
Happy reading guys
...----------------...
"Dan aku Aldo," suara dari belakang, membuat Mikaela memutar tubuh dan melihat orang yang mengenalkan diri sebagai Aldo.
"Kau !" Mikaela tidak lupa dengan Aldo, walaupun sudah lama berlalu. Dia masih ingat dengan wajah laki-laki yang memberikan bunga padanya dulu.
"Aku adik pria itu, pria yang menyuruh adiknya untuk memberikan bunga kepada seorang gadis," kata Aldo sembari melangkah mendekati Mikaela.
"Bunga itu.... ?"
"Dari dia!" jemari Aldo menunjuk Raffi yang cengar-cengir sambil mengusap wajahnya.
"Mereka berdua adikku, keduanya kembar. Ini Aldo dan itu Alina," kata Raffi.
Aldo dan Alina melambaikan tangannya kepada Mikaela.
Lalu Alina meraih tangan Mikaela dan membawanya masuk kedalam rumah. Raffi dan Aldo mengikuti keduanya. Tiba didalam rumah Mikaela dikejutkan dengan pelukan Mama Raffi yang sudah menunggu kedatangannya di depan pintu masuk.
"Raffi! Akhirnya kau membawa seorang wanita ke acara keluarga Angkasa," kata seorang pria paruh baya. Tangan pria tersebut menepuk pundak Raffi yang tertunduk malu. Begitu juga dengan Mikaela, karena dia dikerumuni oleh para wanita.
"Kami kira kau akan sendirian sampai rambutmu memutih Raffi, adikmu Aldo sudah berkali-kali membawa gadis untuk dikenalkan. Kau satu saja tidak terlihat hilalnya," kata wanita yang berada didekat mamanya Raffi.
"Sekarang kami tahu, kau itu pria yang normal. Bro," ucap laki-laki yang kelihatannya seumuran dengan Raffi.
"Cukup! Jangan goda lagi Raffi. Nanti dia kabur membawa pergi calon menantuku," kata Mama Raffi.
"Waduh... kenapa mereka menganggap aku sebagai calon menantu, koq jadi begini?" suara hati Mikaela.
Mikaela kikuk mendapatkan sambutan yang meriah dari saudara-saudara Raffi. Mereka menganggap Mikaela sudah sebagai calon istri Raffi. Dia hanya tersenyum dan tertawa saat saudara-saudara Raffi yang terdiri dari Paman dan Tante Raffi yang bergantian menggodanya dan Raffi.
"Terima kasih karena sudah mau datang menghadiri ulang tahun Tante. Sudah sejak lama Tante mau bertemu dengan Mikaela. Tapi bujang lapuk itu tidak bawa Mikaela juga," kata Mama Raffa.
"Aku kan tidak tahu rumahnya, Ma." alasan Raffi, kenapa dia tidak bisa mengabulkan keinginan Mamanya.
"Kakak saja yang bodoh, Ma. Masa untuk mencari alamat saja sulit. Di data-data mahasiswa kan ada alamat para mahasiswa," kata Aldo.
"Kalau kakakmu itu bodoh! Kenapa kau tidak bantu untuk mencari alamatnya," kata Yuni, Mama Raffi.
"Siapa bilang Aldo tidak tahu alamatnya. Nomor ponselnya juga tahu. Aku sejak disuruh kak Raffi sebagai tukang bunga, sudah menyelidiki siapa gadis yang diberikan bunga oleh kak Raffi," kata Aldo.
"Aku juga tahu, Aldo sudah bilang padaku." timpal Alina.
"Dasar kembar! senang lihat kakaknya merana," kata Raffi.
"Usaha Lah... jangan mau enak saja, harus berjuang untuk mendapatkannya, dan akan berpikir ulang untuk membuat orang yang kita sayang itu sakit hati. Untuk mendapatkannya saja sulit," kata Alina.
"Kenapa jadi begini? Aku kan tidak ada apa-apa dengan kak Raffi." monolog dalam pikiran Mikaela.
"Apakah ini calon Raffi kita?" Seorang wanita yang sudah sepuh. Tapi masih terlihat energik datang menghampiri Mikaela.
__ADS_1
"Ini Nenek Raffi." Mama Raffi, mengenalkan wanita tersebut sebagai Nenek Raffi.
Mikaela langsung berdiri dan meraih tangan wanita tersebut dan mencium tangannya.
"Gadis yang santun. Nenek suka," ucap Nenek Raffi.
"Duduk Nek." Alin berdiri dan memberikan kursi yang didudukinya kepada sang Nenek.
Raffi yang sedang berbincang-bincang dengan Paman dan para sepupunya langsung menghampiri sang Nenek. Saat melihat keberadaan sang Nenek.
Raffi berlutut didepan sang nenek dan kemudian meraih tangan sang Nenek dan mengecupnya.
"Dasar anak nakal! Sudah berapa lama kau tidak mengunjungi Nenek," kata sang nenek pada Raffi.
"Maaf Nek. Jadwal Raffi sangat padat."
"Nenek menunggumu membawa gadis ini ke rumah, bawa dia ke makam anakku juga," kata Nenek Raffi, pada sang cucu yang berlutut dihadapannya.
"Anak Nenek, Papaku Nek," kata Raffi dengan tertawa.
"Kau masih ingat?" tanya neneknya.
"Ingatlah, Nek. Maafkan Raffi karena sudah lama tidak pulang ke kampung. Begitu ada waktu senggang, Raffi akan mengunjungi Nenek," kata Raffi.
