
Apa yang direncanakan, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Happy reading guys
......................
Damar kembali masuk kedalam kamar, setelah mengomeli Mang Dul. Damar mengancam akan pulang jalan kaki, jika bensin tidak dikirim hari ini juga. Damar menyuruh Mang Dul untuk mengatakannya pada mamanya, karena dia tahu, Mang Dul bisa berkomunikasi dengan mamanya.
Damar membanting pintu. "Mama !" teriak Damar dalam hati sembari mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Damar melihat kearah kamar mandi dan tidak mendengar suara dari dalam kamar mandi.
"Apa yang dilakukan didalam kamar mandi? Apa dia bunuh diri? kenapa dia marah sekali? Apa dia lupa, aku melakukannya juga tidak dosa ! Seperti memperkos*a anak perawan saja aku ." dumel Damar dalam hati.
Pandangan Damar melihat ranjang yang acak-acakan.
Dan...
"Apa itu?" Damar melangkahkan kakinya satu langkah dan membungkuk memeriksa noda merah yang ada di kasur.
"Darah ? Tidak mungkin! apa dia sedang haid ? Gila... ! Aku melakukannya ketika dia sedang haid ? Mama.... !" Damar benar-benar kesal dengan perbuatan mamanya.
Damar melangkah menuju pintu kamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi.
Tok... tok... tok...
"Ela ! Ela !" panggil Damar.
"Apa yang dilakukannya didalam sana ? apa dia berencana tidur didalam kamar mandi? Ela!" panggil Damar dengan suara yang keras.
Damar khawatir, karena tidak mendapatkan sahutan Mikaela dari dalam kamar mandi. Damar memutuskan untuk mendobrak pintu.
Sekali tendang, pintu kamar mandi yang tidak lagi kokoh tersebut terbuka.
Dan...
Tubuh Mikaela tergeletak dilantai di bawah shower, dengan tubuh yang masih tertutup selimut yang dibawanya tadi.
"Ela !" teriak Damar. Dia bergegas mematikan shower yang airnya sudah membasahi tubuh Mikaela.
Damar membuka selimut dan melihat tubuh polos Mikaela, tapi dia tidak perduli dengan polosnya tubuh Mikaela. Yang penting dia melepaskan selimut basah yang melilit tubuh Mikaela.
Damar mengangkat tubuh Mikaela yang polos dan meletakkannya keranjang. "Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin bunuh diri?"
Damar mencari selimut untuk menutupi tubuh Mikaela yang polos. Lalu kemudian Damar keluar dan mencari Mang Dul.
"Mang, ada teh hangat?"
"Ada Den. Aden mau sarapan apa?"
"Apa saja, mang. Cepat bawa teh hangat, Ela kedinginan." titah Damar sebelum meninggalkan Mang Dul.
Begitu Damar masuk, Mang Dul berlari menuju belakang rumah.
Damar membuka koper Mikaela dan mengambil baju untuk Mikaela, lalu memakainya. Tidak ada rasa canggung saat dia memakaikan pakaian ke tubuh Mikaela yang polos. Dia meringis melihat bercak bercak merah keunguan akibat perbuatannya.
"Pembalut " Damar ingat dengan haid yang ada di kasur dan mencari-cari pembalut didalam koper Mikaela dan tidak menemukan benda yang dibutuhkannya tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada ? Apa itu bukan darah haid ? Ah... Kenapa aku tidak ingat apa yang terjadi tadi malam? Mama... Apa yang Mama lakukan pada kami ?"
"Apa dia masih perawan? Masih perawan? Oh.... God!" Damar meremas wajahnya.
"Dia masih perawan? Mana mungkin ! Pernikahan apa yang mereka lakukan? Apa pernikahan mereka hanya main-main ? Tidak mungkin Raffi tidak menyentuhnya, jika mereka saling cinta. Apa ...? Ah... Kepalaku mau pecah rasanya."
"Den, ini sarapan."
Damar membuka pintu dan melihat Mang Dul membawa nampan.
"Letak di sana."
Mang Dul melirik Mikaela yang terbaring di ranjang. "Non El kenapa? Apa tadi malam Den Damar terlalu kasar mainnya." batin Mang Dul.
"Mang, ada obat. Ela demam. Dan bilang pada Mama juga, Ela sakit dan perlu dibawa ke rumah sakit!" kata Damar.
"Non El sakit Den?"
"Kan sudah saya bilang tadi, Mang !" jawab Damar kesal.
