
Happy reading guys.
...****************...
Raffi menyematkan cincin ke jari tangan Mikaela, lalu Mikaela mencium tangan Raffi.
Saat menyematkan cincin ke jari Raffi, Mikaela bergumam dalam hati. "Kak Raffi benar-benar sudah menyiapkannya semua dengan matang, dari barang antaran, semua barang-barang yang aku sukai. Sepertinya ada peran dua kunyuk itu." monolog batin Mikaela.
"Awas kalian." batin Mikaela mengancam kedua temannya yang tersenyum bahagia melihat Mikaela.
Semua memberi selamat dan terlihat senyum merekah di wajah masing-masing orang yang memberi selamat. Wajah Annisa yang tidak, wajahnya terlihat sedih ingin menangis.
Sampai gilirannya, air mata Annisa jebol. Tangisan lirih terdengar saat dia memberikan pelukan kepada adik sepupunya tersebut.
"Mbak jangan nangis." Mikaela menepuk-nepuk punggung Annisa dan kemudian mengelusnya.
"Mbak sedih, kita pasti tidak bisa bertemu sesering mungkin. Jika kau tadi menikah, tidak pergi jauh, mbak rela. Ini kau akan pergi ikut suami." Annisa mengungkapkan kesedihannya.
"Aku nggak kemana-mana mbak. Aku ikut jika Visa ku lolos, jika tidak lolos aku masih tinggal bersama dengan bunda dan ayah."
Annisa mengurai pelukannya dan mengalihkan pandangannya pada Raffi yang sedang bersalaman dengan Damar. Raffi yang sadar mendapatkan perhatian dari Annisa, juga membalas tatapan Annisa dengan pandangan mata dan bibir yang tersenyum.
Annisa membuka suara. " Walaupun Mikaela hanya adik sepupuku, tapi aku menganggap dia anak yang dilahirkan oleh bunda. Jika dia tersakiti, aku tidak akan tidak akan tinggal diam." nada suara Annisa lembut, tapi bernada ancaman pada Raffi. Annisa tidak ingin Raffi menyakiti Mikaela sedikitpun juga.
"Aku berjanji mbak Nisa, tidak akan pernah membuat mata El mengeluarkan air mata," kata Raffi.
"Pegang janjiku mbak." tambah Raffi.
"Ingat dengan janjimu itu, jangan hanya bisa mengeluarkan janji, tapi tidak ditepati."
"Katakan pada mbak, jika dia membuatmu menangis."
Mikaela mengangguk.
"Ayo ." Damar memegang tangan Annisa untuk dibawanya pergi meninggalkan Mikaela dan Raffi, karena masih ada para kerabat yang ingin mengucapkan selamat pada keduanya.
Annisa dan Damar mengambil makanan dan di bawanya ketempat duduk di luar rumah.
Saat menikmati makanan yang ada di piringnya, Annisa melihat sesosok orang yang sudah lama tidak dilihatnya dan untuk pertama lagi dilihatnya secara dekat. Terakhir dia melihat orang itu, saat orang itu bersama dengan Mikaela dan dua curiga Antoni berusaha untuk mendekati Mikaela.
__ADS_1
"Antoni ." batin Annisa.
Kenapa dia di sini? Apa dia keluarga Raffi?" pertanyaan berseliweran didalam kepalanya, apalagi dia melihat Antoni sangat akrab dengan sahabat Mikaela. Annisa tidak tahu hubungan Raffi dengan Antoni, karena saat Antoni dikenalkan tadi, Annisa sedang pergi bersama dengan Damar.
"Kenapa di akrab dengan sahabat Mikaela? Di lihat dari interaksi keduanya, sepertinya hubungan keduanya bukan seperti hubungan dengan teman." Annisa melihat Antoni berkali-kali menyuapkan makanan yang di makannya kepada Aira dengan sendok yang sama. Jika kedua tidak menjalin hubungan yang serius, tidak mungkin keduanya mau berbagi sendok dan berbagi makanan. Dengan teman saja ragu untuk berbagi sendok, jika makanan bisa ditolerir. Ini sendok. Pertanyaannya mengenai hubungan Aira dan Antoni berterbangan didalam pikiran Annisa.
"Ada apa Nisa?" Damar melihat Annisa menghentikan makannya.
"Apa tidak enak?" tanya Damar lagi.
"Tidak Mas," kata Annisa.
