Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 88 Mengadu


__ADS_3

Happy reading guys.


Cerita kilas balik...


......................


Mikaela turun dari mobil, dengan berkerudung hitam dan membawa seikat bunga lili putih Mikaela masuk kearea pemakaman yang terlihat asri. Sepanjang jalan semakin masuk kedalam area pemakaman, di sepanjang jalan, langkah kakinya disambut dengan bunga-bunga Kamboja yang berguguran. Angin sepoi-sepoi membuat Mikaela teringat dengan apa yang pernah dilaluinya bersama dengan Raffi.


Mikaela mengehentikan langkanya. "Kak Raffi, aku datang." Mikaela melihat pusara yang ditumbuhi dengan rumput beberapa langkah lagi dari tempat dia berada.


Tiba di makam Raffi, Mikaela berlutut dan menyapu nisan Raffi dan meletakkan kepalanya di nisan. Tanpa bisa dibendung lagi, Mikaela mengucurkan air matanya.


"Ah... Aku cengeng ya kak ? Aku menangis lagi. Oh... Ya, apa kabar kak ? Kakak pasti sudah bahagia di sana, kan ? Tidak memikirkan duniawi yang penuh dengan warna. Apa kakak sudah bertemu dengan ayah dan bunda? Bisakah kakak meminta ayah dan bunda menjemputku saja? Aku capek kak ." Mikaela mengusap air mata yang semakin banyak menutupi kedua bola matanya, sehingga membuat pandangan matanya menjadi buram.


"Oh... Ya kak, ayah juga sudah pergi. Apa kakak sudah bertemu? Apa ayah marah pada kakak? Ah... Betapa bahagianya kakak, bisa bersama dengan orang-orang yang kakak sayangi. Sedangkan aku, hanya ada bunda."


"Kak, apa Mama juga marah padaku? Seperti Alin, kak. Alin begitu membenciku, kak Raffi. Apa benar dengan apa yang dikatakan oleh Alin, aku yang bersalah di sini ? kepergian mama kesalahanku ? Karena menghantarkanku, mama meninggal. Apa salahku, kak ? Katakan kak Raffi."


Mikaela terus meluapkan rasa sedihnya yang selama ini disimpannya dalam hati. Hari ini, di makam Raffi Mikaela tidak bisa membendungnya lagi. Kata demi kata meluncur dari dalam mulutnya dengan disertai suara isakan.


"Kakak pasti bosan mendengar curahan hatiku ini. Maafin aku kak."


"Aku bingung kak Raffi. Apa yang harus aku lakukan dengan permintaan mbak Nisa dan Tante Amelia. Apa yang harus aku lakukan kak ? Tolong berikan aku petunjuk kak Raffi, apa yang harus aku lakukan. Ayah sudah aku tanyakan, tapi ayah tidak memberikan aku petunjuk. Apa ayah menginginkan aku untuk membantu mbak Nisa, kak Raffi? apa ayah mengharapkan aku untuk membalas budi dengan membantu mbak Nisa?" Mikaela terus berbicara dengan mengelus-elus nisan Raffi. Setelah merasa puas meluapkan keluh kesahnya, Mikaela meninggalkan area pemakaman yang sepi.


***


Annisa duduk dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Matanya melihat tangannya yang dibalut kain kasa putih.


"Ada apa dengan aku ini ? Kenapa aku seperti orang yang tidak mengenal Tuhan?" Annisa menyesali tindakan yang dilakukannya, yaitu bunuh diri. Dia sebenarnya hanya ingin mengancam Damar, bukan benar-benar ingin melukai tubuhnya, tetapi entah setan mana yang memasuki alam pikirannya, awal ingin menakuti saja, Annisa kebablasan.


"Semoga apa yang kulakukan ini akan mendapatkan hasil yang bagus, sia-sia aku membuat tanganku sakit, jika Mas Damar tidak mau juga mengambil Mikaela sebagai ibu pengganti."


"Orang itu yang membuat aku begini ? Siapa orang itu ? Apa orang yang sama? Rekan bisnis Mas Damar ? Tapi Mas Damar mengatakan, dia tidak ada hubungan apapun dengannya. Dan orang yang aku suruh mengikuti Mas Damar, juga tidak menemukan keanehan dengan keseharian Mas Damar? Apa orang itu ingin membuat aku gila?"

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, membuyarkan lamunan Annisa. Annisa melihat sang suami, Damar masuk.


"Papa dan Mama datang," kata Damar.


