
Happy reading guys
......................
"Aku sudah hamil, mas. Kita tidak membutuhkan Mikaela lagi."
Apa yang dikatakan Annisa membuat Damar cukup terkejut. "Apa maksudmu, Nisa?"
"Ceraikan El, mas," kata Annisa.
"Ceraikan!"
"Iya... Ceraikan, kita tidak membutuhkan ibu pengganti mas. Aku sudah hamil !" seru Annisa dengan gembira.
Damar terdiam, dia bingung untuk berkata-kata. Permintaan Annisa berat untuk dilakukannya, karena dia telah merenggut kesucian Mikaela dan apa kata Mama dan papanya nanti, jika dia bercerai dengan Mikaela pada saat pernikahan belum ada sebulan.
"Kenapa mas ? Apa mas tidak mau menceraikan El?" mata Annisa menatap wajah Damar dengan tajam.
"Bukan Nisa, tapi masa secepat itu menceraikan Ela. Apa kata Mama, Papa dan bunda nantinya. Mereka akan marah pada kita Nisa."
"Aku tidak mau tahu, mas ! Mas harus menceraikan El, apa mas sudah tertarik dengan El?"
"Bukan itu alasannya Nisa, pikirkan perasaan El, masa belum sebulan dia sudah menjadi janda lagi."
"Aku tidak perduli ! Mas tetap harus menceraikan El, hidupku harus tenang mas, jangan sampai kita kehilangan bayi kita lagi, karena mas belum mau melepaskan El."
"Baiklah." akhirnya Damar mengalah, mau menuruti keinginan Annisa.
"Kapan mas akan menceraikan El?" tanya Annisa.
"Dalam seminggu ini, akan cari waktu untuk berbincang dengan Ela," kata Damar.
"Akhirnya, aku senang sekali. Kita punya anak yang lahir dari rahimku sendiri. Kita tidak butuh bantuan orang lain untuk mendapatkan anak. Semoga bayi ini laki-laki, mas ."
"Apapun itu, kita tetap harus bersyukur Nisa," kata Damar.
"Harus laki-laki, mas !" Nisa tetap ngotot untuk mendapatkan anak laki-laki.
Damar meletakkan kedua tangannya dipundak Annisa. "Nisa, terima apa yang diberikan oleh Tuhan. Jadikan pelajaran apa yang telah terjadi pada kita dulu."
"Baiklah."
Kehamilan Annisa sudah diketahui oleh bundanya dan sambutan bundanya biasa saja.
"Bunda tidak senang melihat aku hamil ? Kenapa bunda hanya bilang, selamat saja," kata Annisa.
__ADS_1
"Nisa, jangan terlalu eforia menyambut kehamilanmu, ini baru beberapa Minggu."
"Bunda melarang aku untuk bergembira? Bunda itu bundaku atau bukan ? Kenapa bunda tidak suka dengan apa yang terjadi padaku ? Sudahlah! Bunda pilih kasih, selalu menyayangi El ! Bunda harus tahu, aku sudah hamil. Aku tidak membutuhkan Mikaela lagi, dia akan menjadi janda untuk kedua kalinya ." usai berkata, Annisa keluar dari rumah bundanya.
Bunda Aini terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh Annisa. "Kenapa Annisa berubah menjadi seperti itu ? Aku seperti tidak mengenal putriku sendiri."
"Lebih bagus Mikaela menjadi janda, dari pada hidup menderita bersamamu," ucap bunda Aini sembari menatap punggung Annisa yang semakin menjauh.
Dari rumah Bunda Aini, Annisa singgah di tempat Grace. Dia dan Grace sudah berjanji untuk bertemu dengan Alex di restoran.
"Sudah lama Lex, maaf ya. Maklum ya, ibu hamil tidak boleh membawa mobil dengan ngebut," kata Annisa saat mendudukkan dirinya di kursi di samping Alex.
"Hah ! kau hamil Nisa?" Grace juga kaget mendengar berita kehamilan Annisa, begitu juga dengan Alex.
"Ya, baru mau memasuki empat Minggu," kata Annisa.
"Kenapa kau masih keluyuran ? Kehamilanmu masih rawan," kata Alex.
"Sok tahu kau Alex, dokter juga memperbolehkan aku untuk jalan-jalan, asal tahu batasannya. Kau mau makan apa Grace?"
"Makanan Alex sepertinya enak tuh ," kata Grace.
