Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 48 LDR


__ADS_3

Happy reading guys.


...****************...


"Lihat apa tadi itu ?"


"Ada penjual keliling bunda, maksa sekali dagangannya." alasan Mikaela.


"Penjual sekarang begitu. Maksa jual dagangannya. Bunda di pasar sampai ditarik-tarik untuk beli dagangannya, padahal bunda sudah tolak secara halus. Bunda sampai bingung mau apa, terpaksa bunda beli, walaupun tidak butuh barang yang dijualnya."


"Nggak pa-pa lah Bun, anggap saja bantu pedagang kecil yang belum dapat pembeli," kata Mikaela.


"Ayah mana bunda?" tanya Mikaela seraya melangkah lebih masuk kedalam rumah.


"Ayah ke kantor."


Keduanya melangkah menuju dapur.


"Ayah tidak jadi pensiun bunda?"


"Jadilah... Sudah kebijakan kantor kan, seusia ayah sudah pensiun. Hanya itu tadi, ayah tidak mau berdiam diri di rumah."


"Ayah kan bisa bersama bunda mengawasi toko, biar ayah yang berurusan dengan para penjahit, bunda yang mengawasi toko."


"Betul juga ya El, ayah tidak merasa menjadi pengangguran, duduk di rumah seperti orang yang tidak dibutuhkan," kata Aini.


Mikaela membuka tudung saji, dan melihat apa yang di masak oleh sang bunda.


"Ini sarapan tadi pagi bunda?" Mikaela melihat bubur kacang merah di bawah tudung saji.


"Iya, ayah ingin makan bubur kacang merah. Tuh... Nisa bawa roti sosis untuk sarapan pagi, mana bisa perut ayah hanya diisi roti. Perut kami ini perut kampong, nggak bisa diisi roti."


"Nggak apa-apa bunda, sesekali. Makan bubur dengan roti juga bagus, biar nggak bosan melihat nasi."


"Mana pernah bosan melihat nasi, apalagi lihat goreng tempe dan sambel rawit. Tetangga lewat didepan rumah tidak disapa."


"Sombong ya bunda, kayak takut di minta saja." gurau Mikaela.


"Nggak sombong... Tetangga lewat di depan rumah kan, bunda makan di dapur. Nggak lihat tetangga lewat."


"Ha... ha... ha.... !" tawa Mikaela pecah.


"Ih... Bunda, aku serius! Bunda bergurau."


"Biar awet muda, jalani hari dengan senyum dan tawa. Apa yang kita hadapi, biar kita sendiri yang tahu. Sakit dan susah dalam hidup, jangan perlihatkan didepan orang." nasihat bunda Aini pada Mikaela.


Mikaela mengacungkan jari jempol pada sang bunda.


Lalu Mikaela mencomot roti yang dibawa Annisa dan memasukkan kedalam mulutnya sepotong kecil.


"Enak bunda. Di mana mbak Nisa beli ? Tidak mungkin di buat mbak Nisa," kata Mikaela.

__ADS_1


"Nisa buat roti, mana mungkin ! He... he...he... " tertawa Aini.


"Jangan anggap sepele mbak Nisa bunda ! Mbak Nisa pintar tuh... Hanya belum ada kesempatan untuk mempertunjukkan kebolehannya."


"Puji terus mbakmu itu. Mana tidak waktu untuk mempertunjukkan kebolehannya? Dia tidak ada kerjaan, memang dia males saja. Kerjanya hanya berkumpul dengan sosialita tidak jelas kerjaannya." ngedumel Aini sembari mengelap kompor yang sedikit kotor dengan sisa-sisa kotoran masakan.


"Mbak Nisa kan ikut kegiatan sosial bunda, bantu-bantu orang yang kurang beruntung."


"Bantu koq di posting di media sosial, sudah begitu mereka berpakaian seperti ingin kondangan saja. Kita bantu orang, cukup hanya kita dan Tuhan yang tahu. Tidak perlu kita beritahu khalayak ramai, siapa yang kita bantu."


"Jaman sekarang begitu bunda, kita ambil gambar dengan background barang-barang atau orang yang kita bantu."


"Itu yang tidak boleh."


"Sudahlah... Suka mbakmu itu, bunda sudah ingatkan, ikut kata bunda Alhamdulillah... Nggak ikut kata bunda alhamdulilah juga, karena mbakmu sudah mau berbagi."


"Sekarang El sudah menjadi istri dan sementara ini berjauhan dengan Raffi. El harus jaga tingkah laku, jangan sampai ada orang memberi laporan yang tidak benar pada Raffi."


