Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 39 Serba mendadak


__ADS_3

Happy reading guys.


...----------------...


Mikaela diam. Dia tidak ingin ikut dalam perbincangan keduanya. Karena dia tidak ingin masalah semakin runyam, karena Mikaela tahu sifat Annisa yang emosi jika dibantah. Hanya Bunda Aini yang tidak berani Annisa bantah, ayah Aiman saja pernah dibantah oleh Annisa.


"Bagaimana jika hubunganmu Damar, ayah dan bunda tidak setuju. Apa Nisa mau menerima keputusan ayah dan bunda, jika bunda dan ayah memintamu untuk memutuskan Damar dan kami mencarikan jodoh yang kami anggap sesuai dengan kriteria yang kami inginkan ?" pertanyaan Bunda Aini membuat Annisa tersentak. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan sang bunda.


"Bagaimana? apa Nisa mau menuruti keinginan kami selaku orang tuamu?" tanya bundanya lagi .


"Maaf." Kata maaf meluncur dari mulut Nisa. Dia meraih tangan Mikaela dan menggenggamnya dengan erat.


"Maafkan mbak Nisa ya, El. Entah kenapa, mbak seperti ini. Mbak koq nggak ikhlas melihatmu dengan Raffi ," kata Nisa yang mulai menyesali apa yang dikatakannya kepada Mikaela.


"Bunda harap Nisa ikhlas menerima pilihan El. Kita do'akan, semoga pilih El membuat El bahagia," kata Bunda Aini.


Annisa menganggukkan kepalanya.


Tok... tok ..


"Masuk !" titah bunda Aini.


Pintu kamar Mikaela dibuka dan terlihat wajah Damar.


"Bun. Apa Nisa ada di sini?" tanya Damar yang kehilangan Annisa dan tidak melihat Annisa yang duduk membelakangi pintu..


"Apa Mas?" suara Annisa menyahut dari dalam kamar.


"Kenapa tidak bilang ke sini? sudah keliling rumah mencari Nisa," kata Damar.


"Maaf, Mas."


"Bunda di cari ayah," kata Damar pada bunda yang masih berada di dekat pintu kamar.


"Kita berdua di cariin suami," ujar bunda Aini sambil tertawa.


"Bunda keluar dulu," ujar Bunda Aini dan kemudian keluar dari kamar Mikaela.


Damar berjalan sedikit masuk kedalam kamar Mikaela. Dia melirik Mikaela sekilas, lalu matanya melihat Annisa.


"Ayo kita keluar, tamu sudah mulai berdatangan," kata Damar. Annisa menganggukkan kepalanya.


"Mbak keluar ya El," ucap Annisa.


"Iya, Mbak," sahut Mikaela.


"Maafkan mbak, ya," ucap Annisa kembali.

__ADS_1


"Sudahlah mbak. Mbak tidak salah. Mbak kan ingin El bahagia," ucap Mikaela.


Damar mengandeng tangan Annisa untuk keluar dari kamar Mikaela.


"Apa kalian berdua sudah berdamai?" tanya Damar begitu keluar dari kamar Mikaela.


"Kami tidak pernah ribut Mas, hanya berbeda pandangan saja," kata Annisa.


Baguslah." gumam Damar.


Kita beralih ke tempat ayah Aiman dan beberapa orang saudara dari pihak ayah dan ibu Mikaela yang datang.


"Ada apa Yah?" bunda Aini duduk disebelah sang suami.


"Begini Bu, Raffi bicara dengan ayah," kata Aiman pada sang istri, Aini.


"Bicara apa? apa mereka mau membatalkan pertunangan ?" tanya Aini.


"Hus... bukan Bu," ujar Aiman.


"Jadi apa to...? ada apa Len?" Aini beralih pada Lenia, karena sang suami belum menjawab pertanyaan.


"Andri ?" tanya Aini pada suami Lenia.


"Bagaimana mas?" Andri bertanya pada Aiman, abang iparnya.


"Hah.... !" Aini kaget dengan mata terbelalak.


"Koq... piye iki... lah... kenapa jadi menikah ? maksudnya, kenapa ingin menikah hari ini ?" Aini tergagap berkata-kata, saking kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Azura.


"Itulah mbak Ain, saya juga kaget mendengar mas cerita. Koq... mendadak mau menikah hari ini, ada apa toh ?" kata Azura.


