
Happy reading guys.
...----------------...
"Bunda!" rengek Mikaela, saat dia selesai di make up.
"Kenapa? merengek seperti anak kecil," kata Bunda Aini.
"Untuk apa wajahku di makeup seperti mau main ludruk begini ? Lihat pipiku warna pink kemerah-merahan, seperti baru kena gampar," kata Mikaela.
"Ha..ha..ha.ha... !" tawa sang juru rias tertawa ngakak begitu mendengar keluhan Mikaela.
"Kenapa tertawa? Pasti menertawakan aku kan?" Mikaela memanyunkan bibirnya dan mendelik matanya menatap penata rias yang bernama Ana.
"Hei... calon nyonya! Eike Miss Ana, ya...! Bukan Mas! Ingat itu." Ana kesal dipanggil Mas oleh Mikaela.
"Ana... Ana... tuh... Jakun dibuang dulu, baru jadi Ana" ledek Mikaela.
"Nama Anto jadi Ana." tambah Mikaela.
"Bunda!" Ana alias Anto mengadu pada Bunda Aini.
"Sudah! Kalian berdua ribut kalau bertemu," kata bunda Aini pada Mikaela dan Ana alias Anto.
"Bagaimana To, sudah selesai? Sudah cantik anak bunda?" tanya Bunda Aini
"Beres bunda, Perfect! Di tangan eike ini ya... ! gadis yang jelek paripurna, akan menjadi cantik mengalahkan Roro Jonggrang... Ratu Boko dan rekan-rekannya," kata Anto dengan membanggakan dirinya yang berhasil membuat Mikaela cantik paripurna menurutnya.
"Aku sudah cantik sedari dulu ya.... !" semprot Mikaela.
"Cantik dari mana? Dulu kau itu saat masih sekolah dasar, ingusmu itu selalu meler setiap pagi. Hih... Menjijikkan sekali..... !" ledek Ana alias Anto, bergidik membayangkan Mikaela saat masih kecil dan satu kelas dibawahnya.
Mikaela bangkit dari duduknya dan langsung melayangkan kakinya menendang tulang kering kakinya Anto. Anto yang tidak siap sedia, meringis seraya memegang kakinya yang kena tendang kaki Mikaela.
"Dasar gadis setan...! tidak waras... ! Hua..a.. a..dasar cewek bar-bar... !" meluncur umpatan mengumpat Mikaela dari mulut Anto.
"Kalian ini!" Bunda Aini hanya dapat mengelus dada. Sedari kecil keduanya selalu seperti tikus dan kucing. Saling meledek dan saling menyayangi. Setiap Mikaela di ejek di sekolah, karena Mikaela dulu sangat kurus seperti tiang listrik dan selalu menjadi korban perundingan teman-temannya. Anto selalu maju membela Mikaela. Walaupun Anto kecil dulunya, dia tidak gentar melawan orang yang mengganggu Mikaela.
"Ela..... !" Bunda Aini mendelik.
"Anto duluan mengejekku, bunda." adu Mikaela.
"Mana ada aku mengejek? Apa yang aku katakan itu suatu kenyataan. Kau itu dulu ingusan setiap pagi," kata Anto.
"Aku kan alergi udara dingin. Makanya aku ingusan setiap pagi. Sekarang tidak kan?"balas Mikaela.
"Sudahlah. El, sana ganti bajumu." titah Bunda Aini pada Mikaela.
"Anto terima kasih ya. Ini uang sedikit." Bunda Aini memberikan beberapa lembar yang dilipat ke tangan Anto.
"Tidak usah bunda." tolak Anto.
"Sok nolak. Sudah terima saja. Jika kau kau menolak pemberian bunda, kita putus pertemanan..." ancam Mikaela.
"Baiklah, aku terima nih ye... Semoga pernikahanmu langgeng ya BESTie," kata Anto.
__ADS_1
"Belum menikah Ali, ini masih pertemuan keluarga," kata Mikaela.
"Tunangan." tambah bundanya.
"Mungkin saja, pertemuan keluarga... pertunangan dan lanjut pernikahan hari ini juga," kata Anto.
"Ih... mulutmu!" Mikaela menjulurkan tangan ingin meremas mulut Anto.
Anto langsung menghindar dan berlari kebelakang tubuh bunda Aini.
"Cukup... kalian ribut !"
"Ganti baju El. Bunda mau lihat masakan dulu," kata Bunda Aini.
"Ayo Anto. Bunda ada masak gulai kepala ikan, kau pasti suka," kata Bunda Aini seraya menarik tangan Anto agar keluar dari dalam kamar Mikaela. Karena jika Anto masih bersama dengan Mikaela, sudah pasti keduanya pasti masih saling bertukar kata.
"Kesukaanku itu Bunda," kata Anto sembari mengikuti Bunda Aini meninggalkan kamar Mikaela.
"Makan yang banyak jika suka."
"Ih... bunda mau lihat aku gemoy ya," balas Anto.
