Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 81 Sakit hati


__ADS_3

Happy reading.


......................


"Mbak Ela yang belanja, Bu Aini mana ?" tanya tetangganya yang cukup mengenal Mikaela dan Aini.


"Bunda di rumah Bu."


"Sudah penuh keranjangnya, Bu?" Mikaela melihat keranjang sang ibu yang sudah penuh dengan barang belanjaan.


"Ibu cepat tadi, mau ada acara di rumah. Datang ya El," kata ibu tersebut.


"Insyaallah," ucap Mikaela.


"Ibu duluan ya, El. Sudah selesai ibu belanja," kata tetangganya tersebut.


"Hati-hati Bu," ujar Mikaela.


"Iya El."


"Hari ini mau beli apa Neng ?" tanya penjual ikan yang menjadi langganan bunda Aini.


"Beli udang saja Pak," sahut Mikaela.


"Yang mana Neng?"


"Yang ini saja, Pak. Setengah kilo saja Pak," ujar Mikaela menunjuk udang yang sedang besarnya.


"Tumben El yang belanja, Bu Aini mana ?"


Mikaela melihat kearah orang yang baru datang dan menyapanya.


"Bunda di rumah Mbak."


"Wajah kamu tidak di operasi saja, El? Mengerikan bekasnya. Jika tidak di operasi akan lama hilang El, pria tidak akan mau meminang El. Apalagi kamu itu janda, El. Sudah janda, wajah ada bekas luka," kata wanita tersebut, tanpa perduli dengan perasaan Mikaela.


"Hus... Cangkepmu, mbak ." bapak penjual ikan tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh wanita tersebut.


"Kenapa pak? Salah saya di mana? Saya mengatakan yang sebenarnya to... Kan emang janda !"


Mikaela hanya diam, tidak menunjukkan raut wajah tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh wanita tersebut.


"Ini El ." bapak tersebut menyerahkan udang yang sudah ditimbang kepada Mikaela.


"Berapa Pak?" Mikaela tidak menanggapi perkataan wanita tersebut.


Bapak tersebut menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh Mikaela.


"Ini Pak." Mikaela menyerahkan uang.


"Terimakasih Pak, permisi Bu." Mikaela langsung pergi meninggalkan lapak penjual ikan.


Sepeninggalnya Mikaela, bapak penjual ikan menyemprot wanita yang cangkepnya perlu diberikan penyuluhan mengenai mana yang pantas diucapkan dan mana yang haru diberikan rem mulutnya.

__ADS_1


"Cangkemmu itu mbak!" bapak penjual ikan menggelengkan kepalanya melihat wanita tersebut.


"Pak Abdul koq marah pada saya? Salah saya di mana? Apa yang saya katakan benar loh.... ! Dia kan janda... ! Janda muda lagi, kalau wajahnya terus dibiarkan begitu, pasti tidak akan ada laki-laki yang mau melamarnya untuk menjadi seorang istri !"


"Jodoh, rezeki dan maut itu sudah ada yang ngatur mbak... ! Cantik juga belum tentu laku ! Nggak perlu wajah cantik, tapi attitude nol persen," kata penjual ayam yang mendengar apa yang dikatakan wanita tersebut pada Mikaela.


"Seratus persen setuju Bu Asih ! Untuk apa cantik, tapi attitude jongkok." penjual ikan pak Abdul menimpali ucap Bu Asih.


"Curiga aku, apa Pak Abdul ada maksud terselubung kepada El? Ih... Jangan-jangan Pak Abdul mau mengambilnya menjadi istri kedua!" ledek wanita.


"Astaghfirullah.... !" Pak Abdul dan Bu Asih kaget mendengar apa yang dikatakan oleh wanita tersebut. Keduanya mengelus dada.


"Mbak Wati!" Bu Asih menatap wajah Wati dengan tatapan mata yang tidak suka, begitu juga dengan Pak Abdul.


"Mbak itu ke pasar mau beli atau mau nambah dosa?" tanya Bu Asih.


"Belanja Bu Wati ! Kenapa Bu? Nggak suka saya bicarakan Mikaela? Apa Bu Asih mau mengambil Mikaela untuk Rusdi? Hati-hati Bu... Jangan seminggu menikah, anak ibu terbang rohnya meninggalkan tubuh," kata Wati dengan mulut miring ke kiri dan kanan, sampai-sampai Bu Asih penjual ayam ingin mencabut bibir Wati, seperti dia mencabuti bulu ayam, saking gemas melihat mulut Wati yang dower.


"Hus... hus...hus ... Sana!" usir Bu Asih, seperti mengusir hewan yang datang menggangu.


