
Happy reading guys
...----------------...
Annisa menyimpan baju baby yang dibelinya didalam lemari dan kemudian keluar dari dalam kamar. Annisa melangkahkan menuju tangga dan turun dengan pandangan mata celingukan mencari keberadaan sang suami, yang sejak pulang dari periksa kandungan tidak terlihat batang hidungnya.
"Mana Mas Damar ?"
"Apa pergi? tetapi kenapa tidak bilang mau pergi?"
Begitu kakinya sampai diujung tangga bawa, tiba-tiba kaki Annisa terselip dan Annisa terjungkal ke depan, jatuh telungkup.
"Aaargh.... !" teriak Annisa dengan kerasnya. Jika dilakukan Annisa ditengah-tengah hutan belantara, mungkin saja hewan-hewan yang mendiami hutan akan terkejut dan terbang mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
"Tolong.... !" teriakkan minta tolong Annisa kembali terdengar.
Para maid yang mendengar teriakan Annisa segera berhamburan mencari asal suara.
"Bu Nisa.... !" Bik Imah yang lebih dahulu tiba dan melihat Annisa terbaring dilantai dengan posisi telentang dengan memegang perutnya. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Bu Nisa!" Imay datang kedua setelah Bik Imah.
"Sakit !" runtuh Annisa.
"May... panggil bapak !" titah Bik Imah.
"Bapak? di mana ?" Imay tidak tahu keberadaan Damar.
"Ruang kerja!" pekik Bik Imah seraya mendorong tubuh Imay yang berlutut di samping Bik Imah.
"Cepat!" teriak Bik Imah.
"Sakit Bik." Annisa merintih.
"Bu Nisa, sabar Bu ," kata Bik Imah yang khawatir dengan kondisi Annisa yang sedang kondisi hamil.
Damar datang dengan berlari, diikuti Imay.
"Kenapa? kenapa jatuh Bik ?" tanya Damar dengan berteriak pada Bik Imah.
"Saya tak tahu Pak ," sahut Bik Imah.
Sedangkan Annisa merintih kesakitan sembari memegangi perut.
"Mas... anak kita !" kata Annisa.
"Anak kita baik-baik saja. Bik... panggil Pak Zul, siapkan mobil .... !" titah Damar.
Damar mengangkat Annisa dan Bik Imah berlari ke samping memanggil sopir.
__ADS_1
Setengah jam kemudian mobil yang dikemudikan oleh Zul tiba di rumah sakit terdekat dan dokter Samira juga berpraktek di rumah sakit tersebut.
Dokter Samira menemui Damar dan mengatakan bahwa kandungan Annisa tidak dapat dipertahankan.
"Maaf pak," ujar dokter Samira dengan suara yang sangat pelan.
Damar yang shock dengan apa yang dikatakan oleh dokter Samira menunduk. Kedua tangannya saling meremas. Baru saja dia bahagia, dengan sekejap mata, bahagia itu terbang meninggalnya.
"Dengan terpaksa kami harus mengeluarkan janinnya, pak. Karena janinnya sudah tidak terdeteksi lagi detak jantungnya." terang dokter Samira.
"Lakukan Dok," kata Damar.
Suster memerintahkan perawat untuk membawa Damar berkas-berkas yang perlu ditandatanganinya untuk prosedur operasi yang harus dilakukan oleh Annisa.
Setelah menyelesaikan seluruh berkas yang harus ditandatanganinya, Damar duduk sendiri menunggu Annisa ditangani oleh dokter.
"Damar.... !" panggilan dan sentuhan tangan mamanya, menyadarkan Damar dari lamunannya.
"Ma ... anak Damar tidak bisa bertahan," kata Damar dengan suara yang lirih.
"Innailaihi.... ," ucap Amelia dengan lirih.
"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya mamanya.
Damar menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Damar tidak tahu kejadiannya. Yang Damar tahu Annisa baring di lantai," kata Damar.
"Jatuh ! Annisa jatuh ?"
"Mama sangat kaget menerima telpon mu, sampai Mama tidak sempat ganti baju. Papa baru saja mama beri kabar," kata Amelia.
Damar melihat sang Mama datang dengan memakai daster batik dan sendal rumahan. Jika tidak dalam keadaan tergesa-gesa, Amelia tidak mungkin mau keluar dari rumah dengan keadaan serampangan, hanya memakai daster dan tanpa bermake-up.
"Ma, jangan marah pada Nisa ya," kata Damar.
