
Happy reading guys.
...----------------...
Dinda melihat kearah jam dinding yang tergantung di atas pintu kamarnya.
"Sudah jam 12 tengah malam. Perutku minta diisi, tugas belum selesai ," ujar Mikaela. Dia melihat tugas yang double dikerjakannya. Seperti biasa, tugas untuk Inara selalu dikerjakannya. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Inara tidak patut ditiru. Karena itu akan membuat orang yang selalu dibantu akan tergantung pada orang lain, dan tidak akan bertanggung jawab dengan tugas yang seharusnya menjadi tugasnya.
"Aku lapar sekali. Ah... Biasanya ada Mbak Nisa yang akan membuatkan aku cemilan jika aku belajar malam." Nisa tidak bisa masak, tapi dia selalu membeli cemilan untuk menemaninya dan Mikaela jika malam kelaparan. Sekarang ini, tidak akan dialami Mikaela lagi. Mikaela akan sendirian dalam mengerjakan tugas kuliah.
Mikaela bangkit dari duduknya, melakukan peregangan pada tubuhnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk. setelah merasa tubuhnya sedikit rileks, lalu Mikaela melangkah menuju pintu kamar dan membukanya. Mikaela keluar dari kamar, kakinya membawa tubuhnya melangkah menuju dapur.
"Masak mie instan saja." gumamnya.
Mikaela lalu memasak mie instan dengan cepat, tanpa diberi campuran apapun juga. Karena perutnya tidak tahan untuk menunggu lagi. Begitu selesai masak mie instan, Mikaela langsung memakan mie hasil masakannya tersebut. Selagi menikmati mie yang masih hangat, Mikaela dikejutkan dengan tepukan di pundaknya.
"A.a..w..w.. !" pekik Mikaela dengan keras, sampai dia terbatuk-batuk. Karena saat berteriak, mulutnya masih terisi mie yang baru dimasukkannya kedalam mulutnya.
"Uuk...uuk..." Mikaela terbatuk-batuk. Tangannya menyambar segelas air putih dan meneguk air minum tersebut sampai tandas.
"Kenapa El.... ?" Bunda Aini juga kaget mendengar teriakan Mikaela. Melihat Mikaela sampai terbatuk-batuk, Bunda Aini mengusap dan menepuk-nepuk punggung Mikaela.
"Bunda membuat El kaget saja," ucap Mikaela.
"Masa tidak dengar suara langkah kaki Bunda?" tanya Aini. Mikaela menggelengkan kepalanya. Karena terlalu menikmati mienya. Mikaela tidak mendengar suara langkah kaki masuk ke dapur.
" Tadi tidak makan malam kan? Bilang sudah makan. Bohong kan?" tanya Aini pada Mikaela.
"Tadi belum lapar Bunda, perut El laparnya sekarang."
"Jangan terlalu sering makan mie," kata Bunda Aini.
"Baru hari ini makan mie instan bunda," ucap Mikaela dan kemudian melanjutkan makannya mie yang sudah dingin.
Bunda Aini mengambil segelas air hangat dan membawanya menuju meja makan, tempat Mikaela menikmati mienya.
"Nisa sedang apa ya, El. Baru dua hari tidak bertemu dan mendengar suaranya, bunda sudah rindu," kata Aini.
"Sudah pasti sedang tidurlah, Bunda. Sudah malam ini, tidak mungkin Mbak Nisa seperti kita yang masih berada di dapur, dalam keadaan kelaparan," kata Mikaela dengan tertawa.
__ADS_1
"Atau... Mbak Nisa sedang mencetak cucu untuk bunda... ! ha...ha...ha...ha... !" Mikaela tertawa terbahak-bahak, sampai tubuhnya terguncang-guncang dan terlihat matanya berair.
"Hus... Mulut.... !" Aini mendelik menatap Mikaela.
"He...he...he... Maaf Bunda." Mikaela mengacungkan dua jari tangannya.
"Cepat selesaikan makannya. Jangan belajar sampai larut malam, jaga kesehatan," ucap Aini dan kemudian mengangkat bokongnya dan berlalu meninggalkan Mikaela.
"Oke boos.... ," sahut Mikaela.
*
*
Mikaela keluar dari area universitas sendiri. Karena kedua temannya Inara tidak masuk kuliah, sedangkan Aira masih ada mata kuliah yang diikutinya. Mikaela hanya satu mata kuliah saja hari ini, sehingga dia pulang sendiri.
"El...! Mikaela..!" suara seorang pria memanggilnya. Mikaela menoleh kearah asal suara dan melihat mantan kekasih Annisa, Antoni yang memanggilnya.
