
Happy reading guys.
......................
"Bunda, buka pintunya."
"Please, Bun."
"Bunda harus memgertiin, aku. Kenapa aku berbuat begitu pada El, Bun. Aku ingin El membantuku, bunda. Jika orang yang tidak aku kenal untuk menjadi istri kedua Mas Damar, aku takut Mas Damar akan diambil wanita itu sepenuhnya."
Annisa terus menceritakan apa yang ada dihatinya, dan mengatakan juga bahwa pernikahan Damar dan Mikaela tidak pernikahan yang sebenar. Pernikahan itu terjadi, agar bisa dilakukan program ibu pengganti.
"Bunda !"
"Bunda !"
Panggilan terus dilakukan oleh Annisa, tetapi pintu kamar bundanya tetap tertutup rapat.
"Bunda! Aku ini putrimu, bunda. Bukan Mikaela ! Apa bunda lupa! El yang telah membuat ayah sakit, dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya, bunda!"
Apapun dikatakan oleh Annisa, agar sang bunda terenyuh dan mau membuka pintu kamar. Tetapi sang bunda tetap keukeh tidak merespon panggilan Annisa. Pintu tetap tertutup rapat.
Akhirnya Annisa meninggalkan rumah bundanya dengan membawa perasaan kecewa.
"Kenapa tidak ada orang yang memgertiin perasaan aku. Aku ingin bahagia!" kata Annisa dalam perjalanan dari rumah bundanya.
Annisa tidak pulang ke rumahnya. Dia meluncur menuju apartemen Grace.
**
Damar terus menerus menatap wajah Mikaela yang tertidur sepanjang hari. Sejak pagi, dan kini hari sudah merangkak sore hari, Mikaela tidak membuka matanya, sehingga membuat Damar khawatir.
"Panas sekali," ujar Damar, setelah menempelkan telapak tangannya dikening Mikaela.
"El, bangun ! badanmu panas sekali," kata Damar.
Mikaela hanya menggeliat dan bersuara lirih, tanpa membuka matanya.
Damar turun dari ranjang dan keluar mencari Mang Dul.
"Mang Dul... !" panggil Damar. Tapi wujud Mang Dul tidak terlihat.
"Kemana dia? Kenapa dia sering menghilang. Apa ada warung atau rumah disekitar sini ? Mang Dul.... !" panggil Damar kembali dengan suara yang melengking tinggi.
Tiga puluh detik kemudian, orang yang dipanggil Damar menampakkan batang hidungnya.
"Ya Den ?" Mang Dul datang dengan napas tersengal-sengal.
"Mamang dari mana?" mata tajam Damar menyelidiki raut wajah Mang Dul.
"Mamang dari belakang, Den. Kebelet," kata Mang Dul sembari memegang perutnya.
"Belakang? Ada rumah dibelakang?" tatapan curiga diberikan Damar pada Mang Dul.
"Toilet Den, dan dulunya rumah kecil untuk para pekerja, pada saat merenovasi rumah ini.'
__ADS_1
"Makanan itu dari mana?" tanya Damar yang masih menaruh curiga pada Mang Dul.
"Mamang yang masak, Den. Bu Amel membekali bahan-bahan untuk di masak. Oh iya. Aden butuh apa?"
"Apa ada obat penurun panas?" tanya Damar.
"Yang tadi apa sudah habis, Den ?"
"Ela tidak mau mang. Apa ada yang sirup ?" tanya Damar.
"Yang sirup tidak ada Den. Yang sirup kan untuk anak-anak," kata Mang Dul.
"Apa tidak ada warung didekat sini, Mang?"
"Tidak ada Den, warung terdekat 100 km dari sini, Den. Tidak bisa ditempuh dengan menggunakan kaki, Den. Mobil bisa pergi saja, pulang, bensin tidak cukup."
"Bagaimana ini ? Mama bagaimana?" tanya Damar.
"Belum ada kabar Den."
"Mang, masakan bubur."
"Baik Den."
Damar kembali masuk dan kemudian mengambil air hangat untuk mengompres tubuh Mikaela.
"Untuk shower ada air hangatnya."
Damar membawa air hangat dan handuk untuk mengelap tubuh Mikaela.
"Maaf." Damar mengucapkan kata maaf, sebelum mengelap wajah Mikaela.
"Ela ! Kau demam, jangan tolak apa yang aku lakukan!"
"Pergi !" usir Mikaela.
