Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 62 Diam


__ADS_3

Happy reading guys


...****************...


Kita harus menjadi kuat ketika kita berada di titik terlemah, agar bisa keluar dari zona kesedihan.


Mikaela masih tidur, setelah selesai menjalani proses medical cek up dengan lengkap. Tubuhnya tidak mengalami luka-luka yang cukup serius, hanya pipinya yang luka lumayan dalam dan mendapatkan sepuluh jahitan.


Damar dan keluarga Raffi tiba lebih cepat, karena menggunakan pesawat pribadi milik perusahaan Damar. Damar tidak sendiri, papanya ikut pergi menemani Damar.


Damar dan Aryan terlebih dahulu mengunjungi Yuni dan Raffi yang berada di ruang ICU, setelah selesai melakukan operasi.


"Bagaimana?" Damar bertanya pada temannya yang bekerja di Kedubes Indonesia di inggris.


Teman Damar menarik tangan Damar untuk menjauh dari tempat Aldo menenangkan Alin menangis.


"Katakan Vid ?" desak Damar.


Hanafi melihat Damar dan David, menghampiri keduanya.


"Ada apa ?" tanya Hanafi.


"Katakan, bagaimana kondisi mbak Yuni dan Raffi?" tanya Hanafi.


"Mohon maaf, apa yang akan saya katakan ini akan membuat bapak.... "


Potong Hanafi. "Katakan saja pak."


"Katakan David," kata Damar.


"Kondisi Bu Yuni kritis. Hantaman di kepalanya membuat otak Bu Yuni cedera cukup parah. Sedangkan putranya pak Raffi mengalami benturan disekitar dada membuat kondisinya juga kritis." David menundukkan kepalanya, selesai menjelaskan kondisi Yuni dan Raffi.


"Vid, bagaimana dengan adik istriku ?" tanya Damar.


"Kondisinya tidak seperti yang lain, hanya ada luka yang cukup serius pada pipinya."


"Apa dia sadar?" tanya Damar.


"Tadi sempat siuman, tapi reaksinya sangat mencurigakan. Dia seperti tidak merespon orang yang ada dihadapannya. Dari bola matanya bisa kita tahu, sepertinya adikmu itu mengalami trauma, Dam," kata David.


"Dam." Aryan memegang bahu sang putra.


"Kita kunjungi Mikaela, di sini sudah ada Pak Hanafi."

__ADS_1


"Iya, tolong lihat Mikaela. Saya belum bisa melihatnya. Lihatlah Alin seperti itu," kata Hanafi.


"Ayo Dam, Om. Saya antar ke sana. Adik,u tidak berada di sini," kata David.


"Tidak berada di sini ? Kenapa dia di pisah rumah sakit?" tanya Damar.


"Bukan di pisah Dam, rumah sakit sama. Tapi karena tingkat pesakitan yang berbeda. Di sini dikhususkan untuk yang kritis," tutur David.


"Oh... Ayo, Annisa sudah terus menghubungi ini." Damar menunjukan puluhan panggilan dari nomor sang istri.


Di Indonesia Annisa terus ngedumel.


"Ini yang aku takut kan dulu ! ayah mengizinkan El menikah dan ikut suami ke luar negeri. Lihatlah, Yah!" Annisa mengibaskan tangannya ke udara. Dia kesal, karena Damar belum membalas pesannya dan tidak mengangkat saat dia menghubunginya.


"Musibah tidak bisa kita hindari Nisa," kata sang bunda, sedangkan sang ayah Aiman bangkit dan berlalu meninggalkan Annisa dan sang istri.


Aiman masuk kedalam kamar dan duduk selonjor di atas ranjang . Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Aini masuk ikut bergabung dengan sang suami yang Aini lihat tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Aiman lebih banyak tidak bersuara. Dia hanya menjawab seadanya saja, atau diam tidak menjawab apa yang ditanyakan padanya.


"Yah minum." Aini memberikan segelas teh manis pada sang suami.


"Letakkan di situ saja Bu, nanti ayah minum."


Aini meletakkan teh manis yang dibawanya ke nakas di samping ranjang. Lalu kemudian Aini mendudukkan dirinya di sisi ranjang.


