Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 30 Masa lalu


__ADS_3

Happy reading guys


...----------------...


"Aku tidak akan mempermainkannya, bro ," kata Raffi.


"Baguslah! aku akan mendukungmu," kata Antoni.


"Sepertinya sangat sulit untuk mendapatkannya," kata Raffi.


"Jangan patah semangat, Bro. Aku juga menaklukkan sahabatnya, Inara juga sangat sulit. Bukannya yang sulit untuk didapatkan sangat berharga bagi kita . Dan kita harus menjaganya secara hati-hati, agar tidak terlepas dari genggaman," ucap Faiz.


"Betul." timpal Raffi.


"Sekarang kita berteman. Kita harus selalu menjaga perasaan pasangan kita masing-masing," kata Antoni.


Tiga gadis yang berjalan didepan ketiga pria, sesekali mencuri pandang memperhatikan apa yang dilakukan oleh ketiga pria yang ada dibelakang mereka.


"Lihat... Mereka sedang membicarakan apa ? Sepertinya mereka serius sekali bicara?" Kata Inara melihat kebelakang dan melihat ketiganya bicara dan sesekali tertawa.


"Apa mereka membicarakan gadis yang berpakaian kurang bahan itu?" Aira memonyongkan bibirnya menunjuk kearah seorang wanita yang sedang berdiri membelakangi mereka, dan sedikit membungkuk. Sehingga rok mini yang dipakainya sedikit terangkat, mengakibat paha jenjangnya terpampang jelas dilihat.


"OMG... ! Gila... Apa dia mau menunjukkan area terlarangnya?" Mata Mikaela terbelalak menatap wanita tersebut.


"Tidak bisa dibiarkan ini, kita harus membeli kacamata kuda untuk para ketiga pria tersebut," kata Aira.


"Untuk apa berpakaian, jika tubuh yang seharusnya dijaga dari pandangan mata omes terlihat jelas," kata Aira.


Ketiganya berhenti dan menunggu ketiga pria yang masih asyik berbincang dan tertawa sembari berjalan. Ketiganya tidak melihat Mikaela dan temannya berhenti sembari menatap dengan tatapan mata memicing.


"Eem...  " Inara berdehem sembari berkacak pinggang.


"Hei... Ina Sayang, ada apa? Apa sudah letih?" tanya Faiz seraya melangkah mendekati Inara.


Antoni juga bergerak maju menghampiri sang pujaan hati. Raffi tidak mau ketinggalan juga mendekati gadis yang belum bisa diraih hatinya tersebut.


"Apa yang kak Raffi tertawakan?" tanya Mikaela.


"Tertawa? Kapan?" Raffi tidak ngeh dengan pertanyaan Mikaela.


"Kami lihat, Mas Faiz tertawa rame. Apa kalian melihat gadis yang membungkuk, nyaris terlihat area terlarangnya itu?" tanya Inara dengan memicingkan matanya menatap wajah sang kekasih hati. Begitu juga dengan Aira, hanya Mikaela yang tidak. Karena dia merasa tidak mempunyai hubungan yang spesial dengan Raffi, sehingga dia tidak berkewajiban untuk waspada.


"Gadis? Kalian tahu apa yang dikatakan Inara?" tanya Faiz menatap wajah Antoni dan Raffi.


Raffi dan Antoni mengangkat bahu, lalu menggelengkan kepala, menandakan mereka tidak tahu dengan apa yang dikatakan oleh Inara.


"Kalian melihat gadis yang berdiri didepan toko itu tadi kan?" kini Aira yang bertanya, dan ketiganya masih dalam mode kebingungan.


"Toko mana? Apa kalian mau belanja lagi? Ayo... Tangan kami masih sanggup menenteng beberapa barang lagi," kata Antoni.


"Bukan hanya tangan saja. Dompet kami mau kalian kosongkan isinya, kami rela," kata Faiz.


"Mas Faiz kira kami mata duitan? Tidak ya...! Kami punya uang untuk belanja... !" kata Inara.

__ADS_1


"Kekasih kita tidak mata duitan, Faiz," kata Antoni.


"Kami tidak mata cuan! tapi kalau mau dibayarin, ya tidak nolak.... !" kata Inara dengan dibarengi tawa kecil dari mulutnya.


"Mas Toni melihat cewek yang bajunya kurang bahan tadi kan? Makanya kalian tertawa gembira?" tanya Aira kembali.


"Gadis baju kurang bahan? Apaan itu? Bagaimana baju kurang bahan?" tanya Antoni yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Aira..


"Baju yang sobek sana sini. saking pendek bajunya, sampai-sampai terlihat bokongnya." tambah Inara..


