
Happy reading guys.
...****************...
"El, apa kau belum ada rasa cinta pada kak Raffi?" tanya Aira.
"Aku nggak tahu perasaan apa yang ada di sini ?" Mikaela menunjuk dadanya.
"Coba katakan, apa kau merasa kehilangan kak Raffi?"
"Baru beberapa jam, aku belum merasakan kehilangan. Perasaanku, seperti belum menikah."
"Karena kalian tidak melalui proses pacaran lama, bertemu, sat...set... Nikah," ucap Inara.
"Langsung ditinggal tugas." tambah Inara.
"Saat kau tinggal bersama dengan kak Raffi di luar negeri nanti, kau pasti akan bisa mulai menata hatimu untuk mencintainya. Melihat perlakuan kak Raffi padamu, aku rasa tidak akan sulit untuk kau jatuh cinta padanya," kata Aira.
"Lagian heran lihat kau El, semua mahasiswi berbondong-bondong ingin menjadi kekasih kak Raffi dulu, kau itu yang anteng sendiri tidak tebar pesona," kata Inara.
"Yang tidak tebar pesona yang mendapatnya," timpal Aira.
"Ee ," sahut Inara.
"Mulai sekarang, kau sering hubungi kak Raffi. Walaupun dia tidak menghubungimu terlebih dahulu, jangan gengsi untuk menghubunginya terlebih dahulu. Dia akan tahu bahwa kau perhatian padanya dan cintanya padamu akan semakin besar, begitu juga sebaliknya," kata Aira.
"Jangan ada kata gengsi dengan pasangan kita, aku dengan mas Faiz, sering menghubunginya terlebih dahulu. Pernah kami ada ribut kecil, satu hari kami tidak saling tegur sapa, walaupun berteriak di kantor. Malamnya, sebelum berganti hari, aku sudah menghubungi mas Faiz dan minta maaf. Walaupun kita merasa bukan kita yang salah, tidak salah kita minta maaf lebih dulu," kata Inara.
"Kapan kau diam-diaman dengan mas Faiz? Kami koq tidak tahu ?" tanya Mikaela.
"Aku tahu, pasti saat mas Faiz pulang dari tugas keluar kota, iya kan ?" tebak Aira.
Inara mengangguk. "Aku kesal dengannya, tugas itu dia kan pergi dengan SPG yang centil-centil pada laki-laki yang sedikit tajir dan ada kedudukan. Aku lihat di mas Faiz di tag satu akun SPG, dia foto dengan SPG tersebut dengan mesra menurut aku. Mas Faiz merasa tidak mesra." cerita Inara.
"Posisi gambar mereka seperti apa?" tanya Mikaela.
"Tangan itu cewek menggandeng mas Faiz, seperti mau menyeberang! Siapa yang tidak jengkel? Pasti kalian berada di posisiku akan naik darah dan marah kan ? Aku interogasi tuh... Mas Faiz, ehh... Mas Faiz anggap itu biasa saja! Kalau kalian apa tidak curiga?" tanya Inara pada kedua temannya, Mikaela dan Aira.
__ADS_1
"Marah 1000% bukan 100% lagi, kalau foto secara wajar, berdiri bersisian saja, bisa kita toleransi. Ini ambil gambar dengan bergandengan! Aku akan buat kelar hidup orang itu ," kata Aira.
"Kau El, bagaimana?" tanya Inara.
"Aku akan curiga juga sih... Kalau tidak ada hubungan spesial, kenapa foto bergandengan tangan. Orang yang tidak tahu kan mengira mereka ada hubungan," kata Mikaela.
"Nah... Kan ! Mas Faiz menganggap itu wajar," kata Inara.
"Kau sungguh bijak sekarang, mengalah minta maaf," kata Aira yang ditunjukkan pada Inara.
"Aku menghubungi mas Faiz, setelah berpikir di dalam toilet," kata Inara.
"Hah... ! Dalam toilet?" tanya Aira dengan mata memicing menatap Inara.
"Betah berlama-lama di toilet? Apa kau tidak merasa bau karbol dan bau pesing?" tanya Mikaela.
"Pakai masker dobel, dan masker dibubuhi aroma minyak wangi," kata Inara.
"Niat sekali." ledek Aira.
"Tidak sia-sia berpikir di dalam toilet, mengesampingkan rasa ego, akhirnya kami berdamai. Jika aku tidak menghubunginya tadi, wanita SPG itu pasti senang. Sepertinya dia ingin membuat hatiku panas, dan dia tidak berhasil."
