Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 35 Rencana


__ADS_3

Happy reading guys.


...----------------...


Keduanya mengatakan pada mama dan papa Damar mengenai keinginan Annisa dan Damar untuk melakukan program bayi tabung.


"Apa harus?" tanya Amelia, begitu Annisa dan Damar menceritakan niat keduanya untuk melakukan program bayi tabung.


"Harus ma!" Annisa yang menjawab.


"Kenapa tidak menunggu hamil secara normal saja," kata Aryan, Papanya Damar.


"Pa, aku sudah memasuki 33 tahun. Mas Damar 37 tahun, resiko untuk kami menunggu hamil normal sangat besar. Mungkin saja aku belum bisa hamil tahun ini, tunggu tahun depan dan tidak juga hamil. Apa kami harus menunggu sampai usiaku tidak bisa untuk mengandung lagi," kata Annisa.


"Terserahlah kalian saja," kata Amelia, Mama Damar.


Mereka berdua, mama dan papa Damar tidak ingin mencampuri keputusan yang yang telah diambil Annisa dan Damar.


***


Annisa juga mengatakan pada kedua orangtuanya, mengenai dia dan Damar yang akan melakukan bayi tabung. Seperti kedua orangtuanya Damar. Kedua orangtuanya Annisa juga kurang setuju dengan program bayi tabung yang ingin dilakukan keduanya.


"Kenapa kau tidak sabar Nisa, kau baru gagal sekali," kata Aini, bundanya.


Seperti alasan yang diberikannya pada kedua orangtuanya Damar, pada kedua orangtuanya alasan usia dikatakannya, kenapa dia mengambil keputusan untuk melaksanakan bayi tabung.


"Empat puluh tahun saja ada orang yang melahirkan, Nisa. Kau itu baru tiga puluhan," kata Aini.


"Memang ada bunda, tapi melahirkan diusia segitu banyak resikonya, pada bayi dan juga pada wanita yang mengandung diusia tiga puluh tahun keatas ," kata Annisa.


"Sudahlah Bu, biar mereka melakukan apa yang menurut mereka bagus. Kita doakan saja, semoga berhasil," kata ayahnya.


"Doakan Nisa ya Yah, Bun."


"Doa kamu selalu bersamamu, Nisa," kata Aini akhirnya. Dia mendukung keputusan yang diambil anak dan menantunya.


Setelah berbicara dengan kedua orangtuanya, Annisa bicara dengan Mikaela membahas hubungannya dengan Raffi.


"El, pikirkan lagi dengan matang. Ini menyangkut masa depanmu," kata Annisa.


"Aku sudah pikirkan mbak. Aku mengenal kak Raffi sudah lama. Kak Raffi itu dosenku."


Mikaela menceritakan mengenai Raffi dan keluarga Raffi yang menerima dia apa adanya, tidak melihat dirinya seorang anak yatim piatu.


"Mbak merasa hubungan kalian tidak bagus kedepannya. Feeling mbak tidak enak mengenai hubunganmu dengan Raffi itu," kata Annisa.


"Apa Mbak tidak suka karena dia hanyalah seorang dosen ?" tanya Mikaela.


"Salah satunya," kata Annisa.


"Tapi Mbak tidak tahu, feeling mbak ini...." Annisa mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Mikaela tertawa kecil, dan berkata Annisa sudah seperti seorang paranormal saja. Bisa melihat masa depan seseorang.


"Serahkan pada sang pencipta semua, mbak," kata Mikaela.


Annisa tidak berusaha untuk membujuk Mikaela lagi, setelah apa yang dikatakannya tidak didengar oleh Mikaela.


***


"Apa cincin ini bagus ?" Raffi menunjukan cincin yang dibelinya untuk pertunangannya dengan Mikaela.


"Sudah Alin bilang kak, cincin itu sangat bagus."


"Betulkah, ma?" Raffi tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Alin.


"Ih... nggak percaya dengan apa yang Alin katakan!" Alin mendengus kesal, karena Raffi tidak yakin dengan apa yang dikatakannya mengenai cincin yang dibelinya.


"Sangat bagus dan tidak ketinggalan jaman," kata Mama Raffi.


"Apa tidak terlalu kecil, ma?" tanya Raffi.


"Kecil, tapi elegan kesannya kak. Cincin yang kecil itu sangat disukai, kesannya tidak norak. Apa kak Raffi suka dengan cincin yang besar, seperti yang sering dipakai oleh paranormal," kata Alin.


"Betul bagus kan?" tanya Raffi lagi, yang belum yakin dengan cincin yang dibelinya.