Antoni duduk di atas motornya yang terparkir di depan universitas. Dia melambaikan tangannya memanggil Mikaela.
Mikaela menghampiri Antoni. "Mas Toni... apa kabar ?" sapa Mikaela, setelah dia berhadapan dengan Antoni.
"Alhamdulillah... ! El senang, jika Mas dalam keadaan baik-baik saja. El takut Mas putus asa dan bunuh diri di pohon kunyit." gurau Mikaela.
Gurauan Mikaela berhasil membuat Antoni mengeluarkan senyuman di bibirnya dan ada tawa kecil yang terdengar dari dalam mulutnya. Tawa dan senyum yang sudah lama tidak terlihat lagi dari sosok yang bernama Antoni Syaputra, mantan kekasih Annisa.
"Ada angin apa mas mencariku sampai ke kampus? Apa Mas mau menanyakan keadaan Mbak Annisa?" tanya Mikaela to the point pada mantan kekasih Annisa tersebut.
Antoni tidak menjawab pertanyaan Mikaela. Dia menggaruk-garuk tengkuknya, karena dia malu. Mikaela dapat menebak apa yang ada didalam pikirannya saat ini.
"Mas ... Mbak Nisa sudah menikah! Lupakan Mas," kata Mikaela.
"Tapi Mas belum bisa melupakannya. Mas masih sulit untuk menghilangkan raut wajah Nisa di dalam sini..!" Antoni menunjuk kepalanya dan dada.
"Belum bisa hilang! kami bersama sudah bertahun-tahun, bukan bulan !" kata Antoni.
"Aku tahu, mas. Sulit untuk melupakannya, tapi bagaimana juga, mas harus melupakan mbak Nisa. Dia sudah punya suami, bukan pacar. Jika hanya pacar, mas masih punya harapan untuk mbak Nisa kembali," kata Mikaela.
"Apa dia bahagia, El.... ?" tanya Antoni.
__ADS_1
"Sepengetahuan aku, Mbak Nisa bahagia. Apa Mas mengharapkan mbak Nisa tidak mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya?"
Antoni tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Mikaela. Dia menundukkan kepalanya, dan tangannya memukul-mukul stang sepeda motornya.
"Tidak boleh begitu, Mas! Seharusnya Mas itu mendoakan pernikahan Mbak Nisa itu baik-baik saja. Kita tidak boleh mendoakan yang buruk kepada orang lain. Nanti doa buruk itu akan berbalik kepada kita. Apa yang kita doakan harus yang baik-baik saja, agar kita akan baik juga. Mas harus move on dari mbak Nisa. Mungkin jodoh Mas itu masih berkeliaran di luar sana," kata Mikaela.
"Mas belum bisa untuk melupakannya," kata Antoni.
"Untuk sekarang mungkin belum Mas, seiring berjalannya waktu. Mas pasti bisa melupakan Mbak Nisa," kata Mikhaela.
"Mas keren begini. pasti tidak akan sulit untuk mendapatkan gadis yang benar-benar tulus memberi cintanya pada mas. Percayalah!" kata Mikaela
"Terima kasih ya, El. Kau masih mau bicara dengan Mas," kata Antoni.
"Walaupun Mas tidak jadi abang iparku. Kita masih bisa tetap menjalin tali silaturahmi. Jika Mas butuh teman untuk bicara, aku bisa menjadi teman cerita Mas Toni. Aku akan standby 24 jam," kata Mikaela.
*
*
Hari ini Mikaela berencana untuk mengunjungi Annisa. Setelah, hampir sebulan, dia tidak bertemu dengan Annisa. Karena kesibukannya dalam perkuliahan yang sedang diadakan ujian semester. Sehingga Mikaela dan kedua temannya sering berkumpul belajar bersama.
"Tidak kuliah, El?" tanya Aini, bundanya.
"Libur bunda, sudah selesai ujian semester ," jawab Mikaela.
"Sudah selesai ujian, ya. Bagaimana hasil ya? ada yang perlu mengulang ?" tanya Aini.
"Belum keluar daftar nilainya, bunda," sahut Mikaela.
"Prediksi bagaimana?" tanya Aini.
"Saat ujian sih... bisa mengisi lembar jawaban, tapi nggak tahulah...!" kata Mikaela.
"Pasti lulus semua, anak bunda ini kan jenius," kata Aini.
'Amin... ! semoga apa yang bunda katakan terjadi," kata Mikaela.
"Amin," ucap Aini.
__ADS_1