Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 92 TMM


__ADS_3

Happy reading guys


......................


"Sayang... Sayang !" dengan kedua tangan menjulur kedepan, Damar mendekati Mikaela yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Hei... hei... Jangan dekat-dekat... ! Pergi ! Hus... hus .... !" usir Mikaela seperti mengusir binatang yang menghampirinya.


"Sayang !"


Mikaela mendorong Damar, sampai Damar jatuh telentang di lantai. Mendapatkan kesempatan untuk menghindari Damar, Mikaela lari menuju arah pintu keluar.


Damar bangkit dan kembali mengejar Mikaela, tidak ada rasa sakit dan umpatan karena telah didorong Mikaela. Damar semakin semangat mengejar Mikaela seraya memanggil-manggil nama Mikaela dengan suara lembut.


"Mas ! Kau kenapa? Kau mabuk !?" tanya Mikaela seraya berlari menghindari Damar yang terus mengejarnya.


"Jangan lari sayang !" seru Damar.


Mikaela berlari menuju pintu keluar, dan berusaha untuk membuka pintu tersebut. Tetapi pintu tersebut tidak bisa terbuka buka.


"Ahh... Kenapa tidak bisa terbuka!" Mikaela terus berusaha sembari melihat Damar yang terhuyung-huyung melangkah.


Di luar kamar, Mang Dul jongkok dibalik pintu mendengar apa yang terjadi didalam kamar.


Suara teriakan dan barang-barang yang berjatuhan terdengar dari dalam kamar.


"Aduh... apa yang dilakukan oleh Den Damar ? Bu Amel ada-ada saja."


"Tapi kenapa istri baru Den Damar tidak terpengaruh dengan aroma terapi itu ya ? Apa kurang?"


Mang Dul mengambil satu dupa dan membakarnya dan memasukkan asap kedalam rumah.


"Semoga keinginan Bu Amel terkabul." batin Mang Dul.


Suara Mikaela menyuruh Damar menjauhinya terus terdengar.


"Belum ada reaksi, oh ya... Musik." Mang Dul menekan remote yang dipegangnya dan terdengar suara lagi dari dalam rumah.


"Lah... lah... Koq lagu India ? Tadi Bu Amel menyuruh aku memutar lagu romantis ! Wes... Sudahlah, sama-sama lagu juga. Lagu India juga romantis. Hehehe," ucap Mang Dul dengan tertawa.


Mang Dul tidak mendengar suara teriakan Mikaela dan suara Damar, yang terdengar hanya suara lagu India.


"Sudah tenang, tu... lah Den, Bu Amel mau ditipu." batin Mang Dul.


Dalam rumah terdengar lagu film India Oh May Darling mengiringi suara teriakan Mikaela dan suara Damar memanggil-manggil sayang. Sedangkan Mang Dul duduk sembari menggoyang-goyangkan kepala dan tangannya dan mulutnya berkomat-kamit mengikuti lagu India yang diputarnya.


Kita melihat kondisi Annisa di kota. Annisa berjanji dengan temannya disatu club' malam. Tempat yang tidak pernah dikunjunginya, karena diajak temannya, Annisa mau untuk mengunjungi club' yang seumur-umur baru kali ini kakinya menginjak club' malam.


Annisa masuk kedalam club' tersebut dan dia disambut oleh suara music yang membuat gendang telinganya seperti ingin pecah. Annisa semakin masuk kedalam sembari menutup kedua telinganya.


"Tempat apa ini ? telingaku mau pecah ."

__ADS_1


"Nisa !" seru suara seorang wanita memanggilnya dengan suara yang sangat keras, karena suara dentuman musik hampir membuat dirinya tidak bisa mendengar suara orang, untung suara dentuman musik sedikit mengecil, karena pergantian musik, sehingga Annisa bisa mendengar suara wanita tersebut memanggilnya. Annisa menoleh asal suara dan melihat temannya tersebut.


"Grace.... !" seru Annisa.


Temannya Grace berdiri dan menyambut Annisa dengan memeluknya.


"Kau semakin cantik!" seru Annisa, setelah pelukan keduanya mengurai.


"Kau juga." balas Grace.


"Ayo duduk," ujar Grace.


"Kapan kau kembali?" tanya Annisa.


"Sudah sebulan, bosen di sana. Aku ingin buka usaha di sini," kata Grace.


"Kenapa kau mengajakku bertemu di sini? Suasana sini membuat aku pusing. Lagunya, dan itu... Lampunya kelap-kelip membuat mataku pusing," kata Annisa.


"Kau ternyata masih menjadi anak alim ! Nisa, keluar dari cangkangmu. Nikmati hidup, kau ini... Minum ." Grace menuangkan minuman dalam gelas dan meletakkan minuman didepan Annisa.