"Ih... kak Raffi ini tidak percaya dengan apa yang kita katakan, ma!" kata Alin.


"Bagus Raff! tidak mungkin kami bilang bagus jika kenyataannya jelek. Cincin ini benar-benar bagus. Ini pasti model baru. Berapa harganya, mama tebak pasti puluhan harganya," kata Yuni. mamanya.


"Betulkan, mahal !" kata Alin.


"Kenapa sekecil ini bisa mahal ya, ma? matanya saja hanya satu," kata Raffi.


"Cara mengerjakannya sangat rumit, beda pengerjaan cincin yang besar dengan yang kecil. Pengerjaan cincin yang kecil penuh dengan kehati-hatian yang sangat kecil." beritahu sahut Yuni.


Raffi mengangguk-angguk kepala sembari melihat cincin yang dibelinya.


****


Tiga pria duduk di cafe. Setelah dihubungi oleh Raffi. Antoni dan Faiz segera meluncur ketempat lokasi pertemuan mereka. Ketiganya menjadi teman, sejak Mikaela mengenalkan Raffi pada Antoni dan Faiz.


"Ada apa Bro?" tanya antoni setelah mendudukkan bokongnya di kursi.


"Tunggu Faiz datang," sahut Raffi.


"Penasaran aku. Apa tidak bisa kasih bocoran sedikit," kata Antoni.


"Memang ujian, perlu kisi-kisi soal," kata Raffi.


"He...heh...he.... !" tawa kecil keluar dari mulut Antoni.


"Tuh... Orang yang ditunggu," ujar Antoni. Dan terlihat Faiz datang dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Lalu tanpa berkata ba... bi...bu, tangannya menyambar gelas minum yang berada didepan Antoni yang baru saja diletakkan karyawan cafe.


"Hei... Itu minumanku ..!" Antoni ingin mengambil minuman yang di sambar Faiz, tapi telat. Minuman tersebut sudah mengalir membasahi mulut dan mengalir melalui tenggorokan dan berakhir di lambung Faiz.


"Sorry, aku haus ," ujar Faiz.


"Dari mana kau Bro? seperti baru kembali dari perjalanan jauh saja," kata Raffi.


"Aku sedang menemani mamaku belanja, dapat pesan darimu. Aku langsung bergerak ke sini," kata Faiz.


"Mamamu kau tinggalkan di mana?" tanya Antoni .


"Aku antar pulang! Kau kira aku tinggalkan mamaku di pasar. Bisa-bisa aku di coret dari daftar keluarga," kata Faiz.


"Kenapa kita kumpul di sini? Tiga gadis kita tidak di ajak?" tanya Faiz.


"Aku ingin kalian besok ikut ke rumah Mikaela," kata Raffi.


"Ke Rumah Mikaela? Aku.... ?" Antoni terkejut dengan permintaan Raffi untuk ikut dengan rombongan keluarganya ke rumah Mikaela.


"Iya, kalian berdua," ujar Raffi.


"Apa kau ingin melamar Mikaela besok?" tanya Faiz.


"Perkenalan keluarga, tapi aku ingin bertunangan besok juga," kata Raffi.


"Oke Bro, aku akan ikut, Inara aku ajak tidak apa-apa kan?" tanya Faiz.


"Bawa saja, tapi apa mereka tidak berada di sana. Tidak mungkin Mikaela tidak mengatakan pada mereka berdua," kata Raffi.


"Bagaimana, ya." Antoni bingung dengan permintaan Raffi. Bukan karena dia belum move on dari Annisa. Tapi dia tidak ingin membuka luka lamanya lagi, dengan melihat Annisa yang sudah menorehkan rasa sakit dan kecewa dalam hatinya.


"Bagaimana apanya? Apa kau tidak mau ikut?" tanya Raffi.


"Kalau aku ikut, aku pasti bertemu dengan dia," kata Antoni.


"Kau takut bertemu dengannya, karena kau ada rasa cinta padanya?" tanya Faiz.


"Aku tidak ada rasa cinta lagi padanya," kata Antoni.


"Jika kau memang sudah melupakan dia. Tunjukkan, biar Aira tidak mencurigai mu, kau belum move on, dari sang mantan" kata Faiz.


"Aku sudah bisa melupakannya!" seru Antoni.


"Tunjukkan... buktikan, kau bertemu dengannya tidak ada deg...deg sar bunyi jantungmu," kata Faiz.


"Ayolah... Bro." bujuk Raffi.


"Baiklah." akhirnya Antoni mau ikut serta ke rumah Mikaela.


Next

__ADS_1


__ADS_2