"Papa dan Mama datang? Mas bilang apa apa yang aku lakukan?"


Damar menggelengkan. "Mama tadi sudah datang, bertepatan saat dokter pulang. Aku tidak bisa menyembunyikan lagi."


"Mereka pasti membenciku." batin Annisa.


"Ayo, bisa turunkan? Apa mama dan papa kita minta ke sini ?"


"Jangan mas ! Aku bisa untuk turun menemui papa dan mama. Tanganku ini tidak akan membuat kakiku tidak bisa berjalan."


Kini keduanya duduk bersama dihadapan Aryan dan Amelia, Papa dan Mama Damar.


Annisa menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup membalas tatapan mata Papa Damar yang lekat melihatnya.


Annisa mengangkat kepalanya. " Alhamdulillah, Nisa baik-baik saja, Pa," sahut Annisa.


Damar meraih tangan Annisa dan menggenggamnya, karena dia tahu, Annisa gugup berada dihadapan kedua orangtuanya.


"Papa sudah tahu, kenapa kau nekad melakukan tindakan bodo. Tapi apa kau tidak tahu, Nisa. Apa yang kau inginkan itu tidak bisa dilakukan di Indonesia," kata Aryan, Papanya Damar.


"Tidak bisa dilakukan di Indonesia? Siapa yang bilang? Bisa di lakukan di Indonesia," kata Annisa.


"Siapa yang bilang, Nisa?" tanya Amelia, Mama Damar.


"Kami sudah bicarakan dengan dokter, ma. Bolehkan, mas ? Dokter kan membolehkan melakukan program bayi tabung."


"Kau pasti salah paham dengan apa yang dikatakan oleh dokter, Nisa. Yang diperbolehkan itu, pembuahan antara suami dan istri. Bukan pembuahan antara suami dan istri, dititipkan kepada wanita lain, istilahnya ibu pengganti." terangkan Amelia.


"Jadi, kita tidak bisa mendapatkan anak melalui ibu pengganti, mas ?" Annisa melihat Damar.

__ADS_1


"Kau yang menginginkannya, Nisa. Bukan aku ," kata Damar dalam hati.


"Di luar negeri bisa, tapi papa tidak akan setuju. Jika kalian menginginkan seorang anak, sampai istrimu melakukan tindakan gila. Damar, kau menikah lagi !" kata Aryan dengan tegas.


"Papa !" Damar tersentak.


"Apa !?" Annisa kaget dengan apa yang dikatakan oleh papa mertuanya.


"Menikah lagi, lahirkan anak melalui pernikahan yang resmi. Papa tidak akan menyetujui cucu Wiratama lahir melalui ibu pengganti. Bagaimana Nisa? Kau setuju, kan ?" tanya Aryan.


"Apa yang kau lakukan hari ini sudah membuat kami khawatir, Nisa. Tindakanmu itu, dengan cara ingin mengakhiri hidup, bisa berdampak pada perusahaan. Apa kau tidak memikirkan tindakanmu diketahui orang dan menuduh Damar menyakiti istrinya," kata Amelia.


"Menikah lagi Damar, agama juga mengizinkan dengan alasan yang masuk akal. Dan alasan juga karena Annisa yang tidak bisa melahirkan keturunan. Kau sendiri mengakui kekuranganmu itu kan, Nisa," kata Aryan.


"Pa, aku tidak bisa." tolak Damar.


"Katakan pada istrimu, Dam. Papa tidak ingin dia melakukan tindakan gila lagi. Kehormatan yang kita peroleh didalam dunia usaha tidak mudah kita capai. Pengorbanan kakekmu dalam mendirikan perusahaan, jangan sampai cacat di masa kita memegangnya," kata Aryan.


"Kami tidak memaksamu, kan Nisa. Kau sendiri yang terobsesi untuk memiliki anak." tambah Aryan.


"Jika kita lakukan ibu pengganti dengan secara diam-diam, kita bayar dokternya. Dokter pasti mau," kata Annisa.


"Nisa !" tegur Amelia dengan suara yang keras.


"Tidak ada keturunan Wiratama yang ingin mendapatkan sesuatu dengan melanggar hukum!" kata Amelia dengan suara yang sedikit keras kepadanya Annisa.


"Maaf ," kata Annisa.


"Kalian pikirkan itu, hanya itu satu-satunya jalan untuk kalian mendapatkan anak. Menikah resmi."


"Aku menolaknya, Pa," kata Damar.


Next...

__ADS_1


__ADS_2