"Nenek menunggumu membawanya," kata Nenek Raffi.
"Semakin tidak terkendali ini" gumam Mikaela dalam hati.
Raffi tahu. Mikaela tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarganya. Tapi Raffi tidak ada pilihan lagi. Dia sangat ingin mengenalkan Mikaela pada keluarga besarnya. Dan moment pada ulang tahun sang mama. Raffi mengambil kesempatan untuk mengenalkan Mikaela.
"Maaf untuk apa ?" tanya Mikaela.
Sebenarnya Mikaela tahu, kata maaf untuk apa. Tapi dia pura-pura tidak tahu saja.
"Keluargaku pasti sudah membuatmu tidak nyaman," kata Raffi.
"Apa yang kak Raffi katakan pada mereka ? sehingga mereka menganggap kita punya hubungan?" tanya Mikaela.
"Tidak ada yang aku sembunyikan. Mereka tahu aku menyukai mahasiswiku sendiri, itu Karena mulut Aldo yang tidak bisa menyimpan rahasia."
Cerita mengalir dari mulut Raffi, sampai Mikaela turun di mall.
"Ela... jika kakak ajak keluar lagi, mau kan ?"
"Jika tidak sibuk. dan katakan mau pergi kemana, jangan seperti tadi. Aku tidak bawa kado lagi, pake baju seperti gembel begini," kata Mikaela.
Yang hari ini hanya memakai pakaian casual dan sangat tidak layak dibawa ke pesta ulang tahun menurut Mikaela.
Tapi Raffi suka dengan gaya Mikaela yang casual, terlihat Mikaela energik dan terlihat santai.
***
__ADS_1
Dikediaman Damar. Annisa tidak tenang, karena Damar sang suami belum tiba di rumah. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Mas Damar kemana ini?" Annisa bangkit dari ranjang. Kemudian dia duduk duduk di sisi ranjang. Annisa mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi nomor sang suami. Tapi ponsel Damar tidak terhubung.
"Kemana Mas Damar? Tadi katanya pulang cepat." gerutu Annisa. Karena sudah beberapa kali Damar selalu ingkar janji. Janji ingin pulang cepat, ternyata tidak. Padahal hari ini jadwal Annisa untuk periksa kandungannya. Tapi karena Damar tidak bisa dihubungi. Annisa membatalkan kunjungan periksa kandungan.
Annisa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari dalam kamar. Annisa melangkah menuju area belakang dan melihat paviliun khusus untuk para pekerja tinggal terang. Menandakan para pekerja belum pada tidur. Sejak dia hamil, para pekerja diperintahkan Damar untuk tinggal, tidak pulang hari. Karena dia sering pergi keluar kota dan takut meninggalkan Annisa sendiri.
Bik Imah yang masih mengerjakan pekerjaan, melihat keberadaan Annisa bergegas menghampiri sang majikan.
"Ibu butuh apa? biar saya ambilkan," ucap Bik Imah.
"Pak Zul mana Bik ?" tanya Annisa.
"Zul ada di kamarnya Bu. Apa perlu saya panggil kan?"
"Tolong bilang pada Pak Zul untuk membelikan martabak manis ya Bik," kata Annisa.
"Siap Bu," ujar Bik Imah. Tanpa menunggu perintah kedua kalinya. Bik Imah langsung bergegas menuju kamar Zul untuk membelikan martabak manis permintaan sang majikan.
Setengah jam kemudian, Zul pulang membawa martabak manis. Berbarengan dengan kepulangan Damar.
"Sayang, makan apa itu?" tanya Damar.
"Nanya ? padahal sudah tahu tadi aku mesan apa pada Mas," kata Annisa.
"Waduh... !" Damar menepuk jidatnya, karena melupakan pesanan Annisa.
"Lupakan... ? Kenapa Mas pulang malam? Tadi katanya bisa pulang cepat. Apa Mas lupa, hari ini jadwal periksa ke dokter kandungan," kata Annisa.
"Maaf... Mas tadi tidak bisa menolak permintaan Papa untuk menemani Papa bertemu klien. Biasanya Papa bersama dengan asistennya. Tetapi hari ini Doni tidak bisa menemani Papa," kata Damar, kenapa dia pulang malam. Dan melupakan jadwal Annisa kontrol kandungan.
"Alasan," kata Annisa.
"Benar sayang... Kalau tidak percaya, tanya Mama. Mama juga yang menyuruh Mas untuk menemani Papa. Karena Mama takut Papa tidak kontrol makanan, jika tidak ada yang mendampingi."
Damar merangkul Annisa. " Maaf ya. Besok Mas akan kosongkan waktu untuk sayang. Cup... " Damar mendaratkan kecupan dipipi Annisa, membujuk Annisa yang ngambek.
"Janji! Jangan janji tinggal janji," kata Annisa dengan jutek.
"Janji... !" ucap Damar dengan mengacungkan dua jari tangannya.
"Awas jika Mas ingkar janji. Aku akan pulang ke rumah ayah dan bunda." ancam Annisa.
"Janganlah... Masa ditinggal sendiri. Tidak bisa tidur sendiri. Jangan ya... Besok tidak akan ingkar janji. Percayalah," kata Damar.
"Awas kalau ingkar... aku tinggal pulang..!"
"Tidak akan ingkar. Besok aku akan cuti. Besok mau kemana juga, ayo... aku akan siap mendampingi," kata Damar.
Annisa mencebikkan bibirnya, mendengar apa yang dikatakan oleh Damar.
__ADS_1
"Semoga betul," ucap Annisa.
next