
Happy reading guys
......................
Mikaela menyusuri taman yang pernah didatanginya bersama dengan Raffi. Suasana taman masih sama seperti saat dia dan Raffi kunjungi. Hanya terlihat ada penambahan lampu taman dan bunga dan juga terlihat dibeberapa titik ada kursi taman dan ada payung-payung yang menambah nilai estetika taman menjadi bertambah bagus.
"Suasananya masih seperti kita jalani dulu, kak. Masih ramai, tapi tidak padaku, kak. Hatiku kosong."
Mikaela melangkah mendekati kursi yang baru menjadi penghuni taman dan mendudukkan bokongnya di kursi tersebut. Matanya melihat kesekitar tempat dia duduk dan melihat kursi yang tidak jauh dari tempat dia duduk, ada sepasang manula yang sedang duduk bersama dengan cucunya yang main balon.
"Lihat, kak. Mereka sangat bahagia, bisa menua bersama-sama. Sedangkan kita hanya bisa bersama-sama dalam hitungan bulan. Suratan takdir kejam ya kak ! Apa aku salah mengatakan suratan takdir kita sangat kejam? Hatiku baru mau menerima cintamu, kak. Kakak sudah diambil Tuhan. Apa aku tidak boleh bahagia? Pertama ayah dan bunda, lalu kak Raffi meninggalkan aku, dan kemudian ayah Aiman juga. Apa nasibku harus mengalami kesedihan terus menerus?"
Mikaela bicara dalam hati, dengan pandangan mata menatap kearah sepasang manula yang sedang bernyanyi dengan cucunya.
Malam yang cerah dengan langit ditaburi bintang-bintang dan bulan ikut membantu, membuat banyak keluarga yang menghabiskan malam Minggu dengan bercengkrama di taman kota.
Tiba-tiba Mikaela dikagetkan dengan kehadiran kedua temannya yang mengambil posisi duduk di samping Mikaela.
"Kalian?" Mikaela kaget, karena tidak menyangka keberadaannya diketahui oleh kedua temannya, Aira dan Inara.
"Kau tidak setia kawan, saat sedih, kenapa tidak membaginya bersama kami. Kau anggap kami ini apa, El?" Tanya Aira.
"Apa kau menganggap kami ini teman di saat gembira saja?" tanya Inara.
"Aku tidak mau mengganggumu, Aira. Kau pasti sibuk mempersiapkan pernikahanmu," kata Mikaela.
"Jika kau takut menganggu Aira yang sedang sibuk mengurus pernikahannya, kenapa tidak aku yang kau libatkan dalam kesedihanmu ?" Tanya Inara.
"Apa kau mau bilang, karena aku belum sembuh?" Tambah Inara.
"Lari sepuluh kali lapangan sekolah kita dulu saja, aku sudah mampu," kata Inara.
"Maaf."
"Kau hanya bisa bilang maaf, saja. Sudah menumpuk kata maaf yang kau sampaikan pada kami, El," kata Aira.
"Kalian koq tahu aku ada di sini ?" Tanya Mikaela.
"Pikiranmu lagi kacau, pasti kau lari ke sini. Filing aku," kata Aira.
"Kami sudah mengelilingi tempat ini, sejak satu jam yang lalu. Akhirnya, kami melihatmu termenung di sini," kata Inara.
"Ada masalah apa lagi? Apa ada laki-laki yang ingin membuat kau mengakhiri masa jandamu ?"
Puk...
__ADS_1
Tangan Mikaela mendarat di paha Aira.
"Tebakan yang benar," kata Mikaela, akhirnya.
"What... !! Serius ?" Tanya Inara dengan mata melotot sempurna menatap Mikaela dari samping tempat dia duduk.
"Apa betul, El? Siapa?" tanya Aira.
Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum tipis yang menyiratkan kesedihan.
"Apa kau mengatakan yang sebenarnya El ? Apa dia pria lajang? Atau duda ?" Tanya Inara.
Mikaela mengangkat jarinya dan mengacungkan dua jarinya.
"Maksudnya?" Aira mengikuti apa yang dilakukan Mikaela dengan mengacungkan dua jari tangannya di depan matanya.
"Duda beranak dua, yang melamarmu, El....?" tebak Inara.
"No !" Sahut Mikaela.