"Ayah jangan dengarkan kata Annisa ya," kata Aini.


"Yah ." Aini menarik tangan sang suami yang memukuli dadanya.


"Jangan begini Yah... Ayah jangan membuat pikiran bunda tambah! Otak bunda sudah mau pecah memikirkan El, Yah!" seru Aini sambil menangis.


Aini menjatuhkan tubuhnya di paha sang suami, sedu-sedan keluar dari bibirnya. Aiman juga menangis dan akhirnya, Keduanya menangis.


Aini mengangkat tubuhnya dan melihat wajah sang suami yang untuk kedua kalinya mengucurkan air mata selama mereka menikah. Saat Arif, sang adik meninggal dan saat sekarang ini.


"Yah... Kita do'akan agar mereka bertiga baik-baik saja."


Ayah Aiman mengelus dadanya.


Damar, papanya dan David tiba di kamar Mikaela dan bertepatan Mikaela membuka matanya.


"El ." Sapa Damar .


Seperti yang dikatakan oleh David, Pandangan mata Mikaela kosong. Matanya terbuka lebar, tapi tidak ada ekspresi.

__ADS_1


"Apa kata dokter Bu?" tanya Damar pada seorang wanita yang menjaga Mikaela.


"Kenalkan pak, saya Imaniar. Suami saya dan Pak Raffi menghadiri pertemuan yang sama. Tapi beda universitas."


Lalu kenapa Imaniar menerangkan apa yang dikatakan oleh dokter mengenai kondisi Mikaela.


"Dam, adikmu harus dibawa menemui psikiater. Sepertinya kecelakaan itu membuat adikmu terguncang," kata David.


"Siapa yang tidak terguncang, di depan mata menyaksikan orang terluka. Kalau papa pasti sudah kena serangan jantung," kata Aryan, papa Damar.


"Sepuluh orang meninggal dan puluhan orang terluka parah dan sedang." timpal Imaniar.


"Kenapa bisa begitu mengerikan kecelakaan terjadi? Apa mobil itu ngebut? Bukannya ada larangan untuk mengebut jika musim dingin seperti ini," kata Damar.


"Menurut pihak kepolisian, orang itu tidak menggunakan ban khusus untuk musim dingin seperti ini," kata David.


"Saat musim dingin tiba, pastikan mobil harus sudah dilengkapi dengan ban yang tepat untuk menghadapi kondisi jalan yang licin dan berbahaya," kata David.


"Ceroboh sekali orang itu. Bagaimana kondisi orang itu? Apa dia tidak baik-baik saja?" tanya Damar.


"Meninggal. Dalam mobil itu ada istri dan dua anaknya. Istri dan kedua anaknya selamat ," kata Imaniar.


Damar menghubungi Annisa melalui video call. Annisa, bunda Aini memanggil Mikaela, tetapi Mikaela tetap diam. Tidak ada respon dari Mikaela, matanya tidak berkedip menatap layar ponsel yang diposisikan Damar di depan wajahnya.


"El... Ini ayah," kata Aiman.


Mikaela tidak menanggapi perkataan ayah Aiman, matanya melotot tapi tanpa ekspresi.


"El.... !" panggil Annisa dengan suara yang nyaring, tetap sama.


Begitu juga bunda Aini, memanggil nama Mikaela berkali-kali, Mikaela tidak menanggapi, sampai akhir telepon, Mikaela tetap dalam kondisi diam.


"Dam, menurut aku. Bawa segera pulang. Mungkin berada di lingkungan keluarga, adikmu bisa sadar," kata David.


Ponselnya David bergetar. David mengeluarkan ponselnya dan membawanya keluar dari dalam kamar untuk menjawab panggilan.


Tidak lama kemudian David masuk dan menyampaikan berita yang baru saja di terimanya.


"Ada kabar yang tidak baik," kata David.


"Ada apa?" tanya Damar.


David menarik napasnya, lalu mengeluarkan dengan pelan.

__ADS_1


"Ada apa? Katakan David?" desak Damar.


Next...


__ADS_2