
Usaha butik yang di rintis Mikaela semakin berkembang. Ide memasarkan sendiri rancangan dan hasil jahitan, ternyata ide yang brilian. Merekrut ibu rumah tangga, membuat para ibu rumah tangga yang tadinya tidak punya penghasilan, kini mereka mendapatkan penghasilan untuk membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan rumah.
"Selamat ya El. Kau itu cocok menjadi pengusaha. butik pakaian anak-anak milikmu semakin besar. Dulu kau hanya menyewa toko, sekarang kau memiliki toko atas namamu sendiri," kata Aira.
"Keren kau El... !" Inara memuji Mikaela dengan mengacungkan dua jari jempolnya.
"Jangan terlalu memujiku, nanti aku besar kepala. Sampai-sampai aku tidak bisa menunduk dan mengangkat kepala," kata Mikaela.
"Kami tidak memujimu secara berlebihan, El. Apa yang kami katakan itu memang kenyataan. Kau itu hebat. Sekarang kau sudah menjadi pengusaha sukses. Yang awalnya hanya menyewa toko dan kini kau punya toko sendiri. Aku tidak akan mampu mengikuti apa yang kau lakukan, bekerja dan mendirikan usaha" Aira.
"Apalagi aku. Aku itu tidak bisa membuka usaha untuk membuka lowongan kerja. Sedangkan kau membuka usaha untuk mengurangi pengangguran." puji Inara..
"Toko ini bukan hanya aku yang ikut andil, uang ayah lebih banyak didalam membeli toko," kata Mikaela.
"Walaupun dibantu, tapi kau bisa mendirikan usaha sendiri," kata Aira.
"Kalian juga bisa, jika mau," kata Mikaela.
"No... ! Aku tidak akan mampu menghandle apa yang kau lakukan. Menghitung pemasukan dan pengeluaran toko, kepalaku akan pusing. Dan rambutku akan berguguran," kata Aira.
"Kalau aku, pasti sudah tutup toko. Begitu dua bulan tokonya dibuka," kata Inara dengan tertawa kecil.
"Bener." Aira menimpali ucapan Inara.
"Kalian terlalu merendah. Kalian berdua adalah teman yang selalu mendukungku, sehingga aku bisa seperti sekarang ini. Kalian juga ikut mengeluarkan ide membantuku mendesain baju ," kata Mikaela.
"Terima kasih... !" seru Mikaela dan merentangkan kedua tangannya, dan memeluk Inara dan Aira.
"Ternyata, otak kita berguna juga Aira," kata Inara.
"Otakku keles.... !" balas Aira.
"Otaku.... !" balas Inara.
__ADS_1
Keduanya tidak ada mau mengalah, sehingga Mikaela menarik keduanya untuk membantunya mendesain baju yang akan diserahkannya kepada penjahit.
*
*
Annisa pergi bersama Mikaela untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan, setelah Annisa merasa ada keanehan pada tubuhnya. Dia merasa tubuhnya lemas dan tidak berselera makan.
"Selamat nyonya... anda hamil," ujar dokter Samira, setelah memeriksa melalui pemeriksaan air seni dan kemudian juga melakukan USG. Agar pemeriksaan benar-benar akurat. Karena, Annisa belum begitu yakin dengan hasil tes pack yang diperlihatkan oleh dokter.
"Hamil! Saya hamil Dok? Annisa seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Samira.
"El, apa kau mendengar apa yang dikatakan oleh dokter? Mbak hamil? Apa benar yang dikatakan oleh Dokter, El...?" Annisa menoleh kearah Mikaela yang berdiri di sisi ranjang.
"Iya Mbak. Dokter mengatakan Mbak hamil, mbak tidak salah dengar." Mikaela menggenggam tangan Annisa.
"Lihatlah Nyonya, ini calon bayi anda. Ada satu kantong, di sini. Masih terlalu kecil, dilihat dari mentruasi anda yang terakhir. Di perkirakan kehamilan anda ini baru tiga mingguan, anda harus hati-hati nyonya. Karena fase-fase kehamilan yang rentan dengan terjadinya keguguran." tutur dokter Samira.
"Betulkan Mbak, apa yang El katakan kali ini. Mbak hamil..!" seru Mikaela gembira. karena apa yang dikatakannya kali ini, benar-benar terjadi. Annisa akhirnya hamil juga. Penantian Annisa selama lebih dua tahun, sudah membuahkan hasil.
