Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 68 Sadar


__ADS_3

Happy reading guys


...****************...


"Apa kau bilang? keluarga pembunuh ?" Annisa marah. Dia melangkah mendekati Alin yang berdiri tiga langkah dari tempat Annisa berada.


"Nisa !" Damar meraih tangan Annisa.


Annisa menggerakkan kepalanya melihat Damar. "Lepas mas !"


Dengan sekali sentak, pegangan tangan Damar terlepas dari tangan Annisa. Annisa melanjutkan langkahnya.


"Alin ... Jangan tingkahmu ." adik Yuni memperingati Alin, tapi Alin mengindahkan perkataan sang Tante.


"Jangan cegah aku Tante... ! Keluarga pembunuh... ! Untuk apa mereka datang mengotori makam Mama."


"Alin !"


"Apa? kak Aldo mau marahin Alin? Kak Aldo mau bela keluarga pembunuh?"


"Cukup kegilaanmu itu Alin. Hentikan! Mama akan sedih melihat kau seperti ini, Alin! Jangan menyalahkan orang yang tidak bersalah atas kepergian Mama! Apa kau kira kakak ipar Mikaela tidak sedih dengan musibah ini ! Kau menyalahkan kakak ipar, karena menghantarkannya ke Inggris, mama kecelakaan? Kau sungguh sudah kehilangan akal sehat Alin.... !" kata Aldo dengan emosi.


"Ini sudah kehendak Tuhan Alin, jika tidak pergi ke Inggris, mungkin kecelakaan yang menimpa mama terjadi di Indonesia ! Kalau kau berani, salahkan Tuhan Alin !" Aldo benar-benar emosi kepada Alin, sehingga menyuruh Alin untuk marah pada sang pencipta.


"Aldo." Tante Nina, adik Mama Yuni menenangkan Aldo yang meradang dibuat oleh Alin.


"Aldo kesal Tan... Alin tidak memikirkan orang juga sedih dengan kejadian ini. Dia mengira hanya dua yang berduka... ! Kakak ipar juga berduka... Lihatlah kakak ipar sekarang ini !"


"Ayo kita pulang, tidak boleh ribut di area pemakaman," kata Arfan, suami Tante Nina.


Arfan menyuruh sang istri untuk membawa Alin meninggalkan area pemakaman. Nina menarik tangan Alin yang meronta dibawa oleh Nina. Entah apa yang dikatakan oleh Nina, sehingga Alin berhenti meronta.


"Mbak Nisa, maafkan kesalahan Alin ya," kata Aldo.


"Iya... Nggak apa-apa. Bagaimana keadaan Raffi, sudah ada perkembangan?" tanya Annisa.


Aldo menggelengkan kepalanya.


"Yang sabar ya, oh... Ya. Bunda dan Ayah minta maaf, karena tidak bisa menghantarkan Tante Yuni ke tempat peristirahatan terakhirnya."


"Tidak apa-apa mbak Nisa, kami maklum. Om dan Tante pasti menjaga kakak ipar. Bagaimana sekarang mbak ?"


'Masih seperti itu, kita ajak bicara tidak merespon."


Di rumah sakit


Aira mengajak Mikaela untuk bicara, dia menceritakan masa lalu saat mereka masih jaman sekolah. Aira menceritakan masa-masa mereka dulu, untuk Mikaela sadar. Tapi nihil, tidak ada respon dari Mikaela.

__ADS_1


Melihat itu, ayah Aiman dan bunda Aini menitikkan air mata. Ayah Aiman tidak tahan melihatnya, pergi keluar dari dalam kamar.


"Ayah kenapa di luar?" tanya Annisa.


Ayah Aiman mendongak. " Ayah ingin mencari udara segar, pengap di dalam. Mama Damar?"


Annisa duduk disamping ayahnya. "Ada kerjaan di kantor Yah. Banyak kerjaan yang tertunda, karena ditinggal pergi ke Inggris saat itu."


"Kita sudah banyak menyusahkan Damar, ayah dan bunda akan sowan ke rumah Pak Aryan nanti, untuk mengucapkan terimakasih, karena telah memfasilitasi kepulangan El dan Bu Yuni."


"Bagaimana El hari ini Yah?"


"Masih seperti itu, belum ada perubahan. Dokter sudah menjadwalkan psikiater untuk melihat kondisi El."


"Bagaimana pemakaman Bu Yuni?" tanya ayah Aiman.


"Biasa Yah... Seperti pemakaman pada umumnya."


"Apa ada sesuatu yang terjadi Nisa? Apa adik Raffi masih menyalahkan El atas musibah yang terjadi?"


"Iya Yah, tapi hanya Alin saja, yang lain tidak."


"Ayah mengerti apa yang dirasakannya. Kita tidak boleh marah padanya. Jika posisi dibalik, mungkin pikiran kita juga sepertinya," kata Ayah Aiman.


