
Happy reading guys.....
⭐⭐⭐⭐⭐
"Apa?!" Mikaela terkejut. Begitu dikatakan sang bunda, bahwasanya Raffi besok akan datang bersama dengan keluarganya untuk berkenalan, sekaligus bertunangan.
"Kenapa terkejut?" Bunda Aini menatap Mikaela.
"Kak Raffi tidak ada mengatakannya padaku mengenai pertunangan. Seharusnya kak Raffi bilang samaku kan Bun ?" Mikaela mengerucutkan bibirnya.
Tok...Tek...tuk..
"Dia kan sudah bilang pada ayah. Lah .. lah ... Kenapa sayurannya di potong-potong begini?" Bunda Aini mengambil sayuran yang dipotong tak berbentuk oleh Mikaela. Dia menjauhkan dari jangkauan tangan Mikaela.
Mikaela yang melihat apa yang dilakukannya tertawa. Karena kesal dengan Raffi, dia membuat sayur kangkung tak berbentuk lagi wujudnya, potongan sayur kangkung dicincang halus oleh Mikaela.
"Baju untuk besok, bagaimana?" tanya Aini setelah menyelamatkan kangkung dari tangan Mikaela yang masih memegang pisau.
"Apa harus pakai baju baru bunda?"
"Iyalah ! masa bertunangan pakai baju kucel."
"Apa di toko tidak ada baju yang pantas untuk dipakai acara pertunangan?" tanya Aini.
"Baju di lemari masih banyak yang bagus-bagus bunda. Untuk apa beli yang baru lagi, nanti lemariku penuh."
"Ini pelit sekali, untuk diri sendiri juga. Bahagiakan diri sendiri dulu El, baru bahagiakan orang-orang di sekitar kita. Bunda dan ayah selalu El belikan baju baru. Stock pakaian Bunda sudah menyamai artis-artis di dalam televisi. Lihat tuh... lemari pakaian bunda juga sudah penuh sesak, mungkin jika baju-baju bisa bicara dan kita dengar keluhan baju-baju tersebut, mereka bisa menangis karena sesak disimpan di dalam lemari, dan tidak pernah dipakai." gurau Bunda Aini.
"Hah... Bunda bisa saja. Mana mungkin baju bisa menangis" balas Mikaela.
"Bisalah!"
"Manaku percaya !" ucap Mikaela dengan nada bernyanyi.
"Sudah sana istirahat. Sebentar masakan siap," kata Bunda Aini.
"Mbak Nisa tadi ke rumah Bun?"
"Iya... tuh bawa oleh-oleh. Damar baru pulang dari luar negeri."
"Bawa apa lagi bunda?"
"Coklat dan suplemen untuk ayah dan bunda. Padahal suplemen yang diberinya dulu masih banyak."
__ADS_1
"Jangan lupa makan Bun, jangan sampai kadaluarsa," kata Mikaela.
"Banyak istirahat dan jangan banyak pikiran saja sudah cukup, tidak perlu mengkonsumsi vitamin-vitamin," kata Aini.
"Perlu bunda, beda fungsinya. Vitamin untuk menjaga fungsi tubuh kita, biar tetap berstamina dan tetap bugar dan fresh."
"Sama saja, istirahat juga untuk menjaga stamina kita tetap terjaga," balas bunda.
"Makan makanan yang bergizi, lebih bagus. El juga harus beristirahat. Lah...lah... Koq malah ngobrol kita . Cepat sana mandi... !" titah Bunda Aini pada Mikaela yang masih betah mengobrol bersama sang bunda di dapur.
"Mandi lima menit sudah kelar Bun. Biar El bantu Bunda dulu," kata Mikaela.
"Tidak perlu El." tolak sang bunda.
"Sana mandi." titah sang bunda.
"Bun, bagaimana jika kita ambil orang untuk membantu Bunda masak dan beres-beres rumah?"
"Untuk apa? Bunda masih sehat dan kuat. Usia boleh tua, tapi tenaga jangan boleh kelihatan tua. Yang tidak-tidak saja mau ngambil pembantu. Uang untuk bayar pembantu, tabung saja. Bunda masih kuat. Walaupun usia bunda sudah mau masuk kepala 6, tapi lihat otot-otot Bunda ini masih kokoh untuk bekerja." Bundanya Aini menunjukkan otot bisep lengannya seperti para binaragawati, sambil tertawa.
"Iya... Iya... bunda kuat! otot baja." ledek Mikaela.
"Iya... sudah sana mandi, bau tuh ...." Bunda Aini menutup hidungnya.
Dalam kamar Mikaela terus mengomel. Dia terus membicarakan tentang ketidak sukanya pada Raffi. Walaupun dia sudah menyerah untuk membujuk Mikaela, tapi Annisa tidak berhenti ngedumel pada Damar.
