
Happy reading guys
...****************...
Dalam kamar Annisa uring-uringan. Bukan karena Damar tidak menghubunginya, tapi karena melihat postingan Aira di media sosialnya. Aira memposting gambar kebersamaannya dengan Antoni di salah satu acara.
Dalam postingannya, Aira menulis caption "Menua bersama dalam cinta" dan dilatarbelakangi sepasang manula yang merayakan pesta pernikahan emas.
"Sialan.... !" umpat Annisa dengan suara yang ketus.
"Pasti dia mau pamer," ujar Annisa.
Annisa terus ngedumel sembari melihat postingan Aira, berbeda dengan Aira dan Antoni. Keduanya terus mendapatkan pertanyaan dari para tetua dikeluarkannya Antoni. Karena Antoni cucu laki-laki tertua dikeluarganya Andera, dan belum menikah, membuat keluarga besar Andera ingin melihat Antoni untuk mengakhiri masa kesendiriannya.
"Iya Oma, Opa. Toni akan secepatnya menghalalkan gadis itu," kata Toni menatap Aira yang sedang berbicara dengan para sepupu Antoni.
"Jangan iya...iya saja ! Oma tidak mau mendengar kau putus dan membuat Mamamu pusing menghadapi anaknya yang patah hati," kata Oma Toni.
Toni menunduk malu, karena diingatkan dengan kebodohan yang dilakukannya, saat diputuskan oleh Annisa.
"Laki-laki keturunan Opa tidak ada yang cengeng ditinggalkan seorang gadis, Toni!" kata sang Opa.
"Maafkan kebodohan Toni Opa, Oma."
"Opa mau, dalam dua bulan ini. Kau sebagai cucu laki-laki tertua keluarga Andera, harus sudah menikah ! Jika tidak, Opa akan menjodohkan kau dengan cucu teman Opa!" kata Opa Antoni dengan tegas.
"Ah... Toni tidak mau di jodohkan!" tolak Antoni cepat.
"Jika tidak mau, segera lamar gadis itu ! Minggu depan Opa sudah mendapatkan kabar gembira!" kata Opa Antoni.
"Mungkin depan?" mata Antoni membesar mendengar titah sang Opa.
"Kenapa? Tidak sanggup ? mau opa lamarkan, sembarang gadis ?" tanya opanya.
"Tidak!" kata Antoni.
"Masa untuk melamarnya kau tidak berani Toni?" tanya Omanya.
"Siapa takut Oma! Hari ini juga aku akan melamarnya didepan kalian semua!" kata Toni dengan tegas dan melangkah mendekati Aira dan menarik tangan Aira.
Aira kaget, karena Antoni tiba-tiba menariknya dan membawanya menuju kedepan keluarganya, yaitu depan Opa, Oma dan keluarga intinya.
"Mas .... !" mata Aira membesar, karena tiba-tiba Antoni berlutut didepannya dan menggenggam kedua tangan Aira.
"Mas ! Berdiri," kata Aira dan berusaha untuk melepaskan tangannya yang digenggam Antoni.
Semua mata memandang Antoni dan Aira, dan menyemangati Antoni.
"Ayo mas !" suara-suara meluncur dari orang-orang yang melihat.
"Mas... bangun." Aira malu dengan apa yang dilakukan oleh Antoni.
"Tidak!" kata Antoni.
__ADS_1
Antoni menarik napasnya dan mengeluarkannya, baru kemudian bicara dengan lantang pada Aira.
"Aira, di depan seluruh keluargaku. Aku ingin mengatakan, aku ingin menghalalkan hubungan kita ini," kata Antoni dengan suara yang lantang dan tegas.
"A...a.... !" Aira kaget mendengar perkataan Antoni.
Suara tepuk tangan dan suitan keluar dari mulut saudara-saudara Antoni
"Menghalalkan." Aira bingung dengan apa yang dikatakan oleh Antoni.
"Terima... Terima... Terima.... !" suara-suara menyuruh Aira untuk menerima Antoni terus terdengar, membuat Aira bertambah bingung. Karena Aira belum ngeh dengan apa yang dikatakan oleh Antoni.
"Sayang ." panggil Antoni.
Mendengar Antoni memanggilnya sayang di depan saudaranya, raut wajah Aira merah merona.
"Ih... mas Toni kenapa seperti ini? kesambet mas Toni ini." suara hati Aira.
"Ayo kak Aira... jawab!" seru adik Antoni, Lana menyemangati Aira untuk menjawab lamaran Antoni.
"Jawab apa?" Aira mengarahkan pandangan mata melihat Lana.
"Lamaran Mas Toni, kak !" kata Lana.
"Lamaran?" mata Aira membesar, dengan tangan menutupi mulutnya menatap Antoni yang masih berlutut menatapnya.
