Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 55 Pikiran Annisa


__ADS_3

Happy reading guys.


...****************...


Mikaela dan bunda Aini pulang, begitu Damar tiba menjelang malam.


"El, jangan sakit hati pada Annisa ya," kata bunda Aini, begitu keduanya berada di dapur membersihkan sisa-sisa makanan.


"Nggak lah bunda, mbak Nisa sedang sakit. Orang sakit itu pasti pikirannya tidak jernih."


"Bunda heran dengan Annisa sekarang, dulu dia tidak seperti ini. Pernikahannya membuat dia berubah."


"Berubah? Sepertinya tidak bunda, dulu juga mbak Nisa kalau bicara suka ceplas-ceplos."


"Ceplas-ceplos, tapi bicaranya tidak membuat orang sakit hati. Bunda saja sakit hati, saat bunda belanja ke pasar, Nisa bilang sayuran di pasar tidak higienis. Daging sudah bau, padahal bau daging begitu. Lihat sekarang, dia kena tipes. Kita yang sudah bertahun-tahun makan dari belanja di pasar tidak apa-apa. Sehat-sehat saja," kata bunda Aini panjang lebar.


"Mungkin karena pengaruh Mas Damar, bunda. Atau mungkin mama mertuanya mbak Nisa yang tidak suka belanja ke pasar, dan menyuruh mbak Nisa untuk belanja ke supermarket."


"Orang kaya banyak belanja Ke pasar, Nisa saja yang banyak berubah sekarang ini."


"Assalamualaikum!" sapaan dari luar membuat keduanya menjawab sapaan sang kepala keluarga.


"Kenapa telat pulangnya?" tanya Mikaela.


"Ada satu penjahit yang belum selesai menyelesaikan pesanan kita, terpaksa ayah tunggu."


"Mandi Yah, biar kita makan malam," kata Aini.


"Maaf ya! gara-gara menunggu ayah, sehingga ibu dan El telat makan."


"Ayah jangan terlalu lelah. Sampai ayah sakit, nanti El kena marah," kata Mikaela, tanpa mengatakan siapa yang marah padanya.


Ayah Aiman menoleh menatap Mikaela, begitu juga dengan Aini.


"Siapa yang marah? Ayah suka dengan apa yang ayah kerjakan sekarang. Apa yang ayah kerjakan sekarang, tidak begitu melelahkan. Saat ayah bekerja lebih melelahkan. Begitu pagi tiba, ayah sudah harus berangkat kerja. Satu jam dalam perjalanan, jika tidak terjebak macet. Jika terjebak macet, hampir dua jam dalam perjalanan."

__ADS_1


"Ayah tidak letih kan ? Jika letih, ayah katakan, biar di cari orang untuk membantu ayah," kata Mikaela.


"Untuk apa cari yang bantu, ayah masih cukup kuat. Jangan karena usia ayah sudah mau kepala enam, ayah sudah bisa diandalkan untuk melakukan sesuatu. Jika hanya hanya diam di rumah, itu akan membuat otak kita cepat pikun."


"El, biarkan ayah melakukan apa yang disukainya," kata Aini.


"Baiklah. Ayah harus bisa mengatur waktu untuk beristirahat," kata Mikaela.


Ayah Aiman mengacungkan dua jempolnya.


***


Keluar dari rumah sakit, Annisa dan Damar dikunjungi oleh papa dan mama Damar yang baru pulang dari luar negeri. Keduanya kaget mendengar Annisa dirawat dan secepatnya pulang.


"Kenapa bisa terserang tipes?" tanya Amelia.


"Pasti makan-makanan yang tidak higienis. Kan sudah mama bilang, jangan makan sembarangan!" kata Amelia.


"Tidak koq ma... Aku tidak sembarangan jajan," kata Annisa.


"Apa masih sering ikutan dengan kegiatan sosial?" tanya Amelia kembali pada Annisa.


"Sudahlah ma," kata Aryan, Papanya Damar, yang melihat Annisa yang hanya diam menghadapi Amelia.


"Sudah kata papa...! Mama lagi menasihati menantu kita, Pa. Besok mereka melakukan program bayi tabung, ini sakit. Bagaimana bisa program jika tidak sehat. Mama itu tidak memaksakan kamu untuk memberikan mama cucu segera mungkin Annisa. Sudahlah... Tidak usah program bayi tabung, tunggu diberi Tuhan dengan cara yang normal!" kata Amelia.