"Kalau aku sih... ikut apa kata mas saja. Mas Aim mau menerima apa yang mereka minta untuk menikah hari ini, monggo... mereka juga sudah kenal lama, hari ini bulan depan sama kan," kata Lenia, adik Aiman.


"Ya nggak bisa begitu to... Len. Menikah kan butuh persiapan, belum katering undangan, mosok kita tidak mengundang tamu dan beri mereka makan," kata Aini yang keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Lenia.


"Raffi ingin menikah hari ini dan resepsi diadakan bulan depan Bu," kata Aiman.


"Kenapa hari ini nikah, dan bulan depan resepsi. Sudah keburu hamil anakku," ujar Aini.


Apa yang dikatakan oleh Aini sontak membuat orang yang mendengar tertawa ngekeh.


"Bu. Walaupun hari ini El menikah, keduanya tidak bisa tinggal bersama. Nak Raffi besok harus pergi ke luar negeri mengikuti konprensi universitas seluruh dunia selama satu bulan di luar negeri," kata Aiman.


"Koq mendadak ikut konprensi universitas? apa tidak bisa digantikan orang lain?"


"Seharusnya konprensi ini diadakan bulan depan, dan Raffi ingin membawa istrinya ikut serta. Mendadak kompresi di majukan." cerita ayah Aiman pada sang istri yang belum mengetahui kenapa Raffi ingin pernikahan di majukan dan resepsi diadakan saat Raffi kembali dari luar negeri.

__ADS_1


"Aduh... bagaimana ini ?" Aini bingung.


"Menurut ayah bagaimana? Azura bagaimana? Mikaela keponakanmu lo.... !"


"Aku manut dengan keputusan Mas saja, Mas Aiman kan wali Ela dan mbak dan mas yang selama ini mengasuh El. Saya menyerahkan keputusan pada mbak dan mas," kata Azura.


"Saya tadi sudah menyetujui dan sudah menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan untuk pernikahan," kata Aiman.


"Loh... ayah koq main setuju saja. Tanya pada El yang akan menjalani pernikahan lo... Yah.... !" Aini kaget mendengar sang suami sudah menyetujui dan sudah memberikan berkas milik Mikaela yang dibutuhkan untuk melakukan pernikahan.


"Hari ini mau diadakan pertunangan, di ganti dengan pernikahan tidak apa-apa toh... Bu" kata Aiman.


"Tapi kan belum tentu El mau Yah! bagaimana kita harus tanya pendapatnya," kata Aini.


"El setuju tunangan mbak, di jadikan pernikahan pasti Mikaela nunut mbak. Dia kan mencintai calon suaminya. Dia kan tidak menikah karena di jodohkan," kata Azura.


"Bagaimana juga, kita harus tanyakan pada Mikaela. Jangan diam-diam begini, ini masa depan Mikaela," kata Aini.


Akhirnya apa yang dikatakan oleh Aini dituruti oleh ayah Aiman.


Mikaela dipanggil dan di ceritakan apa yang terjadi, sehingga acara pertunangan menjadi acara pertunangan.


"Kenapa kak Raffi tidak bilang padaku?" tanya Mikaela.


"Dia sudah menghubungi ponselmu, tapi tidak terhubung," kata ayah Aiman.


"Oh.... " Mikaela ingat dia belum membuka ponsel sejak dia mencas ponselnya yang habis batre.


"Bagaimana El?" tanya bunda Aini.


"Pernikahan sekarang, dan resepsi bulan depan menunggu Raffi pulang?" tanya Azura.


"Menurut ayah bagaimana?" Mikaela menatap wajah Aiman.


"Maafkan ayah, karena tanpa bertanya padamu terlebih dahulu, ayah sudah menyetujui rencana Raffi untuk menikah hari ini," kata ayah Aiman.


"Ayah tidak perlu minta maaf, ayah lakukan pasti sudah memikirkan apa yang terbaik untuk El," kata Mikaela.


"Bagaimana El? jika El tidak mau, dan tetap ingin pertunangan saja, biar diberitahu pada Raffi. Karena dia sudah mengurus surat-surat untuk melakukan pernikahan hari ini ," kata Lenia.


Mikaela bingung dengan keputusan apa yang harus dipilihnya. Matanya menatap satu demi satu orang yang menunggu keputusan yang akan diberinya.


Next....


Hai semua... author ingin promosikan cerita yang keren nich...


__ADS_1


__ADS_2