Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 40 Galau


__ADS_3

Happy reading guys.


...----------------...


"Ayah minta maaf, karena telah menyetujui permintaan Raffi untuk pertunangan yang hari ini dilakukan, menjadi pernikahan. Niat Raffi untuk melakukan pernikahan hari ini, karena dia harus pergi keluar negeri. Untuk cerita selanjutnya, biar Raffi yang menceritakan semua padamu sendiri El," kata ayah Aiman.


"El dengarkan alasan Raffi ya," kata Azura.


Lenia juga, hanya bunda Aini yang tidak berkata-kata. Dia menggenggam tangan Mikaela. Dia tahu Mikaela bingung, keputusan apa yang harus diambilnya.


Mikaela berada didalam kamar bersama dengan kedua temannya. Dia menceritakan apa yang baru dikatakan oleh ayahnya.


"Kenapa menjadi pernikahan? awalnya hanya ingin pertemuan keluarga, lalu pertemuan sekaligus pertunangan. Dan kini menjadi pernikahan!" kata Inara.


"Itu tandanya Tuhan ingin kau menikah El! banyak orang yang sulit atau banyak rintangan yang harus dihadapi untuk menuju kejenjang pernikahan. Kau itu lancar! mulus seperti jalan tol ," kata Aira.


"Menurut kalian bagaimana?" tanya Mikaela pada kedua temannya.


"Kalau aku mau saja, sekarang menikah, bulan depan resepsi. Banyak koq orang lakukan," kata Aira. Inara juga sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Aira.


***


Kedatangan rombongan keluarga Raffi di sambut dengan hangat oleh Ayah dan Bunda Aini.


"Pak, kenalkan. Mama saya dan paman saya," kata Raffi.


Ayah Aiman dan Aini menyalami Mama dan pamannya Raffi.


"Ayo masuk ."


Rombongan Raffi dibawa masuk menuju ruang keluarga yang sudah tidak diisi kursi. Yang ada karpet digelar untuk alas duduk.


"Ada dua mobil yang belum sampai, Pak. Adik saya dan Tante dan para sepupu saya yang belum tiba," kata Raffi.


"Saya Mama Raffi Pak ," kata Mama Raffi mengenalkan diri, setelah dia duduk.


"Maaf, suami saya tidak bisa hadir." tambah mamanya Raffi.


Bunda Aini dan Ayah Aiman saling bertukar pandang, karena mereka tahu, orang tua Raffi yang laki-laki sudah duluan menghadap sang pencipta. Bukan hanya Aiman dan Aini yang bingung, Raffi sang anak juga bingung.


Kening bunda Aini mengeryit. "Apa Raffi punya ayah tiri? Mungkin saja." Monolog dalam hati bunda Aini.


"Tugas, Bu?" tanya Bunda Aini akhirnya.


"Iya, tugas dapat panggilan dari Tuhan," ucap Mama Raffi.


"Mama..!" tegur Raffi.

__ADS_1


"Maaf Pak, Bu. Papa Raffi sudah meninggal, sedikit bergurau. Biar Raffi tidak tegang," ujar Mama Raffi.


"Lihat wajah Raffi itu, pucat. Itu anak gugup sedari berangkat dari rumah. Seperti mau dibawa ke rumah potong saja." sambung Mama Raffi dengan bergurau.


Semua pada tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Mama Raffi.


"Kita maklumlah, Bu. Mungkin Nak Raffi rindu ingin bertemu dengan pujaan hati," ujar paman Raffi.


Raffi yang mendapatkan godaan dari kiri kanan depan belakang menjadi malu.


"Kenapa aku menjadi bahan candaan mereka. Mana El ini? aku harus bicara dengan." Raffi celingukan mencari keberadaan Mikaela yang belum terlihat. Setalinya dengan Raffi. Antoni yang duduk disamping Raffi duduk dengan gelisah. Tapi dia bukan gugup karena ingin bertemu dengan pujaan hati. Tapi dia gugup karena akan bertemu dengan Annisa, yang untuk pertama sekali setelah Annisa menikah, mereka akan bertemu.


Antoni terus menundukkan kepalanya. Faiz duduk disisinya, mengajaknya bicara, Antoni hanya menjawab dengan seperlunya saja.


"Bro. Kenapa kau menunduk seperti ingin mencari sesuatu dibawah sana," kata Faiz sambil jemari tangannya menunjuk kearah karpet yang berwarna biru motif bunga-bunga.


"Jangan berisik. Bunda Aini terus memandangiku," kata Antoni.


Faiz mengarahkan pandangan matanya kearah Bunda Aini dan melihat Bunda Aini sesekali pandangan matanya melihat ke arah Antoni.


"Santai saja bro! kau kan tidak bersalah pada keluarga ini. Putri mereka yang meninggalkanmu," kata Faiz.