Begitu Bunda Aini dan Anto alias Ana keluar dari dalam kamarnya. Mikaela kembali melihat dirinya didalam kaca. Dia melihat wajahnya dalam kaca, memperhatikan hasil makeup Anto. Padahal Mikaela tadi sudah menolak untuk menghias diri, tapi bunda Aini tetap kekeuh memaksa dan memanggil Anto yang bekerja sebagai penata rias untuk mendandaninya.
"Terlalu menor ini. Tidak mirip aku ini. Pasti Anto ingin mempermalukan aku ini. Pipi merah seperti mau main lenong saja." Mikaela mengomel sendiri sembari menatap wajahnya didalam kaca. Dia sedikit menghapus merah yang ada dikedua pipinya.
"Seperti wajah yang baru kena korban kdrt saja," kata Mikaela.
"Awas kau Anto... jika sampai orang-orang menertawakan aku."
"Gantengnya kakak aku," kata Alin.
"Tapi bohong." sambung Alin sambil tertawa.
"Bushett ... !" Kesal Raffi, sehingga keluar umpatan dari mulutnya.
"Sudah siap semua? sudah bisa kita berangkat?" tanya Raffi.
"Kakak sudah tidak sabar mau ketemu calon istri ya...? Sabar kakakku tersayang... ! Orang sabar itu bokongnya lebar." Alin nyengir dan mengacungkan dua jari tangannya.
"Bokong... Bokong..!" kesal Raffi.
Raffi berlalu meninggalkan Alin yang menertawai Raffi yang tidak bisa duduk tenang, entah apa yang membuat Raffi gugup.
Setelah berbicara dengan ayah Aiman sampai satu jam, Raffi duduk tidak tenang, apalagi berdiri. Makan juga Raffi tidak tenang.
***
"Mikaela... !"
Bruk..
Pintu kamar Mikaela terbuka lebar. Dua sahabatnya masuk kedalam kamarnya. Mikaela yang sedang membetulkan pakaiannya sontak terkejut.
"Hih... Kalian... ! Kalau masuk kamar orang itu ucapkan salam. Jangan main terjang saja. Seperti mau melakukan pengerebekan," kata Mikaela kepada kedua sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"He...he...hehe." tawa Inara dan Aira merekah.
"Masyaalah... Kau cantik sekali," kata Inara seraya menatap wajah Mikaela dengan lekat.
"Baru tau yaa...? Aku itu sudah cantik dari lahir... sudah cantik, pintar lagi. Sampai-sampai ada seseorang gadis yang selalu minta dikerjakan tugas kuliah setiap hari." Mikaela membanggakan dirinya dan sekaligus meledek Inara..
"Kena kau Inara, hahaha..." tawa Aira pecah.
Inara mencebikkan bibirnya dan menimpuk lengan Aira yang menertawakannya.
"Masalah lama jangan diungkit-ungkit lagi El? Jangan sampai anak cucuku malu mempunyai nyokap dan Oma seperti aku, yang selalu mengandalkan teman yang pintar paripurna," kata Inara.
"Apa yang dikatakan oleh Inara benar El. Kau cantik sekali. Sepertinya hari ini bukan acara perkenalan keluarga, tapi acara pernikahan. Bajumu juga sangat bagus. Warnanya krim cocok dengan badanmu ," kata Aira.
"Tapi riasanmu koq seperti mau pergi diskotik," ujar Aira.
"Bushett.... !" umpat Mikaela.
"Alhamdulilah!" seru Inara tiba-tiba.
"Kenapa kau mengucapkan Alhamdulillah?" tanya Mikaela.
"Iya nih... sepertinya otaknya perlu di servis?' Aira juga heran dengan apa yang dikatakan oleh Inara.
"Akhirnya mulut El tidak suci lagi," kata Inara.
"Tidak suci?" bertambah heran Aira, begitu juga Mikaela.
"El... Apa kau sudah?" Aira bertanya seraya mengerucutkan bibirnya.
Mikaela tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Aira.
"Heh... Bibirku masih suci ya! No kissing... !" seru Mikaela.
"Hei... You... ! Jangan bilang yang tidak-tidak ya." Kesal Mikaela kepada Inara.
"Aku bukan bilang cup... cup! Aku bilang tidak suci, karena El mengumpat. Sejak aku mengenal El itu ya... Dia itu tidak pernah mengumpat," kata Inara.
Mikaela mendelikkan mata dan mengatupkan bibirnya dengan ketat.
"Benar-benar." timpal Aira.
"Sialan kalian." umpat Mikaela dalam hati.
"Kalian saja tidak dengar, aku sering mengumpat dalam hati," kata Mikaela.
"Curang ! kau mengumpat kami ya?" tanya Inara.
"Em... kasih tahu tidak ya ?" Mikaela memainkan kedua matanya.
"Ih.... !" Aira dan Inara kesal dan menggelitik perut Mikaela, ketiganya tertawa terbahak-bahak.
Selagi ada kesempatan untuk tertawa, tertawa lah... mungkin besok tidak ada kesempatan lagi.
Next...
__ADS_1