Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 24 kaget


__ADS_3

Happy reading guys


...----------------...


Mikaela bingung, ingin menolak ajakan Raffi tapi tidak tega menolaknya. Karena dia sudah sering menolak setiap pria tersebut mengajaknya keluar.


Sejak pertama bertemu kembali setengah Mikaela lulus dari universitas, sosok dosen yang pernah menjadi pengajarnya di universitas sudah berkali-kali datang ke tokonya dengan berbagai alasan. Membeli baju untuk Mamanya, keponakannya dan sepupunya. Mikaela meladeni Raffi seperti pelanggan biasa berbelanja ditokonya. Dia tidak melakukan Raffi sebagai pelanggan istimewa.


"Bagaimana ini." batin Mikaela.


"Ayolah... hanya sebentar," kata Raffi.


"Baiklah, diatas jam 5 sore. Karena besok banyak barang yang masuk." akhirnya Mikaela menyerah, mengikuti keinginan Raffi mengajaknya pergi.


"Besok dijemput jam 6 di sini atau ke rumah ?" tanya Raffi.


"Di sini saja ," kata Mikaela cepat.


"Kalau di rumah, bisa-bisa ayah dan bunda akan mengintrogasi aku." suara hati Mikaela. Dia belum siap ditanya-tanya oleh ayah dan bundanya. Karena jika Raffi menjemputnya di rumah, Itu untuk pertama sekali seorang pria datang kerumahnya.


"Jangan ingkar janji ya," kata Raffi.


"Iya ," sahut Mikaela.


Mira masuk membawa busana gamis yang ingin diberikan Raffi untuk Mamanya.


"Ini kak El," kata Ira.


"Terima kasih Ira," ucap Mikaela pada Ira.


Ira keluar dari ruangan Mikaela. Dan Mikaela menunjukkan baju gamis yang sesuai untuk orang tua pakai.


"Jadi bingung." Raffi mengelus tengkuknya sembari menatap baju yang tergantung dihadapannya.


"Kalau aku sarankan, bagus yang ini. Warnanya bagus di pandang mata. Hijaunya lembut," kata Mikaela menunjuk baju gamis berwarna hijau pucuk daun pisang.


"Aku ambil yang itu saja," kata Raffi menunjuk baju gamis yang dibilang Mikaela bagus.


Mikaela melipat baju yang dibeli Raffi dan memadukannya kedalam paper bag berlogokan nama toko busananya dan memberikannya kepada Raffi.


"Terima kasih kak, karena sudah sudi belanja di Mika Fashion," kata Mikaela.


"Aku juga mengucap terima kasih, karena sudah membantuku untuk memilih baju untuk Mama," balas Raffi.


"Jam 6 ya," kata Raffi mengingatkan Mikaela.


Mikaela menganggukkan kepalanya.


*


*

__ADS_1


Annisa masuk kedalam rumah, setelah hampir tiga jam berburu makanan yang diinginkannya. Apa yang dilakukannya ini tanpa sepengetahuan Damar. Karena jika Damar sampai tahu Annisa mengemudikan mobilnya sendiri tanpa didampingi sopir. Sudah pasti Damar akan marah.


Annisa keluar lagi, setelah sempat masuk kedalam rumah. Dia melangkah menuju ruangan khusus untuk para pekerja beristirahat. Annisa mencari keberadaan sang sopir yang tadi ditinggalkan di rumah, saat dia keluar berburu makanan.


Setelah melihat keberadaan sang sopir. "Pak. Jangan beritahu Mas Damar saya bawa mobil sendiri ya," kata Annisa pada sopirnya yang sedang beristirahat menonton televisi.


"Baik, Bu," sahut sang sopir.


Annisa kembali masuk kedalam rumah. Sepeninggal Annisa. Bik Imah keluar dari dapur. Dia melihat saat Annisa masuk kedalam ruang beristirahat para pekerja.


"Zul... " panggil Bik Imah.


Zul memutar badannya, menghadap Bik Imah yang memanggilnya.


"Ada apa Bik?"


"Bu Nisa mau apa tadi?" tanya Bik Imah.


Zul berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Bik Imah yang berdiri didepan pintu. Zul bicara dengan Bik Imah dengan berbisik, karena dia takut Annisa mendengar apa yang akan dikatakannya pada Bik Imah.


"Bu Nisa cari masalah saja. Apa dia lupa sedang hamil," ujar Bik Imah.


"Saya jadi serba salah Bik. Bagaimana jika Pak Damar tahu nanti, saya yang juga yang akan mendapatkan masalah," kata Zul.


