
Happy reading guys.
...****************...
Mikaela dan Raffi duduk bersama dengan kedua orangtuanya dan orangtuanya Raffi. Tidak banyak yang datang, karena acara pernikahan yang serba mendadak, sehingga keluar dekat saja yang tinggal satu kota dengan mereka yang mereka undang undang menghadiri akad nikah mendadak Raffi dan Mikaela.
"Bagaimana rencana kalian ini ? Apakah El akan ikut ke inggris?" tanya Hanafi, paman Raffi.
"Tergantung El paman. Kalau aku ingin El ikut besok aku berangkat. Tapi tidak mungkin, Visa El belum ada," kata Raffi.
"Aku juga masih bekerja, jika ingin resign juga tidak bisa mendadak," kata Mikaela.
"Apa tidak rugi untuk resign?" tanya Yuni, Mama Raffi.
"Sudah komitmen Tante, jika menikah, aku akan fokus pada keluarga."
"Jangan panggil Tante lagi, kan sudah sah menjadi istri Raffi. Panggil Mama atau bunda juga boleh," kata Yuni.
Mikaela tersipu malu.
"Mama ," ujar Mikaela.
Yuni meraih tangan Mikaela dan menepuk-nepuk punggung tangan Mikaela dengan lembut seraya berkata.
"Jika Raffi membuat El kecewa, jangan diam saja. Katakan pada Mama."
"Jika El ada salah, katakan pada bunda dan ayah ya Raffi. Biar kami yang mengajar putri kami. Dan satu lagi Jangan sampai ada main tangan antara kalian berdua. Katakan pada kami, agar kami yang mengajarnya Mikaela. Jika ada yang tidak berkenan pada tingkah laku El, katakan langsung dengan kata-kata yang tidak menyakiti perasaan," kata Aini.
"Nak Raffi, El tidak diasuh oleh ayah dan ibu kandungnya. Tapi kami berdua tidak pernah menganggap El bukan anak kandungku sendiri. El dan Nisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sama. Kami tidak berat sebelah, karena itu saya mohon, sayangi El seperti kami menyayanginya." nasihat ayah Aiman dengan raut wajah dan mata yang berkaca-kaca menahan air matanya tidak turun membasahi pipinya.
"Ayah!" Mikaela bangkit dan bersimpuh didepan sang Paman, yang dipanggilnya ayah sejak dia bisa bicara.
"Ayah koq mewek? malu dengan umur Yah!" goda Aini.
Ayah Aiman menunduk dan menyeka ujung bola matanya. Lalu dia mengangkat kepalanya dan melihat Mikaela dan juga Raffi yang berlutut dibelakang Mikaela.
"Ayah jangan sedih. El ikut sedih ini," ujar Mikaela, dan terlihat sudut matanya sudah menggantung air mata yang siap meluncur.
"Tidak sedih, ayah tidak sedih. Ayah senang, nanti El tinggal di inggris, ayah di ajak ya," kata Aiman.
"Ayah dan bunda akan El bawa, iya kan kak ?" Mikaela menoleh sedikit menatap Raffi.
Raffi beringsut maju dengan menggunakan lutut. "Iya... Nanti sekalian saja mengurus Visa dengan El."
"Mana bisa ayah keluar negeri, apalagi sampai belasan jam didalam perjalanan. Jangan sampai baru dipertengahan jalan minta pulang, ingat dengan dua perkutut kesayangannya, si lucinta dan Luna ." ledek Aini .
Semua tertawa mendengar perkataan Aini.
"Ibu... Buka aib bapak saja," balas Aiman.
"Sudah... Jangan ada yang bersedih hati ini," kata Aiman.
"Bahas yang senang-senang saja." sambung Hanafi.
"Resepsi batal ?" tanya Yuni, Mama Raffi.
__ADS_1
Raffi menatap Mikaela. "Kami sudah bicarakan tadi ma, jika tidak memungkinkan untuk pulang, terpaksa resepsi di batalkan," kata Raffi.
"Nggak apa-apa, nanti kita mengadakan pesta, saat ulang tahun anak kalian saja," ujar Azura dengan bergurau.
"Ih... Tante ." Mikaela malu dan memanyunkan bibirnya.
***
Setelah Antoni dan Aira pulang terlebih dahulu. Faiz dan Inara pamit, Kini tinggal Raffi dan keluarganya yang masih berada di kediaman Aiman.
"Kak, jika permohonan resign ku tidak dipenuhi bagaimana ?" tanya Mikaela, begitu tinggal mereka berdua. Sedangkan keluarga mereka sedang berbincang-bincang di halaman belakang rumah, melihat lucinta dan Luna, piaraan ayah Aiman.
"Kabur saja," jawab Raffi dengan bergurau.
"Ih... Serius kak!" kesal Mikaela, karena Raffi terus bergurau dengannya.
