pada bibirnya.


"Kak Raffi!"


"Apa sayang," sahut Raffi dengan menggoda Mikaela.


"Mau yang nyata, nanti ya ! Begitu El tiba di sini, kakak akan penuhi keinginan istriku tersayang."


"Ah... Ingin cepat-cepat mengecup yang asli ." tambah Raffi.


"Cukup bicara ngawur! El putus nih.... !" ancam Mikaela.


"Jangan di putus, kakak sudah bela-belain mata terbuka lebar, masa di putus."


Akhirnya Raffi mengakhiri godaannya pada Mikaela. Dia menanyakan masalah bisa dan masalah resign.


Tanpa terasa, hampir dua jam keduanya saling tatap muka melalui sambungan virtual. Mikaela menyuruh Raffi untuk beristirahat, setelah berkali-kali melihat Raffi menguap, karena rasa kantuk menyerang.


"Baru beberapa jam tiba di Inggris, bicaranya sudah ngawur."


Next

__ADS_1


__ADS_2