"Lalu ? Oh no!" Aira kaget dengan apa yang ada didalam pikirannya.
"Apa dia masih ada .... ?" Tanya Aira.
"Otakmu lelet sekali. Pria yang ingin menikahi El, pria yang masih ada buntut sahnya," kata Aira pada Inara.
"Tolak El ! Jangan mau ! apa dikiranya kau janda muda kesepian? Siapa orang itu, biar aku tunjukkan, bagaimana rasa tanganku ini !" Inara mengepalkan tangannya.
"Mas Damar."
"Hah.... !" pekik Aira dan Inara kompak.
Saking terkejutnya, Inara sampai gagap. "Damar... Da-mar itu ... Suami mbakmu ?" tanya Inara.
"Mikaela mengangguk.
"Gila.... !" kata Aira.
"Apa dia tidak cukup memiliki satu istri yang begitu sempurna?" kata Inara.
"Bukan mas Damar yang mau, mbak Nisa yang menginginkan aku untuk menjadi ibu pengganti."
"Tunggu dulu, maksudnya apa?" Aira belum ngeh dengan apa yang dikatakan oleh Mikaela.
Mikaela menceritakan apa yang diinginkan oleh Annisa yang harus dilakukan oleh Mikaela, yaitu mengandung anak mereka.
__ADS_1
"Enak saja mbakmu itu El. Tidak punya anak juga akan membuat dunianya kiamat, masih banyak anak diluar sana yang bisa diambil untuk menjadi anak," kata Aira
"Betul, saudaraku ada yang tidak bisa memiliki anak, dan sampai sekarang dia dan suaminya masih bahagia. Sudahlah... Jangan karena tidak bisa memiliki anak, kita memaksa orang untuk mengandung anak kita," kata Inara.
"Bagaimana jika aku menolak, mbak Nisa mencoba apa yang sudah pernah dilakukannya? Aku akan membuat bunda kehilangan anak. Setelah aku membuat ayah sakit dan meninggal, kini aku membuat bunda kehilangan putrinya. Aku tidak bisa, aku tidak mau membuat bunda sedih."
"Kau ingin memenuhi permintaan mbak Nisa?" tanya Aira.
"Aku bingung."
"Aku sudah meminta petunjuk dari ayah dan kak Raffi, mereka berdua tidak pernah datang dalam mimpiku. Apa ayah dan kak Raffi marah padaku ?"
"Apa yang kita mimpikan itu karena kita mengingat mereka yang telah tiada, El. Mereka tidak datang dalam mimpi kita, bukan karena mereka marah pada kita," kata Aira.
"Doa saja, El. Kami mendukung keputusan apa yang akan kau ambil," kata Inara.
***
"Mas, bagaimana?" tanya Annisa.
"Tidak! Mas tetap menolak untuk menikah lagi," kata Damar.
"Mas menolak, karena wanita itu Mikaela?"
Damar meletakkan ponselnya yang dipegangnya. "Siapapun wanita itu, mas tetap menolaknya."
"Apa mas tidak sayang padaku?"
"Karena mas menyayangimu, Nisa. Makanya mas tidak ingin mendua ! Apa kau tahan melihat aku dengan wanita lain? Tidur di ranjang bersama wanita lain ?" tanya Damar.
"Jika dengan Mikaela, aku akan tahan, mas. Karena aku tahu, Mikaela itu tidak levelmu. Kau tidak akan bisa jatuh cinta dengan wanita sederhana seperti Mikaela," kata Annisa yang pedenya mengatakan Mikaela tidak akan membuat Damar berpaling darinya.
"Dan lagi mas, jika mas menikahi El, kita kan bisa melakukan program bayi tabung. Pernikahan itu hanya untuk menutupi program ibu pengganti," kata Annisa.
"Kita tidak menyalahi hukum, mas kan sudah menikah dengan El," kata Annisa.
"Mas tidak perlu tidur dengan El. Kita akan mencari dokter yang baru, yang tidak mengetahui mas sudah menikah. Dan kita hanya membutuhkan rahim El saja."
Damar termenung, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Annisa.
"Bagaimana, mas ? mau ya."
"Mas !" rengek Annisa.
"Pernikahan ini tidak akan ada yang tahu, mas ! Hanya kita-kita saja. Jika anak sudah lahir, lepaskan El. Gampang kan ?" kata Annisa.
__ADS_1