"Sayang... Cepat jawab, kaki mas sudah kebas ini ," kata Antoni.
"Jawab Nak Aira," kata Arum, Mama Toni.
"Ulangi lagi Toni!" titah sang Opa.
"Aira di depan semua orang yang aku sayangi, aku ingin meminta dirimu untuk menjadi istriku, menemani diriku dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan kita," kata Antoni.
"Mas kan sudah pernah mengajak Aira menikah ," kata Aira yang ingat Antoni sudah pernah melamarnya dan dia masih belum menjawabnya.
"Itu belum sah, sayang!"
"Ini lamaran yang sesungguhnya, di depan semua orang yang kita sayangi." tambah Antoni.
"Ayo Nak Aira, jawab... Kasihan cucu bujang lapuk opa," kata Opa Antoni dengan mengejek Antoni.
"Yeah... Opa!" Antoni memanyunkan mulutnya, karena diledek bujang lapuk oleh sang Opa.
"Please.... ." wajah Antoni memelas dengan mata sayu menatap Aira.
"Baiklah, Aira terima," kata Aira.
"Yes... Yes.... !" seru Antoni dengan berteriak dan mengacungkan tangannya yang terkepal ke udara.
"Yea.... Mas Toni akhir laku !" ledek para sepupu Antoni yang sudah terlebih dahulu menikah.
"Aduh.... !" Antoni berdiri, tapi terjungkal kebelakang, karena kakinya yang kebas dan membuat kakinya tidak bisa napak bumi.
__ADS_1
"A...a..ww..... !" teriak semua orang yang melihat Antoni jatuh.
"Sudah sepuh ! Sok berlutut." ledek Aira sembari menolong Antoni untuk bangkit.
"Terimakasih sayang," ucap Antoni sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Aira.
"Genit," kata Aira.
Bagaimana hubungan Aira dan Antoni selanjutnya? apa adem ayem sampai maut memisahkan keduanya? Atau ada gangguan mantan yang belum bisa move on?
***
Ayah Aiman dan Aini duduk di bandara dengan raut wajah terlihat sedih, untuk pertama sekali mereka akan berpisah Mikaela. Walaupun tidak selamanya, tapi ayah Aiman dan Aini sangat berat untuk melepaskan Mikaela pergi ke negeri orang ikut dengan sang suami.
"Ayah, bunda jangan sedih. El juga sedih nih.... " Mikaela duduk diantara keduanya.
"Ayah nggak sedih," kata Aiman dengan memalingkan wajahnya dan jari tangannya mengusap setitik air yang menggantung disudut bola matanya.
"El nggak lama di sana, bulan depan El pulang," kata Mikaela.
"Eh... Jangan sering pulang, tiket mahal," kata ayah Aiman.
"He... he...he...he." tawa kecil keluar dari mulutnya Mikaela.
"El.... !" dua suara nyaring memekik menyebut namanya, membuat Mikaela menoleh keasal suara. Mikaela melihat Aira dan Inara berjalan cepat.
"Kami kira, kami terlambat," kata Aira dengan napas yang tersengal-sengal. Dari parkir mobil, keduanya terus berlari dan sesekali berjalan cepat, karena takut pesawat yang membawa Mikaela sudah lepas landas.
"Aku berangkat dua jam lagi, kan sudah aku bilang tadi malam," kata Mikaela.
"Mungkin saja keberangkatan pesawat di percepat," kata Inara.
"Delay pesawat sering terjadi, keberangkatan di percepat, sepertinya jarang terjadi," kata Mikaela.
"Sini kalian duduk," ujar bunda Aini. Ayah Aiman dan Aini bangkit dan menyuruh keduanya duduk bersama dengan Mikaela. Sedangkan keduanya menghampiri mamanya Raffi dan Alin yang duduk di kursi depan mereka duduk.
"El, sampai sana ingat kami ya! Jangan lupakan temanmu yang cantik ini," kata Inara.
"Ingat El, begitu sampai sana, hubungi kami," kata Aira.
"Iya... Aku akan menghubungi kalian setiap hari."
"El... jangan lupa, kirimkan salam ku pada pangeran William ya," kata Inara.
"Hanya pada pangeran William saja, pangeran Charles tidak?"
"Ih... Nggak ah... Aku nggak suka yang sudah sepuh," kata Inara.
Akhirnya jam keberangkatan Mikaela tiba, pesawat yang membawa Mikaela membumbung tinggi di udara.
Bunda Aini dan ayah Aiman menatapnya.
"Selamat bahagia putriku. Arif, putri kita sudah bahagia dengan suaminya. Bahagialah...." batin Aiman sembari menatap pesawat yang membawa Mikaela menjauhi bumi Pertiwi.
__ADS_1
Next...