Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 32 Minta restu


__ADS_3

Happy reading guys


...----------------...


Annisa melangkahkan kakinya meninggalkan ruang praktek dokter Samira. Apa yang dikatakan oleh dokter Samira membuat dia Sedih.


Tanpa ada yang tahu, Annisa menemui dokter Samira sebulan setelah dia mengalami keguguran.


Flashback


"Apa saya belum bisa segera hamil Dok ?"


"Tunggu enam bulan lagi ya Bu, biar kandungan ibu benar-benar normal untuk hamil lagi." saran dokter Samira.


"Kenapa Dok? kenapa harus menunggu enam bulan?"


"Bertujuan untuk mengurangi risiko bayi dengan berat badan lahir rendah, anemia pada ibu, dan kelahiran prematur. Enam bulan tidak lama Bu. Vitamin yang saya berikan minum dengan teratur ya," kata dokter Samira.


Flashback end.


Annisa masuk kedalam mobil.


"Kita pulang Bu?" tanya Zul.


"Kantor pak," kata Annisa.


"Baik Bu," sahut sang sopir.


***


Mikaela berada di satu cafe bersama dengan Raffi. Raffi melihat Mikaela terlihat berbeda dari terakhir dia bertemu.


"Bagaimana dengan keadaan Mbak Annisa?" tanya Raffi.


"Dari luar terlihat baik, tapi psikis nya tidak ada yang bisa menebak, apa yang dipikirkan mbak Nisa."


"Semua orang yang pernah mengalami kehilangan, pasti merasakan apa yang dialami mbak Annisa saat ini. Tugas kita yang berada disekitarnya, untuk selalu mendampinginya," kata Raffi.


"Tapi Mbak Nisa selalu ingin sendiri, sudah dua kali aku datang, Mbak Nisa selalu tidak ada di rumah. Aku tahu, sebenarnya dia ada. Entah kenapa dia tidak ingin bertemu denganku. Bukan aku saja yang ditolaknya, bunda juga! apa kami ada salah ?" Mikaela menghela napasnya dengan kasar.


"Bunda sedih dengan apa yang dilakukan oleh Mbah Nisa," kata Mikaela.


"Apa ada perkataan kalian yang menyinggung perasaannya?" tanya Raffi.


"Tidak ada. Aku tidak ada berkata apapun pada mbak Nisa. Aku hanya mengatakan agar Mbak Nisa sabar, itu saja. Lagipula apa yang harus aku katakan, aku belum pernah mengalami apa yang dialami mbak Nisa. Jadi tidak ada yang bisa aku share pengalaman pribadi padanya," ucap Mikaela panjang lebar.


"Beri mbak Nisa waktu, mungkin saat ini dia ingin sendiri," kata Raffi.


"El... Bagaimana dengan apa yang kakak ungkapkan seminggu yang lalu? Kakak serius El?" Raffi menagih jawaban yang pernah ditanyakan nya, seminggu yang lalu, mengenai perasaan cinta yang yang diungkapkannya kepada Mikaela.


Dekh...


"Waduh ... !" jantung Mikaela seketika deg-degan.


"Kenapa lupa aku, hari ini batas waktu yang diberikan oleh kak Raffi. Karena sibuk memikirkan mbak Nisa, aku sampai tidak memikirkannya," kata Mikaela yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.


"Bagaimana? Kakak serius. Kakak tidak muda lagi, bukan waktunya untuk bermain-main." tutur Raffi.


"Apa kak Raffi tidak masalah, aku ini yatim-piatu. Aku hanya mempunyai ayah dan bunda ," ucap Mikaela


"Apa seorang yatim-piatu tidak layak untuk di jadikan seorang istri? Apa yatim-piatu tidak berhak untuk di cintai? Apa yatim-piatu sampah masyarakat? Apa seorang yatim-piatu itu suatu aib ?" Raffi melontarkan pertanyaan beruntun kepada Mikaela.


Raffi berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya.


"Apa anak-anak yang berada dibawah asuhan panti asuhan, setelah dewasa nanti tidak layak untuk membina rumah tangga?" tambah Raffi.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa menurutmu mereka tidak layak untuk mendapat pendamping hidup?"


Mikaela menunduk. Dia tidak sanggup melawan tatapan mata Raffi yang tajam menatap dirinya.


"Tidak ada yang ingin menjadi seorang yatim-piatu. Tapi itu sudah suratan takdir yang telah digariskan oleh Allah kepada hidup seseorang," kata Raffi.


"Kematian itu tidak bisa dihindarkan. Sekarang kita masih di sini, mungkin besok lusa, bisa saja kakak sudah... " Raffi tidak melanjutkan ucapannya, tangannya bergerak menunjuk keatas.


"Hih .. kak Raffi... ! aku tidak suka mendengar ucapan kak Raffi yang terakhir... !" Kesal Mikaela, karena Raffi mengungkit tentang kematian. Mikaela sangat tidak suka mendengar orang yang membicarakan mengenai kematian, karena dia akan langsung teringat dengan kedua orangtuanya yang telah tiada.


"Maaf," ucap Raffi.


"Bagaimana?" Raffi kembali mengingatkan Mikaela mengenai ungkapan rasa cinta yang sudah pernah dinyatakannya.


"Kalau kak Raffi dan keluarga tidak malu, aku terima," ujar Mikaela dengan suara yang sangat pelan.


Dekh... raut wajah gembira terlihat dari wajah Raffi.


"Aa... apa? aku tidak dengar, coba katakan lagi ," ujar Raffi.


"Masa tidak dengar," ujar Mikaela.