"Mas, sepertinya aku pernah bertemu dengan Paman Raffi," kata Annisa. Dia tidak ingin Damar mencari tahu apa yang membuat dia tidak melanjutkan makannya.
"Di mana?" tanya Damar.
"Itu dia, lupa ketemu di mana? Apa dia pernah menjalin hubungan kerja sama dengan tempat aku dulu kerja?" Annisa berusaha untuk mengingat di mana dia pernah bertemu dengan paman Raffi.
"Mas lihat, mungkin mas kenal," kata Annisa.
"Mas tidak kenal," kata Damar setelah memperhatikan dengan lekat pria yang duduk di dekat pintu masuk kedalam rumah.
"Ingat aku Mas. Dia orang yang tanahnya ingin dibeli oleh perusahaan tempat aku kerja dulu. Tapi dia tidak mau menjualnya," kata Annisa yang baru ingat di mana dia pernah bertemu dengan Paman Raffi.
"Kenapa dia tidak mau menjual tanahnya?" tanya Damar.
"Karena tanahnya itu tempat usahanya. Di tanah itu dia menanam sayuran organik. Tempatnya sangat luas, Mas. Kebun sayuran organiknya itu pemasok market di dalam dan luar negeri." Annisa menceritakan apa yang diketahuinya mengenal Paman Raffi.
"Keluarga Raffi bukan keluarga sembarangan. Mas mengenal salah satu sepupu Raffi. Lihat pria yang duduk didekat adik Raffi itu, pria itu seorang pengacara dan yang sebelah seorang dokter. Mereka keluarga yang berpendidikan dan pendidikan menjadi yang utama didalam keluarga mereka." tutur Damar.
"Dari mana Mas tahu? Apa dia sendiri yang menceritakan untuk membanggakan diri sendiri?" tanya Annisa.
"Mas tanya pada sopir di luar," kata Damar.
"Mas menyelidiki keluarga Raffi? Mas tidak yakin El akan bahagia dengan keluarga Raffi kan?" Annisa memicingkan matanya menatap wajah sang suami.
"Tidak! Untuk apa Mas menyelidikinya? Perbincangan dengan sopir tadi itu, perbincangan yang tidak sengaja. Sopir itu yang bercerita, tanpa Mas tanya," kata Damar.
"Betul?" Annisa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.
__ADS_1
"Betul, kapan Mas pernah bohong," kata Damar.
"Mau makan apa lagi? biar ku ambilkan, mau nambah. Bunda masak enak sekali."
"Mau minum El buah Mas," kata Annisa.
"Es buah? Oh... Tidak! Dokter melarang minum es." Damar menolak permintaan Annisa untuk mengambil es buah untuknya.
"Jangan yang dingin Mas. Ayolah Mas." mohon Annisa.
"Ingat Nisa, dua hari lagi kita mulai program bayi tabung."
"Jangan pakai es mas."
"Baiklah." akhirnya Damar bangkit dari duduknya untuk mengambil es buah tanpa es yang diinginkan oleh Annisa.
Begitu Damar meninggalkannya. Annisa mengarahkan pandangan matanya ke arah Antoni dan teman-temannya duduk. Tapi dia tidak melihat keberadaan Antoni. Annisa hanya melihat keberadaan Aira dan Inara dan seorang laki-laki yang belum dikenal oleh Annisa, yaitu Faiz. Kekasih Inara.
"Mana Antoni ?" mata Annisa mencari-cari keberadaan sang mantan.
Mata Annisa akhirnya melihat keberadaan Antoni yang berjalan menuju belakang.
Annisa melihat Damar yang sedang berbicara dengan seseorang dari keluarga Raffi.
"Mas Damar sedang ada temannya, ada kesempatanku untuk bertemu dengan Antoni. Aku pemasaran dengan hubungannya dengan Raffi dan dengan teman El."
Annisa bangkit dan bergegas melangkah menuju belakang rumah untuk bicara dengan Antoni.
Tiba dibelakang, Annisa melihat kamar mandi di belakang tertutup rapat.
"Pasti dia berada didalam kamar mandi." batin Annisa.
Annisa bergegas menuju kamar mandi dan berdiri di samping menunggu Antoni keluar.
"Antoni begitu berubah, tubuhnya tidak kurus seperti dulu. Dan semakin keren, apalagi wajahnya ditutupi sedikit bulu-bulu halus di dagu." Annisa kagum mengenai perubahan yang terjadi pada Antoni.
Annisa! sudah punya laki belum bisa move on dari mantan yang ditinggalkan..
Next
__ADS_1