Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 61 ???


__ADS_3

Happy reading guys


...****************...


"Tunggu !" Yuni menghentikan langkah kakinya, pandangan matanya terarah pada satu toko.


"Kalian dulu ke supermarket, Mama mau ke toko itu." Yuni menunjuk toko benang.


"Untuk apa Mama ke toko benang?" tanya Raffi.


"Mama kan lama di sini, dari pada tidak ada kerjaan, mama mau merajut," kata Mama Raffi.


"Mama bisa merajut?" tanya Mikaela.


"Mama itu semua bisa El, menjahit saja Mama bisa." puji Raffi.


"Ajarin El ma."


"El mau belajar merajut?"


Mikaela mengangguk.


"Kalian ke supermarket, mama toko benang."


"Ikut ma," kata Mikaela.


"Sama-sama saja ke toko benang, baru ke supermarket," kata Raffi.


"Ayo."


Ketiganya mengarahkan langkah kakinya menuju toko benang yang berhadapan dengan supermarket.


"Licin ," kata mama Raffi yang hampir terpeleset.


"Kita beli sepatu boots nanti," kata Raffi, saat melihat Mama dan sang istri memakai sepatu biasa. Sedangkan di inggris masih dalam keadaan musim dingin.


"Aahahh.... !" Mikaela hampir terpeleset, untung tangan Raffi memegang tubuhnya, sehingga Mikaela masih bisa berdiri tegang.


Tiba-tiba...


Terdengar suara rem mobil menerpa aspal dan suara benturan. Dan kekacauan mulai terjadi, berapa mobil kehilangan kendali akibat mobil yang pertama kehilangan kendali.


Raffi dan Mikaela menoleh ke belakang dan melihat satu mobil berjalan oleng dan menghantam mobil yang terparkir,sampai keatas trotoar tempat orang berlalu-lalang. Terjadi kekacauan dalam sekejap mata dan terdengar suara teriakan dan suara mobil saling tabrak, lalu berguling tanpa tentu arah.


"El ... !" Raffi menarik Mikaela dan mendorong Mikaela dari trotoar dengan cepat.


Bugh..


Dorongan tangan Raffi membuat Mikaela dan Raffi jatuh bersamaan. "Aduh.... !" Mikaela merasakan pipinya terbentur, tapi dia tidak merasakan sakit, karena matanya fokus melihat kekacauan yang terjadi didepan matanya. Biasanya dia hanya bisa melihat kejadian yang dilihatnya sekarang dalam film action. Sekarang dia melihat langsung kejadian seperti didalam film.


Setelah jatuh, Raffi melihat sang Mama yang berdiri terpaku di tempat.


"Mama !" teriak Raffi untuk menyadarkan sang mama yang masih terpaku melihat kekacauan, sehingga sang mama tidak sadar bahaya sedang mengintai nyawanya.

__ADS_1


Yuni tidak mendengar suara teriakan Raffi. Dia terpaku. Dengan cepat Raffi bangkit dan berlari menghampiri sang mama.


Tapi.


Bugh...


Mobil datang dari arah berlawanan membanting setir menghindari mobil yang datang dari depan. Dan akhirnya, mobil tersebut menabrak beberapa yang berdekatan dengan mama Raffi dan Raffi sendiri.


Mikaela menjerit histeris melihat mama mertuanya dan Raffi terlempar. Pandangan mata Mikaela menggelap dan akhirnya tubuh Mikaela luruh jatuh ke aspal yang basah karena cairan salju yang turun tadi malam.


Skip...


Korban kecelakaan memenuhi ruangan rumah sakit, saat musim salju rumah sakit selalu kewalahan mendapatkan pasien korban kecelakaan.


Mikaela masih terbaring diatas brankar dan di sisinya seorang wanita menunggu Mikaela.


"Apa keluarga Pak Raffi sudah dikabari di Indonesia?" tanya wanita pada pria yang baru masuk.


"Sudah," sahut pria tersebut.


Di Indonesia Alin menangis meraung-raung. "Alin." Aldo memeluk erat tubuh sang adik kembarnya tersebut.


"Kembalikan Mama kak ! Kembalikan Mama!" Alin melepaskan pelukan Aldo dan memukul dada Aldo.


