
Happy reading
...****************...
Antoni sibuk menenangkan Faiz. Aira berusaha untuk menghubungi Mikaela.
"Ponsel El tidak aktif lagi," ujar Aira yang terus berusaha untuk menghubungi Mikaela.
"Apa dia belum sampai? Tidak mungkin belum sampai. Atau dia sudah tidur? Tidak mungkin juga! Di inggris kan pagi ini."
"Apa mungkin nomornya belum bisa di gunakan di luar negeri?"
Aira bicara sendiri, dengan sesekali melihat Antoni dan Faiz yang duduk di bangku taman yang ada di rumah sakit.
Faiz terus menyalahkan diri dengan apa yang dialami oleh Inara.
"Aku jahat... Aku jahat!" ucapan berulang ulang dikatakan oleh Faiz menyesali diri.
"Ini semua musibah Faiz, kalau sudah kehendak Tuhan akan terjadi pada Inara musibah ini. Kau tidak pergi ke cafe dengan gadis itu, Inara akan mendapatkan musibah ini."
"Musibah adalah ujian dan takdir Allah. Hal ini perlu kita tanamkan dalam keyakinan kita bahwa ujian dan cobaan adalah tanda kasih sayang Allah pada kita Faiz," tambah Antoni.
"Aku tidak suka musibah yang diberikan oleh Tuhan ini, Toni! Kenapa cobaan seberat ini yang diberikan Nya?" tanya Faiz seraya menatap wajah Antoni lekat.
"Kenal?" tanya Faiz kembali.
Antoni bingung untuk menjawab pertanyaan Faiz. Dia bukan seorang ahli agama yang bisa menjawab pertanyaan Faiz.
Antoni tertolong dengan kehadiran Aira, jika tidak tadi, Antoni pasti bingung menjawab pertanyaan Faiz.
"Sudah katakan pada El?" tanya Antoni.
Aira menggelengkan kepalanya. "Ponselnya tidak aktif," jawab Aira.
"Mungkin tidur, sepertinya mereka baru sampai," kata Antoni setelah melihat jam tangannya.
"Kenapa mas ?"
Antoni mengangkat kedua bahunya.
"Aku masuk ya mas," kata Aira.
"Belikan minum untuk Om dan Tante Ai ," kata Antoni.
"Iya mas ," sahut Aira, lalu kemudian berlalu meninggalkan Antoni yang menemani Faiz.
***
Setelah saling mendiamkan hampir satu harian, kini Damar dan Annisa berdamai. Kini keduanya berada dibawah selimut dalam keadaan polos.
"Mas, maafkan Nisa ya." Nisa meletakkan kepalanya di atas dada polos sang suami.
"Mas juga minta maaf," kata Damar.
"Aku akan menjaga anak kita mas. Aku akan meninggalkan semua kegiatan bersama dengan teman-temanku."
"Aku itu tidak membatasi semua kegiatan yang kau ikuti Nisa, hanya harus tahu waktu. Prioritaskan keluarga. Jangan sampai keluarga terbengkalai karena mengikuti kegiatan sosial."
"Iya mas," sahut Annisa.
__ADS_1
"Mas, sebelum kita melakukan program bayi tabung. Bagaimana jika kita melakukan liburan mas. Minggu depan ulang tahun pernikahan kita yang ke enam tahun," kata Annisa.
"Ulang tahun pernikahan yang ke enam ? Sudah enam tahun kita menikah ?"
Annisa memukul dada Damar dan berkata. "Ih... Mas lupa ya?"
"Ya... ," sahut Damar.
"Mau kemana?" tanya Damar.
"Kemana ya ? Bingung mas ," kata Annisa.
"Indonesia saja ya. Puncak mau ?" tanya Damar.
"Koq puncak mas ! Dekat rumah lagi, liburan itu ke luar negeri mas! Ke Swiss gitu... Aku belum pernah ke sana."
"Kalau keluar negeri tidak bisa, perusahaan sedang sibuk."
"Mas ini !" Annisa mencebikkan bibirnya.
"Luangkan waktu untuk beristirahat mas!" kata Annisa.
"Jika kebanyakan istirahat, uang untuk liburan menipis. Mau ? Kita tidak bisa liburan keluar negeri? Walaupun perusahaan milik sendiri, tapi aku itu di gaji. Tidak bisa sesuka hati memakai uang," kata Damar.
"Papa juga tidak bisa menggunakan keuangan sesuka hati." tambah Damar.
"Kalau begitu, mas kerja saja," kata Annisa, begitu mendengar keuangan akan menipis jika kebanyakan istirahat.
"Dari pada tidak bisa liburan keluar negeri." batin Annisa.
