Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 75 Pasrah


__ADS_3

Happy reading guys


......................


Mikaela tetap berusaha untuk mencari informasi mengenai Raffi. Siang hari Mikaela mulai disibukkan dengan urusan tokonya, walaupun belum sepenuhnya dia mengelola toko, Mikaela dibantu dengan orang kepercayaan ditoko. Mita dan Lusi yang baru direkrut Mikaela untuk menanggulangi toko di mall.


Pintu terbuka dan Mita masuk dengan membawa paper bag. "Mbak makanlah." Mita memberikan paper bag yang berisi makanan yang diorder untuk makan siang, dan Mikaela melewatkan jam makan siang seperti hari-hari sebelumnya.


Mikaela mengangkat kepalanya dan melihat paper bag yang diletakkan Mita di meja.


"Ini makan siang mbak El, sudah dingin," kata Mita.


"Terimakasih. Kalian sudah makan?" tanya Mikaela sembari menutup laptopnya.


"Sudahlah mbak. Sudah jam berapa ini."


Mikaela melirik jam dinding dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang.


"Sudah mau jam dua." batin Mikaela.


"Mbak, baju yang tiba dua Minggu kemarin sudah sudah mau habis." lapor Mita.


"Cepat sekali? Apa modenya sangat disukai?"


"Iya mbak," sahut Mita.


"Tinggal ada berapa lagi ?" tanya Mikaela.


"Nggak banyak lagi mbak, yang tinggal ukuran yang besar."


"Pelanggan kita bertubuh langsing semua ya ," kata Mikaela yang sedang menikmati makan siangnya yang sudah dingin.


"Wanita sekarang tidak mau sedikit gemoy mbak, gemoy sedikit, langsung diet ketat ."


Mikaela meletakkan sendok makan yang dipegangnya dan melirik tubuhnya.


"Mbak nggak gemoy, malah cungkring," kata Mita yang tahu apa yang ada dalam pikiran Mikaela, saat melihat Mikaela menundukkan kepala melihat tubuhnya.


"Apa aku kurus ?" tanya Mikaela pada Mita.


"Di bandingkan tiga bulan yang lalu, Mbak El kurus kering sekarang ini. Mata mbak sangat cekung. Apa mbak El tidak tidur sepanjang malam? Jangan begitu mbak, nanti mbak sakit," kata Mita yang mengkhawatirkan kesehatan Mikaela.


Tidak ada yang tahu, setiap malam Mikaela berselancar di dunia maya. Setiap malam Mikael mencari Raffi dengan cara menghubungi teman-teman Raffi yang Mikaela ketemukan dibuku alumni dan tetap nihil, tidak ada yang mengetahui keberadaan Raffi, apa masih hidup atau sudah meninggal.

__ADS_1


Sudah dua Minggu ini, Mikaela selalu mengkonsumsi obat tidur untuk bisa membuat matanya terpejam, dan jika tidak mengkonsumsi obat tidur, Mikaela bisa tergoda untuk membuka laptop dan mencari sang suami. Sang suami? Tidak tahulah... apa status Mikaela saat ini ? bersuami tapi terasa seperti seorang janda. Janda, tapi statusnya bersuami.


"Mbak makan, habiskan, biar Mita saja yang menghubungi Mas Toni," kata Mita.


Lamunan Mikaela menguap, ketika ditegur Mita.


"Eh... Iya ," sahut Mikaela.


Begitu Mita keluar, Mikaela menutup kotak makannya dan memasukkannya kedalam paper bag. Lalu Mikaela membuka laptopnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang terjadi karena kehadiran Mita tadi.


Annisa sedang berada di rumah mama mertuanya, dia mengikuti saran Damar. Tapi dia tidak ketempat ayah Aiman, karena baru semalam dia dari rumah ayahnya. Hari ini dia mengunjungi rumah mertuanya. Kedatangan disambut oleh Mama Damar Amelia yang sedang mengadakan arisan di rumahnya.


"Tahu sedang ada acara di rumah Mama, tidak mungkin aku datang." batin Annisa.


"Jeng Amel kapan lagi nih.... ?" tanya teman mama mertuanya yang setiap bertemu dengan Annisa, selalu itu-itu saja pertanyaan yang diajukan oleh Tante Pingkan.