"Kau sayang tidak dengan bunda Aini? Jika sayang, jangan tolak apa yang aku lakukan," kata Damar.
Mikaela membuka matanya, begitu mendengar Damar menyebut nama bundanya.
"Aku membencimu ," kata Mikaela.
"Baik, aku terima kebencianmu. Tapi jangan tolak pertolonganku saat ini. Begitu kau sehat, tidak demam lagi, kau bisa melanjutkan kebencianmu," kata Damar.
"Sekarang biarkan aku mengelap tubuhmu." tambah Damar.
Mikaela memegangi bajunya yang ingin dibuka Damar.
"Aku sudah melihat semuanya, walaupun aku tidak ingat," kata Damar.
Raut wajah Mikaela memerah mendengar perkataan Damar. Akhirnya Mikaela pasrah, dia membiarkan Damar mengelap tubuhnya. Mikaela memejamkan matanya, saat Damar mengelap tubuhnya dengan air hangat.
Setelah selesai, Damar memberikan bubur yang baru dibawa Mang Dul. Mikaela menerima suapan bubur yang diberikan oleh Damar. Tidak seperti tadi, Mikaela menerima bubur dan obat yang diberikan oleh Damar. Baru kemudian Mikaela kembali melanjutkan tidurnya, karena Mikaela merasa kepalanya pusing.
***
__ADS_1
"Nisa, kau kenapa?" tanya Grace yang melihat Annisa selalu termenung.
"Tidak apa-apa," sahut Annisa.
"Kau belum pulang ke rumah?" tanya Grace.
Annisa menggelengkan kepalanya.
"Apa kau bertengkar dengan suamimu ?" tanya Grace kembali.
"Grace, apakah aku salah?" tanya Annisa.
"Tergantung apa yang kau lakukan, Nisa ! Katakan, apa yang telah kau lakukan?"
Annisa menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangganya pada Grace.
"Hah !" Grace kaget mendengar apa yang di ceritakan oleh Annisa.
"Kalau aku Nisa, aku tidak akan mengambil orang yang aku kenal untuk menjadi istri kedua suamiku. Kalau aku ya ! Panjang ceritanya, nanti. Jika terjadi masalah dalam hubungan kalian, akan terjadi masalah dalam keluarga. Kau seharusnya jangan melibatkan saudara, Nisa."
"Aku tidak ingin anakku dikandung oleh orang yang tidak aku kenal, jika orang yang aku kenal yang mengandung anakku dan mas Damar, aku tidak akan khawatir kondisi anakku nantinya."
"Pernikahan itu hanya formalitas, tidak melibatkan perasaan."
"Apa keluarga suamimu mengizinkan kau melakukan pernikahan untuk mendapatkan ibu pengganti?"
"Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu, pernikahan itu dilakukan untuk mendapatkan keturunan secara normal."
"Kau menipu keluargamu ?"
"Hanya keluarga Mas Damar. Bunda sudah tahu."
"Semoga kau tidak ketahuan, Nisa. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan kedua orang tua suamimu, jika mereka tahu," kata Grace.
"Mereka tidak akan pernah tahu, begitu Mas Damar pulang, aku akan membawa Mikaela untuk periksa dan melakukan program bayi tabung."
***
Menjelang malam, mobil yang membawa Amelia dan Aryan tiba.
Damar menatap wajah Mama dengan kesal.
"Apa yang mama lakukan? Mama mengirim kami ketempat yang tidak berpenghuni begini ! perbuatan mama telah membuat Mikaela sakit, ma ! Apa yang mama lakukan padaku dan Mikaela?"
"Mama tidak melakukan apa-apa," kata Amelia dengan santai. Dia tidak perduli dengan pandangan kesal yang ditunjukkan Damar kepadanya.
"Mama El?" Amelia mendorong tubuh Damar yang menutupi pintu. Damar terdorong kesamping dan Amelia masuk kedalam rumah dan melihat Mikaela terbaring di ranjang.
Amelia melangkah cepat dan duduk di sisi ranjang dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Mikaela.
"Panas," ujar Amelia.
"Sejak kapan El sakit ?" tanya Aryan pada Damar.
"Sejak semalam," sahut Damar.
__ADS_1
"Kita bawa ke rumah sakit saja ya, Pa ?" tanya Amelia pada Aryan.
Damar mengangkat Mikaela dan membawanya masuk kedalam mobil Papanya. Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah sakit terdekat.