"Beberapa bulan bersama dengan kak Raffi, bagaimana perasaanmu El? Apa kau nyaman bersama dengannya?" tanya Aira.
"Tapi aku ada membaca buku. Di buku itu di katakan. Seseorang yang merasa nyaman dengan orang lain belum tentu cinta, begitu juga sebaliknya," kata Inara.
"Untuk menentukan pilihan yang tepat, carilah seseorang yang memang kita cintai, bukan hanya nyaman. Karena jika suatu saat ada orang baru yang memberikan rasa nyaman, kita mungkin bisa berpaling dari orang yang bersama dengan kita sekarang ini," kata Aira.
"Betul juga ," timpal Inara.
"Besok-besok aku bertemu dengan laki-laki yang sangat care padaku dan perhatiannya lebih dari yang aku terima dari mas Faiz dan aku nyaman, aku bisa klepek-klepek."
"Nyaman, tidak bisa dikatakan kita sudah mencintai orang itu," kata Mikaela.
" Menurutku sih... Kalau cinta, kita bisa terima dia apa adanya, orang itu jutek dan tidak romantis dan tidak membuat kita seperti ratu, kita menerima dia apa adanya. Mungkin itu yang dikatakan cinta." tutur Inara.
"Menerima kekurangan dan kelebihan orang tersebut."
__ADS_1
"Itu sih bukan cinta lagi, tapi sudah menjadi budak cinta. Tidak romantis, jutek lagi, sudah itu pemarah. Kita masih menerimanya. Oh...tidak... !" tolak Aira mengenai cinta yang dikatakan oleh Inara.
"Apa perlu kita mencari pakar cinta? Sepertinya cinta yang kalian katakan itu semua sangat aneh aku rasa ," kata Mikaela pada keduanya temannya.
Aira dan Inara bengong mendengar apa yang dikatakan oleh Mikaela. Lalu kemudian keduanya tertawa, sampai orang yang mendengar suara tawa mereka melihat kearah ketiganya duduk.
"Kita sepertinya belum matang, definisi cinta saja kita tidak tahu. Usia saja yang tua. Ternyata kita belum paham arti cinta. Kita kalah dengan para remaja yang berbondong-bondong datang ke pengadilan agama untuk minta dispensasi nikah. Kita, cinta saja tidak mengerti. Mereka sudah mengerti cinta, makanya mau menikah," kata Aira seraya tertawa.
"Kita terlalu sibuk belajar," kata Inara.
"Kita!? Sepertinya yang sibuk belajar itu El dan aku. Sedangkan kau itu... Hem.... " Aira mengendikkan bahunya.
"Bushett... Hal lalu biarlah berlalu, jangan dibahas lagi ," kata Inara.
"Pokoknya nih ya El. Kak Raffi itu orang yang cocok denganmu. Apa lagi dia sudah menyukaimu sejak lama ," kata Aira.
"Dan lagi, kau itu sudah sah menjadi miliknya. Tinggal kau memupuk hati menerima cintanya, iya kan?" Aira menyikut Inara.
"Yes.... !" timpal Inara.
"Betul kata Aira El . Nggak perduli apa nama yang kau katakan mengenai keberadaan kak Raffi di sisimu. nyaman atau aman. Yang pasti rasa nyaman yang diberikan kak Raffi itu yang akan membuat kau bahagia ," kata Inara.
"Jika kita dekat dengan seseorang pria, tapi kita tidak nyaman berada di sisinya. Kita tidak akan bahagia," kata Aira.
"Aku koq mewek nih... Kita akan berpisah dengan El, Ai. El jangan lupakan kami ya ! Kau harus memberi kabar pada kami setiap hari," kata Inara.
"Iya El, belasan jam akan memisahkan kita. Kita tidak bisa kumpul-kumpul ngibahin pacar kita," kata Aira.
"Aku pergi hanya dua tahun, dan tidak mungkin aku menghubungi kalian setiap hari. Biaya nelpon mahal guys."
"Hih... pelit !" dengus Inara.
"Nggak setiap hari nggak pa-pa, El. Asal kau beri kabar pada kami, jangan lupakan kami. Dan jangan kau menetap dan menjadi warga negara sono," kata Aira.
"Tidak mungkin lah... Aku anak singkong, tidak mau jadi anak keju."
Aira dan Inara tertawa.
__ADS_1
Mikaela menatap keduanya, Mikaela berpikir. Hal ini yang tidak akan dialaminya, saat dia memutuskan untuk ikut Raffi tinggal di luar negeri.