
Happy reading guys.
......................
"Nara.... ." Faiz berdiri dengan raut wajah yang sedih menatap inara yang duduk memalingkan wajahnya. Sejak kedatangan Faiz, Inara tidak sekalipun menatap wajah Faiz.
"Kenapa Mas Faiz datang?"
"Aku merindukanmu, merindukan suara Inara yang selalu ceria meneleponku," kata Faiz.
Tak... tak ... Suara langkah kaki membuat Inara dan Faiz melihat asal suara dan melihat kemunculan Mama Inara.
"Belum selesai juga masalah kalian?" tanya Mama Inara.
"Tante, Faiz minta maaf, karena Faiz telah membuat Inara sakit. Apa yang terjadi bukan niat Faiz Tante."
"Nara, beri kesempatan Faiz, dan Faiz juga tidak sepenuhnya salah. Faiz terlalu baik, karena tidak melihat ada maksud terselubung dari perhatian gadis itu."
"Saya janji Tante, tidak akan mau diajak mengambil gambar atau pergi berduaan dengan seorang wanita. Walaupun wanita itu sudah bersuami," kata Faiz.
"Betul itu, karena tidak semua wanita itu punya pikiran yang baik. Ada wanita yang kurang kasih sayang dan perhatian didalam rumah tangganya, mencari perhatian diluar rumah," kata Mama Inara.
"Tapi tidak semua wanita seperti yang mama katakan, ada wanita yang masih memakai adat istiadat norma-norma ketimuran." tambah Mama Inara.
"Aku juga salah di sini, aku terlalu cemburuan," kata Inara membuka suaranya.
Faiz melangkah mendekati Inara. "Aku senang kau cemburu, tandanya kau mencintaiku sepenuhnya. Aku juga mencintaimu Inara Saraswati," kata Faiz.
"Aku juga akan cemburu melihat kau berdekatan dengan cowok lain, apalagi sampai mengambil gambar berdua saja. Maaf, aku tidak berpikir saat itu, mau saja diajak gadis untuk mengambil gambar berdua saja."
"Sudahlah, jangan diungkit-ungkit lagi masalah itu. Ambil pelajaran dengan kejadian itu," kata Mama Inara.
Langkah Faiz maju selangkah dan kemudian mengambil tangan Inara dan mengangkat Inara untuk berdiri.
"Mas !" Inara kaget, karena kakinya belum kuat untuk menopang tubuhnya.
"Aku akan menjagamu." Faiz tahu Inara takut jatuh.
Faiz menarik tubuh Inara kedalam pelukannya. "Aku mencintaimu, aku tidak akan berpaling darimu, Inara. Pegang janjiku."
Inara tidak menolak pelukan Faiz, hatinya luluh dengan kesungguhan Faiz selama beberapa bulan ini meraih cinta dan hatinya yang beku.
Melihat keduanya sudah saling memaafkan, Mama Inara mundur dari ruang keluarga. Dia meninggalkan sepasang kekasih yang saling melepaskan rindu.
***
__ADS_1
Sudah empat bulan Mikaela mencari keberadaan Raffi, dan dia masih menyakini Raffi masih hidup.
"El, aku rasa kak Raffi memang sengaja menghilang," kata Inara.
"Kenapa kau bilang begitu?" tanya Mikaela dengan apa yang baru saja diutarakan Inara.
"Aku juga merasa apa yang dikatakan Inara ada benarnya, El ," kata Aira yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Inara.
"Tidak mungkin!" Mikaela menolak pendapat kedua temannya, yang mengatakan Raffi sengaja menghilang.
"Kalau tidak sengaja, kenapa bisa tidak diketahui keberadaannya?" tanya Inara.
"Tapi apa motif kak Raffi menghilang? Apa pernikahan kami yang membuat dia menghilang? Apa dia menyesal telah menikahi anak yatim-piatu?" saat berkata, air mata Mikaela sudah mengalir deras meluncur membasahi kedua pipinya.
Aira yang duduk didekat Mikaela, langsung memeluknya dan mengusap-usap punggung Mikaela.
"Jangan pikirin El... ! Mungkin saja apa yang kami katakan tadi tidak benar. Semoga saja kak Raffi sedang dalam kondisi yang tidak bisa melakukan apapun juga, sehingga dia belum bisa menghubungimu dan Alin bertindak sesuka hatinya dengan mengatakan kak Raffi sudah tidak ada," kata Inara.