"Duh... Den Damar marah."
Mang Dul kaget mendengar suara Damar yang keras bicara dengannya, biasanya suara lembut selalu diucapkan Damar kepadanya, kini suara keras Damar yang keluar.
Mang Dul keluar dan kembali menuju belakang rumah. Dia menyusuri jalan setapak dan tiba di rumah yang tergolong mewah ditempat daerah yang penuh dengan semak belukar.
"Bik, saya butuh telepon," kata Mang Dul.
"Mau menghubungi siapa Dul ?"
"Sakit ? koq bisa sakit ? Bagaimana, apa mau dibawa ke kota?"
"Mau dibawa pakai apa, Bik Sumi ?"
"Kereta tuh ada ." Bik Sumi menunjuk andong yang terparkir di samping rumah.
"Nasi itu! Bukan malah sehat, makin sakit istri baru Den Damar."
"Saya mau menghubungi Bu Amel, biar di jemput. Kasihan ."
"Tuh... teleponnya, didalam kamar itu."
***
"Alex !" seru Annisa.
"Sudah bangun kalian?" tanya Alex sembari melangkah masuk dengan membawa nampan.
"Kami di rumahmu?" tanya Grace.
"Kalau tidak dirumahku, kau ingin tidur di rumah siapa?" tanya balik Alex pass Grace.
"Minum air jeruk ini, biar otak kalian fresh." Alex menyerahkan dua gelas yang dibawanya dan memberikan kepada Annisa dan Grace.
"Asem ," ujar Annisa.
"Habiskan!" perintah Alex.
__ADS_1
"Kalian itu sudah dewasa, tapi kelakuannya seperti bocah ingusan! Untuk apa kalian mabok dan jingkrak-jingkrak seperti monyet."
"Kami tidak mabok," kata Grace.
"Tidak mabok! Kalau tidak mabok, kenapa kalian pasrah saja mau dibawa ke hotel oleh pria hidung belang.... !"
"Hah... Ke hotel?" kata Annisa kaget.
"Tidak mungkin ! Kau pasti bohong," kata Grace.
"Untung aku merekam semuanya, karena aku takut kalian berkata aku berbohong."
"Kau percaya, Nisa ?" tanya Grace.
"Aku bingung."
"Tunggu, akan aku tunjukkan."
Alex keluar dari kamar dan kembali dengan membawa ponselnya. Dan menunjukkan rekaman kepada Annisa dan Grace.
Dalam rekaman tersebut, terlihat dua pria merangkul Annisa dan Grace yang sudah mabok. Keduanya membawanya keluar dan memasukkannya kedalam mobil.
"Untung aku melihat kejadian itu, jika tidak tadi, kalian berdua sudah berada di dalam hotel.... !"
"Maaf ," kata Annisa.
"Siapa mereka? Apa kau kenal?" tanya Alex pada Annisa dan Grace.
"Aku tidak mengenal mereka," sahut Annisa.
"Aku juga."
"Dua wanita berada di club malam tanpa didampingi oleh pria, mabuk. Kemana pikiran kalian berdua?" Alex melipat kedua tangannya di depan dada, dengan mata memicing menatap keduanya.
Annisa dan Grace seperti anak gadis yang ketahuan keluar malam dan dimarahi oleh kedua orangtuanya.
"Kenapa aku merasa seperti sedang dimarahi oleh ayah." batin Annisa, yang teringat, dulu dia pernah dimarahi oleh ayah Aiman, karena ketahuan membolos sekolah.
"Bersihkan tubuh kalian, aku tunggu untuk sarapan. Di lemari itu ada baju, bisa kalian pilih untuk di pakai."
***
"Ela, bangun. Makan, biar makan obat."
"Ela !" ulang Damar kembali, karena panggilan pertama tidak direspon oleh Mikaela.
"Pergi ! Biarkan aku mati," kata Mikaela dengan suara yang lirih.
"Kau mau mati ? Oke... Tapi jangan ada aku. Aku tidak mau menjadi tersangka utama dalam kematianmu."
"Bangun." Damar mengangkat tubuh Mikaela dan membuka paksa mulutnya untuk meminum obat, tapi mulut Mikaela mengetat rapat, sehingga tidak ada celah untuk obat masuk kedalam mulut.
"Aku tidak mau!" tolak Mikaela.
"Buka!" titah Damar.
"Aduh.... !"
__ADS_1