
Happy reading guys.
......................
Pintu ruang kerja Damar terbuka dan Annisa masuk kedalam.
"Bisa kita bicara mas?" Annisa berdiri di depan meja kerja Damar.
"Ada apa? Jangan katakan lagi kau mencurigai aku, Nisa," kata Damar.
"Aku tidak ingin membahas itu, mas. Ada masalah yang lebih besar dari itu," kata Annisa.
Damar mengeryit menatap wajah Annisa.
"Ada apa? Apa bunda ada masalah?"
"Semalam aku ke dokter," kata Annisa.
"Ke dokter? Apa kau sakit, Nisa?" Damar bangkit dari duduknya dan beranjak mendekati Annisa.
"Tidak ! Aku baik-baik saja."
Wajah Damar berubah gembira. "Apa kau hamil ?" tanya Damar.
Raut wajah Annisa berubah sendu. Damar melihat itu merasa bersalah, karena menanyakan hal yang sangat sensitif bagi Annisa.
"Dokter mengatakan kandunganku lemah, melakukan program bayi tabung juga kemungkinan untuk berhasil sangat kecil."
Damar merengkuh tubuh Annisa dan memeluknya. Dia mendaratkan kecupan di pucuk rambut sang istri dan mengusap-usap punggung Annisa.
"Sudahlah, apa yang sudah digariskan oleh Allah kepada kita terima saja. Mungkin kita memang ditakdirkan hanya berdua saja. Jangan pikirkan lagi masalah anak," kata Damar.
Annisa melepaskan tubuhnya dari pelukan Damar. "Mas itu anak laki-laki satu-satunya! Mas harus memiliki keturunan," kata Annisa seraya menatap wajah sang suami dengan lekat.
"Masih ada Dania, dia bisa memberikan cucu kepada Mama dan papa."
"Beda mas, Dania wani, anaknya akan membawa nama garis keturunan suaminya. Mas yang harus memberikan keturunan."
"Papa dan mama tidak akan membedakan itu semua, Nisa. Anak Dania juga keturunan keluarga Wiratama."
"Tidak boleh, aku harus punya anak. Jika tidak nanti, kekayaan keluarga Wiratama akan jatuh pada Dania." batin Annisa.
"Ada jalan mas, agar kita memiliki anak dari benihmu sendiri mas," kata Annisa.
"Pakai ibu pengganti." tambah Annisa.
Damar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Annisa. "Apa kau bilang, Nisa ?" mata Damar membulat menatap Annisa.
"Ibu pengganti, kita ambil wanita untuk hamil anak kita, mas ."
Dengan mata bulat sempurna, Damar mundur selangkah dan melihat wajah Annisa dengan mata yang tajam.
__ADS_1
"Kau... Ka-Kau mau aku menikah lagi ? Aku poligami?"
"Bukan mas ! Ibu pengganti tidak perlu kau menikahinya. Kita hanya butuh rahimnya saja." Annisa menerangkan apa yang di maksud dengan ibu pengganti.
"Tidak! Aku tidak mau !" kata Damar menolak dengan tegas.
"Mas ! Kau tidak mau memiliki anak sendiri?"
"Aku mau, Nisa! Tapi tidak dengan cara itu ! Aku tidak ingin anakku dikandung oleh wanita yang kita tidak tahu asal usulnya! Apa yang di makannya setiap hari ! Bagaimana dia menjalani kehidupan setiap hari ! Bagaimana jika wanita itu seorang wanita yang tempramental dan suka dengan kehidupan malam ! Apa nanti anak kita akan memiliki sifat seperti ibu pengganti."
"Karena itu kita harus mencari wanita yang sudah kita kenal dan tahu bagaimana kehidupan wanita itu," kata Annisa.
"Siapa? Siapa wanita itu ? Apa kau sudah menemukan orang itu ?" tanya Damar.
"Sudah, mas."
"Siapa?"
"Mikaela," jawab Annisa.
"Apa ? Mikaela... Mikaela, adikmu ? Apa... A-pa ada Mikaela yang lain ?"
"Mikaela adikku, dia yang akan menjadi ibu pengganti. Dia yang akan mengandung anak kita mas."
Damar mengusap wajahnya dan mencengkram dagunya.
"Tidak... ! Tidak... ! Aku tidak mau ," kata Damar.
"Aku inginkan? Apa mas tidak menginginkan anak juga? apa mas ada solusi lain? Koq aku jadi curiga ? Mungkin mas mau menikah lagi ? Iyaa... Kan ? kecurigaanku benar ? Mas pasti menjalin hubungan dengan rekan bisnis, mas itu !" tuduh Annisa.