"Loh... Aku mau beli ayam to Bu Asih ! Koq aku di usir ," kata Wati tanpa merasa bersalah dengan apa yang dikeluarkan oleh mulutnya telah menyinggung perasaan orang yang mendengar apa yang dikatakannya.


"Daganganku ini tidak untuk orang yang suka menjelek-jelekkan orang !" kata Bu Asih.


"Ikanku juga tidak mau kau beli Wati ! kau itu lebih cocok makan gula saja! Biar mulutmu itu tidak pedas !" timpal Pak Abdul.


"Dasar pedagang belagu ! Sombong! Awas kalian ya... Tak sumpahi dagangan kalian tidak laku !" seru Wati sembari melangkah menghentak-hentakkan kakinya.


Dan


Dan


Brukk...


"Aa...a .... !" pekik Wati yang jatuh terjerembab ke depan, seperti jatuh nangkap kodok.


Para pedagang yang melihat, kaget dan membantu Wati untuk berdiri. Bu Asih dan Pak Abdul hanya masam melihatnya, keduanya tidak bergerak untuk membantu, padahal jatuhnya Wati tidak jauh dari lapak dagangan mereka berdua. Tapi karena kesal, mereka tak bergeming melihat Wati jatuh.


"Tidak ada yang sakit Bu?" tanya orang yang menolong.


"Tidak ! Terimakasih!" Wati langsung pergi dengan perasaan yang kesal.


"Sialan... gara-gara tukang ikan dan ayam, aku jadi jatuh!"


***


"Mana Annisa?" Keluar dari kamar mandi, Damar tidak melihat keberadaan Annisa yang tadi sedang berdandan.


Damar ingin menanyakan perubahan Annisa yang semalam mendiamkan dirinya dan tidur tidak dikamar. Annisa tertidur diruang home Theater.


Damar turun dan bertanya pada art yang menghidangkan sarapan pagi untuknya. Dan art mengatakan Annisa pergi tanpa sarapan.


"Kemana dia? Apa ke rumah ayah ?" batin Damar.

__ADS_1


Damar bangkit dan meninggalkan meja makan tanpa menyentuh sarapan pagi.


"Koq pada tidak mau sarapan? Apa masakanku tidak enak ?" batin Bik Imah sambil melihat masakannya yang tertata di meja makan.


***


"Ada apa El?" bunda Aini melihat Mikaela menangis sambil membersihkan udang.


"Tidak apa-apa bunda?" Mikaela menundukkan kepalanya.


"Bagaimana tidak apa-apa, masa membersihkan udang sampai narik ingus begitu! Kalau ngulek cabe wajah sampai menangis." bunda Aini tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mikaela.


Tangisan Mikaela semakin terdengar.


"Sudah ! Ceritakan pada bunda!" bunda Aini menarik Mikaela dan mendudukkannya ke kursi yang ada di dapur.


Bunda Aini melihat mata Mikaela merah dan bekas air mata di kedua pipinya.


"Katakan!" perintah bunda Aini.


Mikaela masih diam, berat mulutnya untuk berkata.


"El ... Katakan!"


"Sejak pulang dari pasar tadi, bunda perhatikan El tidak gembira. Katakan El!"


"Bunda... Aku ... aku "


"Katakan El ! Apa ada yang berkata tidak pantas di pasar ?" tebak bunda Aini.


Mikaela mengangguk.


Bunda Aini menghela napas panjang. "Katakan ! Siapa yang telah membuat El menangis? apa pedagang di pasar menyinggung mengenai Raffi?"


Mikaela menggelengkan kepalanya.


"Lalu siapa? Katakan El!" desak bunda yang tidak sabar.


Akhirnya Mikaela menceritakan apa yang terjadi di pasar saat dia berbelanja.


"Wati... Kau mencari masalah denganku !" seru bunda Aini dengan geram.


"Bunda mau kemana?" Mikaela bergegas bangkit dan mengejar bunda Aini.


"Bunda mau samperin Wati ... ! Mau bunda benyek-benyek mulutnya."


Mikaela menarik tangan bunda Aini. " Jangan bunda," kata Mikaela.


"Mulut orang itu harus di tatar ! Enak saja mulutnya mengejek anak bunda janda!"


Apa yang terjadi tidak lepas dari pandangan mata ayah Aiman yang berdiri dibalik tirai kamar. Dia mendengar semua apa yang terjadi pada Mikaela.


"Salahku... ! Maafkan aku Rif ." batin Aiman.

__ADS_1


Next...


__ADS_2