Damar ngekeh dalam hati, mendengar Annisa menyuruh dirinya untuk bekerja, karena takut uang menipis.
***
Setelah mengantarkan Mikaela kekamar, Raffi keluar menuju kamar sang Mama. Raffi mengetuk pintu kamar sang Mama terlebih dahulu. "Tidak makan dulu ma ?" tanya Raffi dari pintu kamar sang Mama.
Yuni, mama Raffi membuka matanya yang sudah sangat sayu. "Mama mau tidur dulu, mata mama sudah tidak bisa di ajak kompromi. Walaupun di dalam pesawat bisa tidur, tapi tidak nyaman."
"El bagaimana?" tanya Yuni.
"Tidur ma, katanya sudah kenyang," jawab Raffi.
"Mama juga mau tidur, besok pagi saja sarapan." Yuni kembali memejamkan matanya . Raffi menutup pintu kamar sang mama.
"Keduanya tidur, aku tidak ngantuk ," kata Raffi.
"Baru jam 10 malam."
Karena belum mengantuk, Raffi mengambil laptopnya dan membawanya ke atas ranjang. Sebelum mengerjakan pekerjaan yang tertunda karena menjemput Mama dan Mikaela ke bandara, Raffi mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk.
Pesan dari Aira membuat Raffi kaget. Raffi menghubungi Aira, tapi ponsel Aira tidak menjawab.
"Di Indonesia siang hari, Aira pasti kerja. Aku hubungi Toni saja."
Antoni menjawab panggilan telepon Raffi dan menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Inara. Setengah jam bicara dengan Antoni, keduanya mengakhiri sambungan telepon.
"Semoga Inara tidak apa-apa, kakinya bisa normal." batin Raffi.
"El pasti sedih mendengar apa yang terjadi pada Inara. Sayang sekali, inggris Indonesia tidak dekat."
__ADS_1
Jam 7 pagi waktu inggris, Mikaela dan Yuni sudah terlihat segar dan fresh.
Selesai sarapan pagi, baru Raffi menceritakan apa yang dialami oleh Inara.
Mikaela kaget dan langsung mengunjungi Aira melalui ponsel Raffi. Karena nomor Mikaela belum bisa di pakai.
Mikaela ("Ai... Katakan sejujurnya, Inara tidak apa-apa kan ?" tanya Mikaela disertai suara tangis dari bibirnya.)
Aira ("Aku tidak bisa mengatakan kondisi Inara, El. Inara masih berada di dalam ruang pemulihan pasca operasi," kata Aira melalui sambungan telepon.
Mikaela ("Aku mau pulang, Ai ")
"Aira ("Gila kau ! Baru sampai sudah mau pulang! Kau kira inggris Indonesia itu Jakarta Depok !" kata Aira)
Mikaela (Aku tidak tenang di sini, kenapa saat aku pergi, Inara mendapatkan musibah.")
Aira (Sudah takdir El, sudahlah... Kita do'akan saja Inara segera pulih dan sehat kembali.")
Mikaela mengakhiri sambungan telepon dan memberikan ponsel kepada Raffi.
"Makan El," ujar Mama Yuni meletakkan roti panggang dan coklat susu.
"Maaf ya, hanya ada ini. Aku biasanya makan di tempat pertemuan," kata Raffi.
"Hari ini tidak ada kerjaan?" tanya Yuni pada Raffi.
"Libur ma," sahut Raffi.
"Kalau begitu kita belanja, tidak mungkin mama dan El makan keluar terus. Perut mama tidak konek dengan makanan sini."
"Iya ma, makanan sini terlalu berlemak. Semua masakan diberi keju," kata Mikaela.
"Lidah kita lidah Indonesia ya El... kambing hanya nerima sambel dan tempe goreng," kata Yuni dengan tertawa.
"Bahagianya aku... bisa makan masakan Mama," kata Raffi.
"Jam berapa kita belanja?" tanya mamanya.
"Sedikit siang ma, biar tidak dingin," kata Raffi.
"Di sini pagi siang sama saja, tetap dingin," kata Yuni.
"Iya ma," ucap Mikaela menimpali perkataan sang mama mertua.
Raffi membawa Mamanya dan Mikaela pergi ke supermarket yang lumayan besar di dekat apartemen.
"Itu supermarketnya." Raffi menunjuk kearah supermarket di seberang jalan.
"Itu sih bukan supermarket, tapi mall. Besar begitu," kata Mikaela.
"Supermarket besar, dan lengkap barang-barangnya. Produk Indonesia juga banyak," kata Raffi.
Raffi menggandeng mama dan El untuk menyeberang.
Sampai tiba-tiba, ada mobil yang oleng dan...
"Mama.... !"
Teriakkan Raffi.
__ADS_1
Bugh....
Next....