"Serius! tidak dengar, ulang... please!" mohon Raffi. Padahal dia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Mikaela, dia hanya ingin Mikaela mengucap apa yang dikatakannya sekali lagi.


"Ih... kak Raffi ngerjain aku ya ?" bibir Mikaela manyun.


"Please... ulangi ya !"


"Iya... aku terima!" ulang Mikaela dengan cepat.


"Alhamdulilah.... !" seru Raffi seraya merentangkan kedua tangannya keatas .


"Ih... kak !" Mikaela malu dengan apa yang dilakukan oleh Raffi, karena suasana cafe yang lumayan banyak pengunjung. Dan apa yang dilakukan Raffi menjadi pusat perhatian para pengunjung.


Raffi menghantarkan Mikaela pulang dan memaksa untuk bertemu dengan kedua orangtuanya Mikaela.


"Om, tante. Saya Raffi Samudra ingin memohon izin untuk menjalin hubungan dengan Mikaela," kata Raffi begitu berhadapan dengan Aiman.


Aiman yang belum pernah bertemu dengan Raffi, menatap Raffi dengan tajam. Duduk tegak, dengan kedua tangannya melipat didepan dada.


"Ayah ." Aini menyikut lengan sang suami yang menatap Raffi dengan tajam. Dia tahu, sang suami menatap Raffi untuk mencari kebohongan di wajah pria yang ingin menjalin hubungan dengan Mikaela.


"Apa kau serius ?" tanya Aiman.


"Serius Om!" sahut Raffi lantang.


"Apa kau bisa main catur?" tanya Aiman.


"Hah.... !" mulut Raffi mangap mendengar pertanyaan Aiman.


"Ayah!" seru Mikaela. Begitu juga dengan Aini.


Aiman mengangkat tangan untuk kedua wanita yang ingin bicara kepadanya. Aini dan Mikaela menutup mulutnya.


"Bagaimana? bisa main catur ?" tanya Aiman kembali.


"Bisa Om... tapi tidak jago ," sahut Raffi.


"Ambilkan!" titah Aiman pada Mikaela.


"Ambil apa Yah ?" tanya Aini.


"Catur. Ayah akan menguji pria ini, apa bisa dia mengalahkan pria tua ini ," kata Aiman.


Mikaela berlalu mengambil papan catur yang diminta ayahnya.

__ADS_1


"Ayah, kenapa tamunya dibawa main catur," kata Bunda Aini pada Aiman.


Aiman diam, tidak menjawab pertanyaan sang istri.


"Ayah... !" panggil Aini kembali.


"Hem.. " sahut sang ayah.


"Ini Yah," Mikaela memberikan papan catur pada Aiman. Keduanya mulai permainan catur.


Mikaela mencolek Aini. "Bunda," ujar Mikaela.


"Sudah, jangan ganggu ayah. Sepertinya ayah akan mendapatkan lawan yang tangguh dalam bermain catur," kata Bunda Aini.


Bunda Aini mengajak Mikaela ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan.


Bunda Aini mengambil kopi yang dibawa Mikaela dan meletakkannya di atas meja disamping Raffi duduk.


"Silakan Nak Raffi," kata bunda Aini.


"Terima kasih tante," ucap Raffi  dengan mengangkat kepalanya sedikit menatap wajah Bunda Aini, lalu kemudian Raffi kembali fokus menatap papan catur. Sesekali kening Aiman dan Raffi berkerut. Tangan keduanya kompak berada dibawah dagu, mengelus-elus dagu yang bersih tanpa ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Minum Yah," kata Mikaela.


"Terima kasih," ucap sang ayah, tanpa menoleh menoleh kearah Mikaela.


Bunda Aini menarik tangan Mikaela untuk menjauh dari keduanya.


"Duduk sini, jangan ganggu ayah dan Nak Raffi," kata bunda Aini.


"Heran lihat ayah, Bun," kata Mikaela.


"Kenapa?" tanya Bunda Aini.


"Tidak biasanya ayah main catur dengan seorang tamu," ucap Mikaela dengan bicara setengah berbisik pada Bunda Aini.


"Karena tamu ini, tamu yang istimewa." balas bunda Aini.


"Hih... Bunda." Mikaela memanyunkan bibirnya menanggapi perkataan sang Bunda.


Satu jam kemudian, Aiman dan Raffi mengakhiri permainan catur. Dengan hasil kemenangan di raih ayah Aiman.


Kau lawan yang tangguh anak muda," ucap Aiman.


"Om sangat hebat, saya sangat kewalahan." balas Raffi.


"Kau jangan merendah, jangan-jangan kau sengaja mengalah," kata Aiman kepada Raffi.


"Tidak Om! Mana mungkin saya sengaja mengalah," kata Raffi.


"Karena kau ada maksud dengan..." Ayah Aiman tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap wajah Raffi dengan tersenyum.


Raffi tidak bisa berkata apapun lagi. Dia hanya dapat menunduk malu seraya memainkan anak catur yang dipegangnya.


"Bu, ganti kopinya. Sudah dingin," kata Aiman pada sang istri.


"Keasyikan main. Dinginlah kopinya," kata Aini.


"Maaf Bu," ucap Raffi.


"Bukan salah Nak Raffi, ayah ini kalau sudah main catur lupa waktu! Bisa lupa mandi juga," kata Aini.


"Soal kau ingin menjalin hubungan dengan putriku, aku serahkan pada putriku. Aku membebaskan putriku untuk mencari kebahagiaannya sendiri."


Next...

__ADS_1


__ADS_2