"Keguguran, jika anda tidak hati-hati nyonya. Semua wanita yang hamil jika tidak hati-hati, rentan dengan terjadinya keguguran. Makanya, saya ingatkan kepada setiap pasien saya untuk berhati-hati. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat dahulu." jelaskan dokter Samira .
"Mbak tidak boleh, angkat barbel. Iya kan Dok?' Mikaela menggoda Annisa.
"Ih.. Mbak mana pernah ngangkat barbel," ujar Annisa.
"Mungkin saja Mbak ngidam ngangkat barbel." balas Mikaela.
"Dokter, apa makanan yang harus tidak dikonsumsi oleh mbak saya?" tanya Mikaela yang sangat antusias mengenai kehamilan Annisa.
"Makanan pedas bolehkan, Dok? Karena saya jika tidak makanan yang pedas. Tidak terasa makan Dokter?" tanya Annisa yang penyuka makanan pedas. Annisa tidak akan bisa makan jika tidak ada sambal.
"Boleh saja nyonya. Tapi jangan terlalu sering dan terlalu pedas juga," kata dokter Samira.
__ADS_1
Annisa turun dari ranjang dengan perasaan yang bahagia. Kehamilan yang sudah ditunggu-tunggu olehnya dan sang suami akhirnya terwujud.
"Ini saya beri resep vitamin penguat kandungan. Dan Nyonya, perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. Itu lebih bagus daripada vitamin ini sebenarnya," kata dokter Samira.
Keluar dari praktek dokter spesialis kandungan. Keduanya, Annisa dan Mikaela mampir di tukang bakso dipinggir jalan. Karena, Annisa tiba-tiba sangat ingin makan bakso beranak. Tempat mereka dulu sering makan bakso, sebelum Annisa menikah.
"Mbak, kita makan bakso di sini?" melihat Annisa menghentikan mobilnya didepan warung bakso dipinggir jalan, tempat mereka sering nongkrong makan bakso dahulu bersama dengan sang Bunda.
"Iya, kenapa? mbak rindu dengan bakso Mamang. Kuahnya, Em...air liur mbak sudah mau menetes ini, ayo cepat..!"
Annisa keluar dari mobil diikuti Mikaela, keduanya mengambil posisi duduk dibelakang.
"Mbak, apa Mas Damar tidak marah. mbak makan bakso di pinggir jalan?" tanya Mikaela. Karena dia tahu, suami Annisa, Damar. Sangat selektif memilih makanan yang akan dikonsumsi olehnya dan Annisa.
"Mas Damar tidak tahu, jika tidak kita katakan. Awas ya El... Jangan katakan kita makan bakso di sini," kata Annisa pada Mikaela.
"Huh...mbak Nisa mengajariku untuk berbohong... !" Mikaela menceburkan bibirnya.
"Adik mbak yang baik dan cantik, harus nurut dengan mbak ya."
"Baiklah, El akan berbohong kali ini. Tapi, hanya sekali ini saja. El tidak ingin bohong lagi. Menumpuk nanti dosa El, dan tidak gratis.... !" kata Mikaela.
"Mbak akan traktir El dua mangkok bakso. bagaimana?"
"Demi dua mangkuk bakso, baiklah. Ya Tuhan... maafkan hamba hari ini," kata Mikaela dengan kedua tangan menengadah untuk berdoa.
Selagi menunggu pesanan mereka datang, keduanya berbincang-bincang membahas kehamilan Annisa.
"Mbak jangan bawa mobil sendiri lagi ya, ingat kata dokter. Awal-awal kehamilan, masih rentan dengan terjadinya keguguran," kata Mikaela mengingatkan Annisa.
"Iya, bawel..! El sudah seperti emak-emak saja, banyak sekali larangannya," kata Annisa.
"Apa yang aku katakan ini juga demi keamanan kandungan mbak lo....," kata Mikaela.
__ADS_1
"Iya... adik kesayangannya mbak. El... berita kehamilan mbak ini, jangan beritahukan pada ayah dan bunda dulu ya, biar nanti mbak kasih surprise pada bunda dan ayah," kata Annisa.
"Baik boss !" Mikaela mengangkat tangan memberi hormat pada Annisa.