
Happy reading guys.
......................
"Kenapa kau menggigitku !"
"Sudah aku bilang aku tidak mau minum obat ! Biarkan aku mati saja ! Ayah... jemput El, Yah.... !" seru Mikaela dibarengi dengan isakan lirih dari mulutnya.
Damar yang ingin meluapkan kemarahannya, terdiam. Dia melihat wajah basah karena air mata Mikaela mengalir deras. Dia tidak tega ingin marah. Apa yang terjadi pada Mikaela, karena kurang tegas dirinya. Jika dia tetap keukeh menolak keinginan Annisa, walaupun Annisa mengancam, Mikaela tidak akan terjebak didalam rumah tangganya dengan Annisa.
"Maaf... Maaf ." Damar menarik tubuh Mikaela dan memeluknya.
"Lepas !" ucap Mikaela dengan suara yang lemah, karena tenaganya sudah terkuras, sejak malam kemarin. Entah apa yang menghinggapi dirinya, sehingga dia tidak menolak Damar. Sehingga terjadi persetu*buhan itu. Mikaela tidak seperti Damar yang melupakan apa yang dilakukannya, Mikaela masih mengingat ketika dirinya diangkat Damar ke atas ranjang dan melepaskan pakaiannya dengan cara merobeknya, tetapi Mikaela tidak bisa menolak perbuatan Damar. Isi otaknya pada malam itu Fifty-Fifty, ingin menolak tapi tidak bisa. Ingin menerima, tapi ada sisi otaknya yang ingin meronta dari Kungkungan tubuh kekar Damar.
"Maaf ," kata Damar lagi.
"Aku sebenarnya tidak mau menikah lagi, tapi ancaman Annisa itu tidak bisa dianggap sekedar ancaman. Dia nekad," kata Damar.
Apa yang dikatakan oleh Damar, itu juga yang membuat Mikaela tidak bisa menolak permintaan Annisa. Mikaela takut, jika penolakannya akan membuat Annisa berbuat nekad dan membuat Mikaela merasa bersalah pada ayah dan bunda Aini yang telah merawatnya sejak dia kecil.
Mikaela mendorong tubuh Damar. Kemudian Mikaela turun dari ranjang.
"Mau kemana?" tanya Damar.
"Jangan hiraukan aku," kata Mikaela.
Damar mengikuti Mikaela yang berjalan dengan langkah seperti diseret, karena dia masih merasa tidak nyaman area sensitifnya. Entah berapa kali Damar menggaulinya, Mikaela tidak mengingatnya.
"Ela , mau kemana?"
Mikaela memutar tubuhnya, menatap tajam Damar. "Sudah aku bilang! Jangan hiraukan aku !"
Langkah Damar terhenti seketika, karena bentakan Mikaela.
Mikaela melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena memarahi Damar.
Mata Damar melihat ada keanehan dalam cara Mikaela berjalan. "Apa... apa?"
"Ela ! Apa kau masih perawan?" spontan pertanyaan itu meluncur dari mulut Damar.
"Brengsekk... Kau !!" seru Mikaela kesal, karena diingatkan dengan apa yang sudah direnggut oleh Damar.
Bum...
__ADS_1
Pintu kamar mandi tertutup dengan kerasnya, sampai Damar tersentak.
"Mikaela masih suci ? Terlihat dari cara dia berjalan. Aku telah membuat Ela sakit. Apa yang aku lakukan tadi malam? Apa aku memperkosanya? Tidak ! Dia istriku... Ohhh God! Semoga Annisa tidak tahu apa sudah aku lakukan." Damar merasa bersalah dengan apa yang terjadi, karena telah merenggut kesucian Mikaela dan mengkhianati Annisa.
"Dia belum pernah disentuh oleh Raffi? Pernikahan apa yang mereka jalani? Apa Mikaela tidak mencintai Raffi ? Kalau Raffi, sudah bisa dipastikan sangat mencintai Mikaela."
Pintu kamar mandi terbuka, wajah Mikaela terlihat basah. Dan sisa-sisa air mata sudah tidak terlihat, hanya mata bengkak yang tersisa menghiasi wajahnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Damar.
"Kenapa? Apa kau mengharap aku mengakhiri hidupku ? Jangan khawatir, aku masih takut dengan Tuhan. Aku tidak seperti belahan jiwamu itu, yang bisanya mengancam orang untuk mendapatkan keinginannya."
Mikaela merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya sampai menutupi sekujur tubuhnya.
"Ela ... Makan sarapan ini dulu, kau tidak makan dari semalam."