"Koq mirip Antoni ya?" monolog dalam benak Bunda Aini.


"Tapi tidak mungkin, Nak Antoni dulu kurus cengkring. Sedangkan yang orang ini kekar dan sedikit bercambang." suara hati bunda Aini.


Antoni menunduk, karena jengah ditatap oleh bunda Aini.


"Bro, santai saja. Kau menunduk sampai seperti ini yang akan membuat orang semakin curiga.  Rileks Bro." Faiz menepuk pundak Antoni.


Setelah acara saling mengenalkan tiba pada Antoni dan Faiz. Antoni gugup.


"Kalau pria ganteng yang duduk dibelakang di samping Raffi itu, teman Raffi." Paman Raffi yang mengenalkan Antoni dan Faiz.


"Yang baju batik coklat Faiz dan batik hijau Antoni," kata Hanafi, Paman Raffi.


"Betulkan ! saya tadi merasa kenal. Ternyata Toni !" seru bunda Aini dengan raut wajah gembira.


"Kenal dengan Antoni?" kata Mama Raffi, Yuni.


Bunda Aini mengangguk, "Iya Bu, teman putri tertua saya," sahut bunda Aini.


"Toni ?" Ayah Aiman menatap Antoni. Dia belum ingat dengan Antoni, karena Antoni banyak berubah.


"Antoni Yah!" bunda Aini sedikit menggeser posisi duduk dan berbisik pada sang suami.


"Oh.... !" Ayah Aiman akhirnya ingat dengan Antoni, mantan Annisa.

__ADS_1


Antoni yang merasa sudah tidak bisa menyembunyikan diri, akhirnya dia berdiri dan menyalami ayah Aiman dan Bunda Aini.


"Apa kabar Om, Tante." sapa Antoni sembari menyalim keduanya. Ada rasa canggung menerpa dirinya.


"Baik ... Betul kan! Saya tadi sudah mikir, koq mirip Nak Toni. Tapi karena gemukan, saya takut salah orang," kata Bunda Aini.


"Semakin makmur Nak Toni ya?" tanya Ayah Aiman.


"Makan tidur, Om. Maklum... pengangguran, badan jadi melar," jawab Antoni.


"Kenal dengan Antoni ?" tanya Hanafi.


"Kenal, Pak. Nak Antoni sudah seperti keluarga. Tapi sudah lama tidak pernah datang lagi. Kalau tidak salah, ah... sudah lama lah," kata Bunda Aini. Dia tidak ingin mengatakan bahwa Antoni adalah kekasih Annisa.


Akhirnya pembicaraan mereka beralih mengenai pernikahan yang diusulkan oleh Raffi. Dan Raffi ingin bertemu dengan Mikaela untuk bicara berdua dengan Mikaela secara pribadi.


Raffi dibawa menuju kamar Mikaela.


"Kenapa kakak ingin menikah hari ini?" tanya Mikaela.


Raffi menceritakan kembali apa yang telah diceritakannya pada ayah Aiman.


"Terus terang, kakak khawatir meninggalkanmu tanpa ikatan yang jelas. Sebulan lebih kakak harus meninggalkan Indonesia, apapun bisa terjadi," kata Raffi.


"Apa kak Raffi takut aku beralih hati? jika itu yang kak Raffi takutkan, menikah juga bisa aku beralih hati ," kata Mikaela.


"Bukan hanya itu yang kakak takutkan. Kakak percaya dengan El," kata Raffi.


"Lalu kenapa kita harus menikah mendadak begini?"


"Jujur, kakak takut meninggalkan El tanpa status yang jelas. Pertunangan bisa putus, karena tidak kuat ikatan yang kita miliki. Pernikahan lebih kuat, kakak di sana juga akan selalu ingat dengan status kakak, ada istri yang harus kakak jaga hatinya," kata Raffi.


"Pernikahan juga bisa putus, walaupun ada ikatan yang jelas. Itu semua tergantung pada kita berdua kak. Kita harus bisa menjaga hati dan mata kita."


"El... kita menikah saja ya? El kan tidak ingin pacaran. Resepsi kita adakan setelah aku pulang dari inggris."


"Aku hanya sebulan setengah di sana, bagaimana jika setelah menikah ini, El ikut menyusul. Biar aku suruh Aldo untuk mengurus visa El, bagaimana?" tanya Raffi dengan penuh harap Mikaela mau mengiyakan permintaannya.


"Aku kan belum setuju menikah ," kata Mikaela.


"Sayang! kita menikah ya ! please!" Raffi memohon dengan mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


"Semua surat-surat sudah selesai hari ini." tambah Raffi.


Mikaela mengeryit menatap Raffi.


"Sayang... suratnya legal, aku menyuruh pengacara perusahaan yang mengurusnya. Karena urgent, pihak KUA mau membantu."

__ADS_1


Next


__ADS_2