
Happy reading guys.
****************
Raffi membawa Mikaela ke taman, setelah meninggalkan restoran tempat dia membawa Mikaela makan di kencan pertama menurut Raffi. Karena keduanya sangat jarang atau tidak pernah pergi ke restoran untuk makan berdua. Keduanya lebih sering menikmati kebersamaan mereka bersama dengan kedua pasangan, Aira dan Inara. Dan jika berdua, Mikaela dan Raffi lebih suka makan ditempat yang langsung dibawah langit biru, atau langit yang penuh ditaburi bintang-bintang.
"Kenapa kita ke sini ?" Mikaela menoleh sedikit menatap Raffi.
Raffi meraih tangan Mikaela dan membawanya berjalan.
"Tempat ini sangat asik untuk tempat kita berjalan berdua. Semoga begitu kita kembali ke Indonesia, kita tidak hanya berdua menyusuri jalan ini. Kita berdua memegang kedua tangan anak kita," ucap Raffi.
Wajah Mikaela sontak merah, hari ini sudah berapa orang yang yang menyinggung masalah anak padanya.
Raffi mendekatkan bibirnya ke telinga Mikaela dan berucap. "Kita pergi sendiri-sendiri, tapi kita pulang akan bertiga."
"Ih... !" Mikaela mendorong wajah Raffi yang hampir menempel ditelinga nya. Hembusan napas hangat dari mulut Raffi membuat Mikaela merinding dan bulu Kudungnya berdiri, seperti ada mahluk kasat mata yang berdiri didekatnya. Hembusan napas Raffi saja sudah membuat Mikaela yang belum pernah merasakan kecupan bibir laki-laki hampir kehilangan kesadaran, bagaimana jika bibir dan tangan Raffi sudah bergerilya menjajah tubuhnya, mungkin Mikaela benar-benar tidak sadarkan diri.
"Kenapa?" Raffi mengejar Mikaela yang berjalan cepat meninggalkannya.
"Tunggu! Koq ditinggal!" seru Raffi sembari melangkahkan kakinya cepat.
Raffi melingkarkan tangannya dipundak Mikaela.
"Malu kak ."
"Kenapa malu ? Lihat! Semua bersama dengan pasangannya masing-masing berjalan beriringan. Mereka pasti berharap, akan beriringan selamanya sampai rambut memutih dan otak kita sudah saling melupakan satu sama lain, bukan karena sudah tidak cinta. Tapi dikarena efek umur yang membuat memory kita tidak loading lagi, seperti nenek," kata Raffi dengan tersenyum.
"Amin." suara hati Mikaela.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilalui satu pasang orang saja, sehingga keduanya berjalan dengan rapat.
"Kenapa jalannya sempit begini? Tidak hati-hati bisa jatuh ke rimbunan bunga mawar yang tumbuh dipinggir jalan ini."
"Konsep jalan ini membuat kita berjalan tidak bisa berjauhan, jalan ini membuat pasangan yang sedang marahan akan mesra," kata Raffi.
"Kita tidak ada berpapasan dengan orang lewat ya kak ?" Mikaela mengungkapkan keheranannya. Kepalanya menoleh kebelakang dan melihat sepasang muda-mudi berada dibelakang mereka.
__ADS_1
"Ini jalan satu arah, ingin keluar ada jalan lain"
"Oh... Pantesan kita tidak berpapasan dengan orang yang ingin keluar dari dalam taman," kata Mikaela.
Mikaela melipat kedua tangannya didepan dada, karena tiba-tiba hembusan angin menerpa tubuhnya dan membuat tubuhnya menggigil.
"Dingin? Kita tidak bawa jaket. Ayo kita pulang saja, sudah jam satu malam juga ini," kata Raffi setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Ah... Jam satu ? Benar jam satu ?" Mikaela tidak percaya, karena situasi di taman masih banyak orang dan ditempat khusus untuk para orang menjajakan makanan masih penuh dengan para pengunjung yang berburu makanan.
"Karena malam minggu, banyak orang masih betah berkeliaran di sini."
Di tempat berbeda di jam yang sama, Antoni dan Faiz sedang duduk. Dihadapan keduanya secangkir minuman hangat rasa jahe masih keluarkan asap yang masih mengepul.
"Bicaralah! Kau menarik aku dari atas ranjang yang hangat, saat aku sedang memimpikan kekasihku, jangan kau buat aku menyesal datang, kalau hanya melihat kau diam seperti patung Pancoran." ledek Faiz.