"Mas lihat kan?" tanya Aira.


"Pasti! Tidak diragukan lagi. Laki-laki mana bisa menolak pandangan mata, melihat barang mulus," kata Mikaela sembari memberikan tatapan mata yang tajam kepada Raffi.


"Cemburu?" tanya Raffi pada Mikaela.


"Oh... Tidak! Untuk apa aku cemburu? Kita tidak ada hubungan," kata Mikaela. lalu mencebikkan bibirnya.


"Kalau tidak cemburu, untuk apa ditanyakan apa kami lihat atau tidak," kata Raffi.


"El tidak cemburu. Aku cemburu! Mas Toni itu milikku ! Mas harus melihatku saja."


"Betul! Aku cemburu. Mas Faiz tidak boleh melirik cewek lain, titik... !" seru Inara dengan tegas.


"Kami tidak ada melihat gadis yang seperti kalian katakan. Betulkan? apa kau ada lihat Faiz ?" Antoni melihat pada Faiz .


Faiz menganggukkan kepalanya.


"Tidak ada gadis seperti yang kalian gambarkan, kami hanya fokus berjalan. Tidak melihat kiri-kanan," kata Antoni.


"Kalian berada didepan, kami dibelakang seperti bodyguard," kata Faiz juga.


"Betul? Karena itu?" Inara belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Faiz.


"Betul," sahut Faiz.


Aira menghampiri Antoni dan melingkarkan tangannya pada lengan Antoni. "Begini tidak terlihat seperti bodyguard kan ?" tanya Aira.


Ketika Aira dan Inara mengintrogasi Antoni dan Faiz. Mikaela mengangkat ponselnya yang bergetar dan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan telepon tersebut,


"Kalau begini seperti sepasang kekasih " senyuman terukir indah dibibir Antoni. Dia senang dengan apa yang dilakukan oleh Aira, karena saat dia berhubungan dengan Annisa dulu, Annisa tidak mau Antoni dekat-dekat jika berjalan atau bergandengan tangan.


Inara juga mengandeng tangan Faiz, hanya Raffi yang tidak.


"Semangat bro, kau pasti akan bisa mendapatkannya," kata Antoni.


"Pepet terus bro," ujar Faiz.


"Semangat pak !" seru Inara juga, begitu juga dengan Aira memberi semangat untuk Raffi untuk mengejar cinta Mikaela.


Mikaela yang sedang menerima telpon tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Antoni dan Faiz.


Selesai bicara, Mikaela kembali ketempat Aira dan Inara dengan wajah yang terlihat sedih.

__ADS_1


"Guys... aku tidak bisa ikut kalian nonton," kata Mikaela,


'Hah... ! kenapa?" tanya Aira.


"Ada apa El? apa ada masalah di toko?" tanya Inara.


"Ada apa Ela?" tanya Raffi yang melihat raut wajah Mikaela tidak secerah tadi, kini wajahnya dibaluti mendung.


"Bunda baru beri kabar, mbak Nisa masuk rumah sakit."


"Nisa." gumam Antoni dalam hati, mengikuti mendengar Nisa sakit.


"Mbak Nisa? Mbak Nisa kan sedang hamil? apa melahirkan?" tanya Inara.


"Ngaco ! Mbak Nisa baru hamil tiga bulan," kata Aira.


"Maaf guys," kata Mikaela.


"Mbak Nisa sakit apa?" tanya Inara.


"Aku belum tahu pastinya, mbak Nisa sakit apa. Aku balik ya," kata Mikaela.


"Ayo aku antar," kata Raffi.


"Kak Raffi tidak mau ikut nonton?" tanya Mikaela.


"Tidak! bisa-bisa aku jadi nyamuk di antara pasangan lagi kasmaran," kata Raffi.


"Bye guys... maaf ya," kata Mikaela.


"Bye.... !" balas Aira dan Inara.


Mikaela dan Raffi bergegas masuk kedalam lift untuk keluar dari dalam mall.


"Bagaimana?" tanya Faiz.


"Bagaimana apanya?" balik tidak Inara.


"Jadi nonton kita?" tanya Faiz.


"Jadilah... sudah sampai sini koq batal. Ayo.... !" Antoni menarik tangan Aira membawanya pergi.


"Mas tidak apa-apa?" tanya Aira saat keduanya sedang membeli tiket.


"Kenapa denganku?" tanya balik Antoni.


"Mbak Nisa.... "


"Dia masa laluku!" potong Antoni.


Wajah Antoni keras, saat menyebut Annisa hanya sebagai masa lalu.


next...

__ADS_1


Jangan lupa untuk like komentar dan vote..🙏


__ADS_2