
"Apa Mas bisa sabar? Adik sepupu mas itu sudah punya momongan. Mas yang lebih tua belum di berikan momongan," kata Annisa, yang mengingatkan Damar mengenai Evi adik sepupu Damar yang menikah tidak lama berselang dengan pernikahan Damar dan Annisa .
"Memiliki seorang anak bukanlah suatu perlombaan Nisa. Siapa yang duluan mendapatkan seorang anak yang akan menjadi pemenang. Lihat saja, kita nanti yang lebih banyak anak. Anak kita nanti ada sepuluh," ucap Damar dengan nada bergurau.
"Mas ini... aku serius lo....!" Annisa memanyunkan bibirnya. Dia kesal mendengar gurauan sang suami. Setiap dia mengajak sang suami membahas masalah anak, Damar selalu bergurau, tidak pernah menganggap serius masalah momongan yang dibicarakan Annisa.
"Mas juga serius Nisa. Kita memiliki banyak anak, slogan keluarga berencana cukup anak dua saja tidak berlaku bagi kita ." Damar kembali melucu.
"Terus saja bergurau!" Annisa sudah menunjukkan gelagat untuk ngambek.
Damar melingkarkan tangannya dipundak, dan berkata. Annisa"Maaf ," ujar Damar.
"Mas," ujar Annisa.
"Em ," sahut Damar.
"Jika kita tidak bisa selamanya memiliki anak, bagaimana? apa mas akan menikah lagi?"
"Apa Nisa mengizinkan mas untuk menikah lagi? jika izin turun, besok mas mau seleksi gadis yang mau dijadikan istri ," kata Damar dengan nada bergurau.
Dengan spontan kedua tangan Annisa melayang memukul lengan sang suami berkali-kali.
Pakk... pakk..
"Mas..!" Annisa mendelik kesal, mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami.
"Ha...ha...ha..!" Damar tertawa ngakak melihat Annisa cemberut.
"Loh... koq mas dipukul? kan Nisa tanya, mas jawab," kata Damar menggeser posisi duduknya menjauhi Annisa yang memberikan tatapan mata yang jutek padanya.
"Aku akan membuat itu mas... !" ancam Annisa sembari menggerakkan tangannya seperti menggunting, dengan bibir mengerucut ke arah tubuh bagian sensitif Damar.
"Hih... Seram..!" Damar pura-pura takut, dan mengendikkan bahunya.
"Awas... !" ancam Annisa.
"Mas tidak akan menikah lagi, sampai maut memisahkan kita," ucap Damar.
"Janji."
"Janji," sahut Damar.
***
"Bu, tadi Nisa datang?" tanya Aiman, sang suami pada istrinya. Aini.
"Iya, Yah. Menghantarkan oleh-oleh. Damar dan Nisa baru pulang dari luar negeri.Tuh... bawa coklat untuk El dan pakaian untuk kita," kata Aini.
__ADS_1
"Mereka keluar negeri, kita selalu kebagian oleh-oleh ," Aiman.
"Iya, Yah... Sudah dibilangin, tidak usah bawa apa-apa. Tapi tetap saja bawa barang-barang untuk kita."
"Terima saja Bu, itu niat baik menantu dan putri kita," ucap sang suami.
"Nisa juga memberi kita uang, Yah. Ibu tidak mau menerimanya, tapi Nisa marah ibu tolak ," kata Aini.
"Mau bagaimana mana lagi, Bu. Kita sudah menolak. Tapi, mantu dan putri kita tidak mau mendengar penolakan kita."
"Terima saja, tabung Bu. Mungkin, suatu waktu. Uang pemberian mantu dan putri kita itu berguna. Sekarang ini Kita belum membutuhkannya, mungkin suatu waktu kita membutuhkannya," kata Aiman pada sang istri.
"El mana Bu? Bukannya hari Sabtu El tidak kerja?" tanya Aiman, mengenai putri adiknya tersebut.
"Tadi katanya mau ke toko."
" El sangat gigih dalam berusaha. Apa dia tidak repot, bekerja dan menghandle toko baju," kata Aiman mengenai Mikaela yang baru beberapa bulan ini membuka butik khusus untuk anak kecil.
"Ibu sudah tanya, Yah. Dinda bilang tidak repot, karena karyawan tokonya bisa diandalkan," kata Aini.
"Baguslah," kata Aiman.
"Ayah bersihkan badan, biar kita makan. El sebentar lagi pulang. El bilang tidak lama di toko," kata Aini.
Aiman masuk kedalam kamarnya, sedangkan sang istri kembali menuju dapur. Untuk menyiapkan makan malam..
"Assalamualaikum... Bunda.. !" suara Mikaela terdengar dari depan sampai dapur.