"Tadi Annisa terus mengajak aku untuk bicara." Antoni membuka mulutnya dan bercerita mengenai Annisa yang mengejar dirinya.
"Apa maunya? apa dia belum bisa move on darimu? Atau dikiranya kau masih menaruh rasa cinta padanya!"
"Dia sudah lama aku hapus dari dalam memory. Dalam otakku ini sudah tidak ada nama dan bayangannya juga!" ucap Antoni tegas.
"Tidak mungkin aku menyia-nyiakan Aira yang mau menerima aku apa adanya."
"Apa dia menelpon mu juga?"
Antoni menggelengkan kepalanya. "Nomorku yang ini tidak dia tahu."
"Jangan sampai dia minta pada Mikaela," kata Faiz.
"Jika dia minta, aku yakin Mikaela pasti tidak akan beri," kata Antoni.
"Perempuan seperti itu sangat tidak tahu diuntung. Sudah mendapatkan suami yang mapan, masih berani melirik mantan! Apa dilihatnya kau sekarang sudah tidak seperti saat bersamanya, sehingga dia penasaran dengan kehidupanmu sekarang ini. Hih... Kau harus hati-hati dengannya. Jangan lengah, jika kau bertemu dengannya lagi," kata Faiz.
"Terimakasih, kau sudah mau datang dan mendengar keluhanku."
"Ini tidak gratis bro... Pelayan!" panggil Faiz.
__ADS_1
Begitu pelayan datang, Faiz memesan satu porsi sate domba muda.
Antoni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pria yang baru dikenalkannya, saat dia berpacaran dengan Aira dan Faiz menjadi kekasih Inara. Tiga orang wanita membuat dia akrab dengan Raffi dan juga Faiz.
***
Mikaela ragu untuk naik ke atas ranjang, setelah dia selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya menjadi baju tidur.
Kenapa tidak tidur?" Raffi keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Mikaela berdiri menatap ranjang.
Duh...
Tubuh Mikaela menegang, saat merasakan tangan Raffi melingkar diperutnya. Dagu Raffi bersandar di bahu Mikaela, dengan hembusan napas yang menerpa hangat pipinya.
Raffi memutar tubuh Mikaela dan menatap wajah Mikaela dengan lekat.
"Malam ini seharusnya malam indah bagi kita sebagai pengantin baru, tapi apa daya, Tuhan masih ingin menguji kesabaran ku sebagai umatnya. Terpaksa kita hanya bisa begini saja." Raffi melekatkan bibirnya ke bibir Mikaela dan meraup bibir Mikaela dengan lembut dan menuntut sang pemilik bibir untuk membalas apa yang diperbuatnya.
Mikaela yang baru pertama sekali mendapatkan perlakuan yang dilakukan oleh Raffi gelagapan, tubuh dan otaknya tidak sinkron. Tubuhnya lemas, tapi otaknya melarang dia untuk menolak apa yang dilakukan sang suami. Tangan dan bibir Raffi merayap di sekujur tubuh Mikaela yang hanya bisa pasrah. Dengan sekali sentak, tangan Raffi mengangkat tubuh Mikaela tanpa terurai tautan bibir diantara keduanya. Pergumulan berlanjut di atas ranjang, dan berhenti saat Mikaela merasa napas yang memenuhi paru-parunya menipis dan mendorong tubuh Raffi,
Huh...huh... Suara napas Mikaela, begitu tautan bibir keduanya terurai.
"Kak ingat," kata Mikaela begitu napasnya mulai normal.
"Kakak ingat, hanya bisa kecupan saja. Kakak sabar menunggu El menyusul kakak ke inggris. Di sana nanti malam pertama kita di mulai, dan malam-malam seterusnya untuk kita mencetak penerus bangsa," kata Raffi seraya bergurau.
Mikaela turut tertawa, mendengar gurauan Raffi.
Raffi mengangkat tubuhnya yang berada di atas tubuh Mikaela. Dia merebahkan tubuhnya dan menarik Mikaela untuk baring beralasan dadanya sebagai bantal Mikaela.
"Kita nikmati dua hari ini dengan tidur berpelukan seperti ini." Raffi memeluk erat tubuh Mikaela, sehingga tubuh keduanya tidak berjarak.
"Aku mencintaimu istriku."
Tidak ada balasan dari Mikaela, yang terdengar hanya suara napas Mikaela yang teratur.
"Tidur... sepertinya El sangat lelah.'
__ADS_1
Akhirnya kedua tidur dengan damai.