"Apa ini?" tanya Annisa.


"Eaah... nanya ! Minum saja, nggak akan buat kau mabok ."


"Betul?" Annisa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Grace.


"Aku nggak akan membuat kau mabok, Nisa. Alkoholnya hanya 0, persen."


Annisa meminumnya dan mengeryit. "Nggak enak, pahit."


"Pahit ? Manis gitu ! Kau ini, aneh !"


"Habiskan! Oh ya, suamimu mana ? Masa dia membiarkanmu pergi keluar sendiri malam-malam"


"Tugas!" sahut Annisa.


"Tugas? Malam Minggu juga kerja? Gila! Apa uang suamimu masih kurang?"


"Dia tugas, ah... Kau tidak perlu tahu !" seru Annisa dan kemudian mengambil botol dan menuangkannya dalam gelas dan meneguknya dengan sekali teguk.


"Hei... Jangan minum sekaligus, Nisa! Ntar kau mabok !"


"Bodo ! Aku mau mabok ! hari ini aku ingin bersenang-senang, lupakan Annisa anak alim... Yang tidak pernah ke klub malam .... !"


"Terserahlah ! Jangan salahkan aku, jika besok kau pusing. Ayo minum!"


Grace meneguk langsung dari botol dan menyerahkannya kepada Annisa dan Annisa juga meneguk minuman tersebut.


Dan tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah berjingkrak-jingkrak berbaur dengan orang yang menari-nari tidak beraturan. Keduanya tidak mengetahui, dua pasang mata terus menerus melihat kearah mereka berdua yang sedang berjingkrak-jingkrak sembari meracau dengan kalimat tidak jelas.


Di keluarga Wiratama, Amelia baru selesai menghubungi Bik Imah untuk menanyakan apa yang dilakukan oleh Annisa.

__ADS_1


"Kemana perginya Annisa?"


"Siapa, ma ?" tanya Aryan.


"Mantu tua kita, Pa. Kata Bik Imah tidak ada di rumah.'


"Kan Nisa menginap di rumah bundanya. Apa Mama lupa? sepertinya Mama perlu dikasih makan obat untuk otak ini." ledek Aryan.


"Papa ! Berani bilang Mama pikun ?" kata Amelia dengan mendelik menatap wajah sang suami.


"Hehehe... Peace, ma. Damai kita !" Aryan mengacungkan dua jari tangannya.


Amelia mengerucut bibirnya dan meninggalkan sang suami.


"Tidur ma ?"


"Tidak! mau masak "


"Masak koq naik ke ranjang, ma ? Apa mama mau masak yang lain? Papa suka... Papa suka," kata Aryan menggoda sang istri dan menaik-turunkan alisnya.


"Genit ! Sudah tua masih genit !"


"Genit dengan istri sendiri, tidak apa-apa, ma. Daripada genit dengan wanita kesepian di luar sana."


"Awas Papa, ya ! Jika berani genit di luar sana! Jangan ikut-ikutan Damar beristri dua."


"Damar kan tidak mau, ma. Kita yang nyuruh."


"Itu kan gara-gara istri tuanya itu, ngancem budir jika tidak dituruti. Padahal kita tidak memaksa dia untuk punya anak. Orang usia 40 saja masih ada yang bisa punya anak. Dia saja tidak sabaran," kata Amelia.


"Ayo kita tidur, ma."


"Papa dulu, Mama mau nunggu laporan Mang Dul."


"Mama menyuruh Mang Dul buat apa?"


Amelia menceritakan apa yang harus dilakukan oleh sopirnya tersebut. Aryan tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita sang istri.


"Mama ini ada-ada saja, kasihan Mikaela, Ma."


"Karena kasihan dengan Mikaela, makanya Mama melakukan itu, pa. Enak saja Nisa mau menipu kita. Apa dikiranya kita ini orang tua yang bodo ?"


"Apa mama membiarkan Nisa menempatkan Mikaela di paviliun belakang rumahnya?"


"Mama sudah menyuruh Bik Imah membuat paviliun diperbagus, dan akan nyaman untuk ditinggali. Semoga Damar akan jatuh hati pada Mikaela. Mama merasa, Mikaela itu wanita yang baik. Lihat saja, dia sudah bisa membangun usahanya sendiri. Tidak seperti Annisa yang kerjanya hanya keluyuran dengan teman sosialitanya yang tidak juntrungan kerjanya apa."


"Mama juga keluyuran juga, sama seperti mantu mama itu."


"Mama keluyuran yang bermanfaat, pa. Mama ikut kegiatan sosial. Bukan keluyuran tidak jelas."


"Sudah ah... " Amelia menarik selimutnya setengah badan dan memejamkan matanya. Lupa dia menunggu laporan dari Mang Dul.

__ADS_1


Next


__ADS_2