"Enggaklah ! Annisa juga tidak ingin ini semua terjadi."
Setelah selesai operasi, Damar di panggil dokter dan Damar diserahkan janin yang sudah terbentuk dengan sempurna, tapi belum terlihat jenis kelamin dari janin tersebut.
Damar keluar menghampiri mamanya dan papanya.
"Bagaimana dengan anak Damar Pa, apa yang harus dilakukan?" tanya Damar.
"Papa sudah hubungi ustadz Yusuf, beliau mengatakan harus dimakamkan selayaknya. Karena usia kandungan tiga bulan itu sudah ditiupkan roh kedalam tubuh janin tersebut," kata Wira. Papa Damar.
"Mertuamu sudah diberi kabar?" tanya Wira.
"Sudah," sahut Damar.
Selesai Damar berkata, terlihat Aiman dan Aini datang dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Mana Annisa? mana Annisa Damar?" tanya Aini begitu dia berhadapan dengan sang menantu.
"Masih didalam bunda," ujar Damar.
"Ya Allah... kenapa ini semua terjadi? baru saja Annisa gembira, dan secepat itu gembiranya kau ambil Allah." monolog batin Aini.
"Kita harus kuat Bu Aini, jangan tunjukkan kesedihan kita ini. Nanti Annisa ikutan sedih juga. Sudah tentu dia pasti sedih, kita harus memberikan dia pengertian, kehilangan ini bukan akhir dari segalanya," kata Amelia.
****
Mikaela, Aira dan Inara berjalan didepan. Di belakangnya tiga pria mengikuti ketiganya dengan sabar dan ditangan ketiganya tergenggam paper bag belanjaan ketiga gadis tersebut.
"Kita jahat sekali ya," kata Inara.
"Kenapa?" Tanya Aira.
"Belanjaan kita, mereka yang bawa," kata Inara.
"Kita... ? nggak salah tuh ? kalian berdua kale... ! aku tidak!" kata Mikaela.
"Kita menguji mereka, apa mereka mau membawa belanjaan kita atau tidak," kata Aira.
"Kalian jangan bodoh. Masih tahap pacaran, mereka kaum laki-laki itu selalu menuruti kemauan para wanita. Begitu sudah didapatnya, barulah mereka bertingkah," kata Mikaela.
"Betul juga. Nanti kita bicarakan pada kaum pria itu. Jangan sekarang mereka ngikutin apa yang kita katakan. Begitu sudah menikah, mereka cuek dengan kita," kata Aira.
"Apa yang mereka bicarakan? Sepertinya mereka tertawa senang," kata Faiz.
"Mungkin mereka senang, karena telah berhasil menyuruh kita menenteng barang belanjaan ," kata Antoni .
"Hanya belanjaan. Coba bayangkan, jika mereka sudah menjadi istri kita. Dan mereka dalam keadaan hamil membawa benih kita selama sembilan bulan. Apa yang kita bawa ini tidak sebanding dengan apa yang mereka bawa selama sembilan bulan ," kata Damar.
Faiz dan Antoni mencerna apa yang dikatakan oleh Damar. Keduanya manggut-manggut mengiyakan apa yang dikatakan oleh Damar.
"Ternyata Pak Raffi punya pemikiran yang sangat brilian... tidak salah, masih muda sudah menjabat dekan." puji Faiz.
"Jangan panggil Pak. Kita masih seumuran. Saya tiga puluh," kata Raffi.
"Saya lebih tua. Saya mau masuk tiga puluh dua," kata Antoni.
"Aku tiga puluh satu," ucap Faiz.
"Ternyata Pak Raffi yang lebih muda diantara kita. Dan jabatan juga yang lebih wow.. ," ucap Faiz.
"Hanya selisih sedikit umur kita. Kita sama-sama kepala tiga. Kita panggil nama saja. Perkenalkan, saya Raffi. Saya lagi berusaha untuk meluluhkan hati wanita yang berbaju biru itu," ucap Raffi mengenalkan dirinya kembali.
"Hahaha... !" Antoni tertawa lebar, sampai-sampai ada orang yang melihat kearahnya.
"Semoga berhasil, Bro. Mikaela seorang gadis yang baik. Aku kenal dengannya sudah lama. Kau jangan mempermainkannya" Setelah mengakhiri tawanya. Antoni menyemangati Raffi dan mewanti-wanti Raffi, agar tidak mempermainkan Mikaela.
__ADS_1
Next