Damar menghentikan kegiatannya yang sedang memantau file proyek yang dikirim oleh asistennya. Dia menutup laptopnya.
Damar menarik napasnya sebelum bicara. "Nisa, kenapa kau tidak menyukai Raffi? Dia laki-laki yang baik. Raffi cocok dengan adikmu itu," ucap Damar, setelah dia bosan mendengar omelan Annisa yang super-super panjang. Sampai dia menghentikan kegiatannya memeriksa file yang dikirim asistennya.
"Baik saja tidak cukup untuk modal membina rumah tangga, mas.... !" Annisa meradang mendengar Damar mengatakan Raffi laki-laki yang baik dan cocok dengan Mikaela.
"Mas itu baru sekali bertemu, tidak bisa seketika menilai laki-laki itu baik."
"Walaupun baru sekali bertemu, Mas sudah bisa melihat, bahwasanya Raffi pria yang baik dan bertanggungjawab." balas Damar.
"Dia hanya dosen Mas! Berapa gaji seorang dosen? Kecil!" seru Annisa dengan nada suara yang sedikit tinggi.
"Walaupun gaji dosen kecil, tapi jika bisa membuat adikmu bahagia, tidak masalah Kan " tutur Damar.
"Gaji dosen tidak kecil. Apalagi dosen universitas swasta. Setiap dosen itu bisa mengajar di beberapa universitas. Apalagi Raffi itu juga seorang dekan. Masih muda sudah menjadi dekan. Hebat kan," kata Damar lagi.
"Baru menjadi Dekan saja sudah bangga. Punya universitas baru bangga mas !"
__ADS_1
Damar bangkit dari duduknya dan menghampiri Annisa yang sedang duduk selonjor di ranjang. Damar mendaratkan bokongnya di sisi ranjang.
"Biarkan adikmu menentukan masa depannya. Dia sudah dewasa. Jangan paksakan kehendak kita yang belum tentu bagus untuknya," kata Damar.
"Bukan memaksakan kehendak Mas. Tapi aku tidak ingin Mikaela sengsara. Dia adikku Mas. Jika dia tidak bahagia, ayah dan bunda akan menyalahkan diri mereka sendiri. Karena tidak bisa menjaga Mikaela. Mikaela itu kesayangan ayah. Dia satu-satunya peninggalan adik ayah," kata Annisa.
"Ayah dan Bunda suka dengan Raffi," kata Damar.
"Suka. Tapi belum tentu apa yang kita sukai dapat membahagiakan Mikaela," kata Annisa.
"Pokoknya! Aku tidak suka Dinda dengan pria itu..!" seru Annisa.
"Sudahlah. Mas tidak mau ikut campur dengan kehidupan orang lain," kata Damar akhirnya.
"Mikaela bukan orang lain, Mas. Dia adikku! Aku tidak akan membuat dia memilih jalan yang salah."
"Kata bunda besok keluarga laki-laki itu bukan hanya ingin berkenalan. Mereka ingin melamar El dan pertunangan dilakukan besok ," kata Annisa.
"Kenapa mereka terburu-buru begitu! mencurigakan, kan mas?"
Damar hanya dapat menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengira Annisa segitunya menjaga Mikaela.
"Mas!" Annisa menghentak tangan Damar yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Biarkan masalah adikmu, ayah dan bunda yang memikirkannya. Kita pikirkan masalah kita saja. Biar kita bisa cepat kembali ke rumah," kata Damar.
"Masalah kita juga ada, bagaimana dengan program bayi tabung itu, Apa jadi ?" tanya Damar.
Apa yang ditanyakan Damar berhasil mengalihkan pembicaraan keduanya.
Apa yang dikatakan oleh Damar membuat Annisa terdiam. Dia lupa dengan program bayi tabung yang telah direncanakannya. Masalah Mikaela membuat dia melupakan rasa sakitnya kehilangan baby-nya.
"Jadi, aku sudah mendapatkan rumah sakit yang bagus dan ada temanku yang melakukan program bayi tabung di rumah sakit tersebut dan mendapatkan bayi kembar. Mas, kita program bayi kembar ya," kata Annisa.
"Satu saja belum, mau kembar." batin Damar.
"Kita konsultasikan pada dokter nanti," jawab Damar.
"Hari Senin kita ke dokter ya mas. Dan semoga semua baik-baik saja dan bisa segera dilakukan program bayi tabungnya."
"Iya ," sahut Damar. Damar mengiyakan apa yang dikatakan oleh Annisa, agar Annisa lupa untuk membahas masalah Mikaela.
Next
__ADS_1