"Maaf ! Pasti diterima, untuk apa mereka menolak. Beri alasan yang jelas, kenapa mau resign."
"Toko bagaimana?" tanya Raffi.
"Aku akan minta bunda yang mengawasinya, dan Aira juga mau ikut terjun dalam bisnis. Sepertinya mas Toni ingin segera meresmikan hubungan mereka, dan pasti Aira akan ikut membantu bisnis mas Toni."
Tiba-tiba...
"Aduh.. " Raffi memegang perutnya, dan mengernyitkan dahinya.
"Kenapa kak?" tanya Mikaela.
"Sedikit pusing," jawab Raffi.
"Pusing? Tapi kenapa pegang perut ?" tanya Mikaela.
"Kak Raffi.... !"
Puk...
Tangan Mikaela menepuk lengan Raffi karena kesal dengan jawaban Raffi, padahal dia sudah takut Raffi sakit.
"Sorry... Kakak lapar. Tadi tidak banyak makan, saking senangnya."
"Senang koq tidak banyak makan? Kenapa? apa masakannya tidak enak ?"
"Senang... sekali, karena akhirnya kakak bisa mensahkan El menjadi milik Raffi selamanya."
"Walaupun kita belum bisa tinggal bersama, karena kakak lusa harus berangkat, tapi kakak senang, El kakak tinggal dengan status sebagai istri Raffi."
"El ambil makan untuk kakak. Kak Raffi ingin makan apa?"
"Tidak usah, perut kakak kenyang karena mendapat perhatian dari istri tercinta."
"Ih... Gombal !"
"Mana gombal, serius! perut kakak kenyang, kakak hanya butuh istirahat saja."
"Apa kakak mau beristirahat di kamar saja ?"
__ADS_1
"Tidak ah... Nanti kakak kebablasan... Ini masih siang ." goda Raffi.
"Huh... " Mikaela mendelik dan mengerucutkan bibir.
Raffi tertawa kecil dan memainkan alis matanya naik turun.
"Kakak tidak butuh istirahat. Ini karena tadi malam kakak tidak cukup tidur. Kakak sibuk menilai ujian mahasiswa. Pusing," kata Raffi.
"Ujian kami dulu membuat kakak pusing saat memeriksanya?" tanya Mikaela sambil menampilkan senyum di bibirnya.
"Tapi memeriksa hasil ujian El tidak membuat kakak pusing. Tulisannya bagus dan semua jawabannya tidak ada yang salah," kata Raffi memuji Mikaela.
"Baguslah, ternyata tulisanku tidak memalukan."
"Istriku ini tidak pernah memalukan. Dan selalu membanggakan." puji Raffi.
"Hih... asik mojok berdua, ingat kak ! Masih siang .... !" Alin datang menghampiri keduanya, lalu duduk di antara Raffi dan Mikaela.
"Ganggu saja." kesal Raffi.
"We..ekk.." Alin mengeluarkan lidahnya meledek Raffi.
"Aldo sudah pulang?" tanya Raffi.
"Iya... Nenek ngajak pulang," kata Alin.
"Nenek kenapa ya, koq hari ini beda dengan waktu El bertemu pertama sekali?" tanya Mikaela. Karena tadi, Nenek berulang kali bertanya padanya dengan pertanyaan yang sama.
"Sudah dua Minggu ini Nenek begitu," kata Raffi.
"Koq Alin tidak tahu?" tanya Alin yang tidak tahu keanehan yang terjadi pada neneknya tersebut.
"Karena kau selalu sibuk bekerja, makanya ... perhatikan keluarga," kata Raffi.
Raffi menceritakan apa yang dialami oleh neneknya, kepada Mikaela.
"Apa mungkin terkena alzheimer?" tanya Mikaela.
"Nah... iya kak, mungkin Nenek terkena alzheimer." Alin menimpali ucapan Mikaela.
"Besok rencana paman ingin membawa Nenek ke rumah sakit besar. Yang peralatan medis lengkap," kata Raffi.
"Jika kakak tidak ada nanti, kau dan Aldo yang harus mengurus nenek," kata Raffi.
"Koq kakak nggak ada?" tanya Alin.
"Lusa kakak sudah berangkat."
"Hehehehe... Lupa," ujar Alin sambil nyengir.
"Semoga nenek tidak apa-apa," ucap Mikaela.
"Maklumlah, usia nenek sudah tujuh puluh lima tahun. Pasti memory nenek sedikit demi sedikit mulai akan berkurang," kata Raffi.
"Mungkin saja, usia kita tidak akan sampai seperti Nenek," ucap Mikaela.
__ADS_1
"Iya kak... Orang jaman dulu, usia mereka bisa sampai delapan puluh tahun. Usia anak jaman now... empat puluh tahun saja sudah ada yang... wus.... !" Alin mengibaskan tangannya .
Next...