"Mulut adiknya kak Raffi sangat keterlaluan sekali, jika kak Raffi masih ada dan dikatakannya sudah meninggal, sungguh keterlaluan sekali mulutnya!" kata Aira.
"Tega mulutnya mengatakan kakak sudah meninggal." tambah Aira.
"Perlu di tatar mulutnya itu." timpal Inara.
"Statusmu sekarang bisa dikatakan sebagai janda," kata Aira.
"Aku tidak cerai!"
"Tiga bulan tidak diberi nafkah lahir dan batin, sudah dianggap pihak laki-laki sudah menjatuhkan talak," kata Aira.
"Iya El, aku juga ada baca mengenai itu. Kau sudah ditinggalkan empat bulan lebih El, dan kau sudah cerai secara agama." Inara juga sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Aira.
"Aku janda? Kenapa ini terjadi padaku?" batin Mikaela.
"Tidak! Aku masih istri kak Raffi," kata Mikaela.
**
Annisa membuka matanya, saat merasa ranjang bergerak dan melihat Damar merebahkan tubuhnya.
Mata Annisa melirik jam yang menempel di dinding. "Baru pulang Mas?" tanya Annisa.
"Iya, maaf."
Annisa membuka matanya dengan lebar dan melihat wajah Damar. "Kenapa mas pulang lama beberapa hari ini ?"
__ADS_1
"Ada proyek kerjasama membangun taman bermain, cukup membuat sibuk. Oh... Ya, besok aku harus keluar kota," kata Damar.
"Keluar kota lagi? Mas baru pulang kemarin ," kata Annisa.
Damar memiringkan tubuhnya kearah Annisa. "Terpaksa pergi, klien tidak ingin urusan pembangunan itu diserahkan pada Pak Sanusi. Ah... Terpaksa aku turun langsung. Tidurlah, besok aku harus berangkat pagi sekali." Damar memecamkan matanya dan tak lama kemudian, terlihat napas Damar terlihat teratur, seperti orang yang sudah masuk dalam mimpi.
Annisa tidak bisa memecamkan matanya, mungkin karena dia tadi karena sudah tertidur dan terbangun, sehingga tidak mengantuk matanya.
Annisa bangkit dan duduk dengan kedua kakinya ditekuk. Annisa melihat Damar yang tidur dengan pulas.
"Apa kau benar-benar letih mas ?" tanya Annisa dalam batin.
Setelah puas menatap wajah sang suami, Annisa beringsut untuk turun dari ranjang. Annisa melangkah menuju kamar mandi dan melihat pakaian kerja yang dipakai Damar masih berserakan di atas wastafel.
Annisa mengambil baju Damar. "Tidak biasanya Mas Damar seperti ini."
"Apa ini ?" Annisa melihat warna merah dibelakang baju Damar.
"Mas Damar pakai jas, kenapa bajunya bisa kena kotoran?" Annisa mendekatkan baju Damar ke hidungnya dan mengendus aroma baju Damar.
"Ini bukan bau parfum Mas Damar?" Annisa menjauhkan baju Damar dari hidungnya.
"Ini merah warna lipstik?"
Degh....
Dada Annisa tiba-tiba berdetak kencang. Dia menjatuhkan baju Damar dan mundur dengan kedua tangannya menangkup didepan dada.
"Apa... apa... Tidak! Mas Damar tidak mungkin bisa melakukan itu semua!"
"Positif thinking Annisa, jangan pikirkan yang buruk-buruk dulu. Mungkin saja itu aroma parfum orang yang ditemui Mas Damar." Annisa mengingatkan dirinya untuk tidak mengambil pikiran yang jelek pada Damar, mungkin saja itu tidak seperti yang ada dalam pikiran Annisa.
"Positif... Positif Annisa... ! Jangan negatif.... !" Annisa menghela napasnya dengan kasar dan mengambil baju Damar yang terletak dilantai dan memasukkannya kedalam keranjang baju kotor.
Keesokan harinya, Annisa tidak mengungkit mengenai parfum dan noda merah mirip lipstick yang ditemukannya di baju Damar.
"Mas berapa lama pergi?" tanya Annisa.
"Hari ini juga pulang," kata Damar.
"Tidak menginap."
"Tidak," sahut Damar.
"Pergilah ke rumah Mama atau ke rumah bunda, jika kesepian," kata Damar.
__ADS_1
Annisa hanya mengangguk.
Next