Annisa mengangguk.


Seminggu di rawat dan kondisi kejiwaan Mikaela belum ada perubahan, Mikaela diizinkan untuk pulang dan harus menemui psikiater untuk mengembalikan kondisi kejiwaan Mikaela yang terganggu.


"Ada kabar dari David, Raffi tidak berada di rumah sakit di inggris lagi."


"Apa pulang ke Indonesia?" tanya Annisa.


"Tidak mungkin, apa keluarga Raffi tidak ada menghubungi ayah ?" tanya Damar.


"Aku tidak tahu, nanti aku tanyakan pada ayah."


Percakapan keduanya berakhir, ketika mobil yang dikemudikan oleh Damar tiba di rumah ayah Aiman. Damar dan Annisa keluar untuk membantu Mikaela keluar dari mobil. Keduanya melangkah cepat, saat melihat ayah Aiman kerepotan mengeluarkan Mikaela dari mobil yang dikemudikan sendiri sang ayah.


"Biar aku saja Yah," kata Damar.


Mikaela yang seperti orang yang linglung, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang kepadanya. "Maaf." batin Damar, saat tangannya melingkar dikedua paha Mikaela untuk menggendongnya keluar dari dalam mobil.


Annisa menyuruh Damar membawa Mikaela masuk kedalam rumah, setelah melihat ada beberapa tetangga keluar dari rumah. Dia tidak ingin Mikaela terganggu dengan pertanyaan dari para tetangga, karena Annisa tidak ingin Mikaela mengingat musibah yang terjadi. Damar dan Annisa masuk kedalam rumah, bunda dan ayah yang menemui para tetangga.


"Bawa masuk ke dalam kamar saja, mas," kata Annisa.


Sebulan kemudian.

__ADS_1


"Tidak!" teriakkan terdengar dari ruang tempat Mikaela bertemu dengan psikiater.


Ayah Aiman dan Annisa yang berada diluar kaget, mereka ingin masuk, tapi takut masuknya mereka berdua menganggu Mikaela yang sedang mengalami terapi.


Dalam ruangan, Mikaela menangis dan berteriak-teriak menyebut nama Raffi.


"Kak Raffi ! Mama !" teriak Mikaela seraya tangannya menunjuk ke layar televisi yang sedang menayangkan film kecelakaan yang mirip dengan apa yang dialami oleh Mikaela.


"Kak Raffi.... !" seru Mikaela seraya ingin bangkit dari sofa tempat dia baring melihat ke layar televisi yang besar. Tindakan ekstrim dilakukan oleh psikiater untuk menyadarkan Mikaela, setelah terapi yang dilakukan dengan cara hipnotis tidak berhasil untuk menyadarkannya.


Menurut dokter, Mikaela mengalami Post Traumatic Stress Disorder. Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan mental yang terjadi pada seseorang karena mengalami kejadian traumatis akibat melihat kecelakaan didepan matanya.


"El... Sadar El.... !" bunda Aini menahan Mikaela untuk tidak bangkit.


"Bun... Bun... Bunda... ! Kak Raffi, bunda.... !" telunjuknya terarah ke televisi yang sudah tidak memutar film kecelakaan lagi.


"El... El kenal bunda?" bunda Aini gembira, karena El mengenalinya.


"Bunda.... !"


Lalu Mikaela lunglai dan tubuhnya lemas dan menyandar di sofa.


"Bu... Kenapa El?" tanya bunda Aini pada psikolog yang menangani Mikaela.


"Tidak apa-apa Bu, hanya tidur. Biarkan istirahat Bu."


Kondisi Mikaela sejak sadar, sudah mulai bisa di ajak bicara.


"Kenapa aku tidak diizinkan untuk menemui kak Raffi? Bunda, tolong bawa aku untuk melihat kak Raffi," kata Mikaela.


"El, kau harus sehat dulu. Inggris sangat jauh, nanti kita akan ke sana," kata Annisa yang masuk dalam kamarnya dengan membawa obat yang harus rutin diminum Mikaela, agar kepalanya yang sering pusing tidak bertambah parah.


"Mbak, antarkan aku pergi ke rumah kak Raffi," kata Mikaela.


"Untuk apa kesana ? Raffi juga tidak ada," kata Annisa.


"Aku mau bertanya kondisi kak Raffi pada Alin, dan aku juga mau nyekar ke makam Mama."


Annisa dan bunda Aini membawa Mikaela ke makam Mama Yuni. Lalu mereka pulang dan pergi mengunjungi keluarga Raffi.


"Untuk apa kau datang, mantan kakak ipar?"


Mikaela yang duduk menunggu Alin dan Aldo datang kaget, mendengar perkataan Alin.


"Mantan kakak ipar.... ?"


Next

__ADS_1


__ADS_2