"Iya bunda."


"Jika biasanya El bertemu dengan laki-laki dengan sendiri saja, sekarang bunda harap El bawa teman. Walaupun pertemuan itu hanya masalah toko, tapi orang tidak tahu."


"Iya bunda."


"Tinggal di sini tidak apa-apa kata Mama Raffi?"


"Mama beri izin bunda, dari sini juga lebih dekat ke kantor dan toko."


"Akhir bulan mau El ajukan resign bunda, biar pas sebulan."


**


Cie.. cie... yang sudah punya istri ... Eh... salah ! Yang sudah punya suami, maksudnya. Wajahnya berseri-seri." goda Aira.


"Wajahku seperti ini dari dulu," kata Mikaela dan kemudian menyesap teh hangat.


"Bagaimana rasanya, El? tanya Inara.


"Rasa apa? Tanya itu yang jelas," kata Mikaela.


"Rasanya menjadi istri ? malam pertama bagaimana? Hemh... Berapa kali kuda-kudaan?" pertanyaan nyeleneh diutarakan Inara.


"Biasa saja," jawab Mikaela.


"Biasa bagaimana? Cerita... Please.... !" bujuk Inara, karena Mikaela menjawab secuil kalimat.


"Kalau kau mau tahu rasanya ,nikah sono.... !" Aira yang menjawab pertanyaan nyeleneh Inara.


Inara menceburkan bibirnya. "Pelit." gerutu Inara.


"Kau juga aneh, El itu baru sehari tinggal bersama suami dan sekarang sudah ditinggal, bagaimana El bisa merasakan punya suami. Tanya, jika mereka sudah tinggal bersama sebulan dua bulan, baru tanya. Mereka pacaran baru seumur jagung, nikah dan ditinggal keluar negeri," kata Aira.

__ADS_1


"Aku kan tanya itu...itu ." Inara menyatukan kedua ujung jari telunjuknya.


"Bagaimana El?" Aira ikut kepo.


"Tidak ada itu-ituan... Jadwal palang merah ."


"Oh... m... ji.... !" seru Aira dan Inara barengan.


"Nggak usah lebay !" dengus Mikaela.


"Kasihan kak Raffi, tidak dapat jatah malam pertama."


"Pernikahan bukan melulu urusan bawah pusar! Cukup bahas itu-ituan," kata Mikaela.


"Oh... Iya, kak Raffi sudah sampai?" tanya Aira.


"Belum, baru empat jam. Mungkin baru sampai di Dubai, transit," jawab Mikaela.


"Tidak kasih kabar?"


Mikaela menggelengkan kepalanya, dan berkata. "Mungkin kak Raffi ketiduran."


"Pasti letih, duduk belasan jam. Bokong akan mati rasa, begitu turun pesawat, bokong tepos. Ha... ha...ha... !" tawa Inara.


Mikaela dan Aira juga turut tertawa.


"Bagaimana urusan Visa, sudah diurus?" tanya Aira.


"Kak Raffi sudah menyuruh Aldo untuk mengurus."


"Adik iparmu itu keren ya El," kata Inara.


"Hei... Jaga mata!" ujar Mikaela sembari menggoyangkan jari telunjuknya.


"Aku hanya mengatakan keren, El."


"Awal mendua hati itu, dari mengatakan keren," kata Aira.


"Baiklah... Aku akan memakai kacamata kuda, biar tidak melirik kanan kiri," kata Inara.


"Good girl," ujar Aira dengan menepuk pundak Inara.


"Bagaimana El, sudah rasa cinta pada kak Raffi?" tanya Aira.


"Apa merasa kehilangan itu rasa cinta?" tanya Mikaela.


"Bisa, contohnya aku dengan Mas Faiz, aku merasa kehilangan, saat dia tugas keluar kota. Biasanya dia membelikan aku makan siang, jika aku malas kekantin. Tiba-tiba tidak ada yang belikan aku makan siang ," kata Inara.


"Sama seperti kau ingin makan bakso, tapi tukang bakso tidak ada... ! Bukan cinta tuh... Neng ! kau merasa kehilangan karena tidak ada yang beri kau makan!" ledek Aira.


"Itu kan perhatian Mas Faiz, tidak bisa di samakan dengan tukang bakso!" balas Inara.

__ADS_1


"Perhatian kecil, seperti belikan kita makan, atau menanyakan apa kita sudah makan, itu akan membuat kita merasa cinta dari seseorang," kata Inara lagi.


__ADS_2