"Bagaimana Dam? Apa program bayi tabung masih dilanjutkan ? Tidak mungkin besok bisa dilakukan, Nisa sakit begitu?" tanya Aryan, papa Damar.


"Di undur, Pa. Menunggu Nisa sehat sepenuhnya."


"Sudah tahu mau ikut program bayi tabung, masih juga ikutan kegiatan sosial. Mama tidak melarang kamu ikutan, tapi sadar diri. Kamu itu harus sehat, Nisa!" mama Damar kembali mengomel.


"Kalau mama bilang, tidak usah program-program! Tunggu sampai Tuhan kasih! Jangan sampai orang yang mengira mama menyuruh untuk melakukan program bayi tabung, karena mama tidak sabaran!" kata Amelia.


Papa Damar bangkit dari tempat dia duduk. "Ayo kita pulang, ma," ajak Aryan, sang suami.

__ADS_1


"Loh... Koq cepat pa ? Katanya tadi mau makan malam di sini, karena sudah lama tidak makan bersama," kata Amelia.


"Papa ada tugas ma, lupa ada kerjaan yang harus diselesaikan cepat," kata Aryan.


Damar tahu, Papanya mengajak pulang Mamanya, agar tidak mengomeli Annisa terus.


Begitu kedua mertuanya pulang, Annisa masuk kedalam kamar.


"Nisa, ayo makan. Banyak obat yang harus di makan," kata Damar.


"Aku tidak lapar mas," sahut Annisa dari atas ranjang dengan tubuh memunggungi Damar yang berdiri di samping ranjang.


"Nisa, Jangan seperti anak kecil !" kata Damar dengan nada suara yang sedikit tinggi.


"Bukan mas yang diomeli Mama! Tapi aku !" seru Annisa.


"Mama kan bicara yang benar Nisa! Kita mau melakukan program bayi tabung, tapi masih sibuk dengan kegiatan yang melelahkan, aku baru pulang keluar kota dan kau juga sama, baru pulang dari kegiatan sosial dan langsung jatuh sakit," kata Damar.


"Aku jadi berpikir, mungkin Tuhan belum beri kita anak karena kita terlalu sibuk. Jika kita punya anak dan kita berdua sibuk, kau sibuk dengan kegiatan sosial dan aku dengan pekerjaan, jika kita punya anak, siapa yang merawatnya," kata Damar.


Annisa membalikkan badannya dan melihat wajah sang suami.


"Kan ada Baby Sister, percuma ada uang jika tidak bisa menyewa baby sitter mas... ! Kalau tidak mau ada Babysister, bisa kita titipkan pada bunda, jika aku sibuk dengan kegiatan sosial. Aku itu tidak mungkin meninggalkan kegiatan sosial, aku itu bendahara."


"Teman-temanku juga pada memakai pengasuh untuk mengurus anaknya, mas."


"Tugas seorang ibu bukan hanya mengandung dan melahirkannya, Nisa. Tapi merawat dan mendidik anak sejak dini," kata Damar.


Annisa bangun dan duduk di atas ranjang. "Maksudnya aku harus satu hari full menjaga anak ? Aku tidak bisa keluar lagi untuk mengikuti kegiatan sosial ?" tanya Annisa.


"Tugas seorang istri begitulah, jika tidak bekerja, jadilah ibu rumah tangga seutuhnya. Berkegiatan boleh, tapi harus ada batasannya. Nisa, pikirkan lagi untuk melakukan program bayi tabung, jika belum bisa mengemban tugas untuk menjadi seorang ibu, kita pikirkan lagi, kasihan anak kita tidak bisa mendapatkan perhatian dari kita berdua."


Damar memutuskan untuk keluar dari dalam kamar, dia tidak membujuk Annisa lagi untuk makan. Damar kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Annisa mengenai anak bisa di rawat baby sitter atau dititipkan pada bundanya.


Bukan itu yang diinginkan oleh Damar, jika memiliki anak. Dia ingin Annisa hanya fokus merawat sang buah hati. Apalagi Annisa tidak bekerja, sehingga bisa full 24 jam memantau perkembangan sang buah hati, walaupun ada pengasuh yang ikut menjaga.

__ADS_1


Annisa hanya ingin melahirkan, tanpa mau ikut berperan dalam mengasuh.


Next..


__ADS_2