"Iya tuh... aku juga naksir dengan spaghetti Alex." Annisa menelan Saliva, saat melihat keju meleleh di atas spaghetti Alex.
Tanpa berkata ba-bi-bu lagi, Annisa menarik piring Alex dan menyuapkan spaghetti kedalam mulutnya. Apa yang dilakukan Annisa membuat Grace mendelik.
"Tahan nyonya, jangan buru-buru makannya ," kata Alex.
"Aku sangat lapar," kata Annisa.
"Apa kau ngidam Nisa?"
"Tidak! Aku lapar. Tenagaku habis karena kesal, aku butuh asupan nutrisi untuk menambah tenaga."
"Siapa yang membuatmu kesal ?" tanya Grace.
"Bunda," sahut Annisa disela-sela kesibukan menguyah spaghetti.
"Kenapa kau kesal dengan bunda, Nisa? tidak seharusnya kau bersikap begitu. Bundamu pasti sedih, Nisa," kata Alex.
"Karena kau tidak tahu apa yang dilakukan Bunda padaku, Lex. Jika kau dalam posisiku, kau pasti kesal juga," kata Annisa.
"Ada masalah apa?" tanya Grace.
Annisa menceritakan apa yang terjadi, saat dia kerumah bundanya untuk menyampaikan kabar gembira mengenai kehamilannya dan respon sang bunda yang biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Aku merasa bukan karena bundamu tidak senang berita yang kau sampaikan, tapi karena bundamu tidak terlalu gembira, karena kehamilanmu itu baru beberapa Minggu. Menurut orang-orang tua dulu, kita bisa gembira jika kehamilan itu sudah lebih dari empat bulan keatas," kata Grace.
"Sok tahu kau Grace ! menikah saja, belum. Apalagi hamil. Mitos kau percaya," kata Annisa.
"Sudahlah... Grace makan tuh spaghetti mu, dingin tidak enak lagi," kata Alex.
***
"Kapan Mas Damar bicara dengan Mikaela? apa Mas Damar berat untuk melepaskan Mikaela? Tidak boleh ! Mas Damar harus melepaskan El secepatnya. Aku tidak tenang jika El masih menjadi istri Mas Damar."
"Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? ah... Kenapa jadi rumit begini ." Annisa mengacak-acak rambutnya, karena kesal.
Sudah lewat dari seminggu, Damar belum juga berbicara mengenai status pernikahan mereka bertiga. Damar yang selalu pulang malam dengan alasan sibuk, membuat Annisa kesal.
Kehamilan Annisa yang sudah sampai ditelinga Mikaela, membuat Mikaela gembira. Dan dia menunggu apa yang akan dilakukan Annisa.
Sore menjelang malam, Mikaela pulang dari toko, Annisa menunggu Mikaela di paviliun.
"El, ada yang ingin aku katakan padamu ," kata Annisa yang menunggu kedatangan Mikaela didepan paviliun.
"Apakah ini akhirnya." batin Mikaela.
"Duduklah!" Annisa menyuruh Mikaela untuk duduk.
Mikaela menarik kursi untuk ditempatinya.
"Ini, mas Damar tidak bisa bicara secara langsung." Annisa meletakkan amplop yang dipegangnya ke atas meja.
"Surat apa itu, Mbak?" tanya Mikaela.
"Kau baca, dan lakukan apa yang ditulis Mas Damar dalam surat itu."
"Semoga secepatnya kau melakukan apa yang diminta mas Damar."
"Aku sedang hamil, El. Aku menginginkan ketenangan. Kehadiranmu membuat aku tidak tenang," kata Annisa dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Kami tidak membutuhkan bantuanmu lagi untuk mengandung anak kami. Lihatlah, Allah sudah mengizinkan aku untuk hamil lagi. Prediksi dokter tidak terbukti. Ternyata, kandungan aku tidak lemah."
"Aku mohon, jangan ada yang tahu," kata Annisa sebelum beranjak meninggalkan Mikaela.
Annisa pergi meninggalkan Mikaela. Mikaela membawa surat kedalam dan membukanya. Air matanya mengalir saat dia membaca apa yang ditulis oleh Damar. Ini memang yang diinginkannya, tapi dia ingin Damar bicara langsung kepadanya. Tidak seperti ini, hanya mengutarakan keinginannya melalui selembar kertas.
"Baiklah, jika ini yang kalian berdua inginkan. Semoga kalian bahagia."
Kilas balik ending
__ADS_1