"Nisa!" Damar marah mendengar tuduhan Annisa. Padahal dia sudah menceritakan mengenai Alisa Salim, wanita yang di curigai Annisa beberapa bulan yang lalu dan sempat membuat Annisa mendiamkannya beberapa hari, meninggalnya ayah Aiman membuat keduanya introspeksi diri, kenapa Annisa bisa mencurigai.
"Kenapa mas ? Kenapa kau tidak mau punya anak?"
"Aku bukan tidak mau punya anak, Nisa ! Aku mau ! Tapi bukan begitu caranya, dengan meminta El untuk berkorban demi kita memiliki momongan," kata Damar dengan intonasi suara yang sedikit keras.
"Mas harus mau, jika tidak mau ! Mas akan kehilangan aku," ucap Annisa dengan nada mengancam.
"Apa.... !?"
"Aku akan pergi," kata Annisa mengancam Damar.
"Apapun yang kau katakan, aku tetap menolaknya." Damar tidak takut dengan ancaman Annisa, karena dia tahu, tidak mungkin Annisa mau meninggalkannya.
"Baiklah!"
Tiba-tiba Annisa mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Bless....
Secepat kilat tangan Annisa yang menggenggam pisau kecil menerpa tangannya.
__ADS_1
Dan ....
"Nisa !!!"
Darah segar muncrat menerpa lantai. Damar yang melihat cukup terkejut, karena tidak mengira Annisa melakukan itu. Dia mengira ancaman Annisa pergi adalah meninggalkan rumah. Ternyata, bukan.
Damar mengambil kain untuk mengikat tangan Annisa yang mengucurkan darah. Sedangkan Annisa hanya diam melihat Damar sibuk menghentikan pendarahan di bekas luka yang dibuatnya.
Damar menghubungi dokter yang dikenalnya. Dan tinggalnya juga dekat rumahnya, karena dia tidak ingin ada orang yang tahu mengenai kejadian yang terjadi pada keluarganya. Apalagi sampai kedua orangtuanya juga sampai tahu, bisa-bisa Annisa akan mendapatkan wejangan tujuh hari tujuh malam.
"Tidak berbahaya Dok?"
"Tidak Pak Damar, lukanya tidak sampai memutuskan urat nadi istri bapak," kata dokter Umam.
Damar menghantarkan dokter keluar dari kamarnya, dan kemudian menyuruh Bik Imah yang menghantarkan dokter Umam keluar.
Apa yang terjadi ingin dirahasiakan oleh Damar, tidak terjadi. Karena pada saat Bik Imah menghantarkan dokter. Mobil yang dikemudikan sendiri oleh Amelia, Mama Damar masuk kedalam pekarangan rumah Damar. Dan melihat dokter Umam yang mengendarai motor.
"Waduh... Nyonya Amelia datang," ucap Bik Imah dengan suara yang pelan.
"Kenapa dokter Umam datang Bik? Siapa yang sakit ?" tanya Amelia.
"Itu nyonya... Itu .... " mulut Bik Imah berat untuk berkata.
"Ada apa Bik ? Siapa yang sakit ? Damar?"
Bik Imah tidak menjawab, dia hanya menunjuk ke arah rumah.
"Damar sakit ? sakit apa? Kenapa tidak bilang? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit ?" pertanyaan beruntun meluncur dari mulut Amelia seraya melangkah cepat masuk kedalam rumah.
"Mana Damar? Di kamar?" Amelia naik kelantai atas dan bertemu dengan Damar di ujung tangga.
"Mama !" Damar kaget melihat kemunculan sang Mama.
"Dam, apa yang sakit ?" tanya Amelia.
"Kenapa mama datang?" tanya Damar.
"Mama mau mengajak Nisa ke panti asuhan untuk melakukan kegiatan sosial. Kau sakit apa, Dan ?"
"Itu apa?" Amelia melihat tangan Damar memegang kain kasa putih yang noda darah.
"Tidak apa-apa, ma. Tangan Damar tadi luka."
"Jangan bohong! Katakan! Mana Nisa?" Amelia melihat kearah pintu kamar Damar.
"Tidak ada apa-apa, ma."
"Katakan! Mana Nisa? darah! Dam, kau ribut dengan Nisa? Kau memukul Nisa?"
Amelia mendorong tubuh Damar yang menghalangi jalannya dan bergegas membuka pintu kamar Damar.
__ADS_1
Next...