"Nasib sebagai pekerja Zul. Semoga Pak Damar tidak akan tahu," kata Bik Imah.


"Zul... tolong kamu ke pasar ya."


"Bu Nisa ingin makan sop asparagus, stok asparagus di rumah sudah habis. Ini uangnya. Belinya yang masih segar ya," kata Bik Imah dan memberikan dua lembar uang merah pada si sopir.


"Belinya harus ke pasar Bik? apa tidak ada di mall ujung jalan," kata si Zul.


"Lebih segar sayuran di pasar Zul. Di market sudah kena dingin es ," kata Bik Imah.


"Kenapa Zul? Apa kau tidak mau belanja ke pasar?"


"Bau dan becek lagi," ujar Zul.


"Sok sekali kau Zul. Sudah tidak mau kenal pasar lagi. Mentang-mentang sudah ikut Bu Nisa ke Mall terus. Kau merasa sudah jadi orang gedongan. Lupa daratan kau... !" semprot Bik Imah.


"Bukan lupa daratan Bik... tapi pasar bau dan becek. Mall bersih," kata Zul.


"Aku tidak mau tahu! Kau hari ini harus ke pasar. Beli asparagus di lapak sayuran Haji Muin. Awas jika aku tahu kau belanja di Mall, tidak aku izinkan kau dekat-dekat dengan Dariah..!" Bik Imah langsung ngeloyor pergi meninggalkan Zul yang hanya bisa menggaruk-garuk rambutnya yang cepak, hampir gundul.


"Ancaman Bik Imah sangat sadis." gerutu Zul.


*


*


Lima belas menit dalam kendaraan. Mobil yang dikemudikan oleh Raffi berhenti didepan rumah yang tergolong besar, jika dibandingkan dengan rumah disekitarnya.

__ADS_1


"Rumah siapa kak?" tanya Mikaela pada Raffi


"Rumah... " Raffi menghentikan ucapannya.


Mikaela menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Raffi. Tapi Raffi tidak melanjutkan ucapannya. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Lalu Raffi memutar dan membuka pintu untuk Mikaela keluar.


Raffi membuka pintu mobil.


"Ayo." Raffi mengulurkan tangannya untuk menuntun Mikaela keluar. Tetapi Mikaela mengabaikan uluran tangan tersebut. Raffi menarik tangannya. Dia tidak kecewa Mikaela mengabaikan uluran tangannya, malah dia bangga dengan Mikaela yang tidak ingin bersentuhan dengan sembarang pria. Ternyata apa yang didengarnya mengenai Mikaela benar. Mikaela gadis yang sulit untuk didekati. Gadis yang patut untuk diperjuangkan. Menurut Raffi.


"Rumah siapa kak? Apa ada acara di rumah ini?" tanya Mikaela, karena mendengar suara orang-orang bicara dan tertawa terdengar dari dalam rumah yang pintunya terbuka lebar.


"Rumah Mama," kata Raffi.


"Mama...! Mama kak Raffi?" mata Mikaela sontak mendelik, mendengar apa yang dikatakan oleh Raffi.


Raffi menganggukkan kepalanya.


Mikaela menghentikan langkahnya. Langkah kakinya mundur selangkah.


"Kenapa kakak membawa aku tanpa mengatakan apapun? ada acara apa?"


"Mama ulang tahun," jawab Raffi.


"Ulang tahun?"


"Ya. Mama ingin El hadir diulang tahunnya. Sejak Mama pertama jumpa dengan El. Mama sudah sangat menyukai El. Maaf...," Ucap Raffi dan mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya.


"Please... ayo kita masuk," kata Raffi dengan menunjukkan raut wajah melas. Dia takut Mikaela minta pulang.


"Kak Raffi! Kenapa tidak masuk?" Suara seorang perempuan menyebut nama Raffi.


Mikaela dan Raffi secara bersamaan menoleh ke asal suara.


"Apa ini gadis yang dibilang Tante itu ?" tanya perempuan yang datang menghampiri Mikaela dan Raffi.


Raffi menganggukkan kepalanya.


"Hai Mikaela." sapa gadis tersebut dan bibirnya menampilkan senyum manis menyambut kedatangan Mikaela.


"Alin... " ucap Raffi pada gadis yang dipanggilnya dengan nama Alin.


Gadis yang bernama Alin melangkah mendekati Mikaela.


"Apa kakak membutuhkan bantuanku?" tanya Alin.


"Kakak?" gumam Mikaela dalam hati.


"Kenalkan. Aku Alina, adik kak Raffi ," ucap Alin.


"Keluarganya berkumpul semua." batin Mikaela.

__ADS_1


Next


__ADS_2