"Kapan apanya jeng Pingkan?" tanya Amelia.


"Cucu loh... Jeng ," kata Pingkan.


"Mulai ." batin Annisa yang kesal dengan pertanyaan Tante Pingkan.


"Yang lain pada nyusul, nih.... " batin Annisa.


Betul dengan apa yang dipikirkan Annisa, mulut-mulut yang menanyakan kapan Annisa punya anak kembali bermunculan. Suara teman-teman Amelia yang saling mengeluarkan suara bertanya masalah anak membuat kepala Annisa tiba-tiba pusing dan suara-suara itu seperti suara kumbang didengar telinga Annisa.


Amelia melihat Annisa tidak nyaman dan memberikan tanda untuk Annisa pergi.


"Permisi Tante, saya mau menghantarkan makan siang untuk suami," kata Annisa.


"Bagus tuh Nak Annisa, makan suami harus diperhatikan. Belum bisa beri anak pada suami, jangan sampai suami tergoda dengan wanita liar yang hanya bisa membuka pahanya untuk merebut suami kita ," kata teman Amelia yang sedari tadi diam, tidak ribut seperti yang lain mencerca pertanyaan yang itu-itu saja.


Annisa memberi senyum tipis membalas orang tersebut, lalu kemudian Annisa pergi.


"Akhirnya, aku selamat." Annisa menghela napasnya.


"Kemana aku? Mas Damar kan keluar kota."


"Kemana saja, yang penting menjauh dari mulut-mulut lemes yang bahas masalah anak saja."


Annisa masuk kedalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan rumah mertuanya.


"Sangat indah lokasinya ya kak Damar !" seru Alisa Salim yang sedang main air, sedang Damar dan beberapa orang sedang melihat lokasi tempat dibangunnya taman bermain dan resort.

__ADS_1


"Arini !" panggil Alisa seraya melambaikan tangannya memanggil Arini.


"Ih... Alisa! Orang ke sini bekerja, dia malah healing." batin Arini yang sedang mengikuti Damar.


"Sudah selesai?" tanya Alisa yang datang menghampiri Damar dan rombongan.


"Sudah Nona," sahut Arini. Jika sedang bekerja, Arini selalu memanggil Alisa Nona. Jika diluar jam kerja, Arini memanggilnya tanpa embel-embel nona.


"Pak, apa ada tempat makan yang bagus di sini ?" tanya Alisa pada Pak Sanusi yang seharusnya menangani proyek kerjasama dengan Alisa Salim.


"Banyak Nona, di sini sudah banyak restoran yang bagus. Hanya di sini penginapan yang bagus belum banyak," kata Pak Sanusi.


"Aku lapar. Ayo kita makan kak Damar." tanpa menunggu apa yang dikatakan oleh Damar, Alisa langsung menarik Damar dan mengandeng tangan Damar.


"Aku sangat lapar," kata Alisa.


"Bukannya tadi dalam perjalanan kita sudah makan berat," kata Damar mengingat Alisa, bahwa mereka tadi sudah makan siang dalam perjalanan.


"Ih... Kak Damar ! Itu tadi... Perutku ini sudah minta di isi lagi, mungkin perutku ini sudah diisi dengan induk cacing dan anak-anak cacing yang imut," kata Alisa sambil menebarkan senyum dibibirnya.


"Ha... ha... ha... !" tawa lebar pecah dari mulut Damar. Sampai Reza dan Sanusi yang mengenalkannya kaget, karena tidak biasanya Damar tertawa sampai ngakak.


"Jika kalian bertemu, pasti bisa bertemu," kata Damar.


"Siapa?" Alisa mendongak menatap wajah Damar.


"Dania," kata Damar.


"Siapa Dania? Apa istri kak Damar?"


"Adikku," sahut Damar.


"Oh... Di mana dia kak ? Mungkin kami bisa berteman," kata Alisa.


"Dia sedang melanjutkan S2 di Singapore."


"Minggu depan aku akan ke Singapore, mungkin kak Damar bisa memberikan alamatnya dan kami bisa keluar bersama."


"Boleh."


****


Drit.**...

__ADS_1


Annisa menghentikan mobilnya dengan pengereman mendadak. Dan kemudian Annisa dengan cepat turun dari mobilnya.


Lihat apa Annisa??


__ADS_2