"Mama dan kak Raffi tidak apa-apa!" Aldo memegang kedua bahu Alin dan menatap wajah Alin dengan lekat, agar sang adik sadar.


Hanafi masuk dengan langkah panjang, di belakangnya terlihat sang istri menuntun nenek Azizah.


"Sepertinya tidak bisa hari ini paman, mereka tidak punya Visa," kata Aldo.


"Bagaimana Visa kalian? Masih berlaku?" tanya Hanafi.


"Masih sampai bulan depan Paman," jawab Alin dengan suara yang lirih, masih terdengar suara sesenggukan dari bibirnya .


"Aku masih lama berlaku Paman," jawab Aldo.


"Paspor bagaimana?"


"Paspor?" Alin bangkit dan berjalan cepat menuju kamarnya dan tidak lama kemudian keluar dengan membawa paspor ditangannya.


"Pasporku masih lama berlaku." Alin menarik napasnya dengan lega, karena takut paspor yang dimilikinya sudah expired berlakunya.


Di rumah kediaman Raffi sudah mulai tenang. Di rumah ayah Aiman masih terdengar tangisan.


"Bagaimana ini Yah!" Aini menangis selonjoran di lantai.


"Ayah tidak tahu Bu, kita tunggu Annisa datang. Kita tidak mungkin bisa ke sana, paspor dan Visa saja kita tidak punya."


"Ayo kita urus Yah."


"Kita urus juga tidak bisa selesai hari ini juga Bu. Belum lagi kita mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk pengurusan Visa. Kalau paspor gampang Bu," kata ayah Aiman.


Suara mobil dan suara pintu terbuka dan langkah kaki membuat Aiman dan sang istri menoleh kearah pintu dan melihat Annisa datang bersama dengan Damar.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Yah? Bunda?" tanya Annisa.


Karena saat bundanya bercerita melalui sambungan telepon mengenai kecelakaan yang dialami Mikaela, Annisa tidak mendengar jelas kronologis kejadian yang dialami Mikaela.


Ayah Aiman menceritakan apa yang dikabarkan Aldo, adik Raffi padanya.


"Bagaimana ini mas?"


"Biar mas hubungi teman yang tinggal di sana," kata Damar .


Damar mengeluarkan ponselnya dan menghubungi temanya yang tinggal di inggris. Selesai bicara dengan temannya, Damar bicara dengan ayah Aiman.


"Nisa, kau pergi ke sana. Bunda dan ayah tidak bisa karena tidak ada paspor," kata Aini.


"Visa ku juga sudah mati bunda."


"Bagaimana yah? Kasihan El sendiri di sana."


"Temanku akan menemaninya bunda," kata Damar.


"Visa mas masih berlakukan ?" tanya Annisa.


Damar mengangguk.


"Mas saja ke sana! Tolong mas ," kata Annisa.


"Tolong Nak Damar," ujar bunda Aini.


Ayah Aiman tidak bicara sepatah katapun. Mulutnya sudah tidak bisa untuk berkata apapun lagi. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Hal-hal buruk sudah berseliweran didalam pikirkan.


"Ya... Alloh, lindungi putriku ya Alloh." batin Aiman. Aiman memegang dadanya yang terasa sesak, dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri dan putrinya Annisa. Yang ada dalam bayangannya, tubuh Mikaela bersimbah darah terbaring di atas brankar sendirian di negara orang.


***


"Pergi!" Inara mengusir Faiz.


"In.... " belum selesai Faiz menyebut nama Inara, Faiz sudah mendapatkan pengusiran dari Inara kembali.


"Pergi!" usir Inara dengan suara yang pelan, tapi dingin. Raut wajah Inara tidak berekspresi. Wajah datar dan pucat menghiasi wajah Inara.


"Jangan usir aku Inara," kata Faiz.


"Di sini tidak ada Inara! Inara sudah mati bersama dengan kecelakaan itu, Kau tahu !" kata Inara dengan nada suara yang sinis. Sedikitpun tidak terlihat matanya melihat Faiz saat berbicara.


"Nak Faiz, pergilah." mohon ayah Inara.


"Om, jangan suruh aku pergi. Tolong Om," kata Faiz.


"Biarkan Inara tenang dulu," kata Rizal, papanya Inara.


Papa Inara menarik Faiz keluar dari kamar Inara.


Next...

__ADS_1


__ADS_2