Mikaela membuka selimut sedikit dan melotot melirik Damar. "Sudah aku katakan, jangan hiraukan aku ! Apa kau tidak mengerti bahasa manusia? bahasa apa yang harus aku pergunakan, agar kau paham Tuan Damar Wiratama!"
"Oke... Maaf ." Damar mengangkat kedua tangannya ke atas.
Mikaela kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.
Damar keluar meninggalkan Mikaela. Dia tidak ingin membuat Mikaela kesal kepadanya.
"Mang, sudah hubungi Mama?"
"Kenapa? Apa sopir tidak ada yang menganggur ? Mamang menghubungi Mama pakai apa? Ponsel saya tidak ada signal ."
"Pakai ponsel ini, Den. Ponsel jadul." Mang Dul menunjukkan ponselnya, merek ponsel yang dulu sangat booming di masanya.
"Bisa ?"
"Bisa Den. Tapi harus naik keatas pohon dulu, mamang yakin aden tidak akan bisa manjat pohon untuk mendapatkan signal. Lihat tubuh mamang ini di gigit semut ." Mang Dul memperlihatkan kulit tangannya yang merah bentol-bentol.
"Di gigit semut itu, mang ?"
"Iya lah... Den, gatal Den. Mamang sarankan, jangan ada niat Den Damar untuk naik pohon."
Dengan wajah yang lesu, Damar meninggalkan Mang Dul. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang terletak dibawah pohon. Damar mengarahkan pandangan mata melihat keatas pohon.
"Bukan pohon itu, Den ," kata Mang Dul, karena melihat Damar mengamati pohon.
"Mana pohonnya, Mang?"
__ADS_1
"Jauh Den ! Sono !" telunjuk Mang Dul mengarah ketempat yang penuh ditumbuhi ilalang.
Damar berdiri dan melangkah menuju tempat yang ditunjuk oleh Mang Dul.
"Waduh... ! Gawat, jangan sampai Den Damar mengajakku ke sana."
Damar berdiri menatap ilalang setinggi pinggangnya.
"Serem jalannya, Den. Banyak ularnya Den, tadi saja mamang hampir terinjak ular. Mamang kira ranting kayu, ternyata ular cobra, Den. Mamang langsung melakukan gerak langkah seribu, akhirnya, mamang selamat. Jika tidak tadi, tidak ada yang tahu mamang terkapar di gigit ular."
Damar ciut nyalinya, begitu mendengar cerita Mang Dul. Niatnya tadi ingin mencoba untuk naik pohon, diurungkannya.
"Kenapa Mama membeli rumah di tempat terpencil begini ? Akses jalan lumayan, tapi rumah ditempat terpencil begini, siapa yang mau tinggal di sini."
"Kata Bu Amel, tempat ini bagus untuk melepaskan penat, setelah menghadapi rutinitas sehari-hari, Den. Sampai di sini, internet tidak ada. Sudah tentu tidak akan bisa mengakses," kata Mang Dul.
"Biasanya, walaupun liburan, kaum bapak-bapak masih membahas masalah pekerjaan dan masih mendapatkan laporan dari kantor," kata Mang Dul, menambahkan perkataannya.
"Mama ingin membuat tempat ini tempat liburannya bersama dengan Papa?"
"Iya Den."
"Ada-ada saja Mama."
"Tempat ini indah, Den. Tidak jauh di sana ada sungai, airnya sangat jernih. Hanya itu tadi, akses jalan belum bagus."
***
"Mang Koko harus ngebut ya."
"Jangan!" kata Aryan.
"Apa Mama mau kita tidak sampai ke sana?" tanya Aryan pada Amelia.
"Nggak lah, Pa."
"Mama khawatir, Pa ! El sakit apa?"
"Makanya Mama itu jangan iseng ngerjain Damar, dengan mengirim mereka ketempat terpencil begitu. Main perintah bensin jangan isi full lagi. Bagaimana jika tadi mereka kenapa-napa? Pasti Mama merasa sangat bersalah." Aryan mengomeli sang istri.
"Mama kesal dengan Damar dan Annisa, Pa. Karena itu Mama mengirim Damar dan El ke sana."
"Annisa bagaimana? Apa Bik Imah sudah memberi kabar ?"
__ADS_1
"Tadi Mama menghubungi Bik Imah dan mengatakan, Annisa belum pulang. Mungkin dia pulang menunggu Damar pulang."
"Pusing Papa, mempunyai mantu dua. Bagaimana Damar nanti ?"