"Bun.... !" Mikaela melangkah menuju dapur dengan langkah lebar, kedua tangan menenteng dua tas besar.
"Kenapa teriak-teriak? Pendengaran Bunda masih tajam," kata Aini. Karena Mikaela mengucapkan salam dengan suara yang sedikit nyaring.
"Maaf Bunda," ucap Mikaela dengan senyuman terukir di bibirnya.
"Ada apa? Kenapa gembira sekali? bawa apa itu ?" tanya Aini..
"El senang hari ini, Bun.... ." Mikaela mengatakan, kenapa dirinya gembira, karena toko yang baru dibukanya, sudah mendapatkan sedikit keuntungan.
"Alhamdulillah." Bunda Aini mengucapkan syukur, karena senang toko Mikaela sudah menampakkan hasil yang bagus.
Aiman datang ke dapur, dan melihat istrinya dan Mikaela yang gembira. Aiman bertanya, apa yang membuat keduanya gembira. Sang istri yang bercerita, apa yang membuat keduanya gembira.
Aiman juga turut senang mendengar apa yang di ceritakan sang istri, menasehati Mikaela jangan larut dalam euforia berlebihan. Dan harus selalu memperhatikan kwalitas produk yang dijualnya dan jangan dulu buka cabang tempat lain.
"Betul kata ayah, El. Jangan keburu-buru untuk membuka toko yang lain lagi. Satu toko, tetapi barangnya bagus," kata Bunda Aini.
"El juga maunya begitu. Cukup satu toko saja. El ada ide mengenai toko. El butuh masukkan dari ayah dan Bunda," kata Mikaela.
__ADS_1
"Ada apa? Apa El ingin menikah?" tanya Aiman. Apa yang ditanyakan oleh Aiman, membuat Mikaela membesar matanya.
"Ayah...! El masih kecil. Belum kepikiran untuk menikah... ini mengenai toko ! tidak ada hubungannya dengan pernikahan !" kata Mikaela tegas.
Aini dan Aiman tertawa.
"Lalu apa yang membutuhkan masukan dari ayah dan Bunda," kata Aiman.
"El ada ide. Bagaimana menurut Ayah dan Bunda , jika El merancang dan menjahit sendiri baju yang akan dipasarkan di toko ?" tanya Mikaela pada Aiman dan Aini.
"Lantai atas toko kosong, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan." Mikaela mencetuskan ide yang ada dalam benaknya.
Aiman dan sang istri saling bertukar pandangan.
Lalu Aiman membuka mulutnya. "Ide yang bagus. Tapi menurut Ayah, pikirkan lagi dengan matang. El harus mencari penjahit yang profesional, jangan sembarang. Jangan sampai produk pakaiannya asal jadi," kata Aiman.
"Itu yang El pikirkan Yah, bagaimana kita mencari penjahit yang bagus."
"Kalau menurut Bunda, masalah mencari penjahit yang bagus tidak terlalu sulit. Banyak ibu rumah tangga yang bisa menjahit bagus. Hanya mereka tidak bisa meninggalkan keluarganya dengan bekerja diluar," kata Aini.
"Lalu bagaimana, Bun ?"
"Bagaimana jika kita pekerjakan ibu rumah tangga yang mahir menjahit, mereka bisa mengerjakan jahitannya di rumah. Bagaimana?" usul Aini.
"Ayah setuju," kata Aiman.
"El juga setuju, mereka mendapatkan penghasilan, tanpa meninggalkan keluarga yang harus di jaganya," kata Mikaela.
"Apa bunda ada kenal? mungkin tetangga kita ada yang mahir menjahit Bun?"
"Ada satu orang bunda tahu, jahitannya sangat bagus dan rapi."
"Siapa Bun?" tanya Mikaela.
"Yayuk, yang rumahnya di pinggir kali itu. Ayah kenal dengan Yudi ?" tanya Aini pada suaminya.
"Yudi yang kecelakaan dan sekarang tidak bisa berjalan itu, Bu?" tanya Aiman.
Aini mengangguk, " Ya ," sahut Aini.
"Siapa ya Bun, aku koq tidak kenal."
"Baru setahun mereka pindah ke daerah sini, Yudi itu tukang ojek motor. Kecelakaan lima bulan yang lalu, tidak bisa bekerja. Yayuk dulu pernah kerja di konveksi." cerita Aini.
"Kita ke sana Bun, semoga mbak Yayuk mau," kata Mikaela.
"Pasti mau, setelah kecelakaan suaminya, dia kerja serabutan."
__ADS_1
"Nanti kita tanya Yayuk, mungkin ada orang yang dikenalnya yang mau kerja dari rumah," kata Aini.
Next